Makasih Sudah Bertahan

Diva Amane
Chapter #10

Panggilan Laptop Rusak

Sore itu, Raka sebenarnya sudah memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa.

Keputusan tersebut tidak lahir dari kemalasan, setidaknya bukan sepenuhnya. Sejak pagi ia berpindah dari satu kelas ke kelas lain, menyalin catatan, berdiskusi dengan dosen, lalu menyelesaikan dua halaman tugas yang seharusnya sudah dikumpulkan minggu depan. Ketika matahari mulai condong dan cahaya dari jendela lorong fakultas berubah kekuningan, tubuhnya terasa seperti baru sadar bahwa sejak siang ia belum benar-benar duduk dengan tenang.

Ia pulang ke kos dengan motor tuanya, menggantung jaket di belakang pintu, lalu menjatuhkan diri ke kasur tanpa mengganti pakaian.

Kamar itu tidak besar. Hanya cukup untuk sebuah kasur tipis, meja belajar yang catnya mulai mengelupas di beberapa sudut, lemari plastik, dan rak buku yang terlalu penuh sehingga beberapa buku harus ditumpuk mendatar di atas buku lain. Kipas angin kecil di sudut ruangan berputar sambil mengeluarkan bunyi berdecit setiap beberapa detik. Dari luar terdengar suara televisi milik penghuni kamar sebelah, bercampur suara sendok membentur piring dan teriakan seseorang yang sedang bermain gim daring.

Raka menatap langit-langit.

Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, tidak ada pesan dari Anin yang harus segera ia balas.

Tidak ada permintaan untuk mencetak tugas.

Tidak ada pertanyaan tentang buku.

Tidak ada kalimat, “Rak, kamu di mana?” yang entah kenapa selalu membuat tangannya bergerak lebih cepat daripada pikirannya.

Hari itu sunyi.

Aneh rasanya.

Seharusnya ia menikmati keadaan itu.

Namun, justru karena tidak ada yang meminta bantuannya, pikirannya malah beberapa kali kembali kepada Anin. Seperti kebiasaan buruk yang sudah mulai terbentuk tanpa ia sadari. Ia membuka WhatsApp, melihat nama Clarissa Anindya Kirana yang tersimpan sederhana sebagai “Anin”, lalu menatap status terakhir yang tertulis di bawah namanya.

Online tadi.

Raka menutup aplikasinya.

Beberapa detik kemudian, ia membukanya lagi.

“Tolol,” gumamnya sambil mengusap wajah.

Ia meletakkan ponsel di dada dan mencoba memejamkan mata.

Baru beberapa menit kelopak matanya terasa berat ketika ponsel itu bergetar.

Raka membuka satu mata.

Layar ponselnya menyala di atas dadanya.

Anin calling...

Dalam sekejap, rasa kantuknya hilang.

Raka langsung bangun setengah duduk.

Jantungnya berdetak lebih cepat daripada yang seharusnya untuk sebuah panggilan telepon biasa. Anin jarang menelepon. Mereka lebih sering berkomunikasi lewat pesan singkat. Kalau ada yang perlu dibicarakan panjang, biasanya Anin mengirim beberapa chat berturut-turut, lalu menghilang ketika Raka masih mengetik jawaban.

Jadi ketika namanya muncul di layar sebagai panggilan masuk, Raka tidak membiarkan dering kedua selesai.

“Hallo?”

“Raka?”

Suara di seberang terdengar aneh.

Raka langsung duduk tegak.

“Kenapa?”

“Rak...”

Ada suara napas pendek. Seperti seseorang yang sedang berusaha keras untuk tidak menangis.

“Anin?”

“Laptopku mati.”

Raka mengernyitkan dahi.

“Terus?”

“Ya mati total!”

Nada suara Anin meninggi, lalu langsung pecah di akhir kalimat. Raka bisa membayangkan wajahnya. Alis yang mengernyit. Bibir yang mengeras karena menahan panik. Rambut yang mungkin sudah tidak serapi biasanya karena berkali-kali disentuh dengan tangan sendiri.

“Tenang dulu,” kata Raka cepat.

“Gimana aku mau tenang? Tadi masih bisa dipakai. Terus aku tinggal sebentar buat ambil minum. Pas balik, layarnya hitam. Aku pencet tombolnya nggak bisa. Aku charge juga nggak ada lampunya.”

“Udah dicoba cabut chargernya?”

“Udah.”

“Baterainya pernah bermasalah sebelumnya?”

“Nggak tahu. Nggak pernah kayak gini.”

“Coba tenang dulu, Nin.”

“Aku nggak bisa tenang, Raka.”

Kalimat itu membuat Raka diam sesaat.

Ada sesuatu dalam nada Anin yang membuat rasa lelahnya seperti ditarik keluar dari tubuhnya begitu saja. Bukan karena kalimat itu istimewa. Bukan karena Anin mengatakan sesuatu yang romantis. Justru sebaliknya. Ia sedang panik, sedang membutuhkan seseorang, dan entah sejak kapan Raka mulai menganggap dibutuhkan oleh Anin sebagai sesuatu yang hampir sama nilainya dengan dicintai.

Raka menurunkan suaranya.

“Di laptop itu ada tugas?”

“Bukan cuma tugas. Semua draf ada di situ. Esai yang kemarin, bahan presentasi minggu depan, terus ada draft yang lagi aku kerjain. Aku belum sempat backup.”

“Tenang.”

“Aku udah coba nyalain berkali-kali.”

“Jangan dipencet terus.”

“Lah terus aku harus ngapain?”

“Ya... berhenti dulu. Taruh laptopnya. Jangan diapain.”

“Terus?”

“Aku ke sana.”

Hening.

Hanya satu atau dua detik.

Namun, bagi Raka, jeda itu terasa cukup panjang untuk membuatnya menyadari kalimat apa yang baru saja keluar dari mulutnya.

Aku ke sana.

Seperti biasa.

Seolah-olah ia tidak perlu berpikir.

Seolah-olah seluruh sore yang tadi ingin digunakannya untuk beristirahat tidak pernah ada.

Di seberang telepon, Anin menarik napas.

“Serius?”

“Iya.”

“Kamu lagi di mana?”

“Di kos.”

“Jauh nggak?”

“Enggak.”

Padahal kos Raka dan kos Anin tidak bisa disebut dekat. Tidak terlalu jauh memang, tetapi cukup untuk membuatnya harus melewati beberapa jalan kampung yang sore hari dipenuhi motor, mahasiswa yang baru pulang kuliah, dan anak-anak kecil yang bermain bola di tengah gang.

Raka sudah berdiri sebelum percakapan mereka selesai.

“Aku ke sana sekarang.”

“Rak...”

“Hm?”

“Kamu bisa, kan?”

Pertanyaan itu membuat tangannya berhenti di gagang pintu.

Ia menatap lantai.

Kalimat yang sederhana. Bahkan mungkin tidak dimaksudkan apa-apa.

Namun, bagi Raka, kalimat itu seperti sesuatu yang tiba-tiba menegakkan punggungnya.

Bisa, kan?

Ia tidak tahu.

Ia bukan teknisi komputer profesional. Ia memang cukup terbiasa membongkar perangkat elektronik sederhana. Beberapa kali membantu teman membersihkan laptop, mengganti sistem operasi, atau memperbaiki masalah perangkat lunak. Namun, “mati total” bisa berarti apa saja.

Baterai.

Adaptor.

Mainboard.

Kerusakan yang jauh lebih rumit.

Raka tidak tahu apa yang terjadi pada laptop Anin.

Namun, yang ia tahu hanyalah satu hal.

Anin sedang bertanya apakah ia bisa.

Dan Raka tidak ingin menjadi orang yang menjawab tidak.

“Bisa,” katanya.

Jawaban itu keluar terlalu cepat.

“Aku usahain.”

“Please, Rak.”

“Iya.”

“Cepet, ya.”

“Iya.”

Panggilan terputus.

Raka masih berdiri di dekat pintu beberapa detik, ponsel di tangan, sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang.

Lalu ia melihat dirinya sendiri di cermin kecil yang tergantung di belakang pintu.

Rambutnya berantakan. Kaosnya kusut. Wajahnya terlihat lelah. Tubuh pendek yang selama ini selalu berusaha ia abaikan tampak semakin kecil di dalam pantulan cermin itu karena bahunya sedang turun.

Ia mendecakkan lidah.

“Bisa.”

Ia mengulanginya lebih pelan.

“Ya harus bisa.”

Lihat selengkapnya