Makasih Sudah Bertahan

Diva Amane
Chapter #19

Undangan ke Panggung Performatif

Kantin Fakultas Ilmu Sosial selalu memiliki cara sendiri untuk membuat siang terasa lebih bising daripada seharusnya. Di bawah atap seng yang menyimpan panas sejak pagi, suara sendok beradu dengan piring bercampur dengan tawa mahasiswa, dering notifikasi ponsel, dan potongan-potongan percakapan yang melompat dari satu meja ke meja lain. Politik kampus, pemilu, demonstrasi, dosen yang sulit ditemui, organisasi yang sedang membuka rekrutmen, sampai gosip tentang pasangan yang baru putus, semuanya terdengar bersamaan tanpa pernah benar-benar bisa dipisahkan.

Raka duduk sendirian di salah satu meja panjang dekat dinding. Di depannya ada sepiring nasi campur yang tinggal separuh, segelas es teh yang es batunya sudah mencair hampir seluruhnya, dan beberapa lembar kertas yang penuh coretan kecil. Salah satu kertas itu berisi catatan kuliah, sementara yang lain adalah hasil cetakan artikel yang pagi tadi ia baca di perpustakaan. Ujung jari telunjuknya bergerak perlahan mengikuti satu paragraf, lalu berhenti ketika ia menemukan kalimat yang menurutnya terlalu menyederhanakan persoalan.

Ia mengernyit.

Pensil mekanik di tangan kanannya langsung bergerak.

“Reduksi relasi kuasa,” gumamnya pelan.

Ia mencoret dua kata, lalu menuliskan catatan kecil di sampingnya. Tidak ada ekspresi puas setelahnya. Raka memang tidak pernah merasa bahwa menemukan kelemahan dalam sebuah argumen adalah sesuatu yang pantas dirayakan. Baginya, pikiran bukan panggung. Kalau sebuah pendapat salah, ya salah. Kalau sebuah analisis belum cukup kuat, ya diperbaiki. Sesederhana itu.

Setidaknya, sesederhana itu dalam urusan buku.

Manusia jauh lebih sulit.

Ponselnya yang diletakkan di sebelah gelas bergetar sekali. Mata Raka langsung bergerak ke sana, hampir refleks. Ia membalikkan layar ponsel.

Bukan Anin.

Hanya notifikasi dari grup kelas.

Tatapannya berhenti sesaat pada layar, lalu kembali ke kertas di depannya. Namun fokusnya sudah pecah. Tangannya masih memegang pensil, tetapi beberapa detik berlalu tanpa satu kata pun ditambahkan ke halaman.

Sejak beberapa hari terakhir, pikirannya seperti ruangan yang terlalu penuh. Ada Anin di hampir setiap sudutnya. Ada percakapan-percakapan yang berulang, nada suaranya ketika mengatakan sesuatu, balasan pesan yang pendek, senyum yang kadang muncul tanpa alasan, dan terutama, garis dingin yang semakin sulit ia pura-pura tidak lihat.

Raka menekan ujung pensil ke meja.

Lalu ia mengembuskannya perlahan.

“Pagi-pagi udah kayak orang mau sidang skripsi.”

Suara itu datang dari arah depan.

Raka mengangkat wajah.

Dua orang berdiri di hadapan mejanya.

Yang pertama adalah Fajar, mahasiswa angkatan atas yang wajahnya cukup sering muncul di berbagai kegiatan organisasi fakultas. Tubuhnya tinggi dan tegap, kemejanya dilipat sampai siku, dan di dadanya tergantung kartu identitas organisasi yang bahkan tidak ia lepaskan meski sedang berada di kantin. Di sebelahnya berdiri seorang mahasiswa lain yang Raka kenal wajahnya, tetapi tidak cukup dekat untuk mengetahui namanya.

Fajar tersenyum lebar.

Senyum yang terlalu siap.

Raka langsung tahu bahwa mereka datang bukan untuk sekadar menyapa.

“Enggak,” jawab Raka singkat.

Fajar tertawa kecil, seolah jawaban itu adalah bagian dari percakapan yang sudah ia perkirakan. “Boleh duduk?”

Raka menggeser sedikit tumpukan kertas di depannya. “Ya.”

Keduanya menarik kursi.

Mahasiswa yang bersama Fajar duduk lebih dulu, sementara Fajar memilih kursi tepat di seberang Raka. Begitu ia duduk, matanya langsung bergerak ke lembaran artikel yang penuh coretan.

“Ini yang kemarin dibahas di kelas Pak Dimas, ya?”

Raka mengangguk.

“Gue denger lo sempat debat lumayan panjang sama beliau.”

“Bukan debat.”

“Ya, diskusi lah.”

“Beda.”

Fajar kembali tertawa.

“Ya ampun, santai, Ka. Maksud gue, diskusinya menarik. Banyak yang cerita.”

Raka tidak menjawab.

Ia mengambil gelasnya, menyesap es teh yang sudah hambar, lalu meletakkannya kembali.

Fajar menyandarkan tubuh ke kursi. “Sebenernya, gue udah beberapa kali pengin ngobrol sama lo.”

“Kenapa?”

Pertanyaan itu keluar terlalu cepat dan terlalu datar. Tidak ada basa-basi. Tidak ada usaha untuk membuat suasana nyaman.

Fajar sempat terdiam sepersekian detik.

Kemudian senyumnya kembali terbentuk.

“Nah, itu. Gue suka orang kayak lo.”

Raka menatapnya tanpa mengerti.

“Gue serius,” lanjut Fajar. “Lo tuh… gimana, ya? Punya cara mikir sendiri. Kemarin waktu diskusi kebijakan publik itu, misalnya. Banyak orang ngomong panjang, muter-muter, terus ujungnya cuma ngulang istilah dari buku. Lo enggak. Lo langsung bongkar asumsi dasarnya.”

“Kalau asumsi dasarnya keliru, ya pembahasannya memang harus dibongkar.”

“Nah, itu.”

Raka menunduk lagi ke kertasnya.

Fajar menunggu beberapa detik, seolah berharap pujian itu akan menghasilkan sesuatu. Mungkin senyum kecil. Mungkin rasa bangga. Mungkin perubahan sikap.

Tidak ada.

Bagi Raka, pujian tentang kecerdasan selalu memiliki rasa yang aneh. Ia tidak membencinya, tetapi juga tidak pernah benar-benar tahu harus melakukan apa dengannya. Pujian tidak membuat tubuhnya lebih tinggi. Tidak membuat wajahnya berubah. Tidak menghapus ingatan tentang tawa orang-orang yang dulu memanggilnya dengan sebutan yang tidak pernah ingin ia dengar lagi.

Si cebol.

Kadang ia merasa seluruh hidupnya seperti upaya untuk menumpuk sesuatu di atas kekurangan yang sudah lebih dulu ditentukan orang lain. Pengetahuan. Nilai. Prestasi. Kemampuan membantu. Kesetiaan. Kebaikan.

Apa pun yang bisa membuat seseorang berkata, setidaknya Raka punya ini.

Mungkin itu sebabnya pujian tidak pernah benar-benar terasa sebagai kemenangan. Karena jauh di dalam dirinya, ia selalu mendengar satu kalimat tambahan yang tidak pernah diucapkan.

Pintar, tapi…

Baik, tapi…

Berguna, tapi…

Raka menarik napas perlahan.

“Jadi?”

Fajar kembali fokus.

“Jadi gini. Divisi Kajian lagi nyiapin forum internal.”

“Forum apa?”

“Studi gender.”

Tangan Raka berhenti.

Bukan karena ia terkejut. Hanya saja, ada sesuatu dalam dua kata itu yang langsung membuat pikirannya bergerak lebih hati-hati.

Fajar melanjutkan dengan semangat yang mulai terlihat. “Konsepnya diskusi terbuka. Internal fakultas dulu. Kita pengin bikin forum yang agak serius, bukan cuma acara seremonial. Bahas relasi gender di kampus, maskulinitas, dinamika organisasi, mungkin juga budaya seksisme yang selama ini dianggap bercandaan.”

Mahasiswa di sebelahnya ikut menyambung, “Intinya kita pengin narasumber yang bisa bikin diskusi hidup.”

“Dan?” tanya Raka.

Fajar menatapnya.

“Dan kita pengin lo jadi pembicara utama.”

Suara kantin tetap ramai di sekeliling mereka.

Seseorang tertawa keras dari meja sebelah. Seorang mahasiswa menjatuhkan sendok. Di dekat kasir, penjual memanggil nomor pesanan dengan suara tinggi. Namun bagi Raka, beberapa detik setelah kalimat itu keluar, semua suara terasa seperti bergerak menjauh.

Ia menatap Fajar.

“Gue?”

“Iya, lo.”

“Kenapa?”

Fajar tersenyum lagi, kali ini lebih lebar. “Karena lo.”

Raka mengangkat satu alis.

“Ya karena cara pikir lo, Ka. Masa harus dijelasin?”

“Jelasin.”

Mahasiswa di sebelah Fajar menahan senyum kecil.

Fajar menghela napas, seperti orang yang sedang menghadapi seseorang yang sengaja mempersulit pembicaraan. “Oke. Lo dikenal kritis. Lo punya kemampuan analisis. Lo berani ngomong kalau sesuatu memang enggak masuk akal. Dan, jujur aja, nama lo sekarang lumayan dikenal di lingkungan fakultas.”

Raka langsung merasa tidak nyaman.

“Dikenal siapa?”

“Ya orang-orang.”

“Orang-orang siapa?”

“Ya mahasiswa.”

“Mahasiswa fakultas ini ada berapa?”

Fajar memandangnya selama beberapa detik.

“Ka.”

“Apa?”

“Jangan dibawa sidang.”

“Gue cuma nanya.”

“Intinya, reputasi lo bagus.”

Raka memandangi wajah Fajar.

Di antara kalimat-kalimat yang terdengar seperti penghargaan itu, ia menangkap sesuatu yang lain. Bukan isi katanya. Cara Fajar mengatakannya. Terlalu licin. Terlalu terukur. Seolah setiap pujian adalah batu bata yang sedang disusun untuk membangun sesuatu yang sebenarnya ingin ia jual.

Acara.

Pamflet.

Nama.

Gengsi.

Raka melirik ke arah meja lain.

Di atas meja beberapa mahasiswa, ada tumpukan pamflet berwarna yang belum dibagikan. Judul-judul besar. Tema-tema serius. Wajah pembicara. Logo organisasi. Jadwal acara.

Ia kembali menatap Fajar.

“Forum internal kok butuh pembicara utama?”

Fajar sedikit mengubah posisi duduknya.

“Ya, biar formatnya jelas.”

“Diskusi internal bisa pakai moderator dan peserta.”

“Bisa.”

“Kalau begitu?”

“Kita pengin ada orang yang membuka dengan pemantik.”

“Kenapa bukan lo?”

Pertanyaan itu membuat Fajar terdiam.

Mahasiswa di sebelahnya menoleh.

Fajar tertawa kecil. “Gue beda bidang.”

“Lo pengurus Divisi Kajian.”

“Ya, tapi—”

“Kalau mau bahas gender, kenapa enggak cari orang yang memang fokus belajar soal itu?”

“Nah, justru lo.”

Raka menatapnya tanpa ekspresi.

“Gue tahu lo enggak ambil konsentrasi itu secara khusus,” lanjut Fajar. “Tapi lo punya perspektif. Dan kita enggak butuh profesor. Ini forum mahasiswa.”

“Perspektif tentang apa?”

“Gender.”

“Gender itu luas.”

“Ya justru. Bisa dari banyak sisi.”

“Pengalaman lo?”

“Bukan.”

“Teori?”

“Bukan cuma teori.”

Lihat selengkapnya