Malam telah lewat pukul sebelas ketika kamar kos Raka akhirnya benar-benar sunyi. Suara motor dari jalan depan yang sejak tadi bersahut-sahutan mulai jarang terdengar, menyisakan dengung kipas angin tua yang berputar tidak stabil di sudut kamar. Sesekali baling-balingnya mengeluarkan bunyi berderak kecil, seperti ada sesuatu yang longgar di dalam mesin, lalu kembali berputar dengan suara mendengung yang monoton. Raka duduk bersandar pada dinding di sisi ranjang kayunya, kedua kaki diluruskan ke lantai, sementara sebuah buku tulis bersampul hitam tergeletak terbuka di pangkuannya. Di atas meja kecil dekat jendela, lampu belajar memancarkan cahaya kekuningan yang hanya cukup untuk menerangi separuh kamar. Separuh lainnya tenggelam dalam bayangan, termasuk tumpukan pakaian, tas kuliah, dan kardus bekas yang belum sempat ia rapikan sejak beberapa hari lalu.
Buku itu sudah lama tidak disentuh. Sampulnya mulai melengkung pada bagian sudut, beberapa halaman menguning, dan bekas lipatan memenuhi pinggir kertas. Raka sempat menatap tulisan tangannya sendiri beberapa detik sebelum akhirnya membuka halaman pertama yang diberi tanggal beberapa tahun lalu. Tulisan itu lebih kecil daripada tulisan tangannya sekarang, agak miring, dengan tekanan pulpen yang berbeda-beda pada setiap baris. Ada bagian yang ditulis sangat tipis seolah penulisnya takut kalimat itu sendiri terdengar oleh orang lain, sementara beberapa bagian lain menekan begitu keras sampai bekas tintanya membayang di halaman belakang. Raka mengusap pelan permukaan kertas dengan ibu jarinya.
Lalu ia membaca.
"Hari ini mereka bilang aku cebol lagi."
Raka berhenti.
Senyum kecil muncul di sudut bibirnya, tetapi tidak ada rasa lucu di sana. Ia menunduk sedikit, kemudian mengembuskan napas melalui hidung. Rasanya aneh membaca kalimat yang ditulis oleh dirinya sendiri bertahun-tahun lalu, seolah-olah ia sedang menemukan surat dari seseorang yang pernah tinggal di tubuhnya tetapi sudah lama ia tinggalkan. Namun semakin lama matanya bergerak mengikuti baris-baris tulisan itu, semakin sulit baginya menganggap anak laki-laki dalam buku tersebut sebagai orang lain.
"Aku nggak tahu kenapa mereka senang banget manggil aku begitu. Apa karena aku memang pendek?"
Di bawahnya terdapat beberapa kalimat yang dicoret. Raka masih bisa melihat bekas tekanan pulpen yang membentuk kata-kata yang sengaja dihapus. Ia memiringkan buku agar cahaya lampu jatuh lebih jelas pada halaman itu.
"Kalau aku lebih tinggi, mungkin mereka nggak akan bilang begitu."
Kalimat berikutnya jauh lebih samar.
"Mungkin kalau aku tinggi, orang-orang bakal lebih menghargai aku."
Raka menutup mata.
Untuk beberapa detik ia membiarkan buku itu tetap terbuka di pangkuannya. Dari luar kamar, terdengar suara seseorang menutup pintu kamar kos di ujung lorong, disusul bunyi langkah kaki yang menjauh. Setelah itu sunyi kembali turun. Raka membuka mata dan menatap langit-langit kamar yang cat putihnya mulai kusam.
Ia tidak pernah benar-benar melupakan suara itu.
Cebol.
Dulu kata itu terdengar seperti lelucon sederhana. Anak-anak SMP mengucapkannya sambil tertawa, kadang sambil menepuk bahunya, kadang hanya berteriak dari ujung kelas. Raka yang masih terlalu muda untuk memahami bagaimana sebuah kata bisa tinggal begitu lama di kepala seseorang biasanya hanya ikut tertawa. Ia tahu kalau ia marah, mereka akan semakin senang. Jadi ia belajar tersenyum ketika ditertawakan.
Itulah salah satu kebiasaan pertama yang ia pelajari.
Tersenyum ketika malu.
Tertawa ketika sakit.
Berpura-pura tidak peduli ketika sebenarnya ingin sekali menghilang.
Raka membalik halaman.
Ada catatan lain dari masa SMA.
"Foto kelas hari ini jelek banget. Semua orang kelihatan. Aku malah di belakang dan kepalaku cuma kelihatan setengah."
Ia terdiam cukup lama.
Ingatan itu muncul tanpa diminta. Lapangan sekolah pada siang yang terik. Semua siswa berdesakan di depan kamera. Anak-anak laki-laki yang tinggi berdiri di barisan belakang, sementara mereka yang lebih pendek diminta maju. Raka masih ingat bagaimana ia berdiri di samping seorang teman yang tubuhnya jauh lebih tinggi. Saat foto dicetak dan dibagikan, wajah Raka hampir tertutup bahu orang lain.
Teman-temannya tertawa.
"Rak, lu nggak kelihatan."
Kalimat itu sederhana.
Tetapi malam ini, bertahun-tahun kemudian, Raka tiba-tiba menyadari bahwa mungkin kalimat itulah yang paling banyak ia bawa sampai kuliah.
Lu nggak kelihatan.
Raka menunduk kembali pada buku.
Halaman berikutnya lebih panjang.
"Aku kadang mikir, kalau aku hilang dari foto, mungkin nggak ada yang sadar."
Jari Raka berhenti di tengah halaman.
Dada bagian tengahnya terasa sedikit berat.
Ia membaca ulang kalimat itu.
Sekali.
Dua kali.
Kemudian ia tertawa kecil tanpa suara.
"Lebay banget," gumamnya.
Namun suaranya terdengar asing di kamar yang sunyi.
Ia tahu anak SMA yang menulis kalimat itu tidak sedang mencoba menjadi puitis. Anak itu hanya sedang berusaha mencari cara untuk menjelaskan sesuatu yang belum memiliki nama. Rasa malu yang muncul setiap kali berdiri di samping laki-laki lain. Rasa canggung ketika harus berfoto. Kebiasaan menundukkan kepala ketika berjalan melewati kerumunan. Perasaan bahwa setiap orang pasti lebih dulu melihat tubuhnya sebelum mendengar apa pun yang keluar dari mulutnya.
Raka menggeser duduknya sedikit. Ranjang kayu di belakang tubuhnya mengeluarkan bunyi krek panjang.
Tangannya meremas ujung halaman.
Ia kembali teringat tahun 2016.
Tahun yang tidak pernah benar-benar berhasil ia kubur.
Saat itu ia masih berada di lingkungan sekolah. Ia pernah mengumpulkan keberanian yang baginya terasa jauh lebih besar daripada keberanian siapa pun yang ia kenal. Ada seseorang yang ia sukai. Ia mengira perasaan yang ia miliki mungkin cukup untuk membuat orang itu melihat dirinya lebih jauh daripada penampilan. Ia salah.
Penolakan itu tidak datang dengan teriakan atau penghinaan yang dramatis. Justru karena sederhana, luka itu terasa semakin sulit dibantah. Ia hanya melihat perubahan ekspresi, jarak yang tiba-tiba muncul, dan sikap seseorang yang seakan ingin mengatakan bahwa ketertarikan tidak pernah mungkin terjadi sejak awal.
Setelah hari itu, Raka mulai memperhatikan dirinya sendiri dengan cara yang berbeda.
Tinggi badannya.
Wajahnya.
Bentuk tubuhnya.
Cara ia berdiri.
Cara ia berjalan.
Cara ia terlihat ketika berada di antara laki-laki lain.
Semuanya menjadi objek pemeriksaan.
Seolah-olah tubuhnya adalah barang bukti dalam sebuah perkara yang sudah diputuskan jauh sebelum ia diberi kesempatan membela diri.
Raka menutup buku harian itu perlahan.
Tangannya tetap berada di atas sampul hitamnya.
Ia memandangi buku tersebut seolah benda itu telah mengkhianatinya dengan mengingat terlalu banyak hal yang ingin ia lupakan.
Padahal ia sendiri yang menulis semuanya.
Ia sendiri yang menyimpan.
Ia sendiri yang membawa buku itu dari rumah ke kos, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tanpa pernah benar-benar sanggup membuangnya.
Raka menoleh ke arah meja.
Laptop miliknya terbuka, menampilkan beberapa halaman artikel akademik yang belum selesai ia baca. Di sampingnya ada tumpukan buku teori sosial, beberapa lembar fotokopian jurnal, dan catatan kuliah yang penuh dengan coretan. Beberapa jam sebelumnya, ia masih merasa bangga karena berhasil memahami sebuah konsep yang bahkan membuat teman-temannya menyerah membaca.
Ia diterima di PTN yang selama SMA hanya berani ia bayangkan.
Ia bisa berdiskusi dengan mahasiswa yang lebih tua.
Ia mampu membaca buku-buku yang dulu hanya ia lihat dari rak perpustakaan.
Dosen mengenal kemampuannya.
Teman-temannya sering meminta pendapatnya.
Bahkan Anin datang kepadanya ketika membutuhkan seseorang untuk membedah konsep yang sulit.
Secara logika, seharusnya semua itu cukup.
Namun di kamar kos yang hanya diterangi lampu kecil, Raka menyadari sesuatu yang membuat tenggorokannya terasa kering.
Tidak ada satu pun pencapaian itu yang berhasil menghapus bayangan anak SMP yang dipanggil cebol.
Tidak ada nilai bagus yang membuat tubuhnya menjadi lebih tinggi.
Tidak ada buku yang dibacanya yang membuat wajahnya berubah.
Tidak ada diskusi intelektual yang mengubah kenyataan bahwa ketika berdiri di sebelah laki-laki dengan tubuh tegap, ia masih otomatis mencari posisi yang membuat dirinya tidak terlalu terlihat.
Raka mengangkat tubuhnya dari ranjang.
Ia berdiri di depan cermin kecil yang tergantung di dinding.
Cermin itu tidak terlalu besar. Permukaannya sedikit buram pada bagian sudut, tetapi cukup untuk memperlihatkan tubuhnya dari kepala sampai dada. Raka berdiri lurus di depannya.
Ia menatap dirinya sendiri.
Lama.