Malam telah turun sepenuhnya ketika Raka mematikan mesin motornya di seberang sebuah kafe yang berdiri di salah satu sudut jalan dekat kampus. Lampu-lampu warm white menggantung di sepanjang kanopi dan memantul pada kaca-kaca besar di bagian depan, membuat tempat itu tampak seperti ruang yang sama sekali berbeda dari lingkungan kampus yang biasanya dipenuhi papan pengumuman, kursi plastik, dan mahasiswa dengan tas punggung lusuh. Dari balik kaca, Raka bisa melihat beberapa kelompok mahasiswa duduk mengitari meja-meja kayu, sebagian membuka laptop, sebagian tertawa sambil memegang gelas kopi, dan beberapa lainnya tampak sedang membicarakan sesuatu dengan ekspresi penuh percaya diri yang selalu membuatnya merasa seperti sedang melihat dunia dari luar jendela. Musik akustik terdengar samar sampai ke parkiran, bercampur dengan suara kendaraan yang melintas dan sesekali bunyi sendok beradu dengan cangkir. Raka duduk beberapa detik di atas motor tuanya tanpa bergerak, satu tangan masih menggenggam tas laptop yang sejak sore tadi dibawanya dengan hati-hati, sementara matanya terpaku pada pintu kaca kafe itu seolah-olah di balik pintu tersebut terdapat sesuatu yang jauh lebih sulit dimasuki daripada sekadar sebuah tempat nongkrong.
Laptop itu sudah menyala normal.
Itulah satu-satunya hal yang terus ia pikirkan sejak meninggalkan pusat servis tadi. Setelah berjam-jam menunggu di atas kursi plastik, menahan lapar, kedinginan, dan berkali-kali menghitung sisa uang di dompetnya, Raka akhirnya menerima laptop tersebut dengan kedua tangan seperti seseorang yang baru saja mendapatkan kembali sesuatu yang sangat berharga. Teknisi itu berhasil memulihkan sebagian besar data penting Anin, meskipun beberapa berkas yang rusak tidak bisa diselamatkan seluruhnya. Raka bahkan meminta teknisi memeriksa ulang dua kali sebelum membawa laptop itu pergi, takut ada sesuatu yang terlewat dan dirinya harus kembali lagi ke tempat itu. Sepanjang perjalanan pulang, ia sempat membayangkan wajah Anin ketika mengetahui semua pekerjaannya kembali. Bayangan itu sederhana, tetapi entah mengapa cukup untuk membuat dadanya terasa ringan.
Sekarang wajah itu berada di balik kaca kafe.
Raka menelan ludah, kemudian melirik pakaiannya sendiri. Jaket tipis yang dikenakannya masih menyimpan sedikit bau hujan dan asap kendaraan. Celana jinsnya tidak benar-benar kotor, tetapi juga jelas bukan pakaian yang pantas dibandingkan dengan mahasiswa-mahasiswa yang terlihat di dalam kafe. Rambutnya sedikit berantakan karena helm, dan wajahnya tampak lebih kusam daripada biasanya setelah seharian berkutat dengan perjalanan, bengkel, dan hujan. Ia mengusap bagian depan jaketnya dengan telapak tangan, sebuah gerakan kecil yang tidak banyak mengubah apa-apa. Tas laptop masih berada di tangannya.
Ia sebenarnya bisa menunggu sampai besok.
Itu sempat terlintas di kepalanya ketika Anin tadi mengirim pesan bahwa dirinya sedang berada di kafe bersama teman-teman. Tetapi kemudian Raka melihat tas laptop di tangannya dan berpikir bahwa Anin mungkin membutuhkan perangkat itu malam ini juga. Mungkin ada tugas yang harus dikerjakan. Mungkin ada dokumen yang harus dikirim. Mungkin ada sesuatu yang tidak bisa menunggu sampai pagi. Ia bahkan tidak tahu persis apa yang akan dilakukan Anin setelah menerima laptop itu, tetapi ketidaktahuan tersebut tidak terasa penting. Yang penting adalah laptop itu sudah kembali berfungsi, dan Raka ingin menjadi orang yang menyerahkannya.
Ia turun dari motor.
Langkahnya menuju kafe terasa lebih lambat daripada yang seharusnya. Setiap kali sepatu Raka menginjak permukaan paving parkiran, pikirannya seperti menemukan alasan baru untuk berhenti. Bagaimana kalau Anin sedang sibuk? Bagaimana kalau teman-temannya bertanya siapa dirinya? Bagaimana kalau mereka tahu bahwa dia yang mengurus laptop itu sampai ke pusat servis di ujung kota? Pertanyaan-pertanyaan kecil itu berputar tanpa menghasilkan jawaban yang benar-benar berguna. Raka hanya mengeratkan genggaman pada tas laptop dan terus berjalan sampai akhirnya berdiri tepat di depan pintu kaca.
Seorang pelayan keluar membawa dua gelas minuman, dan Raka otomatis menepi untuk memberinya jalan. Ketika pintu terbuka, udara hangat dari dalam kafe menyentuh wajahnya, membawa aroma kopi, susu, dan makanan yang baru dipanggang. Dari tempatnya berdiri, ia bisa mendengar suara tawa beberapa mahasiswa yang duduk di meja panjang dekat jendela. Kemudian ia melihat Anin.
Anin duduk di salah satu sisi meja bersama empat orang lainnya. Rambutnya tergerai rapi, dan ia mengenakan pakaian yang sederhana tetapi terlihat jauh lebih tertata daripada Raka. Ia sedang tertawa mendengar sesuatu yang dikatakan seorang teman laki-laki di seberangnya. Tangannya memegang gelas minuman dingin, sementara matanya menyipit sedikit karena tawa. Wajahnya terlihat ringan, hidup, dan sama sekali berbeda dari wajah pucat yang dilihat Raka beberapa hari sebelumnya ketika gadis itu sedang sakit di kosannya.
Raka berhenti sejenak.
Ada rasa lega yang muncul lebih dahulu. Anin sudah sehat.
Kemudian ia menyadari bahwa dirinya berdiri sendirian di luar, membawa laptop yang telah menghabiskan hampir seluruh uang makan mingguannya, sementara orang yang ingin ditemuinya sedang tertawa bersama orang-orang lain. Kesadaran itu seharusnya membuatnya merasa sedikit canggung, tetapi anehnya tidak. Raka justru tersenyum kecil. Melihat Anin baik-baik saja sudah cukup untuk membuat rasa lelahnya terasa sedikit lebih ringan.
Ia mengetuk kaca pelan.
Anin menoleh.
Mata mereka bertemu.
Senyum Anin berubah menjadi senyum pengenalan. Ia mengangkat alis sedikit, kemudian memberi isyarat kecil dengan tangannya agar Raka menunggu. Beberapa detik kemudian ia bangkit dari kursinya dan berjalan menuju pintu. Raka langsung berdiri lebih tegak, refleks memperbaiki posisi bahunya seperti yang selalu ia lakukan setiap kali berhadapan dengan Anin. Tas laptop di tangannya mendadak terasa lebih berat.
"Raka?"
"Iya."
"Kamu bawa laptopku?"
Raka mengangguk cepat. "Udah beres."
Anin membuka pintu lebih lebar dan keluar. Musik dari dalam terdengar sedikit lebih jelas selama pintu terbuka, kemudian kembali samar ketika pintu menutup di belakangnya. Mereka berdiri berhadapan di bawah cahaya lampu kafe. Untuk sesaat Raka tidak tahu harus berkata apa. Ia telah membayangkan momen ini berkali-kali dalam perjalanan pulang, tetapi ternyata tidak ada kalimat istimewa yang keluar dari kepalanya.
Ia mengangkat tas tersebut.
"Nih."
Anin menerima tas itu dengan kedua tangan. "Serius udah nyala?"
"Udah. Aku minta dicek ulang juga. Data yang bisa diselamatkan sebagian besar balik. Ada beberapa file yang corrupt dari awal, kata teknisinya memang nggak bisa dijamin semuanya."
Anin segera membuka tas laptop. "Boleh aku cek?"
"Ya, tentu."
Anin mengeluarkan laptop dari dalam tas, membuka layarnya, lalu menekan tombol daya. Cahaya layar muncul setelah beberapa detik. Raka memperhatikan wajah Anin yang berubah perlahan ketika desktop muncul. Ada sesuatu seperti kelegaan yang mengembang di matanya. Jemarinya bergerak cepat memeriksa beberapa folder, membuka satu dokumen, kemudian berpindah ke folder lain.
"Ya ampun," gumamnya. "Balik semua."
Raka tersenyum.
"Yang penting ada sebagian besar."
Anin membuka dokumen lain. "Ini juga ada."
"Syukurlah."
Raka mengucapkan kalimat itu dengan spontan. Bukan karena ingin dipuji, bukan pula karena ingin membuat Anin berutang budi. Ia memang lega. Selama beberapa jam terakhir, ia merasa seolah-olah seluruh hari itu baru akan selesai setelah memastikan laptop tersebut kembali ke pemiliknya dalam kondisi baik.
Anin menutup laptop perlahan. Ia memandang Raka, dan untuk pertama kalinya sejak Raka datang, senyum yang lebih hangat muncul di wajahnya.
"Makasih banget, ya."
Raka mengangguk.
"Iya."
"Serius, aku tadi udah panik banget. Kalau ini nggak balik, aku nggak tahu harus gimana."
"Nggak apa-apa."