Sore telah benar-benar bergeser menuju malam ketika Raka menyalakan mesin motornya di tepi jalan depan warkop. Suara knalpot kendaraan yang lalu-lalang segera menelan bunyi mesin kecil itu, bercampur dengan klakson, suara pedagang kaki lima, dan desis angin yang mulai membawa hawa lebih dingin dari arah jalan raya. Lampu-lampu toko di seberang jalan menyala satu per satu, memantulkan warna kekuningan di aspal yang masih menyimpan panas sepanjang hari. Raka mengenakan helmnya dengan gerakan agak terburu-buru, lalu menarik motor keluar dari tempat parkir tanpa menoleh lagi ke arah warkop.
Baru setelah motornya melaju beberapa puluh meter, bayangan tentang kejadian tadi sore muncul kembali.
Bukan tentang Reno.
Bukan tentang suara tawa keras yang membuat dadanya sesak.
Melainkan wajah seorang perempuan yang berdiri di depan pintu warkop.
Raka sedikit mengernyit di balik kaca helm. Pertemuan itu hanya berlangsung beberapa detik. Perempuan itu berjalan bersama seorang temannya, lalu tiba-tiba berhenti setelah melihatnya keluar dengan wajah yang jelas-jelas sedang tidak baik. Kemudian perempuan itu bertanya sesuatu.
Apa kamu Raka?
Raka sempat menjawab, meski pikirannya waktu itu masih dipenuhi rasa muak terhadap suasana di dalam warkop. Setelah itu, percakapan mereka tidak sempat berkembang. Ada kendaraan yang melintas cukup dekat, temannya menarik perhatian perempuan itu, dan Raka sendiri sudah tidak memiliki keinginan untuk berhenti lebih lama.
Dia cuma nanya nama.
Tangannya tetap stabil di setang motor, sementara lampu merah di persimpangan depan memaksanya mengurangi kecepatan. Motor-motor lain mulai mengerumuninya dari berbagai arah. Seorang pengemudi ojek daring berhenti di sebelah kanan, sementara dua mahasiswa di belakangnya masih sempat tertawa membicarakan sesuatu yang tidak bisa ia dengar dengan jelas.
Raka berhenti.
Lampu rem kendaraan di depannya menyala merah.
Dalam pantulan kecil kaca spion, ia melihat sebagian wajahnya sendiri.
Dan anehnya, justru pada saat itulah bayangan perempuan tadi muncul lagi.
Rambutnya.
Cara dia berhenti.
Tatapannya ketika memastikan namanya.
Tidak ada yang cukup istimewa untuk membuat Raka merasa harus memikirkannya lebih jauh.
Mungkin anak organisasi.
Mungkin pernah lihat gue di suatu acara.
Atau mungkin salah orang.
Begitulah kesimpulan yang terbentuk tanpa perlu proses panjang. Raka tidak punya kebiasaan membangun kemungkinan-kemungkinan romantis dari pertemuan singkat. Baginya, seseorang yang baru dikenal tidak otomatis menjadi menarik hanya karena bertanya namanya. Tidak setiap tatapan harus memiliki makna. Tidak setiap pertemuan harus berubah menjadi sesuatu.
Dan lagi, pikirannya sudah terlalu penuh oleh satu nama.
Anin.
Nama itu muncul begitu saja, mengambil alih ruang di kepalanya dengan cara yang sudah terlalu familiar.
Raka menarik napas pelan.
Lampu lalu lintas berubah hijau.
Motor-motor di sekelilingnya mulai bergerak.
Ia ikut melaju.
Semakin jauh warkop itu tertinggal di belakang, semakin cepat pula pertemuan singkat tadi kehilangan bentuknya. Wajah perempuan yang bertanya tentang namanya perlahan berubah menjadi salah satu dari sekian banyak wajah yang pernah dilihatnya di kampus. Tidak hilang sepenuhnya, tetapi tersimpan di tempat yang begitu jauh sehingga tidak lagi menuntut perhatian.
Sementara Anin tidak pernah benar-benar pergi dari pikirannya.
Bahkan ketika ia sedang membaca.
Bahkan ketika sedang mengikuti kelas.
Bahkan ketika mengerjakan tugas.
Bahkan ketika sedang membantu orang lain.
Ada bagian dari dirinya yang selalu menyisakan ruang untuk perempuan itu.
Raka sadar itu.
Sadar betul.
Namun kesadaran tidak selalu berarti kemampuan untuk berhenti.
Motor Raka membelok ke jalan yang lebih sepi. Kawasan kampus mulai berganti dengan deretan rumah makan kecil, laundry, fotokopian, dan tempat-tempat kos yang papan namanya sudah tampak kusam dimakan cuaca. Beberapa mahasiswa berjalan di pinggir jalan sambil membawa tas, sebagian lagi duduk di warung sambil menunggu pesanan. Dari sebuah musala terdengar suara orang mengaji. Lampu jalan memanjang di atas trotoar seperti garis-garis pucat yang memisahkan malam dari sisa sore.
Raka memperlambat motornya ketika memasuki jalan menuju kos.
Pikirannya sudah tidak lagi berada di depan warkop.
Ia membayangkan Anin.
Lebih tepatnya, ia membayangkan percakapan yang selama ini terus ia tunda.
Selama beberapa bulan terakhir, ada terlalu banyak kalimat yang ia simpan sendiri. Kalimat-kalimat itu tumbuh dari percakapan sederhana, dari pesan singkat tengah malam, dari permintaan tolong yang selalu ia usahakan untuk penuhi, dari momen ketika Anin tiba-tiba menghubunginya karena laptop bermasalah, atau ketika perempuan itu sedang tidak enak badan dan berkata bahwa ia malas keluar membeli obat.
Raka selalu datang.
Kadang tanpa berpikir panjang.
Kadang bahkan sebelum Anin selesai menjelaskan masalahnya.
Dan setiap kali itu terjadi, selalu ada bagian kecil dalam dirinya yang berharap bahwa kesediaannya akan berarti sesuatu.
Tidak harus langsung.
Tidak harus sekarang.
Tapi suatu hari nanti.
Mungkin Anin akan melihat.
Mungkin perempuan itu akan sadar bahwa ada seseorang yang selalu bersedia ada ketika ia membutuhkan bantuan.
Mungkin semua waktu, tenaga, perhatian, dan kesetiaan itu pada akhirnya akan membentuk sesuatu yang tidak bisa diabaikan.
Pemikiran itu sederhana.
Mungkin terlalu sederhana.
Tetapi Raka memegangnya cukup erat.
Motor berhenti di depan gerbang kos.
Ia mematikan mesin, lalu duduk beberapa detik tanpa langsung turun. Dari kantong celananya, ia mengambil ponsel. Layar menyala. Ada beberapa notifikasi grup kuliah, pesan dari teman sekelas, dan satu pesan lama dari Anin yang belum ia hapus.
Besok jadi, kan?
Pesan itu sebenarnya dikirim beberapa hari lalu, ketika Anin meminta bantuannya mengecek laptop yang tiba-tiba tidak bisa menyala.
Raka masih mengingat sore itu.
Ia sedang berada di perpustakaan.