Buku itu terasa lebih berat daripada seharusnya di tangan Raka.
Padahal ukurannya tidak terlalu besar, hanya sebuah buku bersampul cokelat tua yang tadi pagi diminta Anin melalui WhatsApp. Buku itu bahkan bukan miliknya. Raka meminjamnya dari perpustakaan fakultas setelah memeriksa katalog, mencari nomor panggil, lalu berkeliling di antara rak-rak yang penuh buku sampai akhirnya menemukan satu eksemplar terakhir yang terselip di bagian belakang. Anin mengatakan sedang membutuhkan buku itu untuk bahan diskusi organisasi dan meminta Raka membawakannya kalau memang sempat.
Kalau sempat.
Kalimat sederhana itu seharusnya memberikan Raka pilihan.
Namun, seperti biasa, begitu nama Anin muncul di layar ponselnya, kata-kata lain dalam pesan itu nyaris kehilangan arti. Ada sesuatu di dalam dirinya yang selalu bergerak lebih dulu daripada pertimbangan. Sebelum sempat bertanya apakah dirinya sedang sibuk, apakah tugas kuliahnya sendiri sudah selesai, atau apakah ada orang lain yang lebih dekat dengan Anin dan bisa dimintai bantuan, Raka sudah membalas.
Iya. Nanti aku bawain.
Sekarang, menjelang tengah hari, ia berjalan menuju Student Center sambil membawa buku itu di bawah lengan kanan. Matahari sedang tinggi-tingginya, tetapi halaman kampus tetap penuh. Mahasiswa berlalu-lalang dari berbagai arah dengan jaket almamater yang warnanya mulai pudar karena terlalu sering dicuci. Di depan gedung Student Center, beberapa spanduk organisasi digantung di antara tiang-tiang besi. Ada yang mempromosikan seminar nasional, ada yang mencari relawan untuk kegiatan sosial, ada pula poster besar tentang pemilihan ketua organisasi mahasiswa yang wajah kandidatnya dipasang jauh lebih besar daripada tulisan visi-misinya.
Raka tidak terlalu menyukai tempat itu.
Bukan karena ia membenci organisasi mahasiswa. Ia hanya selalu merasa bahwa tempat seperti itu memiliki semacam aturan tak tertulis tentang bagaimana seseorang seharusnya terlihat. Orang-orang berjalan cepat sambil membawa map, berbicara keras tentang rapat, mengangguk penuh keyakinan ketika membahas sesuatu yang bahkan belum tentu mereka pahami, lalu sesekali tertawa seolah kampus adalah panggung besar dan semua orang sedang berlomba mendapatkan peran utama.
Raka lebih nyaman menjadi orang yang duduk di pinggir.
Membaca.
Mengamati.
Berbicara ketika memang ada sesuatu yang perlu dikatakan.
Namun Anin sedang berada di sana.
Dan itu sudah cukup untuk membuat Raka berjalan ke tempat yang sebenarnya tidak ia sukai.
Ia menurunkan pandangan sejenak pada buku yang dibawanya, lalu mengangkat kepala ketika suara tawa perempuan terdengar dari arah pelataran gedung. Awalnya Raka tidak terlalu memperhatikan. Pelataran itu memang sedang ramai. Di sisi kiri ada meja pendaftaran sebuah acara yang dijaga beberapa mahasiswa. Di sisi kanan, sekelompok mahasiswa duduk melingkar di bawah pohon sambil membahas sesuatu yang terdengar cukup serius dari kejauhan. Beberapa orang berdiri di depan pintu gedung, sibuk keluar-masuk dengan wajah terburu-buru.
Kemudian Raka melihatnya.
Anin berdiri tidak terlalu jauh dari tangga utama.
Ia mengenakan kemeja berwarna terang yang lengan bajunya digulung sampai siku, dipadukan dengan celana panjang gelap dan tas selempang yang menggantung di bahu. Rambutnya tertata rapi, bergerak sedikit ketika ia menoleh ke orang di sebelahnya. Dari jarak itu, Raka tidak bisa mendengar apa yang sedang dibicarakan. Namun ia bisa melihat Anin tertawa.
Bukan senyum kecil yang biasa ia kirimkan melalui pesan singkat.
Bukan pula senyum sopan ketika menerima sesuatu dari tangan Raka.
Ini tawa yang berbeda.
Kepalanya sedikit mendongak, bahunya mengendur, dan salah satu tangannya menutup sebagian mulut seolah ia benar-benar tidak bisa menahan rasa geli.
Di sebelahnya berdiri seorang laki-laki yang langsung dikenali Raka, bahkan sebelum otaknya sempat menyebut namanya.
Dika.
Ketua BEM fakultas.
Usianya setahun lebih tua dari Raka, tetapi di mata banyak mahasiswa, Dika selalu tampak jauh lebih dewasa. Tubuhnya tinggi, tegap, dan proporsional. Dengan tinggi hampir seratus delapan puluh sentimeter, ia berdiri seperti seseorang yang tidak pernah perlu memikirkan bagaimana cara agar terlihat lebih besar di dalam foto kelompok. Bahunya lebar. Rambutnya pendek dan tertata. Kemeja organisasi yang dikenakannya bahkan tampak terlalu rapi untuk ukuran hari yang panas seperti itu.
Raka berhenti berjalan.
Ia tidak langsung menyadari bahwa dirinya berhenti.
Kakinya hanya tidak melangkah lagi.
Di tangannya, buku yang seharusnya segera ia serahkan pada Anin tetap terjepit erat.
Dika sedang mengatakan sesuatu. Dua orang mahasiswa lain yang berdiri di dekat mereka ikut tertawa. Anin kembali menoleh ke arahnya, lalu berkata sesuatu yang membuat laki-laki itu tersenyum sambil sedikit membungkukkan kepala.
Begitu mudah.
Begitu alami.
Raka menatap mereka dari kejauhan dan tiba-tiba merasa seperti sedang melihat sebuah gambar yang tidak membutuhkan dirinya.
Sebuah adegan yang sudah lengkap.
Anin.
Dika.
Orang-orang yang mengelilingi mereka.
Student Center.
Spanduk organisasi.
Mahasiswa yang lalu-lalang.
Semua tampak berada pada tempatnya.
Kecuali dirinya.
Raka berdiri beberapa meter dari keramaian dengan buku perpustakaan di tangan, tas selempang menggantung di bahu, dan tubuh yang terasa semakin kecil setiap kali matanya kembali pada sosok Dika. Ia tahu tinggi badannya tidak berubah hanya karena berdiri jauh dari orang lain. Ia sudah dua puluh tahun hidup dengan tubuh setinggi seratus lima puluh empat sentimeter. Angka itu bukan rahasia. Ia tidak perlu diingatkan. Namun ada hari-hari tertentu ketika angka itu hanya sekadar angka.
Hari ini bukan salah satunya.
Hari ini, angka itu seperti sesuatu yang berdiri tepat di depan wajahnya.
Seratus lima puluh empat.
Seratus tujuh puluh delapan.
Selisih dua puluh empat sentimeter.
Raka tidak tahu mengapa pikirannya sampai menghitung.
Mungkin karena sejak lama, ketika bertemu laki-laki lain yang menurutnya lebih pantas, otaknya selalu berubah menjadi mesin yang kejam. Ia menghitung tinggi badan. Membandingkan bentuk bahu. Memeriksa wajah sendiri di layar ponsel yang mati. Mengingat kembali foto-foto yang pernah membuatnya merasa terlalu kecil. Mengingat cara orang-orang berdiri di sampingnya.
Lalu, tanpa diminta, satu pertanyaan yang sama selalu muncul.
Kalau kamu jadi perempuan, kamu pilih yang mana?
Raka menelan ludah.
Pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban.
Ia sudah terlalu lama yakin tahu jawabannya.
Dika tidak hanya tinggi. Itu masalahnya.
Kalau Dika hanya tinggi, mungkin Raka masih bisa mencari celah untuk menenangkan diri. Kalau Dika hanya tampan, mungkin ia bisa berkata bahwa ketampanan bukan segalanya. Kalau Dika hanya populer, mungkin ia bisa mengingatkan dirinya bahwa popularitas juga tidak menjamin kualitas seseorang.
Tetapi dari sudut pandang Raka saat itu, Dika tampak memiliki semuanya sekaligus.
Tinggi.
Tampan.
Atletis.
Percaya diri.
Aktivis.
Pemimpin organisasi.
Mudah berbicara di depan banyak orang.
Dikelilingi teman-teman.
Dan yang paling menyakitkan, Anin tampak benar-benar nyaman berdiri di dekatnya.
Raka tidak pernah menganggap dirinya bodoh. Justru itu salah satu hal yang masih bisa ia pegang ketika bagian lain dari dirinya terasa goyah. Ia tahu dirinya mampu memahami bacaan yang rumit. Ia mampu menyusun argumen. Ia bisa melihat hubungan antara konsep-konsep yang kadang luput dari orang lain. Ketika berbicara mengenai sesuatu yang benar-benar ia pahami, ia tidak pernah merasa harus berpura-pura.
Namun kecerdasan tidak memiliki bentuk.
Tidak bisa diukur dari kejauhan.
Tidak terlihat ketika seseorang pertama kali memasuki ruangan.
Dika hanya perlu berdiri.
Raka harus berbicara berjam-jam agar orang tahu bahwa dirinya punya sesuatu.
Dan bahkan setelah itu, belum tentu orang akan peduli.
Tangannya mengencang di sekitar buku.
Seorang mahasiswa melewatinya sambil membawa dua gelas es teh. Raka sedikit menyingkir agar tidak menghalangi jalan, lalu kembali memandang ke arah Anin. Kali ini ia melihat perempuan itu menepuk pelan lengan salah satu mahasiswa lain ketika mereka tertawa. Gerakan kecil, tidak berarti apa-apa. Sangat mungkin tidak berarti apa-apa.
Tetapi Raka tidak sedang berada dalam keadaan yang mampu menilai sesuatu secara proporsional.
Semua gerakan tampak seperti bukti.
Semua senyum seperti perbandingan.
Semua tawa seperti sebuah dunia yang tidak pernah mengundangnya masuk.
Ia membayangkan dirinya berjalan ke sana.
Membayangkan Anin melihatnya.
“Eh, Raka!”
Lalu Dika akan menoleh.
Raka harus mendongakkan kepala.
Mereka berjabat tangan.
Atau mungkin tidak.
Mungkin Raka hanya menyerahkan buku itu pada Anin, mengatakan, “Ini bukunya,” lalu berdiri sebentar seperti orang yang tidak tahu harus melakukan apa lagi.
Lalu Anin kembali berbicara dengan mereka.
Dika kembali tersenyum.
Raka pergi.
Adegan itu bahkan belum terjadi, tetapi rasa malunya sudah datang lebih dulu.
Ia menundukkan wajah.
Bayangan lain muncul tanpa peringatan.
Pelataran sekolah.
Dua tahun lalu.
Sore yang terlalu terang.
Tatapan Maya yang bergerak dari wajahnya, turun sebentar, lalu kembali lagi dengan sesuatu yang membuat Raka ingin menghilang dari tubuhnya sendiri.
Tidak.
Raka mengembuskan napas.
Ia tidak mau mengingat itu.
Tidak di sini.
Tidak sekarang.
Namun trauma tidak pernah meminta izin sebelum muncul. Kadang ia datang bukan dalam bentuk kenangan utuh, melainkan sensasi. Sebuah tekanan di dada. Rasa panas yang naik sampai leher. Keinginan untuk menunduk agar orang lain tidak terlalu lama melihatmu.
Raka memandang Dika sekali lagi.
Kemudian dirinya sendiri.
Bukan melalui cermin.
Melalui cara ia membayangkan orang lain melihatnya.
Tubuh pendek.
Wajah biasa.
Baju yang tidak pernah benar-benar menarik perhatian.
Postur yang sering ia koreksi diam-diam, meskipun membusungkan dada tidak akan menambah satu sentimeter pun tinggi badannya.
Di antara semua itu, ia membawa sebuah buku untuk Anin.
Tiba-tiba semuanya terasa sangat jelas.
Bukan seperti seorang laki-laki yang datang menemui perempuan yang ia sukai.
Lebih seperti seorang pengantar.
Raka mengalihkan pandangan dengan cepat.
Ada rasa sakit kecil yang muncul karena pemikiran itu, tetapi ia tidak membiarkannya tumbuh terlalu lama. Ia selalu punya cara untuk melawan pikiran yang menyakitkan. Bukan dengan membuktikan bahwa pikiran itu salah, melainkan dengan mencari alasan lain agar dirinya tetap bertahan.