Makasih Sudah Bertahan

Diva Amane
Chapter #34

Jejak yang Dicari

Jam istirahat membuat kantin fakultas seperti sebuah ruangan yang kehilangan kemampuan untuk bernapas. Meja-meja panjang hampir seluruhnya terisi, kursi plastik bergeser dan beradu dengan lantai setiap kali seseorang datang membawa nampan, sementara suara percakapan bertumpuk dengan bunyi sendok yang mengetuk mangkuk dan suara pedagang memanggil pesanan dari balik etalase. Di antara keramaian itu, Bimo duduk sendirian di ujung meja dekat tiang beton, sebuah botol air mineral terbuka di depannya tetapi nyaris tidak disentuh. Tatapannya berkali-kali jatuh ke layar ponsel yang tergeletak di samping sikunya, lalu kembali kosong menatap kerumunan mahasiswa yang bergerak ke sana kemari. Sudah tiga hari ia melakukan hal yang sama, mengirim pesan, menelepon, menunggu dua centang yang tidak pernah muncul, kemudian mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa mungkin Raka hanya sedang membutuhkan waktu untuk sendiri.

Laras melihatnya dari seberang kantin ketika baru saja keluar dari perpustakaan dengan dua buku dipeluk di dada. Langkahnya melambat bukan karena Bimo tampak sendirian, melainkan karena ada sesuatu dalam cara laki-laki itu menatap ponselnya yang terasa tidak biasa. Bimo biasanya termasuk orang yang mudah ditemukan dalam kerumunan, bisa tertawa paling keras di antara teman-temannya dan selalu punya komentar untuk hal-hal kecil yang terjadi di kelas, tetapi siang itu bahunya turun dan wajahnya seperti seseorang yang sudah terlalu lama memikirkan satu kemungkinan buruk tanpa berani mengucapkannya. Laras berdiri beberapa detik di tempatnya, memperhatikan sebelum akhirnya mengambil keputusan untuk mendekat. Ia tidak tahu apakah Bimo akan menganggap pertanyaannya sebagai bentuk kepedulian atau justru sebagai campur tangan, tetapi kegelisahan yang sejak pagi menempel di kepalanya membuatnya tidak sanggup sekadar berjalan melewati meja itu.

“Bim.”

Bimo mendongak. Ekspresinya sempat berubah seperti orang yang terkejut karena dipanggil, lalu kembali muram ketika mengenali Laras. “Eh, Laras. Duduk aja.”

Laras menarik kursi di hadapannya, meletakkan buku di atas meja dengan hati-hati agar tidak mengganggu botol air yang nyaris jatuh karena siku Bimo. “Kamu lagi nunggu seseorang?”

“Enggak.” Bimo menggeleng pelan. “Cuma lagi males ke mana-mana.”

Laras tidak langsung bertanya tentang Raka. Ia membuka tutup botol minumnya sendiri, meneguk sedikit, lalu membiarkan beberapa detik berlalu di antara suara kantin yang riuh. Ia tahu ada pertanyaan yang kalau dilontarkan terlalu cepat akan terdengar seperti pemeriksaan, apalagi kepada seseorang yang sedang cemas. “Aku mau nanya sesuatu, tapi kalau memang terlalu pribadi, enggak usah dijawab.”

Bimo menatapnya lebih lama. “Tentang Raka?”

Jari Laras yang semula memegang botol berhenti sesaat. Ia tidak menyangka Bimo akan langsung menyebut nama itu, tetapi justru karena itulah ia merasa tidak perlu lagi berputar terlalu jauh. “Iya.”

Bimo mengembuskan napas panjang, kemudian menyandarkan punggungnya ke kursi. “Gue juga lagi nyari dia.”

“Dia masih enggak masuk?”

“Bukan cuma enggak masuk.” Bimo mengambil ponselnya, membuka layar yang dipenuhi riwayat panggilan dan pesan. “Tiga hari. Tiga hari, Ras. Gue telepon enggak diangkat. Chat enggak dibaca. Kemarin gue bahkan sempat mikir HP-nya rusak, tapi kalau rusak masa iya enggak ada kabar sama sekali?”

Laras menatap layar itu tanpa meminta Bimo menyerahkannya. Ada beberapa pesan yang terbaca dari nama Bimo sendiri, semuanya dengan nada yang semakin khawatir. Rak, lo di mana? Lalu beberapa jam setelahnya, Kalau lagi butuh sendiri bilang aja. Kemudian pada malam berikutnya, Gue serius, kabarin sekali aja kalau lo baik-baik.

Tidak ada balasan.

“Terakhir kamu ketemu dia kapan?” tanya Laras.

“Empat hari lalu, kayaknya.” Bimo mengusap wajah. “Masih normal. Ya... normal menurut ukuran Raka, sih. Cuma kelihatan capek. Terus habis itu dia enggak nongol.”

“Enggak ada yang tahu dia ke mana?”

“Katanya anak-anak kelas enggak ada. Gue tanya beberapa orang juga enggak ada yang tahu.” Bimo menunduk lagi. “Anin juga gue tanya.”

Laras tidak bergerak, tetapi matanya sedikit berubah.

“Jawabannya?” tanyanya.

Bimo tertawa pendek tanpa humor. “Katanya dia enggak tahu. Terus bilang, ‘Aku juga enggak bertanggung jawab atas Raka.’”

Kalimat itu jatuh di antara mereka dengan berat yang aneh. Laras tidak mengenal seluruh hubungan Raka dan Anin secara langsung, tetapi ia tahu cukup banyak untuk memahami bahwa ada sesuatu yang telah terjadi. Beberapa hari sebelumnya, ia sempat melihat Anin di koridor dengan wajah biasa saja, sibuk membicarakan agenda organisasi dan tugas kuliah seolah tidak ada sesuatu yang berubah. Tidak ada tanda-tanda seseorang yang baru saja meninggalkan luka pada orang lain. Tidak ada kegelisahan, tidak ada usaha mencari tahu, bahkan tidak ada jeda kecil dalam kesibukannya untuk menanyakan keadaan Raka.

“Bimo,” kata Laras perlahan, “aku boleh tanya satu hal lagi?”

“Tanya aja.”

“Waktu terakhir kamu lihat Raka, dia kelihatan... gimana?”

Bimo tidak langsung menjawab. Ia menatap meja, seolah sedang memutar ulang rekaman empat hari lalu di kepalanya. “Kayak orang yang habis kalah sesuatu.”

Laras menahan napas.

“Gue enggak tahu kalah apa,” lanjut Bimo. “Dia enggak cerita. Cuma diam. Biasanya kalau gue ngajak makan dia paling enggak ngomel karena gue lama milih menu. Hari itu enggak. Gue bahkan sempat nanya, ‘Rak, lo sakit?’ Dia cuma bilang, ‘Enggak.’ Terus pulang duluan.”

Laras menurunkan pandangan ke buku-buku di hadapannya. Sampul salah satunya memantulkan cahaya putih dari lampu kantin, tetapi pikirannya justru kembali pada sebuah sore yang sudah beberapa hari berlalu. Sebuah warkop. Pintu yang terbuka. Raka keluar dengan wajah yang berbeda dari biasanya, rahangnya mengeras, alisnya berkerut, dan tatapan muak yang begitu jelas hingga Laras masih mengingatnya tanpa perlu berusaha. Saat itu ia bahkan sempat mengejar beberapa langkah hanya untuk memastikan satu hal.

Apa kamu Raka?

Laki-laki itu sempat menoleh, tetapi situasi membuat percakapan mereka terputus. Raka kemudian pergi, seolah pertanyaan itu tidak memiliki arti apa-apa baginya. Laras tidak mengejarnya lagi. Ia pikir mungkin mereka akan bertemu kembali di kampus, mungkin ada kesempatan lain untuk berbicara. Namun sekarang, ketika nama Raka telah menghilang dari kelas selama tiga hari, ingatan tentang wajah itu terasa berbeda.

Bukan sekadar wajah seseorang yang muak pada percakapan seksis.

Ada sesuatu yang jauh lebih berat di sana.

“Bim,” ujar Laras lagi, “aku sebenarnya punya alasan kenapa nanya.”

Bimo mengangkat kepala.

Lihat selengkapnya