Untuk beberapa detik setelah Anin selesai bicara, taman belakang fakultas seperti kehilangan semua suaranya.
Raka masih duduk di tempat yang sama, kedua telapak tangannya bertumpu di atas paha, punggungnya tegak tanpa sengaja seperti tubuhnya lupa bagaimana caranya kembali rileks. Langit yang tadi masih menyisakan warna jingga kini telah berubah menjadi ungu gelap, dan lampu-lampu taman mulai menyala satu per satu dengan dengung kecil yang nyaris tak terdengar. Cahaya kekuningan itu jatuh di permukaan bangku semen, menyorot sebagian wajah Raka dan membiarkan bagian lainnya tenggelam dalam bayangan pohon. Di hadapannya, Anin menarik napas pelan, lalu memalingkan wajah ke arah jalan setapak yang menuju gedung fakultas.
Raka masih mencoba memahami kalimat terakhir yang keluar dari mulut perempuan itu.
Bukan hanya karena isinya.
Tetapi karena cara Anin mengatakannya.
Tenang. Rapi. Hampir profesional.
Seolah-olah yang baru saja terjadi bukan pengakuan dari seseorang yang selama berbulan-bulan selalu ada ketika dia membutuhkan bantuan, melainkan sebuah kesalahpahaman administratif yang harus segera diluruskan sebelum menjadi lebih rumit.
“Aku rasa,” kata Anin akhirnya, suaranya datar namun tetap terdengar jelas di tengah suara angin malam yang mulai turun, “lebih baik kita jaga jarak dulu.”
Raka mengangkat wajahnya perlahan.
Anin tidak langsung menatapnya. Tangannya sibuk merapikan tali tas yang menggantung di bahu. Gerakan kecil itu tampak sederhana, tetapi bagi Raka, justru di situlah semuanya terasa semakin menyakitkan. Anin sedang bersiap pergi. Sesederhana itu. Tidak ada kebingungan yang berkepanjangan. Tidak ada upaya untuk tinggal sedikit lebih lama. Tidak ada kalimat, “Kamu nggak apa-apa?” Tidak ada tangan yang ragu-ragu hendak menyentuh pundaknya.
Yang ada hanya keputusan.
Dan keputusan itu sudah selesai.
“Jaga jarak?” ulang Raka pelan.
Anin akhirnya menoleh. Tatapannya jatuh tepat ke wajah Raka, tetapi hanya sebentar. “Iya. Biar nggak ada salah paham lagi.”
Salah paham.
Kata itu masuk ke kepalanya seperti sesuatu yang dilemparkan ke dalam ruang kosong. Raka ingin tertawa, tetapi tidak ada satu bagian pun dari dirinya yang mampu melakukannya. Selama berbulan-bulan, dia mengira sedang membangun sesuatu. Mungkin belum sebuah hubungan. Mungkin belum sesuatu yang bisa disebut cinta dari dua arah. Tetapi setidaknya ada kedekatan. Ada kebiasaan. Ada kepercayaan. Ada percakapan-percakapan panjang yang kadang berlangsung sampai lewat tengah malam. Ada pesan-pesan dari Anin yang muncul ketika laptopnya bermasalah, ketika tubuhnya sedang tidak enak, ketika tugas kuliahnya menumpuk, ketika ada sesuatu yang membuatnya kesal dan ia butuh seseorang untuk mendengarkan.
Sekarang semuanya tiba-tiba diberi nama lain.
Salah paham.
Anin menggeser kakinya sedikit, seolah sudah tidak nyaman berdiri terlalu lama. “Aku pulang dulu, ya.”
Raka tidak menjawab.
Perempuan itu menunggu beberapa detik. Mungkin berharap Raka akan mengatakan sesuatu. Mungkin sekadar mengangguk. Ketika tidak mendapatkan apa pun selain wajah yang diam dan mata yang mulai kehilangan fokus, Anin mengembuskan napas tipis.
“Maaf kalau selama ini sikapku bikin kamu mikir yang lain.”
Kalimat itu seharusnya terdengar seperti permintaan maaf.
Tetapi di telinga Raka, ada sesuatu yang dingin di baliknya.
Bukan “maaf karena aku sudah mengambil terlalu banyak darimu.”
Bukan “maaf karena aku membiarkanmu terus datang setiap kali aku memanggil.”
Bukan “maaf karena mungkin aku tahu kamu terlalu peduli, tetapi aku tetap membiarkanmu berada di posisi itu.”
Tidak.
Yang dipertanyakan justru cara Raka memaknai semuanya.
Seolah seluruh bangunan yang selama ini dia susun, bata demi bata, dibangun dari kesalahan matanya sendiri.
Raka menunduk. “Iya.”
Hanya itu yang bisa keluar.
Anin memandangnya sekali lagi. Untuk sesaat, wajahnya tampak seperti hendak mengatakan sesuatu. Namun kemudian ekspresi itu hilang. Ia membalikkan badan.
“Jaga diri.”
Langkah pertamanya terdengar jelas di atas paving yang mulai tertutup daun-daun kering.
Raka tidak bergerak.
Langkah kedua.
Ketiga.
Keempat.
Suara sandal Anin semakin menjauh, perlahan menyatu dengan suara kendaraan dari jalan utama kampus. Raka tetap menatap lurus ke arah punggung perempuan itu. Tas yang menggantung di bahunya bergerak kecil setiap kali Anin melangkah. Rambutnya bergoyang mengikuti angin. Begitu biasa. Begitu tidak dramatis. Tidak ada adegan seperti di film. Tidak ada Anin yang berhenti di tengah jalan, lalu menoleh kembali. Tidak ada keraguan mendadak. Tidak ada panggilan nama.
Raka menunggu.
Entah untuk apa.
Mungkin karena bagian paling bodoh dalam dirinya masih percaya bahwa seseorang akan selalu menoleh sebelum benar-benar pergi.
Anin tidak menoleh.
Ia terus berjalan sampai tubuhnya melewati deretan pohon di ujung taman. Sesaat kemudian, sosoknya tertutup oleh bayangan gedung fakultas. Setelah itu, tidak ada lagi yang tersisa.
Hanya jalan setapak.
Hanya lampu taman.
Hanya Raka.
Duduk sendirian di bangku semen yang beberapa menit lalu terasa seperti tempat paling penting di dunia.
Angin malam menyentuh tengkuknya. Raka baru sadar bahwa kedua telapak tangannya basah oleh keringat. Ia mengangkat satu tangan, lalu memandangi jari-jarinya seperti baru pertama kali melihatnya. Jari-jari itu tampak biasa saja. Tidak ada yang berbeda. Tangan yang sama yang pernah membawa kantong plastik berisi obat ke kos Anin. Tangan yang sama yang pernah membongkar bagian belakang laptopnya di atas meja kecil sambil mencari sumber masalah. Tangan yang sama yang mengetikkan ulang beberapa bagian tugas ketika Anin mengeluh kehabisan waktu.
Tangan yang sama.
Raka menutupnya perlahan.
Dan untuk pertama kalinya, semua kenangan itu tidak datang sebagai bukti kedekatan.
Semuanya datang sebagai tagihan.
Hujan.
Ingatan itu muncul begitu saja.
Sore beberapa bulan sebelumnya, ketika langit sudah hitam bahkan sebelum pukul lima. Ponselnya berbunyi saat ia baru selesai dari kelas. Nama Anin muncul di layar, diikuti pesan singkat.
Rak, kamu di mana?
Raka membalas hampir seketika.
Masih kampus. Kenapa?
Beberapa detik kemudian, pesan baru masuk.
Badanku nggak enak banget. Kayaknya masuk angin atau demam. Di kos nggak ada obat.
Tidak ada permintaan langsung. Anin tidak pernah benar-benar harus meminta dengan kata tolong. Cukup memberi tahu masalahnya, dan Raka sudah terbiasa menganggap dirinya bagian dari solusi.
Ia ingat bagaimana hujan turun deras ketika ia keluar dari apotek. Payung kecil yang dibawanya tidak banyak membantu. Celana bagian bawahnya basah. Sandalnya memercikkan air setiap kali menginjak genangan. Plastik berisi obat ia pegang di balik jaket agar tidak terkena hujan.
Saat sampai di depan kos Anin, ia bahkan sempat tersenyum.
Senyum yang sekarang terasa begitu memalukan ketika dikenang.
Anin membukakan pintu kamar dengan wajah pucat. Rambutnya berantakan. Suaranya lemah.
“Ya ampun, kamu beneran beli?”
Raka saat itu hanya mengangkat kantong plastik. “Kan kamu sakit.”
Anin tersenyum.
Satu senyum.
Dan Raka pulang dengan baju basah kuyup, merasa seperti orang paling berguna di dunia.
Sekarang, di bawah lampu taman yang redup, Raka menutup matanya.
Ternyata satu senyum bisa dibayar sangat mahal.
Ia membuka mata lagi, lalu tertawa kecil.
Suara itu aneh. Tidak hangat. Tidak juga benar-benar lucu.
“Bodoh,” gumamnya.
Kata itu keluar begitu saja.
Ia teringat malam lain. Laptop Anin rusak menjelang batas pengumpulan tugas. Pesan masuk pukul sebelas lewat dua puluh menit malam. Raka sudah hampir tidur ketika ponselnya bergetar.
Rak, kamu ngerti laptop kan?
Tentu saja Raka mengerti.
Atau setidaknya, dia akan berusaha mengerti.
Tidak sampai lima belas menit kemudian, ia sudah duduk di atas motornya. Malam itu jalanan kampus hampir sepi. Udara dingin. Perutnya belum terisi makan malam. Tetapi ketika Anin membuka pintu dan menyambutnya dengan wajah lega, semua ketidaknyamanan itu seperti menghilang.
“Untung kamu bisa datang,” kata Anin saat itu.
Raka mengingat kalimat tersebut dengan begitu jelas.
Untung kamu bisa datang.
Bukan karena kalimat itu istimewa.
Justru karena sekarang ia menyadari betapa ia telah menjadikannya istimewa.
Saat itu, ia tidak pernah mempertanyakan mengapa tidak ada satu kali pun Anin berkata, “Kamu udah makan belum?”
Tidak pernah terpikir olehnya.
Yang penting Anin tersenyum.
Yang penting Anin lega.
Yang penting ketika Anin membutuhkan seseorang, namanya muncul di layar ponsel.
Bukankah itu berarti sesuatu?
Ternyata tidak.
Atau mungkin berarti.
Hanya bukan sesuatu yang selama ini ia bayangkan.
Raka menatap jalan tempat Anin menghilang. Dadanya mulai terasa berat. Ia menekan rahang, berusaha menahan sesuatu yang naik perlahan dari dalam dirinya. Bukan hanya sedih. Ada rasa malu yang jauh lebih sulit dijelaskan. Malu kepada dirinya sendiri. Malu karena begitu mudah percaya. Malu karena selama ini ia merasa sedang membuktikan nilai dirinya, padahal mungkin justru semakin dalam menempatkan dirinya pada posisi yang sama.
Orang yang berguna ketika dibutuhkan.
Orang yang bisa dipanggil kapan saja.
Orang yang akan datang.
Raka menunduk lebih dalam.
Badut.
Kata itu tidak pernah diucapkan Anin.
Justru karena itulah kata tersebut terasa semakin kejam ketika muncul dari dalam dirinya sendiri.
Badut tidak perlu diminta tertawa. Ia akan tertawa karena memang itu tugasnya. Badut tidak perlu diberi tempat duduk di meja utama. Cukup beri dia ruang kecil di pinggir, lalu panggil ketika suasana membutuhkan hiburan.
Raka menekan kedua telapak tangannya ke wajah.
“Jadi selama ini…”
Kalimat itu terputus.
Ia tidak sanggup menyelesaikannya.
Memori berikutnya datang dengan lebih kasar. Anin pernah meminta bantuannya membuat draf tugas. Tidak sepenuhnya mengerjakan, begitu kata Anin saat itu. Hanya membantu merapikan alur. Hanya mencari beberapa referensi. Hanya membaca ulang. Tetapi “hanya” itu berubah menjadi berjam-jam di depan layar laptop.
Raka bahkan mengingat bagaimana ia mengabaikan beberapa pesan dari teman sekelas karena ingin menyelesaikannya malam itu. Ia membaca artikel satu per satu. Membuat catatan. Menyusun kerangka yang menurutnya paling cocok dengan topik Anin. Ketika selesai, ia mengirimkan file melalui pesan.