Malam berikutnya terasa lebih sunyi daripada biasanya.
Bukan karena lingkungan kos benar-benar tenang. Dari kamar sebelah masih terdengar suara video yang diputar terlalu keras. Di luar jendela, motor sesekali melintas. Seseorang di ujung lorong berbicara melalui telepon dengan suara setengah berbisik. Kipas angin di sudut kamar Raka masih berputar dengan bunyi yang tidak beraturan. Namun di tengah semua suara itu, ada satu hal yang membuat malam tersebut terasa jauh lebih hening daripada biasanya.
Raka sedang menatap layar ponselnya.
Sebuah percakapan dengan Anin terbuka.
Sudah hampir sepuluh menit ia berada dalam posisi yang sama.
Pesan belum diketik.
Tidak ada satu huruf pun.
Jempolnya hanya menggantung di atas layar seolah perangkat kecil itu memiliki kemampuan untuk menentukan masa depan seseorang.
"Anjir," gumam Raka sambil mengusap wajah. "Ngirim chat doang kenapa susah banget, sih."
Ia meletakkan ponsel di meja.
Berdiri.
Lalu berjalan dua langkah.
Kemudian kembali lagi.
Ponselnya masih menyala.
Ia mengambilnya.
Membuka keyboard.
Mengetik.
Besok sore lo ada waktu nggak?
Raka membaca kalimat itu.
Terlalu santai.
Ia menghapusnya.
Besok sore bisa ketemu?
Terlalu langsung.
Ia menghapus lagi.
Anin, besok sore lo sibuk nggak? Gue pengin ngobrol bentar.
Raka berhenti.
Menatap kalimat itu cukup lama.
Jantungnya mulai berdetak lebih cepat hanya karena membaca kata-kata yang bahkan belum dikirim.
"Gue pengin ngobrol bentar."
Kenapa kalimat itu terdengar seperti ada masalah besar?
Ia menghapus lagi.
Ponsel diletakkan.
Diambil lagi.
Ditulis lagi.
Dihapus lagi.
Raka akhirnya menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Satu tangan menutup mata, sementara tangan lainnya masih menggenggam ponsel di atas dada. Langit-langit kamar yang sudah mulai kusam menjadi satu-satunya hal yang bisa ia tatap.
Selama ini ia bisa berbicara tentang banyak hal.
Ia bisa berdebat mengenai teori sosial.
Bisa mengkritik tulisan akademik.
Bisa menjelaskan sesuatu yang bahkan tidak ditanyakan orang.
Tetapi ketika harus mengirim satu pesan kepada perempuan yang disukainya, semua kemampuan berpikir itu seperti berubah menjadi beban.
Terlalu banyak kemungkinan.
Kalau dia sibuk?
Kalau dia nanya mau ngomong apa?
Kalau dia sebenarnya udah tahu?
Kalau dia nolak ketemu?
Kalau dia ketemu, terus gue ngomong apa?
Pertanyaan terakhir membuat Raka membuka mata.
Ia duduk lagi.
"Goblok."
Tidak ada jawaban lain.
Ia sendiri tahu bahwa tidak mungkin semua kemungkinan bisa dikendalikan. Yang bisa ia lakukan hanya memulai.
Dengan gerakan cepat, sebelum dirinya sempat berubah pikiran lagi, Raka kembali membuka percakapan dengan Anin.
Jarinya mengetik.
Anin, besok sore lo ada waktu nggak? Gue pengin ketemu sama lo sebentar. Kalau bisa, di taman fakultas.
Ia membaca sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Lalu sebelum keberaniannya kembali menguap, ia menekan tombol kirim.
Pesan itu terkirim.
Seketika Raka menatap layar seperti baru saja melempar sesuatu dari ketinggian dan tidak tahu apa yang akan terjadi ketika benda itu jatuh.
Tanda pengiriman muncul.
Pesan diterima.
Tidak ada balasan.
Raka meletakkan ponsel dengan layar menghadap ke bawah.
Lima detik kemudian, ia membaliknya lagi.
Tidak ada balasan.
Ia menghela napas.
Ponsel kembali diletakkan.
Tiga puluh detik.
Ia mengambilnya lagi.
Masih tidak ada balasan.
"Ya iyalah," katanya pada dirinya sendiri. "Baru juga dikirim."
Ia mencoba membuka buku.
Tidak bisa fokus.
Membaca satu paragraf.
Kembali melihat ponsel.
Pergi ke kamar mandi.
Kembali melihat ponsel.
Minum.
Kembali melihat ponsel.
Pada akhirnya, Raka duduk di depan meja sambil menyandarkan kepala ke kursi. Jam menunjukkan hampir pukul sembilan malam. Ia tidak tahu sudah berapa kali membuka layar hanya untuk memastikan tidak ada notifikasi yang terlewat.
Waktu terasa jauh lebih lambat ketika seseorang sedang menunggu satu orang.
Akhirnya ponselnya bergetar.
Raka langsung mengambilnya.
Jantungnya seolah bergerak lebih dulu daripada tangannya.
Nama Anin muncul di layar.
Ia diam.
Benar-benar diam.
Lalu membuka pesannya.
Boleh. Jam berapa?
Hanya itu.
Satu kalimat pendek.
Tidak ada emotikon.
Tidak ada pertanyaan tambahan.
Tidak ada tanda bahwa Anin menebak sesuatu.
Namun bagi Raka, satu kata pertama dalam pesan itu sudah cukup membuat sesuatu di dadanya mengendur.
Boleh.
Ia menatap layar.
Senyum kecil muncul tanpa ia sadari.
Besok sore.
Anin akan datang.
Raka segera membalas.
Jam 4 aja? Biar nggak terlalu panas.
Tidak sampai lama, balasan datang.
Oke.
Percakapan selesai.
Sesederhana itu.