Pukul lima lewat dua puluh delapan menit ketika Raka mematikan mesin motornya di area parkir belakang Fakultas Ilmu Budaya. Sore itu kampus sudah tidak seramai beberapa jam sebelumnya. Sebagian mahasiswa keluar dari gedung sambil membawa map dan tas ransel, sebagian lagi bergerombol di bawah koridor, menyelesaikan percakapan yang tampaknya tidak terlalu penting tetapi cukup menarik untuk menahan mereka beberapa menit sebelum pulang. Cahaya matahari sudah tidak lagi jatuh tegak dari atas. Langit mulai berubah warna, dari biru pucat menjadi jingga yang hangat, sementara bayangan pohon-pohon di sepanjang halaman memanjang di atas paving.
Raka duduk beberapa detik di atas motornya setelah mesin benar-benar mati.
Tangannya masih berada di setang.
Jantungnya berdetak terlalu keras.
Padahal ia sudah datang lebih awal. Ia sudah mandi. Sudah mengenakan kemeja biru tua yang semalam disetrika berulang kali. Rambutnya sudah dirapikan beberapa kali di depan cermin kecil kamar kos. Bahkan sebelum berangkat, ia sempat melepas kemeja itu lagi, mengenakan kaus, lalu kembali memakai kemeja karena merasa penampilannya terlalu formal untuk sekadar bertemu seseorang di taman fakultas.
Sekarang, setelah semua persiapan itu, ia malah merasa tidak ada satu pun yang benar-benar membantu.
Raka menatap pantulan dirinya di kaca spion motor.
Kemejanya memang rapi.
Rambutnya tidak terlalu berantakan.
Wajahnya tidak terlihat seburuk yang semalam ia bayangkan.
Namun semakin lama ia melihat bayangan itu, semakin cepat pula pikiran-pikiran lama muncul dari tempat yang seharusnya sudah ia tutup.
Jangan aneh-aneh.
Jangan terlalu kelihatan gugup.
Jangan bikin dia nggak nyaman.
Jangan terlalu berharap.
Raka menutup mata.
"Udah," gumamnya.
Ia turun dari motor, mengambil kunci, lalu memasukkannya ke dalam saku. Kakinya melangkah menuju taman belakang fakultas dengan kecepatan yang tidak terlalu cepat, tetapi juga tidak cukup santai untuk disebut tenang.
Taman itu berada di sisi belakang gedung lama, sedikit tersembunyi dari jalur utama mahasiswa. Ada beberapa pohon besar yang daunnya menutupi sebagian langit. Di bawah salah satu pohon, terdapat bangku semen tua dengan permukaan yang mulai kasar dan beberapa bagian pinggirnya retak. Biasanya tempat itu digunakan mahasiswa untuk membaca, mengerjakan tugas, atau sekadar duduk sambil menunggu kelas berikutnya.
Hari ini, bagi Raka, bangku itu terasa seperti tempat yang jauh lebih penting daripada seharusnya.
Ia sampai pukul lima lewat tiga puluh dua.
Terlalu cepat.
Raka duduk di salah satu ujung bangku, lalu langsung merasa bahwa posisi itu aneh. Ia berdiri lagi. Berjalan beberapa langkah. Kemudian kembali duduk.
Ponselnya dikeluarkan.
Tidak ada pesan baru.
Ia membuka percakapannya dengan Anin.
Pesan terakhir masih sama.
Anin: Oke.
Raka menatap satu kata itu.
Kemudian mengunci layar.
Membukanya lagi.
Pukul lima lewat tiga puluh lima.
Ia mulai menghitung berapa lama waktu yang dibutuhkan seseorang untuk berjalan dari gedung utama ke taman belakang. Lima menit? Tujuh menit? Kalau Anin baru keluar kelas, mungkin lebih lama. Kalau harus mampir ke toilet, bisa sepuluh menit.
Raka mengusap telapak tangannya pada celana jeans.
Tangan kirinya dingin.
Padahal udara sore cukup hangat.
Angin mulai bergerak perlahan di antara pepohonan. Daun-daun bergesekan di atas kepala, menghasilkan suara lirih yang seharusnya menenangkan. Namun bagi Raka, setiap suara kecil terasa terlalu jelas. Langkah kaki dari kejauhan. Suara pintu gedung yang dibuka. Tawa beberapa mahasiswa yang berjalan melewati taman.
Setiap kali mendengar langkah mendekat, ia menoleh.
Bukan Anin.
Pukul lima lewat tiga puluh sembilan.
Raka mulai berdiri lagi.
Ia merapikan bagian depan kemejanya.
Kemudian sadar bahwa tidak ada yang perlu dirapikan.
Ia memasukkan tangan ke saku.
Mengeluarkannya lagi.
"Tenang, anjing," bisiknya pada diri sendiri.
Tepat ketika ia mulai mempertimbangkan untuk duduk lagi, sebuah suara langkah terdengar dari arah jalan setapak.
Raka menoleh.
Dan kali ini, tubuhnya benar-benar berhenti bergerak.
Anin datang dari arah gedung fakultas.
Ia mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung sampai siku dan celana panjang gelap. Tasnya digantungkan pada salah satu bahu. Rambutnya jatuh lurus hingga melewati bahu, bergerak sedikit setiap kali angin sore berembus. Dari kejauhan, wajahnya tampak biasa saja. Tidak tersenyum lebar. Tidak terlihat terburu-buru. Tidak pula tampak seperti seseorang yang datang dengan rasa penasaran besar.
Hanya datang.
Seperti memenuhi janji yang telah dibuat melalui dua pesan singkat.
Raka menelan ludah.
Ia tiba-tiba lupa semua kalimat yang semalam berusaha ia susun.
Anin melihatnya.
"Udah lama?"
Raka baru sadar bahwa ia harus menjawab.
"Nggak," katanya terlalu cepat. "Baru aja."
Padahal ia sudah berada di sana hampir lima belas menit.
Anin tidak menanggapi lebih jauh. Ia melangkah mendekat ke arah bangku semen, lalu duduk di sisi yang berlawanan.
Raka ikut duduk.
Dan baru setelah itu ia menyadari jarak di antara mereka.
Bangku itu sebenarnya tidak terlalu panjang. Kalau dua orang duduk untuk berbicara dengan santai, jarak tersebut seharusnya cukup untuk membuat keduanya tetap nyaman. Namun Anin memilih duduk di ujung paling jauh, menyisakan ruang kosong di antara mereka yang terasa lebih lebar daripada panjang bangku itu sendiri.
Raka menatap ke depan.
Tidak.
Jangan mikir macam-macam.
Mungkin dia cuma biasa duduk seperti itu.
Mungkin tasnya menghalangi.
Mungkin tidak ada apa-apa.
Langit semakin jingga.
Di kejauhan, suara azan Maghrib dari masjid luar kampus mulai terdengar samar, bercampur dengan suara kendaraan dari jalan utama. Kampus perlahan memasuki waktu ketika aktivitas siang mulai selesai, tetapi malam belum benar-benar datang.
Raka menggosok kedua telapak tangannya.
"Jadi..."
Suaranya terdengar aneh.
Ia berdeham.