Sudut paling belakang sekretariat itu selalu menjadi tempat yang luput dari perhatian.
Bukan karena tidak ada apa-apa di sana. Justru sebaliknya. Sudut itu dipenuhi terlalu banyak hal yang tidak lagi dianggap penting oleh siapa pun. Rak kayu pendek dengan cat yang mulai mengelupas menempel di dinding. Tumpukan buku bekas kajian bertahun-tahun lalu berdiri miring, beberapa sudah kehilangan sampul, beberapa lain penuh lipatan pada halaman tertentu seolah pernah dibaca dengan sangat serius sebelum akhirnya ditinggalkan. Di bawah meja kecil dekat jendela terdapat kardus berisi map kegiatan, kabel-kabel yang kusut, serta beberapa gelas plastik kosong yang entah sejak kapan tidak dibuang.
Laras duduk di depan rak itu dengan kedua kaki dilipat ke samping.
Sore merayap perlahan di balik kaca jendela. Cahaya matahari yang masuk sudah tidak lagi tajam, melainkan berwarna pucat dan keemasan, terpecah oleh debu yang menggantung tipis di udara. Dari luar terdengar suara mahasiswa yang lalu-lalang di lorong, suara sandal yang menyeret lantai, suara seseorang tertawa terlalu keras, lalu suara pintu ruang kelas yang dibuka dan ditutup.
Di dalam sekretariat, aroma kertas tua bercampur dengan bau teh hangat.
Laras sedang memilah buku inventaris.
Ia menarik satu buku dari rak, meniup debu tipis yang menempel di bagian atasnya, lalu memeriksa daftar nomor inventaris yang ia tulis di buku catatan kecil. Pekerjaan itu sebenarnya tidak mendesak. Tidak ada tenggat waktu yang membuatnya harus berada di sana sampai sore. Tetapi Laras memang sering memilih tinggal sedikit lebih lama di sekretariat ketika suasana kampus mulai mereda.
Ia menyukai saat-saat seperti itu.
Ketika ruangan tidak lagi dipenuhi suara orang yang berusaha menjadi pusat perhatian.
Ketika tidak ada rapat yang berubah menjadi kompetisi siapa yang paling keras berbicara.
Ketika kalimat-kalimat besar tentang perubahan sosial tidak dilemparkan sembarangan hanya untuk memenangkan tepuk tangan.
Laras menarik sebuah buku lain dari rak.
Judulnya hampir tidak terbaca.
Ia mengerutkan dahi, mengusap sampulnya dengan telapak tangan, lalu meletakkannya ke tumpukan sebelah kiri.
“Yang rusak jangan dibuang dulu, ya.”
Suara dari arah meja depan membuat Laras mengangkat kepala.
Tari sedang duduk sambil memegang gelas teh. Kakinya dinaikkan ke kursi sebelah, sesuatu yang sudah berkali-kali dilarang oleh pengurus lain tetapi tetap dilakukannya dengan santai.
“Masih bisa ditempel,” lanjut Tari. “Kalau dibuang, nanti ada yang ceramah soal pengelolaan aset organisasi.”
Laras menahan senyum.
“Yang ini bukan rusak. Cuma tua.”
“Bedanya?”
“Kalau rusak, berarti nggak bisa dipakai.”
“Kalau tua?”
Laras memandang buku di tangannya.
“Masih ada isinya.”
Tari mendengus kecil. “Jawaban anak Sastra banget.”
“Aku Psikologi.”
“Ya sama aja. Sama-sama suka bikin jawaban yang kedengarannya dalam.”
Laras hendak membalas ketika pintu sekretariat terbuka.
Bunyi engselnya cukup keras sehingga membuat Tari menoleh lebih dulu. Laras juga ikut melihat ke arah pintu, meski tangannya masih memegang buku.
Fajar masuk dengan langkah cepat.
Ia tampak seperti orang yang sudah membawa percakapan di kepalanya sejak dari lorong. Kemeja organisasinya sedikit kusut di bagian lengan. Di tangan kanannya ada beberapa lembar kertas proposal, sementara wajahnya menampilkan ekspresi yang terlalu ramah untuk seseorang yang sebenarnya sedang terburu-buru.
Di belakangnya masuk seorang laki-laki yang Laras kenali hanya dari kejauhan.
Raka.
Laras tidak pernah benar-benar berbicara dengannya.
Ia pernah melihatnya beberapa kali di fakultas. Kadang di perpustakaan. Kadang berjalan sendirian dengan tas selempang yang tampak terlalu besar di tubuhnya. Kadang duduk bersama beberapa mahasiswa lain, meski dari kejauhan Laras selalu mendapat kesan yang sama, bahwa keberadaan Raka di tengah kerumunan itu seperti seseorang yang hadir sepenuhnya tanpa pernah benar-benar mengambil ruang.
Ia tidak tinggi.
Bahkan dibandingkan mahasiswa laki-laki lain yang sering memenuhi lorong fakultas dengan langkah lebar dan bahu yang sengaja dibusungkan, Raka tampak jauh lebih kecil.
Tetapi bukan itu yang pertama kali diperhatikan Laras sore itu.
Yang ia perhatikan adalah wajah Raka.
Tidak ada kesan gugup yang dibuat-buat. Tidak ada senyum merendah yang sengaja dipakai untuk membuat dirinya tampak rendah hati. Tidak pula ekspresi seseorang yang sedang menunggu dibujuk agar akhirnya bersedia menerima tawaran.
Wajah Raka tenang.
Terlalu tenang untuk sebuah penolakan yang, dari cara Fajar memegang proposal itu, sepertinya sudah ia tunggu sejak siang.
“Duduk dulu, Ka,” kata Fajar.
Raka mengangguk.
Namun ia tidak langsung duduk. Ia melirik sekeliling sekretariat, seolah memastikan tidak mengganggu siapa pun, sebelum akhirnya memilih kursi plastik di dekat meja Fajar.
Laras menunduk kembali.
Setidaknya, ia berusaha terlihat seperti sedang fokus pada buku.
Tapi ketika Fajar mulai bicara, halaman yang berada di tangan Laras tidak lagi berpindah.
“Jadi gimana?” tanya Fajar dengan nada yang masih ringan. “Udah dipikirin?”
“Udah.”
“Terus?”
Raka meletakkan kedua tangannya di atas paha.
Gerakannya sederhana, tetapi Laras memperhatikan ada jeda singkat sebelum ia menjawab. Bukan jeda orang yang bingung memilih kata. Lebih seperti seseorang yang sudah tahu persis apa yang ingin ia katakan dan sedang memastikan bahwa kata-kata itu tidak melenceng dari apa yang benar-benar ia pikirkan.
“Maaf, Jar,” katanya akhirnya. “Aku nggak bisa ambil tawarannya.”
Fajar berkedip.
Laras mendengar Tari berhenti mengaduk tehnya.
“Serius?”
Raka mengangguk.
“Serius.”
“Lho, kenapa?”
Fajar sedikit condong ke depan. “Kemarin kamu cuma bilang mau mikir. Aku kira ada jadwal yang bentrok atau apa.”
“Bukan.”
“Terus?”
Raka mengembuskan napas pelan.
Di sudut ruangan, Laras berhenti mengusap sampul buku.
“Karena aku nggak merasa tepat jadi pembicara utama untuk forum itu.”
Fajar mengernyit.
“Kenapa nggak tepat?”
Raka menatap proposal yang ada di meja.
“Karena topiknya.”
“Ya memang soal gender.”
“Maksudku justru itu.”
Fajar tampak semakin tidak mengerti.
Beberapa detik ruangan itu dipenuhi oleh suara kipas angin tua yang berputar di atas kepala. Bilahnya mengeluarkan bunyi berdecit setiap beberapa putaran. Dari luar terdengar suara motor melewati jalan depan fakultas.
Raka melanjutkan.
“Aku bisa baca teori. Aku bisa ikut diskusi. Aku juga bisa ngomongin banyak konsep yang ada di literatur. Tapi kalau kalian minta aku berdiri di depan dan memimpin forum seolah-olah aku punya posisi pengalaman yang cukup untuk menjelaskan isu itu dari segala sisi, aku nggak nyaman.”
Fajar menyandarkan punggung.
“Ka, kita nggak minta kamu jadi perempuan.”
Tari hampir tersedak tehnya.
Laras menoleh sekilas ke arahnya, tetapi Fajar tampaknya tidak sedang bercanda.
“Maksudku,” lanjut Fajar cepat, “ya kita tahu kamu laki-laki. Tapi kamu kan ngerti teorinya. Kamu salah satu orang yang paling sering baca soal beginian. Aku justru mikir kamu cocok karena kamu bisa bikin diskusinya lebih akademis.”
Raka tidak langsung menjawab.
Sore itu, Laras untuk pertama kalinya memperhatikan cara laki-laki itu memandang seseorang ketika sedang mendengarkan. Tidak ada gerakan memotong. Tidak ada wajah yang menunjukkan bahwa ia sudah menyiapkan bantahan sebelum lawan bicaranya selesai. Ia hanya mendengarkan.
Lalu ia menggeleng perlahan.
“Ngerti teori sama merasa berhak bicara atas semua pengalaman itu beda.”
Kalimat itu membuat tangan Laras berhenti.
Jari-jarinya masih menyentuh tepi buku.
Fajar mengangkat alis. “Tapi pembicara kan memang nggak harus ngalamin semuanya.”
“Bukan itu maksudku.”
“Terus?”
Raka sedikit mengubah posisi duduknya.
“Aku nggak bilang laki-laki nggak boleh bicara soal gender. Aku juga nggak bilang pengalaman pribadi adalah satu-satunya dasar buat memahami sesuatu. Yang aku bilang, ada batas yang harus disadari. Ada pengalaman yang nggak aku punya. Ada bentuk ketimpangan yang bisa aku pelajari, tapi nggak aku jalani dengan tubuhku sendiri.”
Suara Raka tetap rendah.
Justru karena itu, Laras harus sedikit menahan napas untuk menangkap setiap katanya.
“Kalau forum itu butuh orang buat menjelaskan konsep tertentu, mungkin aku masih bisa bantu. Jadi moderator, nyusun bahan bacaan, atau diskusi di bagian yang memang aku pahami. Tapi kalau kalian butuh aku sebagai wajah utama acara, lalu aku berdiri di sana dan ngomong seolah-olah aku paling tahu tentang pengalaman ketimpangan gender, aku nggak mau.”
Fajar terdiam.
Bukan karena setuju.
Lebih karena sepertinya ia tidak menyangka percakapan yang menurutnya sederhana akan berubah menjadi seperti itu.
“Ka,” katanya setelah beberapa saat, “kamu terlalu merendahkan diri.”
Raka tersenyum tipis.
Laras memperhatikan senyum itu.
Aneh, pikirnya.
Bukan senyum orang yang tersanjung karena dianggap rendah hati. Senyum itu justru tampak seperti respons terhadap kesalahpahaman yang terlalu sering ia dengar.
“Aku nggak merendahkan diri.”
“Ya terus?”
“Aku cuma tahu bagian mana yang aku tahu dan bagian mana yang nggak.”
Fajar mengetukkan ujung jarinya ke meja.
“Ya tinggal ngomong sesuai kompetensi teoritis aja.”
“Itu bisa.”
“Nah.”
“Tapi bukan sebagai pembicara utama yang kalian pasang karena namaku bisa bikin acara ini kelihatan lebih keren.”
Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi.
Fajar menatap Raka.
Laras menundukkan wajah sedikit, pura-pura memeriksa nomor inventaris yang sebenarnya sudah ia lihat tiga kali.
Tari menoleh kepadanya.
Mata mereka bertemu sebentar.
Tari menaikkan alis seolah berkata, Wah.
Laras tidak membalas apa-apa.
Di depan, Fajar tertawa kecil. Tawa yang terdengar kaku.
“Wah, nggak gitu juga kali.”
“Ya mungkin bukan itu niat kamu secara pribadi.”
Raka berkata tanpa nada menyerang.
“Tapi aku tahu cara acara-acara kayak gini bekerja. Kadang kita terlalu sibuk bikin poster yang kelihatan bagus. Cari nama yang dianggap menarik. Cari orang yang punya reputasi. Terus lupa nanya apakah orang itu memang tepat buat bicara atau nggak.”
“Jadi kamu pikir kita cuma mau numpang nama kamu?”
“Aku nggak bilang gitu.”
“Tapi kesannya gitu.”
“Kalau kamu nangkepnya begitu, maaf. Tapi keputusan aku tetap sama.”
Fajar menghela napas panjang.
Ia mengambil salah satu lembar proposal, membaliknya, lalu meletakkannya kembali.
“Jujur ya, aku agak bingung sama kamu.”
Raka tidak menjawab.
“Orang-orang biasanya rebutan kesempatan kayak gini. Apalagi kamu tahu sendiri, forum ini lumayan gede buat ukuran internal fakultas. Kalau kamu tampil bagus, orang-orang bakal makin kenal. Bisa jadi portofolio juga. Siapa tahu habis ini ada undangan lain.”
Raka memandang ke arah jendela.
Cahaya sore menyentuh sebagian wajahnya. Laras baru sadar bahwa ekspresinya berubah sedikit. Bukan marah. Bukan tersinggung.
Lelah, mungkin.
Seolah kata kesempatan yang bagi orang lain terdengar seperti hadiah, bagi Raka justru mengingatkan sesuatu yang tidak ingin ia lakukan.
“Aku tahu.”
“Terus kenapa ditolak?”
“Karena nggak semua kesempatan harus diambil.”
Fajar terdiam lagi.
Raka melanjutkan, kali ini lebih pelan.
“Kalau aku ambil sesuatu cuma karena itu bisa bikin namaku lebih dikenal, padahal aku sendiri nggak yakin posisi aku tepat atau nggak, buat apa?”
“Ya buat berkembang.”
“Berkembang nggak harus dengan pura-pura.”
Kalimat itu jatuh begitu saja.
Tidak keras.
Tidak dibuat menjadi slogan.
Namun Laras merasakan sesuatu bergerak perlahan di dalam dadanya.