Malam sudah lewat pukul sepuluh ketika Raka duduk di bangku plastik yang salah satu kakinya sedikit lebih pendek daripada yang lain, membuat permukaannya terus bergoyang setiap kali ia menggeser tubuh. Warkop di dekat kosnya masih ramai seperti biasa, meskipun sebagian besar mahasiswa yang datang sudah berganti menjadi penghuni shift malam yang membawa laptop, pekerja lepas yang menunggu pesanan, dan beberapa anak kampus yang belum ingin kembali ke kamar masing-masing. Lampu putih panjang yang menggantung di bawah seng membuat segala sesuatu tampak pucat, termasuk wajah Raka yang terlihat lebih kurus dari biasanya. Di depannya mengepul semangkuk mi instan dengan telur setengah matang, sementara aroma kopi saset, minyak goreng, bawang putih, dan asap rokok bercampur menjadi satu udara pengap yang menempel di tenggorokan.
Raka memutar garpu plastik di antara mi yang mulai mengembang. Seharian ia hampir tidak sempat makan dengan benar. Sejak laptop Anin kembali menyala malam sebelumnya, pikirannya masih dipenuhi kemungkinan-kemungkinan kecil yang sebenarnya bukan urusannya: apakah data yang diselamatkan benar-benar lengkap, apakah laptop itu akan kembali bermasalah, apakah Anin sudah mengecek semua berkasnya, apakah ia akan menghubunginya lagi kalau ada sesuatu yang kurang. Ia tahu semua pertanyaan itu tidak perlu dipikirkan, tetapi pikirannya sudah terbiasa bergerak ke arah Anin bahkan sebelum ia sempat menyadarinya. Ponselnya yang diletakkan di samping mangkuk beberapa kali menyala karena notifikasi grup kelas, tetapi setiap kali layar itu terang, matanya selalu bergerak lebih cepat daripada tangannya untuk memastikan bukan nama Anin yang muncul.
Tidak ada.
Raka kembali menyendok mi.
"Lo belum makan dari siang, Ka?"
Suara itu datang dari sebelah kanan. Raka menoleh dan mendapati Bimo sedang menarik kursi plastik di depannya. Cowok itu baru saja datang dengan jaket tipis yang bagian kerahnya sedikit basah oleh embun malam. Bimo meletakkan gelas es teh di atas meja, lalu memandang Raka beberapa detik tanpa mengatakan apa-apa. Tatapannya membuat Raka merasa seperti sedang diperiksa, bukan ditemani makan. Raka mengangkat bahu sambil memasukkan mi ke mulut.
"Udah."
Bimo mengernyit.
"Mi kayak gitu bukan makan."
"Ya tetap makan."
"Jam berapa tadi?"
Raka mengunyah perlahan. "Nggak tahu."
Bimo menghela napas, lalu bersandar. Di belakang mereka, suara sendok beradu dengan mangkuk dan tawa beberapa mahasiswa menyatu dengan dengung kendaraan yang sesekali melintas di jalan depan warkop. Seorang pelayan sedang menyapu puntung rokok yang berserakan di bawah meja, sementara televisi kecil di sudut ruangan menayangkan pertandingan sepak bola dengan suara yang nyaris tenggelam oleh obrolan pengunjung. Bimo menatap wajah Raka sekali lagi. Mata cowok itu tampak berat, bibirnya pucat, dan rambutnya masih sedikit berantakan seperti belum sempat benar-benar beristirahat. Ada lingkar gelap di bawah matanya yang semakin jelas ketika terkena cahaya lampu.
"Lo kenapa sih akhir-akhir ini?"
"Nggak kenapa-kenapa."
"Jangan bohong."
Raka mengaduk mi yang tersisa. "Gue cuma capek."
"Karena Anin?"
Gerakan tangannya berhenti.
Hanya sepersekian detik, tetapi cukup bagi Bimo untuk melihatnya.
Raka lalu kembali mengaduk mi, kali ini dengan gerakan yang lebih lambat. "Kenapa jadi Anin?"
"Karena tiap gue lihat lo, pasti ada aja urusan Anin."
"Nggak juga."
"Obat."
Raka diam.
"Laptop."
Diam.
"Print tugas."
Raka menatap Bimo.
"Minjemin catatan."
"Lo mau makan atau mau interogasi gue?"
Bimo tidak ikut tersenyum. "Belum selesai."
Raka menarik napas panjang, lalu menyandarkan punggung ke kursi. "Apalagi?"
"Belikan kopi."
"Itu cuma sekali."
"Terus lo anterin ke tempat dia."
"Karena sekalian."
"Terus waktu laptopnya rusak, lo sampai nyebrang kota kehujanan, keluar duit tabungan makan seminggu, nunggu berjam-jam di tempat servis, terus nganterin balik ke dia."
Raka menunduk. Garpu plastiknya diketukkan pelan ke pinggir mangkuk.
"Dia minta tolong."
"Nah."
Bimo menunjuk Raka dengan dagunya. "Itu masalahnya."
Raka mengangkat wajah. "Masalah apanya?"
"Lo."
Satu kata itu jatuh begitu saja, tetapi entah kenapa terdengar lebih keras daripada suara televisi di belakang mereka.
Raka tertawa pendek. "Gue?"
"Iya, lo." Bimo mengambil gelas es tehnya, tetapi tidak langsung minum. "Lo selalu bilang dia cuma minta tolong. Lo selalu punya alasan buat ngebenerin semuanya. Tapi pernah nggak lo berhenti dan mikir kenapa yang selalu dipanggil itu lo?"
"Karena gue bisa bantu."
"Dan karena lo selalu bilang iya."
Raka mengangkat bahu. "Kalau gue bisa bantu, kenapa harus nolak?"
"Karena lo bukan asisten pribadi dia."
Raka langsung menegakkan tubuh.
Bimo melanjutkan, suaranya tetap rendah. "Lo bukan teknisi pribadinya. Bukan kurirnya. Bukan tukang print. Bukan orang yang harus selalu siap setiap kali dia butuh sesuatu."
"Terus gue harus gimana? Kalau teman gue butuh bantuan, gue tinggalin?"
"Teman?"
Pertanyaan itu membuat Raka terdiam.
Bimo mencondongkan tubuh. "Dia pernah ngelakuin hal yang sama buat lo?"
Raka membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang langsung keluar.
"Lo pernah sakit dan dia datang bawa obat?"
"Nggak harus begitu."
"Lo pernah kesusahan sama tugas dan dia bela-belain bantu?"
"Dia punya kesibukannya sendiri."
"Lo pernah punya masalah, terus dia yang nyariin lo?"
Raka menggeleng kecil.
Bimo tertawa hambar. "Tapi kalau dia punya masalah, lo lari."
"Karena gue sayang sama dia sebagai teman."
"Nah. Itu."
Raka menatapnya tajam. "Apa?"
"Lo selalu ngomong soal hubungan kalian seolah-olah udah ada sesuatu yang jelas. Padahal nggak ada."
Suasana di meja mereka tiba-tiba terasa berbeda. Raka bisa mendengar suara hujan tipis mulai mengetuk atap seng warkop. Tetes-tetes kecil itu semakin lama semakin rapat, membentuk suara berdesis yang menyelimuti percakapan mereka. Ia menatap mangkuk di depannya dan melihat kuah yang mulai dingin, minyak merah dari bumbu mi mengambang di permukaannya. Untuk beberapa saat, ia berharap pembicaraan itu berhenti dengan sendirinya.
Namun Bimo tidak berhenti.
"Ka, gue ngomong begini bukan karena gue benci Anin."
"Terus?"
"Gue cuma nggak tega lihat lo."
Raka mendengus. "Nggak perlu kasihan sama gue."
"Ini bukan kasihan."
"Terus apa?"
"Karena lo kelihatan kayak orang yang rela diinjak asal dikasih alasan buat merasa dibutuhkan."
Raka membeku.
Kalimat itu terlalu dekat.
Terlalu tepat.
Ia menatap Bimo dengan rahang mengeras, sementara sesuatu di dalam dadanya seperti ditarik perlahan. Ada bagian dari dirinya yang langsung ingin membantah, ingin berdiri dan pergi, ingin mengatakan bahwa Bimo tidak tahu apa-apa tentang dirinya dan Anin. Tetapi ada bagian lain yang justru merasa takut karena kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang selama ini ia sembunyikan bahkan dari dirinya sendiri.
Raka meletakkan garpu.
"Lo iri?"
Bimo berkedip. "Apa?"
"Lo iri sama gue?"
"Ngapain gue iri?"
"Karena gue dekat sama Anin."
Bimo memandang Raka lama sekali, seolah sedang memastikan apakah temannya benar-benar mengucapkan kalimat itu dengan sadar.
"Gue serius ngomong, lo malah bilang gue iri."
"Ya karena kedengarannya begitu."
"Lo tahu nggak, Ka? Ini yang bikin gue kesel."
"Apa?"
"Lo nggak pernah benar-benar mau dengar."
Raka menggeser mangkuknya menjauh. Nafsu makannya hilang.
"Karena yang lo bilang nggak benar."
"Bagian mana?"
"Lo bilang gue dimanfaatin."
"Iya."
"Lo nggak tahu hubungan gue sama Anin."
"Justru gue tahu karena gue lihat."
"Lo lihat dari luar."
"Dan lo lihat dari dalam sampai nggak bisa bedain mana perhatian dan mana permintaan."
Raka menatap meja. Tangannya menggenggam lutut di bawah permukaan meja.