Senja turun perlahan di taman belakang, seolah langit sengaja menahan dirinya beberapa menit lebih lama sebelum benar-benar menyerahkan kampus kepada malam. Warna jingga yang sejak tadi menggantung di antara sela-sela daun mulai kehilangan kehangatannya, berubah tipis menjadi ungu pucat di kejauhan. Dari arah gedung utama terdengar suara langkah mahasiswa yang satu per satu meninggalkan kelas, suara motor yang dinyalakan, dan sesekali tawa yang memantul di lorong terbuka sebelum hilang tertelan jarak. Namun di bangku semen tua di bawah pohon rindang itu, dunia Raka seperti menyempit menjadi satu titik.
Anin masih duduk di ujung bangku yang sama.
Jarak di antara mereka tidak sampai satu meter. Mungkin bahkan kurang. Tetapi sejak Raka selesai mengucapkan kalimat terakhirnya, jarak itu terasa seperti sesuatu yang tidak mungkin ditempuh hanya dengan berjalan.
Raka masih menatap ke depan.
Kedua tangannya saling menggenggam di atas paha. Jemarinya yang sejak tadi dingin kini semakin kaku, sampai buku-buku jarinya memucat. Ia tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan setelah mengatakan semuanya. Ia sudah membayangkan momen ini berkali-kali di kamar kosnya. Membayangkan dirinya gugup. Membayangkan Anin mungkin tertawa kecil karena terkejut. Membayangkan perempuan itu membutuhkan waktu untuk berpikir.
Ia bahkan sudah menyiapkan dirinya untuk kemungkinan ditolak.
Setidaknya, begitu yang ia yakini.
Tetapi ternyata membayangkan sebuah kemungkinan dan benar-benar duduk di dalam kemungkinan itu adalah dua hal yang sama sekali berbeda.
Keheningan terus memanjang.
Anin menarik napas perlahan.
Gerakan kecil itu saja sudah cukup membuat Raka menoleh.
Perempuan itu sedang menatap lurus ke arah rerumputan di depan mereka. Tangannya memegang tali tas yang diletakkan di pangkuan. Jari-jarinya bergerak sedikit, bukan karena gugup seperti Raka, tetapi seperti seseorang yang sedang memilih kalimat dengan hati-hati agar tidak perlu mengulanginya nanti.
“Raka,” akhirnya ia berkata.
Suara itu datar.
Tidak tinggi. Tidak kasar.
Justru itu yang membuat dada Raka menegang.
“Iya?”
Anin tidak langsung menjawab. Ia menundukkan kepala sebentar, lalu mengembuskan napas melalui hidung.
“Jujur, aku agak kaget.”
Kalimat itu terdengar formal. Terlalu rapi untuk percakapan yang selama beberapa bulan terakhir dipenuhi oleh pesan-pesan singkat tengah malam, keluhan soal tugas, permintaan tolong memperbaiki laptop, pertanyaan apakah Raka sedang sibuk, dan berbagai hal kecil yang selama ini selalu dianggap Raka sebagai bagian dari kedekatan mereka.
Raka mencoba tersenyum.
Tipis sekali.
“Ya, aku tahu mungkin ini mendadak.”
“Bukan cuma mendadak.”
Anin berhenti lagi.
Raka menunggu.
“Aku memang nggak pernah nyangka kamu bakal ngomong kayak gitu.”
Senyum di wajah Raka tidak langsung hilang. Ia masih mempertahankannya selama beberapa detik, seolah otot-otot wajahnya belum menerima informasi yang baru saja dikirimkan kepalanya.
“Maksudnya?”
Anin akhirnya menoleh.
Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, mata mereka bertemu.
Dan sesuatu dalam diri Raka mulai turun perlahan.
Bukan karena Anin marah.
Bukan karena ia terlihat tersinggung.
Tetapi karena tidak ada kehangatan di sana.
Tatapan perempuan itu seperti sudah bergerak mundur sebelum tubuhnya benar-benar melakukannya.
“Aku nggak tahu harus ngomong gimana supaya kamu nggak salah paham,” kata Anin. “Tapi selama ini... aku nganggep kamu teman.”
Raka mengangguk cepat.
Terlalu cepat.
“Iya. Aku ngerti. Maksudku, ya memang kita awalnya teman.”
“Bukan itu.”
Anin memotong dengan lembut.
Namun kelembutan itu terasa seperti permukaan kaca.
Licin. Dingin. Tidak memberi ruang untuk berpegangan.
“Aku maksud teman, Raka.”
Ia menatap Raka dengan lebih tegas.
“Teman. Itu aja.”
Angin sore bergerak melewati taman. Daun-daun di atas kepala mereka saling bergesekan, menghasilkan suara kering yang anehnya terdengar sangat jelas. Raka mengalihkan pandangan ke depan. Rahangnya mengeras sedikit.
“Oke.”
Anin mengamati wajahnya.
Raka tersenyum lagi.
“Oke. Ya... aku ngerti.”
Namun ia tidak benar-benar mengerti.
Atau mungkin ia mengerti terlalu banyak sekaligus.
Di kepalanya, percakapan-percakapan lama mulai muncul tanpa diminta. Anin yang mengirim pesan saat laptopnya bermasalah. Anin yang menelepon ketika sakit dan mengeluh tidak ada yang bisa membelikannya obat. Anin yang berkata, Untung ada kamu, Ka. Anin yang pernah menepuk lengannya sambil tersenyum setelah ia membantu menyelesaikan urusan kecil yang bahkan sudah tidak ia ingat lagi sekarang.
Raka tidak pernah menghitung semuanya sebagai utang.
Ia tahu itu.
Ia tidak pernah membantu dengan maksud menagih balasan.
Tetapi jika semua itu memang tidak berarti apa-apa, mengapa selama ini rasanya seperti mereka sedang membangun sesuatu?
Atau jangan-jangan memang hanya dia yang membangunnya.
Anin kembali berbicara.
“Selama ini kamu baik sama aku. Aku tahu itu.”
Raka menoleh sedikit.
“Terus?”
“Nggak ada terusnya.”
Nada suara Anin tetap tenang.
“Ya, aku menghargai kamu. Aku berterima kasih juga karena kamu sering bantu aku. Tapi... aku nggak pernah mikir kalau semua itu berarti kita punya hubungan yang lebih dari teman.”
Raka menunduk.
Ada sesuatu yang mulai terasa berat di belakang tengkuknya.
“Aku juga nggak bilang semua bantuan itu harus berarti apa-apa.”
“Aku tahu.”
“Serius. Aku nggak pernah mikir, ‘Oh, karena gue udah bantu ini-itu, berarti Anin harus suka sama gue.’ Bukan itu.”
“Aku nggak bilang kamu mikir begitu.”
“Terus kenapa ngomongnya kayak gitu?”
Pertanyaan itu keluar lebih cepat daripada yang ia rencanakan.
Anin terdiam.
Raka langsung menyesalinya.
Bukan karena ia merasa salah, melainkan karena ia takut perubahan sekecil apa pun dalam sikapnya akan membuat Anin semakin menjauh.
Ia menundukkan kepala lagi.
“Maaf.”
Anin memejamkan mata sesaat.
“Nggak apa-apa.”
Raka menunggu.
Tetapi perempuan itu justru menggeser tubuhnya sedikit ke sisi lain bangku. Gerakannya kecil, nyaris tidak terlihat. Namun bagi Raka, perubahan beberapa sentimeter itu seperti sebuah kalimat yang jauh lebih jujur daripada kata-kata.
“Aku cuma pengin kamu ngerti,” kata Anin, “kalau mungkin selama ini kita memang melihat hubungan ini dengan cara yang beda.”
Raka menatapnya.
“Kita?”
Anin menghela napas.
“Kamu dan aku.”
“Oh.”
Raka tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Suara itu keluar begitu saja, kering dan pendek.
“Ya, jelas beda sekarang.”
Anin tidak tersenyum.
“Raka.”
“Iya.”
“Aku nggak mau kamu salah nangkep lagi.”
Kata lagi itu mengenai sesuatu di dalam dirinya.
Raka mengangkat wajah perlahan.
“Maksud kamu?”
Anin tampak ragu untuk pertama kalinya. Hanya sesaat. Lalu keraguan itu menghilang dan digantikan oleh ekspresi yang lebih dingin, lebih terjaga.
“Aku rasa kamu terlalu jauh menafsirkan sikap aku.”
Raka tidak bergerak.
“Kamu baik sama aku, dan aku nyaman minta bantuan ke kamu karena kita teman. Aku juga nyaman ngobrol sama kamu karena kamu enak diajak diskusi. Tapi itu nggak pernah berarti aku kasih sinyal kalau aku suka sama kamu.”
Kalimat itu seharusnya sederhana.
Masuk akal.
Bahkan mungkin benar.
Tetapi setiap kata terasa seperti sedang menyusun ulang seluruh beberapa bulan terakhir menjadi sesuatu yang asing.
Raka memandangi tangannya sendiri.
“Jadi... selama ini aku cuma salah paham?”
“Aku nggak mau pakai kata itu.”
“Tapi itu maksudnya, kan?”
“Raka.”
“Nggak, nggak apa-apa.” Ia kembali tersenyum. “Aku cuma pengin jelas.”
Anin diam.
Raka mengangguk sendiri.
“Berarti aku salah paham.”
Sore semakin gelap.
Lampu-lampu di sepanjang jalur fakultas mulai menyala satu per satu. Cahaya putih dari kejauhan menyentuh sisi wajah Anin, sementara wajah Raka sebagian masih tertutup bayangan pohon.
“Aku cuma nggak pernah melihat kamu ke arah sana,” kata Anin akhirnya.
Raka mengangkat kepala.
“Arah sana?”
“Secara romantis.”
Ada jeda.
Lalu Anin menambahkan, dengan nada yang lebih pelan, “Kamu bukan tipe aku, Ka.”
Kalimat itu tidak diteriakkan.
Tidak dihias dengan hinaan.
Tidak mengandung kata kasar.
Namun entah mengapa, justru karena disampaikan dengan begitu datar, kalimat itu terasa lebih sulit dihindari.
Raka tidak langsung menjawab.
Ia hanya memandang Anin.
Dalam kepalanya, ada bagian yang ingin bertanya tipe seperti apa yang dimaksud perempuan itu. Ada bagian lain yang sudah tahu bahwa ia tidak ingin mendengar jawabannya.