Pagi di kampus selalu memiliki cara yang berbeda untuk menyembunyikan keramaian yang akan datang. Ketika jam baru melewati pukul tujuh, lorong menuju perpustakaan masih dipenuhi udara dingin yang tertinggal dari malam, sementara embun menggantung di ujung daun-daun kecil di sepanjang taman fakultas. Beberapa mahasiswa berjalan dengan langkah terburu-buru, sebagian membawa map, sebagian lagi memeluk laptop di dada, dan sisanya masih menguap sambil menggenggam gelas kopi yang baru dibeli dari kantin. Di antara mereka, Raka berjalan sendirian dengan ransel hitam yang talinya sudah sedikit berbulu di bagian bahu. Tubuhnya terasa berat meskipun langkahnya dibuat tenang, seolah-olah setiap gerakan telah diputuskan jauh sebelum telapak kakinya menyentuh lantai koridor.
Ia sudah mengambil keputusan sejak malam tadi. Bukan keputusan yang lahir dari keberanian, melainkan dari sesuatu yang lebih berbahaya karena terasa begitu masuk akal di kepalanya. Kalau selama ini Anin belum melihatnya sebagai seorang laki-laki, mungkin masalahnya bukan karena Anin tidak menyukainya, melainkan karena Raka belum memberikan cukup alasan untuk dilihat. Mungkin ia belum cukup berguna. Mungkin selama ini ia hanya hadir sebagai seseorang yang kebetulan bisa memperbaiki laptop, mengantar sesuatu, mencari referensi, atau membantu ketika keadaan mendesak. Semua itu belum cukup untuk mengubah cara seseorang memandang dirinya. Dan kalau memang begitu, pikir Raka, maka ia hanya perlu bekerja lebih keras.
Pikiran itu berputar sepanjang perjalanan dari kos menuju kampus, berulang-ulang sampai terdengar seperti suara orang lain yang telah tinggal terlalu lama di dalam kepalanya. Raka tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan cara berpikir tersebut, tetapi ia tidak ingin menyentuh bagian itu terlalu dalam. Ia sudah terlalu terbiasa menggunakan logika untuk menambal luka yang sebenarnya tidak bisa disembuhkan dengan argumentasi. Setiap kali perasaan mulai terasa terlalu menyakitkan, ia membedahnya menjadi sebab dan akibat, membuat hipotesis, mencari variabel yang bisa diperbaiki, lalu meyakinkan dirinya bahwa masalah apa pun pasti memiliki solusi jika ia cukup tekun. Kali ini pun ia melakukan hal yang sama.
"Kalau masalahnya persepsi, berarti persepsinya yang harus diubah."
Bibirnya bergerak sangat pelan ketika mengucapkan kalimat itu, hampir seperti gumaman yang hanya ditujukan kepada dirinya sendiri. Ia berhenti sejenak di ujung koridor, memandang halaman fakultas yang masih basah oleh embun, lalu menarik napas panjang. Tidak ada yang menjawab. Tidak ada yang mengatakan bahwa kesimpulannya salah. Maka Raka menganggap diam itu sebagai pembenaran.
Ia kembali berjalan.
Sepanjang lorong, bayangan dirinya sesekali tertangkap pada kaca jendela perpustakaan. Jaket abu-abunya tampak sedikit kebesaran, celana panjangnya mengerut di bagian bawah, dan rambutnya belum sepenuhnya tertata karena tadi hanya disisir menggunakan tangan. Ia menatap pantulan itu sekilas, lalu segera mengalihkan pandangan. Ada bagian kecil dalam dirinya yang masih teringat pada kata-kata Bimo beberapa malam sebelumnya.
Anin cuma memanfaatkan kebaikan sama otak lo.
Raka tidak suka mengingat kalimat itu. Lebih tidak suka lagi karena kalimat tersebut masih terasa menempel di kepalanya meskipun sudah beberapa hari berlalu.
Tanpa pernah nganggep lo sebagai laki-laki bernilai.
Raka mempercepat langkah.
"Enggak," gumamnya. "Dia cuma belum kenal gue."
Kalimat itu terdengar lebih mudah daripada yang sebenarnya ia rasakan.
Ia tahu Anin bukan orang yang sembarangan. Setidaknya begitulah yang ia yakini selama ini. Anin membaca banyak buku, mampu berbicara dengan tenang dalam diskusi, punya pendapat mengenai berbagai persoalan sosial dan politik, dan selalu terlihat seperti seseorang yang tahu ke mana harus membawa dirinya. Bagi Raka, perempuan seperti itu tentu tidak akan mudah membuka diri kepada sembarang laki-laki. Perempuan yang memiliki standar intelektual tinggi pasti berhati-hati dalam memilih seseorang. Kalau Anin menjaga jarak, mungkin itu bukan penolakan.
Mungkin itu kehati-hatian.
Mungkin Anin hanya sedang mengamati.
Mungkin ia sedang memastikan apakah Raka benar-benar memiliki sesuatu yang layak dipertahankan.
Dan kemungkinan-kemungkinan itu jauh lebih nyaman daripada menerima satu kenyataan sederhana bahwa seseorang bisa menghargai pikiran kita tetapi tidak menginginkan hati kita.
Raka memilih kemungkinan yang paling menyelamatkan harga dirinya.
Ketika sampai di depan perpustakaan, ia berhenti di tangga dan menatap pintu kaca yang belum terlalu ramai. Seorang petugas baru saja membuka pintu bagian samping, sementara suara roda troli buku terdengar samar dari dalam. Raka merogoh saku jaket dan mengeluarkan ponselnya. Tidak ada pesan baru dari Anin. Tidak ada namanya di layar.
Anehnya, ia justru merasa lega.
Hari ini bukan tentang menunggu Anin menghubunginya.
Hari ini adalah tentang mempersiapkan dirinya.
Raka masuk ke perpustakaan dengan kepala yang sedikit lebih tegak.
Meja pojok dekat rak kajian politik menjadi tempat persembunyiannya selama hampir dua jam berikutnya. Cahaya pagi masuk melalui jendela-jendela tinggi dan jatuh membentuk garis pucat di permukaan meja kayu. Di sekelilingnya, suasana masih relatif sunyi. Hanya terdengar suara pendingin ruangan, bunyi halaman buku yang dibalik, serta sesekali suara kursi bergeser pelan.
Raka membuka laptopnya dan membuat sebuah folder baru.
Ia memberi nama folder itu sederhana saja.
Anin.
Jarinya berhenti beberapa detik di atas keyboard setelah nama tersebut muncul di layar. Ada rasa malu yang samar, tetapi tidak cukup kuat untuk membuatnya menghapus folder itu. Ia malah membuka sebuah dokumen kosong dan mulai menuliskan beberapa poin.
Teori politik.
Konsep kekuasaan.
Relasi negara dan masyarakat sipil.
Gender dan institusi politik.
Bacaan tambahan.
Ia berhenti, berpikir sebentar, lalu menambahkan satu bagian lagi.
Hal-hal yang mungkin dia butuhkan.
Kursor berkedip di bawah kalimat tersebut.
Raka mulai mengetik.
Referensi jurnal. Buku yang mungkin belum dibaca Anin. Beberapa artikel akademik yang menurutnya relevan. Catatan mengenai teori yang pernah mereka diskusikan. Ia bahkan mulai membuka beberapa dokumen lama dari perkuliahan, mencari bagian-bagian yang sekiranya bisa dipakai untuk memperdalam diskusi.
Tidak ada yang meminta semua itu.
Itulah bagian yang tidak ingin ia akui.
Raka menyadarinya, tetapi ia memilih membungkusnya dengan istilah yang terdengar lebih terhormat.
Persiapan.
Kontribusi.
Kepedulian.
Komitmen.
Bukan mengejar.
Bukan memohon.
Bukan berusaha membeli perhatian.
Ia hanya ingin menjadi seseorang yang benar-benar berguna.
Setidaknya itu yang ia katakan kepada dirinya sendiri.
Raka menyandarkan punggungnya pada kursi. Matanya terasa perih setelah terlalu lama menatap layar. Semalam ia tidur lewat tengah malam karena menyusun ulang beberapa catatan dan membaca artikel yang bahkan belum tentu akan pernah dibahas bersama Anin. Tubuhnya meminta berhenti, tetapi pikirannya justru semakin sibuk mencari alasan untuk terus bergerak.
Ia teringat laptop Anin yang beberapa hari lalu berhasil ia bantu selamatkan. Ia masih ingat bagaimana perempuan itu memegang laptopnya, tersenyum, kemudian mengucapkan terima kasih sebelum kembali masuk ke kafe bersama teman-temannya. Tidak ada percakapan panjang. Tidak ada pertanyaan tentang apakah Raka sudah makan. Tidak ada perhatian mengenai tubuh Raka yang setengah basah dan wajahnya yang kelelahan.
Namun otak Raka menemukan sesuatu yang jauh lebih kecil untuk dijadikan pegangan.
Anin tersenyum.
Anin terlihat senang.
Anin mempercayakan laptopnya kepada Raka.
Berarti ia dipercaya.
Dan kalau seseorang mempercayai kita, mungkin masih ada ruang untuk menjadi lebih dekat.
Begitulah cara pikir Raka bekerja. Ia mengambil serpihan kecil dari kenyataan, kemudian menyusunnya menjadi sebuah bangunan yang jauh lebih besar daripada ukuran sebenarnya.
Ia membuka ponsel dan mencari percakapan terakhir dengan Anin.
"Rak, kalau sempat gue mau nanya soal konsep teorinya."
Pesan itu sudah dikirim dua hari lalu.
Raka tersenyum kecil.
Dua hari.
Tidak lama.
Anin mungkin memang sedang sibuk.
Ia mengetik balasan yang sebenarnya tidak perlu dikirim.
"Kalau mau, nanti gue cariin beberapa referensi juga."
Ia membaca kalimat itu tiga kali sebelum akhirnya mengirimkannya.
Pesan terkirim.
Raka meletakkan ponsel.