Makasih Sudah Bertahan

Diva Amane
Chapter #11

Menerobos Kota Demi Anin

Hujan turun tepat ketika Raka keluar dari gerbang kampus, mula-mula hanya berupa titik-titik kecil yang menempel di kaca helm, lalu berubah menjadi tirai air yang semakin rapat dalam hitungan menit. Langit sore yang sejak tadi kelabu akhirnya benar-benar pecah, membuat jalan raya di depan kampus berubah menjadi permukaan hitam mengilap yang memantulkan lampu kendaraan dan papan reklame dalam pecahan warna yang bergetar. Raka menepikan motor tuanya sebentar di bawah kanopi minimarket, memastikan tas hitam yang berisi laptop Anin sudah terbungkus jaket hujan tipis yang ia punya. Ia bahkan memeriksa resletingnya dua kali, kemudian mengikat bagian bawah tas dengan tali plastik yang ditemukan di bagasi motor. Laptop itu bukan miliknya, tetapi entah kenapa sejak beberapa jam lalu Raka merasa benda tersebut membawa tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada beratnya sendiri. Di dalam laptop itu ada pekerjaan Anin, dan selama pekerjaan itu belum kembali ke tangan pemiliknya dalam keadaan selamat, Raka merasa dirinya belum boleh berhenti.

Ponselnya bergetar di saku celana tepat ketika ia hendak kembali menyalakan mesin. Pesan dari Anin masih terpampang di layar.

Anin: Rak, katanya tempat servis yang bagus di daerah pusat kota. Bisa dibawa ke sana nggak? Aku takut kalau ke tempat biasa malah datanya hilang.

Raka membaca pesan itu sekali lagi meskipun ia sudah hafal isinya. Beberapa jam sebelumnya ia telah menerima laptop Anin dengan kondisi mati total. Ia sudah mencoba beberapa hal sederhana di kosannya, mulai dari mengecek adaptor, membersihkan konektor, sampai mencoba menyalakannya dengan baterai dilepas, tetapi tidak ada respons sama sekali. Setelah beberapa pencarian di internet dan bertanya kepada dua orang teman yang pernah mengalami kerusakan serupa, ia mendapat rekomendasi sebuah pusat servis elektronik yang cukup terkenal di ujung kota. Tempat itu jauh, hampir satu jam perjalanan jika jalanan lancar. Dengan cuaca seperti ini, mungkin bisa lebih dari dua jam. Namun begitu membaca ketakutan Anin mengenai datanya, Raka tidak lagi melihat jarak sebagai persoalan.

Ia mengetik balasan dengan ibu jari yang sedikit kaku karena udara dingin.

Raka: Bisa. Aku bawa sekarang.

Tidak ada pertanyaan apakah Anin bisa mengantarnya sendiri. Tidak ada pertimbangan apakah hujan akan merepotkannya. Bahkan tidak ada pikiran tentang tugas kuliahnya yang belum selesai atau uang yang tersisa di dompet. Kalimat itu keluar begitu saja, seperti keputusan yang sebenarnya sudah dibuat sebelum pikirannya sempat mengajukan keberatan. Beberapa detik kemudian muncul tanda dua centang biru, lalu balasan.

Anin: Makasih ya, Rak. Tolong banget.

Raka tersenyum kecil.

Dua kata terakhir itu membuat dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Ia memasukkan ponsel ke saku, kemudian kembali menatap hujan di hadapannya. Ada bagian kecil dalam dirinya yang sebenarnya tahu bahwa perjalanan ini akan melelahkan. Ada pula bagian lain yang sadar bahwa ia sedang mengambil tanggung jawab yang bukan kewajibannya. Namun semua pertimbangan itu kalah cepat dibandingkan satu pikiran sederhana yang muncul berulang-ulang.

Anin butuh aku.

Dan bagi Raka, pada masa itu, kebutuhan seseorang yang ia cintai terasa seperti alasan yang cukup untuk melakukan hampir apa saja.

Ia menarik napas panjang, memakai jas hujan, kemudian memeluk tas laptop itu di depan dada sebelum mengenakan ranselnya di atas jas hujan. Posisi itu agak menyulitkan ketika mengendarai motor, tetapi Raka tidak peduli. Ia bahkan sempat membuka bagian depan jaket hujannya sedikit untuk memastikan tas tersebut terlindungi tubuhnya. Kalau harus ada yang basah, pikirnya, biar dirinya saja.

Motor tua itu akhirnya keluar dari bawah kanopi. Mesinnya sempat batuk dua kali sebelum menyala dengan suara kasar yang sudah sangat dikenalnya. Raka menurunkan visor helm, lalu menerobos hujan.

Jalanan kota segera menjadi ujian.

Air hujan menghantam visor seperti ribuan butir kecil yang dilemparkan tanpa henti. Wiper kendaraan-kendaraan di depannya bergerak cepat, sementara lampu rem merah menyala berderet panjang di tengah kemacetan. Bau aspal basah bercampur asap knalpot, bensin, dan tanah yang baru disiram hujan memenuhi udara setiap kali Raka berhenti di antara kendaraan. Celananya mulai basah dari bagian lutut ke bawah karena air yang memercik dari ban mobil dan genangan jalan. Sesekali sebuah kendaraan besar melintas terlalu dekat dan menyemburkan air keruh ke sisi tubuhnya.

Raka hanya mempererat pegangan pada setang.

Tas laptop itu berada di antara kedua lengannya.

Sesekali ia menunduk sedikit untuk memastikan air tidak masuk ke bagian resleting. Ketika lampu merah menyala, ia menggunakan satu tangan untuk menarik ujung jaket hujan menutupi tas lebih rapat. Motor di belakangnya membunyikan klakson karena ia terlambat bergerak ketika lampu berubah hijau.

"Ya, sabar," gumamnya di balik helm.

Ia kembali melaju.

Perjalanan yang biasanya dapat ditempuh dalam kurang dari satu jam berubah menjadi hampir dua kali lipat. Beberapa ruas jalan benar-benar macet. Raka harus melewati gang kecil, memutar melalui jalan alternatif, kemudian kembali masuk ke jalan utama yang penuh kendaraan. Google Maps di ponselnya menunjukkan garis merah hampir sepanjang rute. Sesekali sinyal melemah dan peta tidak bergerak, membuat Raka harus berhenti di bawah atap toko untuk memastikan arah.

Pada satu titik, hujan turun begitu deras hingga pandangannya hanya beberapa meter ke depan. Ia menepi di depan sebuah bengkel yang sudah tutup dan memeriksa tas sekali lagi. Bagian luar jaketnya sudah kuyup, tetapi tas masih aman. Raka mengusap permukaannya dengan telapak tangan.

"Jangan sampai kenapa-kenapa," katanya pelan.

Kalimat itu sebenarnya ditujukan kepada laptop, tetapi dalam pikirannya benda itu sudah menjadi semacam perpanjangan dari kecemasan Anin. Ia bisa membayangkan wajah perempuan itu ketika menyerahkan laptop tadi. Mata yang berkaca-kaca, suara yang sedikit bergetar, dan tangan yang sempat menggenggam jemarinya ketika memohon agar ia membantu.

Rak, tolong banget.

Raka menggeleng kecil di balik helm.

"Harus bisa."

Ia kembali mengendarai motor.

Pusat elektronik itu berada di sebuah kawasan pertokoan tua yang membentang panjang di salah satu sisi jalan besar. Lampu-lampu toko menyala terang meskipun hari belum benar-benar malam, memantul pada genangan air di trotoar. Di antara toko ponsel, toko kamera, penjual komponen komputer, dan gerai servis elektronik, suara mesin bor kecil, kipas pendingin, serta percakapan teknisi bercampur menjadi satu kebisingan yang membuat kepala Raka terasa penuh.

Ia memarkir motor di depan sebuah ruko tiga lantai dengan papan bertuliskan pusat servis laptop. Ketika membuka helm, rambutnya langsung terasa lembap. Bahunya basah meskipun sudah memakai jas hujan, sementara ujung celananya meneteskan air ke lantai.

Raka membawa tas laptop masuk.

Udara di dalam ruangan jauh lebih dingin daripada di luar. Pendingin ruangan bekerja terlalu kuat, membuat kulitnya yang basah terasa menggigil. Beberapa pelanggan duduk di bangku plastik berwarna biru yang berderet di sepanjang dinding. Di balik meja kaca, teknisi sedang membongkar beberapa laptop dengan obeng kecil, kabel-kabel menjuntai dari berbagai arah, dan layar monitor menampilkan baris-baris tulisan teknis yang sama sekali tidak dimengerti oleh sebagian besar orang di ruangan itu.

"Mas, mau servis?" seorang teknisi bertanya.

"Iya, Mas. Laptop mati total. Tapi ada data penting di dalamnya."

Teknisi itu mengangkat tangan, memberi isyarat agar Raka mendekat. "Coba lihat dulu."

Raka mengeluarkan laptop dari tas dengan hati-hati, meletakkannya di atas meja. Teknisi itu memeriksa bagian luar, kemudian menekan tombol power. Tidak terjadi apa-apa. Ia mencoba adaptor lain. Tetap tidak menyala. Setelah membuka bagian belakang, teknisi memeriksa beberapa komponen dengan alat kecil.

"Kalau mati total begini, belum tentu cuma power-nya."

"Datanya aman, Mas?"

Teknisi itu menatap Raka sebentar.

"Kalau hard disk atau SSD-nya nggak rusak parah, kemungkinan besar bisa diambil. Tapi kalau mau sekalian dibenerin sampai nyala lagi, kita harus bongkar dan diagnosa."

"Berapa lama?"

"Kalau mau cepat, minimal beberapa jam. Bisa lebih."

Raka menelan ludah.

"Kalau biayanya?"

Teknisi itu menyebutkan angka.

Raka diam.

Angka tersebut tidak terdengar fantastis bagi orang yang memiliki penghasilan tetap, tetapi bagi mahasiswa yang mengandalkan uang kiriman untuk makan dan kebutuhan kuliah, jumlah itu terasa seperti sesuatu yang seharusnya tidak disentuh. Bahkan uang yang ada di dompetnya saat itu tidak sampai dua kali lipat dari uang muka yang diminta.

Teknisi itu tampaknya menangkap keraguan di wajah Raka.

"Kalau cuma ambil data dulu, beda lagi biayanya. Tapi kalau mau laptopnya sekalian diusahakan hidup, ya kita proses dari awal. Data penting, kan?"

Raka memandang laptop di atas meja.

Di layar yang mati itu tidak ada apa-apa. Hanya pantulan wajahnya sendiri yang tampak samar di permukaan hitam. Wajah yang lelah, rambut basah, kulit yang sedikit pucat karena kedinginan. Ia teringat Anin yang mungkin sedang duduk di kosannya, menunggu kabar dengan kecemasan yang sama sekali tidak bisa ia lihat dari sini.

"Kerjain, Mas."

Teknisi itu mengangguk.

Lihat selengkapnya