Raka menutup bukunya pelan-pelan, tetapi suara sampul yang bertemu dengan halaman terakhir itu tetap terdengar lebih keras di telinganya daripada seharusnya. Bukan karena warkop sedang sepi. Justru sebaliknya. Televisi di dekat rak rokok masih menyala dengan volume terlalu tinggi, sendok-sendok beradu dengan gelas, motor sesekali meraung di jalan utama kampus, dan dari meja tengah, Reno bersama teman-temannya masih tertawa seperti tidak ada sesuatu yang menjijikkan baru saja mereka lakukan. Tawa itu datang bergelombang, kasar, saling menyambar, seolah tubuh seorang perempuan yang bahkan sudah berjalan menjauh dari depan warkop masih bisa terus mereka jadikan bahan permainan.
Raka menatap permukaan meja di depannya.
Secangkir kopi hitam yang tadi dipesannya sudah tinggal setengah. Uapnya tidak lagi terlihat. Permukaannya memantulkan cahaya kekuningan dari lampu yang menggantung di langit-langit, sementara di sekeliling cangkir itu terdapat beberapa titik air yang entah berasal dari embun gelas atau keringat tangannya sendiri. Sejak tadi telapak tangannya memang terasa lembap.
Ia tidak lagi tahu apa yang sedang dibacanya.
Kalimat terakhir yang tadi ia ikuti dengan cukup saksama sekarang seperti menghilang dari kepalanya. Huruf-hurufnya masih ada di halaman, tetapi maknanya tidak masuk. Yang tertinggal justru suara Reno.
“Kalau segede itu sih, dipeluk kayaknya—”
Raka mengatupkan rahangnya.
Ia tidak ingin mengingat kalimat selanjutnya. Tidak perlu. Yang membuatnya muak bukan hanya satu kalimat. Bukan pula sekadar karena Reno memang tipe orang yang dari awal tampak menikmati suaranya sendiri. Yang membuat perut Raka seperti dipelintir adalah bagaimana semua orang di meja itu langsung mengerti permainan yang sedang dimainkan. Tidak ada yang bertanya, “Maksudmu apa?” Tidak ada yang terlihat terganggu. Mereka tahu harus tertawa pada bagian mana, tahu kapan harus menimpali, tahu bagaimana menambahkan komentar yang sedikit lebih kasar agar lingkaran itu semakin gaduh.
Seakan-akan menjadi laki-laki berarti harus ikut menikmati penghinaan semacam itu.
Raka menundukkan kepala sebentar.
Dadanya terasa sempit.
Bukan sempit seperti ketika ia harus berbicara di depan kelas. Bukan pula seperti ketika seseorang menatapnya terlalu lama, lalu pandangan orang itu tanpa sengaja turun, mengukur tubuhnya, membandingkan tinggi badannya dengan laki-laki lain di ruangan yang sama. Ini berbeda. Ada sesuatu yang terasa kotor di dalam dirinya hanya karena ia masih duduk di tempat yang sama, masih mendengar suara mereka, masih membiarkan dirinya menjadi bagian dari latar bagi obrolan itu.
Ia mencoba menarik napas.
Asap rokok masuk lebih dulu.
Raka langsung memalingkan wajah.
Sial.
Di luar, langit sudah mulai berubah warna. Cahaya sore yang masuk dari celah pintu terlihat kemerahan, jatuh miring di lantai keramik yang kusam. Orang-orang mulai berlalu-lalang lebih cepat di trotoar kampus. Beberapa mahasiswa membawa map di dada, beberapa lainnya berjalan sambil menatap ponsel, dan dari kejauhan terdengar azan yang masih samar, belum cukup dekat untuk mengalahkan kebisingan warkop.
Raka kembali memandang bukunya.
Ia tahu dirinya tidak bisa membaca lagi.
Tidak malam ini.
Tidak di sini.
Tanpa banyak gerakan, ia memasukkan pembatas halaman, menutup buku itu rapat-rapat, lalu memasukkannya ke dalam tas. Gerakannya tenang, tetapi ada ketegangan kecil di bahunya. Jari-jarinya menekan resleting tas lebih keras dari biasanya sampai suara geriginya terdengar tajam.
Dari meja tengah, Reno kembali tertawa.
Raka tidak menoleh.
Ia berdiri.
Kursi plastik di belakangnya bergeser sedikit dan menimbulkan bunyi gesekan pendek di lantai. Tidak ada yang langsung memperhatikannya. Ia mengambil uang dari dompet, menghitungnya sekilas, lalu berjalan menuju meja kasir.
“Pak, kopinya,” katanya.
Suara Raka datar.
Pemilik warkop yang sedang menghitung uang receh mengangkat kepala sebentar. “Tujuh ribu.”
Raka meletakkan selembar uang sepuluh ribuan di atas meja. “Nggak usah kembaliannya.”
Pemilik warkop menatap uang itu, lalu Raka. “Tiga ribu, Mas.”
“Nggak apa-apa.”
Ia langsung berbalik sebelum orang itu sempat berkata lagi.
Baru beberapa langkah, suara dari meja tengah menyusul.
“Eh!”
Raka tahu suara itu bahkan sebelum menoleh.
Reno.
“Nih anak mau ke mana?”
Beberapa kepala ikut berputar. Reno duduk dengan posisi santai, satu lengannya tersampir di belakang kursi, sementara tangan satunya memegang rokok yang sudah tinggal separuh. Di depannya ada beberapa gelas kopi, bungkus gorengan yang terbuka, dan dua bungkus rokok kosong. Senyumnya lebar, jenis senyum yang dari jauh mungkin terlihat akrab, tetapi bagi Raka malam itu justru terasa seperti sesuatu yang menuntut.
“Gabung sini, Ka,” kata Reno. “Dari tadi kayak mahasiswa teladan banget. Baca mulu.”
Raka berhenti.
Hanya sebentar.
Entah kenapa, dalam sepersekian detik itu ia merasa semua suara di warkop menjauh sedikit. Ia menatap Reno, kemudian meja di depannya, lalu satu per satu wajah mahasiswa yang tadi tertawa bersama. Ada beberapa yang masih menyeringai. Ada yang tampak menunggu jawaban. Ada juga yang sama sekali tidak menyadari apa yang membuat Raka berdiri dan pergi.
Raka tidak punya keinginan untuk menjelaskan.
Ia tidak ingin berdiri di sana, mengangkat jari telunjuk, lalu memberikan kuliah singkat tentang objektifikasi perempuan kepada orang-orang yang bahkan mungkin akan menganggap reaksinya sebagai bahan lelucon baru. Ia sudah terlalu lelah dengan jenis percakapan yang mengubah segala sesuatu menjadi panggung. Terlalu lelah dengan orang-orang yang merasa harus memenangkan sesuatu dalam setiap perdebatan.
Ia hanya mengangkat satu tangan.
Mengibaskannya kecil.
“Nggak dulu.”
Reno menaikkan alis. “Wah, sibuk amat.”
Raka mengangguk tipis, tetapi tidak tersenyum.
“Ya.”
Jawaban itu keluar begitu saja.
Tidak kasar. Tidak juga ramah.
Cukup.
Ia kembali berjalan.
Baru kali ini Reno benar-benar memperhatikannya. Bukan karena Raka mengatakan sesuatu yang menarik, melainkan justru karena ekspresinya tidak sesuai dengan penolakan biasa. Sudut mulut Raka tertarik tipis ke bawah. Hidungnya sedikit berkerut. Wajahnya seperti seseorang yang baru saja mencium sesuatu yang terlalu busuk dan tidak bisa berpura-pura tidak terganggu.
Seorang mahasiswa di meja Reno menyikut temannya.
“Itu kenapa mukanya?”
“Masuk angin kali.”
Tawa kecil muncul lagi.
Raka mendengarnya.
Ia tetap tidak menoleh.
Langkahnya menuju pintu semakin cepat. Bukan terburu-buru seperti orang yang takut dikejar, tetapi lebar dan tegang, seolah setiap detik tambahan yang dihabiskannya di dalam ruangan itu adalah sesuatu yang harus segera ia potong. Bahunya kaku. Tangannya mengepal tanpa sadar di sisi tubuh. Saat melewati meja dekat pintu, salah satu orang yang sedang mengaduk mi instan bahkan menoleh karena Raka hampir menyenggol kursinya.
“Pelan, Mas,” gumam orang itu.
Raka baru tersadar.
“Maaf.”
Suaranya pendek.