Makasih Sudah Bertahan

Diva Amane
Chapter #14

Validasi Otak, Penolakan Jiwa

Siang itu matahari menggantung tinggi di atas kampus, tetapi gazebo beton tua di belakang gedung Fakultas Ilmu Sosial tetap terasa teduh karena kanopinya tertutup rapat oleh daun-daun pohon angsana yang sudah puluhan tahun tumbuh di sana. Cat hijau pada tiang-tiang besinya mulai mengelupas, menyisakan bercak abu-abu dan karat di beberapa bagian, sementara permukaan meja beton di tengah gazebo dipenuhi goresan nama, inisial, dan tanggal yang ditinggalkan mahasiswa dari angkatan-angkatan sebelumnya. Tempat itu tidak pernah benar-benar sepi. Selalu ada mahasiswa yang membuka laptop, membaca jurnal dengan stabilo warna-warni, atau duduk berkelompok sambil memperdebatkan sesuatu yang terdengar terlalu serius untuk ukuran makan siang. Bagi Raka, gazebo itu adalah salah satu tempat paling nyaman di kampus karena di sana orang biasanya dinilai dari apa yang mereka katakan, bukan dari seberapa tinggi tubuh mereka atau seberapa menarik wajah mereka ketika sedang diam.

Pesan Anin masuk sekitar setengah jam sebelumnya.

Rak, lo lagi di kampus?

Raka yang sedang keluar dari perpustakaan langsung membalas.

Iya. Kenapa?

Beberapa menit tidak ada jawaban. Raka sudah memasukkan ponsel ke saku ketika layar kembali menyala.

Bisa ke gazebo belakang FIS? Gue mau nanya sesuatu soal teori politik.

Raka berhenti berjalan.

Hanya sebuah permintaan sederhana, tetapi dadanya langsung terasa sedikit lebih ringan. Ada semacam kepuasan yang selalu muncul ketika nama Anin muncul di layar dan diikuti kalimat yang menyatakan bahwa ia dibutuhkan. Ia tidak perlu berpikir panjang. Bahkan ia tidak menyadari bahwa langkahnya otomatis berubah lebih cepat menuju gazebo. Di sepanjang jalan, ia melewati beberapa kelompok mahasiswa yang duduk di bawah pohon, mendengar suara kendaraan dari jalan utama kampus, serta aroma gorengan dari kantin yang terbawa angin, tetapi semua itu terasa seperti latar belakang yang tidak penting.

Yang penting adalah Anin memintanya datang.

Raka tiba di gazebo beberapa menit kemudian dengan napas sedikit lebih berat. Ia sempat merapikan rambut menggunakan pantulan layar ponselnya yang gelap, kemudian menepuk-nepuk bagian depan kemejanya yang kusut. Kebiasaan itu muncul hampir tanpa sadar setiap kali ia akan bertemu Anin. Ia tahu dirinya tidak akan tiba-tiba berubah menjadi laki-laki dengan postur tinggi dan wajah yang menarik hanya karena merapikan kerah baju, tetapi ia tetap melakukannya. Ada bagian kecil dalam dirinya yang selalu berharap bahwa setidaknya ia tidak terlihat terlalu berantakan ketika berdiri di hadapan perempuan itu.

Anin sudah duduk di salah satu sisi gazebo.

Perempuan itu mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku, dengan celana panjang hitam dan rambut yang diikat sederhana. Di atas meja di depannya terdapat beberapa lembar kertas, dua buku tebal, satu notebook, dan sebuah botol air mineral yang baru dibuka. Ia sedang membaca sesuatu dengan alis berkerut, lalu mengangkat wajah ketika mendengar langkah Raka.

"Rak."

Raka tersenyum kecil. "Udah lama?"

"Nggak. Duduk."

Raka menarik kursi beton di seberangnya. Kursi itu terlalu tinggi untuknya sehingga kedua telapak kakinya tidak menapak sempurna ketika ia duduk. Ia tidak memedulikannya. Perhatiannya langsung tertuju pada tumpukan buku di atas meja.

"Yang mana?"

Anin menggeser beberapa lembar kertas ke arahnya.

"Gue lagi ngerjain tugas tentang relasi antara negara dan masyarakat sipil. Dosen gue nyuruh pakai pendekatan teori yang ini, tapi gue masih bingung di bagian konseptualisasinya."

Raka membaca halaman yang ditunjuk.

Judul artikel akademik itu cukup panjang, dengan beberapa istilah yang sebenarnya tidak asing baginya. Ia membaca paragraf pertama, kemudian kedua, lalu menggeser kertas sedikit lebih dekat. Anin menunggu sambil memainkan ujung bolpoin di antara jemarinya.

"Lo bingungnya di definisi atau di penerapannya?"

"Penerapannya. Gue ngerti teorinya secara umum, tapi pas masuk ke kasus, rasanya kok jadi terlalu simplistik."

Raka mengangguk.

Ia mengambil bolpoin dari saku.

"Nah, justru jangan mulai dari kasusnya."

Anin mengangkat alis. "Maksudnya?"

"Karena kalau lo mulai dari kasus, lo bakal maksa kasus itu masuk ke teori. Padahal teorinya sendiri punya asumsi tertentu tentang hubungan negara dan masyarakat sipil. Lo harus bedain dulu antara teori sebagai kerangka analisis sama teori sebagai klaim tentang realitas."

Anin berhenti memainkan bolpoin.

"Jelasin."

Satu kata itu cukup.

Raka mulai berbicara.

Pada awalnya ia hanya menjelaskan apa yang ia pahami dari bacaan tersebut. Namun semakin jauh pembicaraan berlangsung, semakin banyak hal yang keluar dari kepalanya. Ia membandingkan konsep negara dalam pendekatan institusional dengan cara teori tersebut memandang aktor masyarakat sipil. Ia menunjukkan bahwa perbedaan definisi tidak sekadar persoalan terminologi, tetapi berpengaruh terhadap bagaimana sebuah fenomena sosial dibaca. Ia mengambil contoh sederhana dari organisasi mahasiswa, kemudian memperluasnya ke relasi antara lembaga negara, kelompok kepentingan, dan ruang publik. Tangannya beberapa kali bergerak mengikuti alur pikirannya, menunjuk bagian-bagian tertentu pada kertas, menggambar hubungan sederhana menggunakan anak panah, lalu mencoret kembali ketika merasa penjelasannya terlalu menyederhanakan persoalan.

Anin mendengarkan tanpa memotong.

Sesekali ia mengangguk.

Sesekali ia menyelipkan pertanyaan yang justru membuat Raka harus berpikir lebih jauh.

"Kalau begitu, menurut lo kelemahan pendekatan ini di mana?"

Raka berhenti sebentar.

"Di asumsi hubungan yang terlalu rapi."

"Kenapa?"

"Karena dia seolah menganggap aktor punya posisi yang jelas. Padahal dalam realitas, satu aktor bisa punya kepentingan yang berubah tergantung konteks. Organisasi masyarakat sipil misalnya, nggak selalu berada di luar negara. Bisa aja mereka bekerja sama dengan negara di satu isu, tapi mengkritiknya di isu lain. Jadi kalau kita pakai dikotomi negara versus masyarakat sipil secara kaku, ada banyak realitas yang hilang."

Anin tersenyum.

"Makanya gue suka ngobrol sama lo."

Raka terdiam.

Kalimat itu sederhana.

Tetapi sesuatu di dalam dirinya seperti berhenti bergerak.

Anin kembali melihat catatan. "Lo tuh kalau udah bahas beginian beda."

Raka berusaha menjaga ekspresinya.

"Beda gimana?"

"Kayak..." Anin mencari kata. "Otak lo emang gila."

Raka tertawa kecil.

"Lebay."

"Serius."

Anin menatapnya lagi.

"Gue kadang heran gimana lo bisa nyambungin hal-hal kayak gini."

Raka menundukkan kepala, pura-pura membaca catatan. Namun sudut bibirnya tidak bisa menahan senyum.

"Ya biasa aja."

"Enggak. Ini bukan biasa."

Anin mengambil kertas yang tadi dipenuhi coretan Raka. Ia melihat anak panah, lingkaran, dan catatan kecil di pinggir halaman.

"Kalau gue yang baca tadi, mungkin gue cuma ngerti definisinya."

"Karena lo baca terlalu literal."

Anin tertawa.

"Nah, ini nih. Sok ngajarin."

Raka ikut tertawa.

Untuk beberapa menit, mereka hanya berbicara tentang tugas. Raka menjelaskan, Anin bertanya, kemudian Raka memperbaiki beberapa bagian yang menurutnya terlalu general. Percakapan itu mengalir dengan mudah, dan untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, Raka tidak merasa harus mencari-cari alasan untuk berada dekat dengan Anin. Ia memang dibutuhkan di sana.

Bukan untuk membawa obat.

Bukan untuk membeli kopi.

Bukan untuk mencetak tugas.

Bukan untuk memperbaiki laptop.

Kali ini Anin membutuhkan pikirannya.

Dan bagi Raka, itu terasa jauh lebih berarti.

Ia melihat bagaimana Anin menuliskan beberapa kalimat dari penjelasannya ke dalam notebook. Ketika perempuan itu sesekali mengangkat wajah dan bertanya, mata mereka bertemu secara langsung. Tidak ada yang aneh dalam tatapan itu, tetapi Raka tetap merasakan sesuatu yang hangat menjalar di dadanya.

Mungkin selama ini ia salah mengartikan apa yang membuat dirinya berharga.

Mungkin ia tidak perlu menjadi laki-laki paling tampan.

Tidak perlu tinggi.

Tidak perlu punya tubuh atletis seperti Dika.

Tidak perlu menjadi seseorang yang ketika berjalan di tengah kerumunan langsung menarik perhatian.

Mungkin semua itu bisa ditutup oleh sesuatu yang tidak bisa dilihat dari luar.

Otaknya.

Pengetahuannya.

Cara ia memahami sesuatu.

Jika Anin bisa memandangnya seperti ini, mungkin kekurangan fisiknya tidak sepenting yang selama ini ia pikirkan.

"Rak?"

Raka tersadar.

"Hm?"

"Lo ngelamun."

Lihat selengkapnya