Sore itu, langit di atas kampus belum benar-benar kehilangan warna. Matahari sudah turun cukup rendah hingga cahaya yang jatuh di antara gedung-gedung berubah kekuningan, memantul di kaca jendela fakultas dan membuat bayangan pohon memanjang di trotoar. Mahasiswa mulai bergerak keluar dari kelas dalam kelompok-kelompok kecil. Ada yang berjalan sambil membawa map, ada yang sibuk menatap layar ponsel, ada pula yang sudah mulai membicarakan tempat makan sebelum Maghrib. Raka berjalan sendiri di antara mereka dengan langkah yang tidak terlalu cepat, tas selempangnya tergantung di bahu kiri dan sebuah buku yang sejak tadi ia bawa terjepit di bawah lengannya.
Pikirannya masih tertinggal di sekretariat organisasi.
Bukan karena ia menyesali keputusannya.
Setidaknya, itu yang terus ia katakan pada dirinya sendiri.
Ia sudah menolak tawaran Fajar. Sudah mengucapkannya dengan jelas, tanpa berputar-putar, tanpa mencari alasan yang bisa membuat penolakannya terdengar lebih mudah diterima. Raka tidak mau menjadi pembicara utama dalam forum studi gender hanya karena orang-orang menganggap ia cukup pintar untuk berbicara. Baginya, kecerdasan bukan izin untuk memasuki semua ruang dan berbicara tentang semua hal. Ada pengalaman yang tidak ia miliki. Ada posisi hidup yang tidak pernah ia jalani. Ada batas antara memahami sesuatu secara teoritis dan berpura-pura memiliki otoritas untuk menjelaskan pengalaman orang lain.
Keputusan itu semestinya sederhana.
Namun cara Fajar memandangnya sebelum ia keluar dari sekretariat masih tersisa seperti serpihan kecil yang mengganjal di kepala.
Seolah-olah Raka baru saja membuang sesuatu yang seharusnya diperebutkan.
Panggung.
Pengakuan.
Nama yang semakin dikenal.
Hal-hal yang, bagi sebagian orang, mungkin cukup untuk membuat mereka mengubah prinsip menjadi bahan kompromi.
Raka mengembuskan napas panjang ketika menyeberang jalan kecil di depan kampus. Di seberang sana, tidak jauh dari deretan fotokopian dan kios pulsa, berdiri warkop yang sudah lama menjadi tempat singgah mahasiswa. Bangunannya sederhana, beratap seng dengan bagian depan terbuka. Beberapa spanduk produk kopi dan rokok tergantung di dinding. Kursi-kursi plastik tersusun tidak beraturan di bawah cahaya lampu putih yang belum dinyalakan karena sore masih cukup terang. Dari dalam, terdengar suara televisi yang menyiarkan pertandingan sepak bola dengan volume lebih tinggi daripada yang diperlukan.
Raka berhenti sebentar di depan warkop itu.
Ia tidak benar-benar lapar.
Ia juga tidak sedang ingin bertemu siapa pun.
Yang ia butuhkan hanya tempat untuk duduk tanpa harus menjelaskan apa pun.
Maka ia masuk.
Aroma kopi hitam, minyak goreng, dan asap rokok menyambutnya sekaligus. Seorang bapak pemilik warkop yang sedang mengelap gelas menoleh dari balik etalase kecil.
“Biasa, Ka?”
Raka mengangguk.
“Kopi hitam, Pak.”
“Pahit, ya?”
“Ya.”
“Pahit terus hidupmu itu.”
Raka hanya tersenyum tipis.
Ia memilih meja paling ujung, dekat tembok yang sebagian catnya sudah mengelupas. Dari sana, ia bisa melihat jalan tanpa harus duduk terlalu dekat dengan keramaian. Ia mengeluarkan bukunya, meletakkannya di atas meja plastik yang permukaannya dipenuhi bekas lingkaran gelas, lalu duduk dengan tubuh sedikit membungkuk.
Beberapa menit kemudian, kopi datang dalam gelas kaca kecil.
Uapnya tipis.
Aromanya pekat.
Raka menyesapnya perlahan sebelum membuka buku.
Awalnya, ia benar-benar mencoba membaca.
Matanya mengikuti kalimat demi kalimat tentang relasi sosial, konstruksi identitas, dan bagaimana posisi seseorang dalam masyarakat memengaruhi cara ia memahami dunia. Sesekali ia berhenti, menggeser halaman dengan ibu jari, lalu kembali membaca. Namun setelah beberapa halaman, ia menyadari bahwa pikirannya tidak pernah benar-benar berada di sana.
Ia masih memikirkan sekretariat.
Masih memikirkan tawaran Fajar.
Dan, entah kenapa, di sela semua itu, wajah Anin juga muncul.
Raka menutup matanya sebentar.
Nama itu akhir-akhir ini selalu datang pada saat yang tidak tepat.
Ia tahu hubungannya dengan Anin sedang berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada kata-kata kasar. Tidak ada peristiwa tunggal yang bisa ia tunjuk sebagai penyebab. Namun beberapa minggu terakhir, setiap perhatian yang ia berikan seolah selalu kembali dengan suhu yang lebih dingin. Jurnal yang ia rapikan, bantuan yang ia tawarkan, pesan-pesan yang ia susun hati-hati agar tidak terdengar terlalu dekat.
Semuanya seperti mengetuk pintu rumah yang penghuninya sudah tidak ingin membukakan.
Raka tahu itu.
Atau, setidaknya, sebagian dari dirinya tahu.
Bagian lain masih sibuk mencari alasan.
Mungkin Anin sedang banyak tugas.
Mungkin dia memang begitu pada semua orang.
Mungkin perempuan seperti Anin hanya butuh waktu lebih lama untuk percaya.
Mungkin selama ini ia terlalu terburu-buru membaca tanda.
Mungkin.
Selalu ada mungkin yang bisa ia gunakan untuk mempertahankan harapan.
Ia menunduk lagi pada bukunya. Huruf-huruf di halaman mulai terasa seperti garis-garis hitam yang kehilangan makna. Raka mengangkat cangkir dan meneguk kopinya sekali lagi. Pahitnya sudah tidak terlalu terasa.
Beberapa saat kemudian, suara kursi plastik yang digeser kasar membuat kepalanya terangkat.
Sekelompok mahasiswa baru saja masuk.
Mereka berjumlah lima atau enam orang. Salah satunya langsung menarik perhatian karena suara tawanya mendominasi bahkan sebelum ia benar-benar duduk. Tubuhnya tinggi, bahunya lebar, rambutnya dipotong pendek, dan caranya bergerak seperti orang yang terbiasa memastikan ruangan memperhatikannya.
Raka mengenalnya.
Reno.
Mahasiswa senior yang beberapa kali pernah ia lihat di kampus, meski mereka tidak pernah benar-benar berinteraksi. Reno bukan tipe mahasiswa yang dikenal karena tulisan akademiknya atau kegiatan organisasinya. Namanya lebih sering muncul dalam konteks tongkrongan, kepanitiaan yang ramai, dan lingkaran mahasiswa yang selalu berhasil membuat tempat mana pun terasa seperti panggung milik mereka.
Reno memilih meja tengah.
Teman-temannya mengikutinya.
Dalam hitungan menit, warkop yang tadi masih cukup tenang berubah menjadi lebih bising.
“Gila, dosen gue tadi ngomong dua jam kayak orang baca kitab,” kata salah satu dari mereka.