Sore turun perlahan di gedung kuliah bersama, membawa cahaya kekuningan yang menyusup di antara kisi-kisi jendela dan jatuh memanjang di lantai tangga beton. Jam perkuliahan baru saja berganti, sehingga arus mahasiswa bergerak dari berbagai arah seperti aliran kecil yang saling bersilangan, sebagian turun sambil bercanda, sebagian naik dengan buku terjepit di ketiak, sebagian lagi berhenti di bordes untuk memeriksa ponsel. Raka berdiri di salah satu sudut tangga lantai dua dengan map bening di tangan, berulang kali melihat ke arah lorong yang menghubungkan dua ruang kelas. Di dalam map itu ada beberapa lembar jurnal yang tadi pagi ia cetak ulang setelah ia rapikan formatnya, mulai dari margin, penomoran halaman, sampai beberapa bagian tabel yang menurutnya terlalu berantakan untuk dikumpulkan sebagai bahan diskusi. Ia sudah memeriksa semuanya dua kali, bahkan tiga kali, meskipun sebenarnya Anin hanya pernah berkata bahwa jurnal itu diperlukan untuk pertemuan kelompok minggu depan. Entah sejak kapan kalimat sederhana seperti itu selalu terdengar di kepala Raka sebagai sesuatu yang harus segera ia kerjakan.
Jarinya mengetuk pelan permukaan map, mengikuti irama langkah kaki mahasiswa yang semakin mendekat dari ujung koridor. Ada sedikit rasa gugup yang membuat tenggorokannya kering, tetapi ia menekannya dengan menarik napas panjang. Tidak ada yang istimewa, pikirnya. Ia hanya mau memberikan jurnal. Hanya itu. Tidak perlu berpikir macam-macam. Tidak perlu berharap apa-apa. Namun, semakin sering ia mengulang kalimat tersebut dalam hati, semakin jelas bahwa ada sesuatu yang tidak ingin ia akui. Ia ingin Anin melihat bahwa dirinya memperhatikan hal-hal kecil yang bahkan tidak diminta, bahwa ia bisa menjadi orang yang selalu ada ketika dibutuhkan, bahwa keberadaannya punya alasan untuk dipertahankan. Raka menunduk sebentar, memeriksa kembali sudut-sudut kertas di dalam map, lalu mengangkat kepala ketika akhirnya melihat sosok Anin muncul di antara kerumunan mahasiswa.
Anin berjalan bersama dua orang teman sekelasnya, sebuah tote bag hitam menggantung di bahu kirinya sementara ponsel berada di tangan kanannya. Rambutnya tergerai rapi, dan ekspresinya tampak santai setelah keluar dari ruang kelas. Ia sedang mengatakan sesuatu kepada temannya, lalu tertawa kecil sebelum langkahnya melambat ketika menyadari Raka berdiri beberapa anak tangga di depannya. Tatapan mereka bertemu hanya sesaat. Raka langsung tersenyum, terlalu cepat, seperti seseorang yang baru saja mendapat kepastian bahwa dirinya memang ditunggu meskipun sebenarnya tidak pernah dijanjikan apa-apa. Ia bergeser ke sisi tangga agar tidak menghalangi orang-orang yang lewat, kemudian mengangkat map bening itu sedikit.
“Anin.”
Anin berhenti.
“Oh.” Matanya turun ke map yang dipegang Raka, kemudian kembali ke wajahnya. “Kenapa?”
“Ini jurnal yang kemarin kamu bilang.” Raka mengulurkan map itu. “Aku udah rapihin sama cetak ulang. Yang PDF kemarin agak berantakan di bagian tabelnya, kan? Jadi aku benerin sekalian.”
Anin memandang map tersebut selama beberapa detik sebelum akhirnya menerimanya. Gerakannya tidak kasar, tetapi juga tidak memiliki antusiasme yang tadi diam-diam diharapkan Raka. “Oh, iya. Makasih.”
“Sama-sama.” Raka tersenyum lebih lebar. “Aku juga udah tandain bagian yang menurutku penting. Ada tiga konsep yang kayaknya bakal kepakai buat pembahasan kalian. Kalau mau, nanti aku bisa—”
“Raka.”
Nada suara Anin membuat kalimat itu berhenti di tengah.
Raka berkedip. “Hm?”
Anin menarik napas pendek. Dua teman yang tadi bersamanya sudah berjalan beberapa langkah ke depan, lalu berhenti di dekat pintu keluar koridor sambil menunggu. Mereka sesekali menoleh ke arah Raka dan Anin, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Di antara suara mahasiswa yang turun naik tangga dan bunyi pintu kelas yang dibuka-tutup, Anin berdiri dengan wajah yang sulit dibaca. Tidak marah, tidak pula sepenuhnya ramah. Hanya ada sesuatu yang lebih dingin daripada biasanya.
“Kamu nggak perlu repot-repot sampai begini terus.”
Raka tidak langsung mengerti.
“Begini gimana?”
“Ya...” Anin menggerakkan map di tangannya sedikit, seolah mencari kata yang paling mudah diucapkan. “Cetak ulang, rapihin, terus ngasih ke aku langsung. Kamu kan juga punya kuliah sendiri.”
“Ah, itu nggak masalah.”
“Aku tahu.” Anin mengangguk kecil. “Tapi maksudku, kamu nggak harus selalu bantu aku di luar jam kuliah.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Bahkan jika didengar orang lain, mungkin tidak ada yang akan menganggapnya sebagai sesuatu yang menyakitkan. Anin tidak membentak. Tidak menuduh. Tidak mengatakan Raka mengganggu. Namun justru karena itulah kalimat tersebut terasa lebih tajam. Ada jarak yang sengaja dibentuk di dalamnya, garis tipis yang tidak terlihat tetapi terasa jelas ketika seseorang sudah terlalu dekat.
Raka mencoba tertawa kecil.
“Ya... aku juga sebenarnya sekalian belajar.”
Anin menatapnya.
“Belajar?”
“Iya.” Raka mengangguk cepat. “Maksudku, materi kamu kan masih nyambung sama beberapa hal yang lagi aku baca. Jadi sekalian aja. Nggak benar-benar khusus buat kamu.”
Kebohongan kecil itu keluar begitu lancar sampai Raka sendiri hampir percaya. Ia tidak tahu apakah Anin menyadarinya. Mungkin iya. Anin terlalu cerdas untuk tidak memahami maksud seseorang yang sudah beberapa kali datang membawa bantuan tanpa pernah diminta. Tetapi perempuan itu tidak membongkar kebohongan tersebut. Ia hanya mengembuskan napas pelan.
“Ya udah. Tapi lain kali nggak usah, ya.”
Raka diam.
“Kalau aku butuh bantuan, nanti aku bilang.”
Ada sesuatu yang runtuh pelan di dalam dada Raka. Bukan sesuatu yang besar, bukan pula sesuatu yang langsung membuatnya ingin menangis. Hanya sebuah bagian kecil dari harapan yang selama ini ia susun dengan hati-hati, lalu tiba-tiba disentuh dan didorong menjauh.
“Oh.”
Hanya itu yang mampu keluar.
Anin mengangguk. “Aku masuk dulu.”
“Anin.”
Perempuan itu sudah berbalik ketika Raka memanggilnya lagi. Ia menoleh setengah badan.
“Kenapa?”
Raka sebenarnya ingin mengatakan banyak hal. Ia ingin menjelaskan bahwa ia tidak keberatan membantu. Ia ingin mengatakan bahwa semua yang ia lakukan bukan karena terpaksa. Ia ingin memastikan bahwa Anin tidak salah mengerti, bahwa ia tidak sedang menuntut balasan apa pun. Bahkan mungkin ia ingin bertanya apakah dirinya benar-benar mengganggu.
Namun, ketika berhadapan langsung dengan wajah Anin, semua kalimat itu berubah menjadi sesuatu yang terasa terlalu memalukan untuk diucapkan.
“Jurnalnya... kalau ada yang kurang jelas, bilang aja.”
Anin mengangguk kecil.
“Iya.”
Kemudian ia pergi.
Tidak ada senyum tambahan. Tidak ada ucapan lain. Tidak ada gerakan kecil untuk menoleh kembali ketika ia bergabung dengan kedua temannya di ujung lorong. Raka berdiri di tempatnya, masih memegang tali tas dengan tangan kanan, sementara tubuh mahasiswa yang berlalu-lalang di sekelilingnya terus bergerak tanpa peduli pada percakapan yang baru saja terjadi.
Ia menatap punggung Anin sampai menghilang di balik pintu.
Baru setelah itu Raka sadar bahwa telapak tangannya terasa dingin.
Raka turun tangga beberapa menit kemudian, tetapi langkahnya tidak lagi memiliki arah yang jelas. Ia melewati dua lantai tanpa benar-benar memperhatikan nomor ruang di dinding. Di beberapa anak tangga, mahasiswa yang berpapasan dengannya harus sedikit bergeser karena Raka berjalan terlalu dekat dengan sisi tembok. Ia segera meminta maaf setiap kali hampir bertabrakan, lalu kembali menunduk. Cahaya sore yang sebelumnya terasa hangat kini seperti terlalu terang. Bayangan tiang dan pagar tangga memanjang di lantai, memotong langkahnya menjadi garis-garis hitam yang bergeser setiap kali ia bergerak.
Kalimat Anin terus mengulang dirinya sendiri.
Kamu nggak harus selalu bantu aku di luar jam kuliah.
Raka mengusap wajahnya pelan ketika mencapai lantai dasar. Ia berhenti di dekat papan pengumuman, berpura-pura membaca poster kegiatan mahasiswa agar bisa mengambil waktu beberapa detik untuk menata pikirannya. Tidak ada yang salah, katanya dalam hati. Anin cuma sedang menjaga batas. Itu wajar. Bahkan bagus. Setiap orang punya ruang pribadi. Setiap orang berhak menentukan kapan ingin dibantu dan kapan tidak.
Raka mengangguk kecil pada dirinya sendiri.
“Iya,” gumamnya lirih. “Wajar.”
Tetapi kata itu tidak membuat dadanya terasa lebih ringan.
Ia mengambil ponsel dari saku dan membuka percakapan dengan Anin. Pesan terakhir mereka masih berada beberapa hari sebelumnya, ketika Anin meminta Raka mengirimkan satu artikel tambahan. Raka hampir mengetik sesuatu, lalu menghapusnya. Ia mengetik lagi.
Jurnalnya udah aku kasih.
Dihapus.
Kalau ada yang perlu dibantu bilang aja.
Dihapus.