Perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial selalu terasa berbeda ketika jam makan siang tiba. Pagi hari, tempat itu masih dipenuhi suara kursi yang digeser, bisikan mahasiswa yang buru-buru mencari referensi, dan langkah-langkah dosen yang sesekali melewati lorong rak buku dengan wajah serius. Namun ketika jarum jam mendekati pukul dua belas, sebagian besar orang mulai meninggalkan ruangan. Mereka pergi mencari makan, bertemu teman, atau sekadar duduk di bawah pohon sambil mengeluhkan tugas yang tidak pernah habis. Perlahan, suara-suara itu menghilang, meninggalkan dengung pendingin ruangan, suara halaman buku yang dibalik, dan bunyi halus keyboard dari beberapa mahasiswa yang memilih bertahan.
Raka termasuk salah satunya.
Ia duduk di meja pojok yang menghadap ke jendela besar. Cahaya matahari siang masuk dalam bentuk garis-garis pucat, tertahan oleh kaca yang sedikit buram dan tirai yang tidak pernah ditarik sepenuhnya. Di hadapannya, ada tiga buku tebal yang terbuka dengan halaman-halaman penuh stabilo, sebuah laptop, beberapa lembar kertas hasil cetakan, dan botol air mineral yang tinggal sepertiga. Ponselnya diletakkan di sisi kanan laptop dalam keadaan terbalik, seolah-olah Raka tidak ingin melihatnya, padahal setiap beberapa menit sekali matanya justru melirik ke arah benda itu.
Sudah hampir empat jam ia duduk di sana.
Empat jam untuk sesuatu yang bahkan tidak pernah diminta secara langsung.
Raka mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, lalu kembali menatap layar. Dokumen di depannya sudah beberapa kali berganti nama. Awalnya hanya Analisis, lalu berubah menjadi Analisis Revisi, kemudian Analisis Revisi Final. Setelah itu, entah karena ia merasa susunannya masih belum cukup baik, ia membuat satu folder baru dan mulai lagi dari awal.
Kursor di layar berkedip pada satu kalimat yang sudah ia baca berulang kali.
Pendekatan institusional semestinya tidak dipahami semata-mata sebagai relasi formal antarstruktur kekuasaan, tetapi juga sebagai proses pembentukan legitimasi yang berlangsung melalui praktik sosial dan penerimaan aktor-aktor di dalamnya.
Raka memiringkan kepala.
Lalu menghapus kata semata-mata.
Ia mengetiknya lagi.
Menghapusnya lagi.
“Lebih enak yang mana, ya?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutnya. Tidak ada yang menjawab.
Raka menghela napas pelan.
Ia membuka dokumen lain yang berisi catatan diskusi mereka beberapa hari sebelumnya. Beberapa kalimat pendek dari Anin masih tersimpan di sana. Tidak banyak. Sebagian besar bahkan hanya berupa pertanyaan.
Kalau teori ini dipakai buat kasus yang aku ambil, nyambung nggak?
Yang bagian legitimasi itu maksudnya gimana?
Lo bisa bantu baca nggak?
Sesederhana itu.
Namun Raka memperlakukan tiga pertanyaan tersebut seperti sebuah mandat.
Ia menarik buku yang paling dekat dengannya, membuka halaman yang sudah diberi pembatas kecil dari kertas bekas, lalu kembali mengetik. Jarinya bergerak cepat. Sesekali ia berhenti untuk melihat catatan, lalu melanjutkan lagi. Ada semacam ketelitian yang hampir obsesif dalam caranya bekerja. Ia tidak sekadar ingin membuat analisis yang benar. Ia ingin membuat sesuatu yang tidak bisa dengan mudah diabaikan.
Kalau Anin membacanya nanti, pikir Raka, mungkin dia bakal ngerti maksudku.
Mungkin dia bakal lihat kalau aku serius.
Pikirannya berhenti sejenak.
Bukan serius sama tugasnya.
Serius sama dia.
Raka langsung menunduk, seolah-olah seseorang baru saja memergokinya mengatakan sesuatu yang memalukan.
“Fokus,” gumamnya.
Ia mengetik lagi.
Di seberang ruangan, seorang mahasiswa menutup buku dengan suara cukup keras. Raka menoleh refleks, lalu melihat orang itu memasukkan laptop ke dalam tas dan berjalan pergi. Pintu perpustakaan terbuka sebentar. Aroma makanan dari luar sempat masuk bersama suara gaduh kantin yang terletak tidak terlalu jauh dari gedung itu.
Perut Raka berbunyi.
Ia melirik jam.
Pukul dua belas lewat dua puluh tiga menit.
Sudah waktunya makan.
Tangannya bergerak ke arah ponsel. Ia membaliknya, menyalakan layar, lalu melihat tidak ada pesan baru.
Tidak ada dari Anin.
Padahal sejak tadi pagi, tanpa benar-benar ingin mengakuinya, ia berharap ada satu pesan sederhana.
Udah sampai kampus?
Atau mungkin hanya,
Lagi apa?
Bahkan pertanyaan sekecil itu rasanya akan cukup untuk membuat hari ini terasa sedikit lebih ringan.
Namun layar ponselnya hanya menampilkan notifikasi dari grup kelas dan promosi makanan yang tidak pernah ia buka.
Raka kembali meletakkannya.
Ia membuka dokumen sekali lagi.
Tidak apa-apa, pikirnya. Dia pasti sibuk.
Kalimat itu muncul begitu otomatis hingga Raka sendiri tidak menyadari seberapa sering ia menggunakannya.
Dia pasti sibuk.
Dia mungkin belum sempat.
Dia memang nggak suka chat panjang.
Dia bukan orang yang ekspresif.
Dia mungkin capek.
Selalu ada penjelasan.
Selalu ada alasan yang bisa ia buat agar kenyataan tidak perlu terlihat terlalu jelas.
Raka menyandarkan punggungnya ke kursi. Matanya terasa panas. Sejak beberapa hari terakhir, tubuhnya seperti tidak pernah benar-benar beristirahat. Ia tidur, tetapi bangun dengan kepala berat. Ia makan, tetapi tidak pernah benar-benar merasa lapar atau kenyang. Bahkan ketika sedang sendiri, pikirannya tetap penuh oleh percakapan yang belum terjadi dan kemungkinan-kemungkinan yang terus ia susun.
Bagaimana kalau Anin sebenarnya cuma butuh waktu?
Bagaimana kalau selama ini aku terlalu cepat menyimpulkan?
Bagaimana kalau dia sebenarnya nyaman, cuma belum terbiasa?
Bagaimana kalau semua ini nanti ada hasilnya?
Pertanyaan terakhir itu membuatnya menatap layar cukup lama.
Ada hasilnya.
Seolah-olah perasaan adalah ujian yang bisa dilalui dengan jawaban paling tepat.
Seolah-olah jika ia bekerja lebih keras, membaca lebih banyak, memahami lebih dalam, menjadi lebih berguna, maka sesuatu yang selama ini terasa mustahil bisa berubah.
Raka menunduk lagi dan melanjutkan pekerjaannya.
Suara kursi ditarik dari seberang meja membuatnya sedikit terkejut.
“Anjir.”
Raka mengangkat kepala.
Bimo berdiri di depannya sambil membawa ransel di satu bahu. Kaos hitamnya sedikit kusut, rambutnya berantakan seperti baru bangun tidur, dan wajahnya memancarkan ekspresi seseorang yang baru saja melihat temannya melakukan sesuatu yang sangat bodoh tetapi sudah terlalu lelah untuk terkejut.
“Lo masih di sini?”
Raka menatapnya beberapa detik sebelum kembali ke layar.
“Ya.”
“Dari tadi?”
“Dari pagi.”
Bimo menatap jam dinding, lalu kembali menatap meja Raka.
“Sekarang jam berapa, lo tau?”
“Tau.”
“Coba jawab.”
“Dua belas lewat dua puluh lima.”
“Dan lo belum makan.”
Raka tidak menjawab.
Bimo menarik kursi di depannya tanpa meminta izin lalu duduk. Matanya menyapu tiga buku tebal, kertas-kertas penuh catatan, dan layar laptop yang dipenuhi tulisan.
“Ini apaan?”
“Draf.”
“Draf siapa?”
Raka tidak langsung menjawab.
Bimo mengangkat alis.
“Rak.”
“Buat Anin.”
Bimo terdiam.
Reaksi itu justru lebih membuat Raka tidak nyaman daripada jika temannya langsung tertawa atau mengumpat. Bimo hanya menatap layar laptopnya beberapa saat, lalu bersandar di kursi.
“Dia minta?”
“Ya... nggak persis.”
“Nggak persis itu artinya nggak.”
Raka mendecakkan lidah pelan. “Dia pernah bilang bagian analisisnya masih bikin bingung.”
“Terus?”
“Ya gue bantu.”
“Kapannya?”
“Beberapa hari lalu.”
“Dia minta lo bikin kerangka baru?”
Raka mulai merasa panas di tengkuk.
“Bim.”
“Gue nanya.”
“Ya nggak. Tapi gue lihat kemarin argumennya masih bisa dikembangin.”
Bimo memandangnya lama.
“Dan lo duduk empat jam di sini buat ngembangin argumen tugas orang yang nggak minta lo ngembangin argumennya?”
Raka menatap temannya dengan tajam.
“Gue suka ngerjainnya.”
“Nah, itu.”
“Itu kenapa?”
“Lo selalu punya jawaban yang kedengarannya bagus buat sesuatu yang jelas-jelas bikin lo sengsara.”
Raka kembali menatap laptop.
“Lebay.”
“Gue nggak lebay.”
“Gue cuma lagi ngerjain tugas.”
“Punya dia.”
“Bimo.”