Makasih Sudah Bertahan

Diva Amane
Chapter #20

Menolak Panggung Mudah

Sore itu, langit di atas kampus mulai kehilangan warna terangnya ketika Raka berhenti beberapa meter di depan pintu sekretariat organisasi mahasiswa. Bangunan tua itu berdiri di sisi belakang Fakultas Ilmu Sosial, sedikit tersembunyi oleh deretan pohon ketapang yang daunnya bergesekan pelan setiap kali angin lewat. Dari luar, tempat itu tidak terlihat istimewa. Cat dindingnya mulai kusam, beberapa bagian plester dekat jendela bahkan sudah retak dan mengelupas. Namun bagi mahasiswa yang hidupnya banyak dihabiskan dalam rapat, diskusi, penyusunan program kerja, dan perebutan panggung kepanitiaan, ruangan itu merupakan salah satu pusat kecil dari kehidupan kampus.

Raka berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

Di dalam tas selempangnya, tidak ada dokumen penting. Tidak ada naskah pidato. Tidak ada catatan tentang teori gender yang sempat ia baca semalam. Ia hanya membawa buku catatan kuliah, sebuah pulpen, dan beberapa lembar kertas yang sejak tadi sebenarnya tidak ia perlukan.

Tangannya hanya membutuhkan sesuatu untuk dibawa.

Sesuatu yang bisa membuat dirinya terlihat seperti seseorang yang datang untuk urusan serius.

Padahal keputusan itu sudah selesai sejak pagi.

Tidak.

Bahkan mungkin sudah selesai sejak pertama kali Fajar menawarkan posisi itu kepadanya.

Raka menarik napas pelan.

Di balik pintu kayu yang sedikit terbuka, terdengar suara beberapa orang berbicara. Ada bunyi kursi plastik digeser. Ada suara tawa yang terlalu keras, lalu seseorang mengeluh karena stapler yang entah bagaimana kembali macet. Bau kopi sachet dan kertas lama bercampur keluar dari celah pintu.

Raka menatap gagang pintu beberapa detik.

Kalau dipikir-pikir, menolak tawaran itu seharusnya mudah.

Ia hanya perlu mengatakan tidak.

Satu kata.

Tidak.

Tetapi ia tahu masalahnya tidak sesederhana itu.

Sejak masuk universitas, Raka terlalu sering melihat bagaimana orang-orang berlomba untuk mendapatkan kesempatan berbicara. Seminar kecil di kelas bisa berubah menjadi arena adu jargon. Diskusi organisasi yang seharusnya membicarakan masalah konkret kadang berakhir menjadi kompetisi siapa yang paling banyak menyebut nama pemikir asing. Bahkan isu-isu yang menyangkut kehidupan manusia pun bisa berubah menjadi semacam aksesori intelektual.

Raka muak dengan itu.

Bukan karena ia membenci orang-orang pintar.

Justru sebaliknya.

Ia menghormati pengetahuan terlalu besar untuk memperlakukannya sebagai kostum.

Ia tahu persis betapa mudahnya seseorang berdiri di depan ruangan, mengucapkan istilah-istilah yang terdengar berat, lalu pulang dengan tepuk tangan. Orang lain mungkin akan menganggapnya cerdas. Kompeten. Kritis.

Padahal setelah mikrofon dimatikan, belum tentu orang itu benar-benar memahami apa yang baru saja ia katakan.

Raka menunduk sedikit.

Kalau ia menerima tawaran Fajar, mungkin tidak ada yang akan mempertanyakan kemampuannya.

Ia bisa membaca lebih banyak buku.

Ia bisa menyiapkan materi.

Ia bisa mengutip teori.

Ia bisa menjelaskan patriarki, relasi kuasa, konstruksi sosial, diskriminasi struktural, representasi, dan puluhan konsep lain dengan cukup baik.

Ia tahu dirinya mampu.

Tetapi kemampuan menjelaskan sesuatu tidak selalu berarti seseorang berhak menjadi pusat suara dalam pembicaraan tentang hal tersebut.

Itulah yang sejak kemarin terus mengganggunya.

Raka akhirnya mendorong pintu.

Suara engselnya berderit.

Beberapa kepala menoleh.

Ruang sekretariat itu tampak lebih sempit dari yang ia bayangkan. Dindingnya dipenuhi poster acara lama yang sebagian ujungnya sudah terlepas. Di satu sudut terdapat lemari besi dengan pintu yang tidak tertutup rapat. Di atas lemari itu bertumpuk map-map kusam dan beberapa piala yang permukaannya sudah kehilangan kilau. Sebuah spanduk besar dari acara tahun lalu tergulung sembarangan di dekat jendela.

Fajar duduk di depan meja panjang bersama dua orang mahasiswa lain. Begitu melihat Raka, wajahnya langsung berubah lebih hidup.

“Nah,” katanya sambil berdiri. “Datang juga, Rak.”

Raka mengangguk. “Iya.”

“Gue kira lo bakal ngabarin dulu.”

“Tadinya mau. Tapi sekalian aja ketemu langsung.”

Fajar tersenyum, lalu memberi isyarat pada kursi kosong di depannya.

“Duduk, duduk.”

Raka berjalan ke sana dan menarik kursi plastik. Kakinya sedikit bergeser di lantai, menimbulkan suara seret yang membuat salah satu mahasiswa di sudut ruangan menoleh sebentar sebelum kembali pada laptopnya.

Fajar duduk lagi.

Ekspresinya masih menyimpan keyakinan yang sama seperti ketika mereka berbicara di kantin siang tadi. Keyakinan bahwa Raka datang untuk menerima tawaran itu.

Mungkin, pikir Raka, Fajar memang tidak pernah membayangkan ada alasan bagi seseorang untuk menolak panggung.

Terutama panggung yang sudah disediakan.

“Jadi?” Fajar mencondongkan tubuh sedikit. “Gimana? Udah dipikirin?”

Raka tidak langsung menjawab.

Ia memperhatikan meja di depannya.

Ada bekas lingkaran cokelat dari gelas kopi. Ada lembar proposal kegiatan yang salah satu sudutnya terkena noda entah dari apa. Di atas tumpukan kertas itu terdapat sebuah pamflet desain awal forum studi gender yang sedang mereka rancang.

Judulnya dicetak besar.

MEMBACA ULANG RELASI KUASA DAN KETIMPANGAN GENDER DI RUANG KAMPUS

Di bawahnya masih terdapat ruang kosong untuk nama pembicara utama.

Fajar mengikuti arah pandangan Raka, lalu tersenyum.

“Nama lo nanti di situ.”

Raka mengangkat wajah.

“Justru soal itu.”

Senyum Fajar tidak langsung hilang, tetapi sedikit berubah. “Kenapa?”

Raka menghela napas.

Ia sudah menyusun kalimatnya berkali-kali sejak meninggalkan kantin kemarin. Namun ketika duduk di hadapan Fajar seperti itu, semua kalimat yang terdengar rapi di dalam kepala tiba-tiba terasa terlalu kaku.

Akhirnya ia memilih berbicara seperti biasa.

“Gue nggak bisa.”

Fajar berkedip.

“Hah?”

“Gue nggak bisa jadi pembicara utamanya.”

Beberapa detik berlalu.

Fajar tertawa kecil, seolah mengira Raka sedang merendahkan diri.

“Ah, jangan mulai.”

“Gue serius.”

Senyum itu perlahan hilang.

Raka menatap Fajar tanpa berusaha membuat wajahnya terlihat tegas. Ia memang tidak sedang ingin memenangkan perdebatan. Ia hanya ingin menyampaikan sesuatu yang menurutnya sederhana, meskipun mungkin sulit dipahami oleh orang yang terlalu terbiasa melihat setiap kesempatan sebagai sesuatu yang harus direbut.

Fajar menyandarkan tubuhnya.

“Lo kurang pede?”

“Bukan.”

“Takut materinya nggak cukup?”

“Bukan juga.”

“Terus?”

Raka mengusap ibu jarinya dengan jari telunjuk. Kebiasaan kecil yang selalu muncul ketika ia sedang mencari cara untuk menjelaskan sesuatu yang menurutnya penting.

“Gue ngerasa gue bukan orang yang tepat buat jadi pembicara utama.”

Fajar mengernyit.

“Kenapa bukan?”

“Karena topiknya.”

“Justru karena topiknya lo cocok.”

“Menurut lo.”

“Menurut banyak orang juga.”

Raka terdiam sejenak.

Di luar ruangan, seseorang berteriak memanggil temannya. Suaranya masuk dari jendela yang terbuka, lalu menghilang bersama langkah-langkah yang semakin jauh.

Fajar masih menunggu.

Akhirnya Raka berkata, “Gue bisa baca teori. Gue bisa diskusi. Gue bisa bantu kalau kalian butuh ngerancang bahan kajian. Tapi kalau lo minta gue duduk di depan dan jadi orang yang memimpin forum tentang pengalaman ketimpangan gender, gue rasa ada masalah di situ.”

Fajar mengangkat satu alis.

“Masalah apa?”

“Pengalaman gue.”

“Pengalaman lo kenapa?”

“Ya, justru itu. Gue laki-laki.”

Fajar tertawa kecil lagi, kali ini dengan nada bingung.

“Rak, ini forum studi. Bukan kelompok terapi.”

“Gue tahu.”

“Kalau kita ngomongin gender, bukan berarti yang boleh ngomong cuma perempuan.”

“Gue juga nggak bilang begitu.”

“Nah, terus?”

Raka menatap pamflet di meja.

Ia tahu persis bagaimana percakapan semacam ini bisa terdengar jika dipotong-potong. Seolah ia sedang mengatakan bahwa laki-laki tidak boleh mempelajari isu gender. Padahal bukan itu.

Ia menarik kursinya sedikit lebih dekat.

“Masalahnya bukan boleh atau nggak boleh ngomong,” katanya pelan. “Masalahnya, gue nggak mau ngomong seolah-olah pengalaman gue cukup buat menjelaskan pengalaman orang lain.”

Fajar masih terlihat belum sepenuhnya memahami.

“Lo kan bisa pakai teori.”

“Teori nggak otomatis bikin gue mengalami sesuatu.”

“Ya memang nggak harus ngalamin semuanya.”

Lihat selengkapnya