Raka tidak langsung berdiri ketika taman itu benar-benar kembali sepi.
Lampu-lampu kecil di sepanjang jalan setapak telah menyala satu per satu, memancarkan cahaya kekuningan yang jatuh pucat di atas rumput dan bangku-bangku semen. Beberapa daun kering bergerak pelan tertiup angin malam, bergesekan satu sama lain dengan suara tipis yang nyaris tidak terdengar. Di kejauhan, suara kendaraan dari jalan utama kampus masih lalu-lalang, sesekali disusul klakson pendek, suara knalpot yang meraung, atau tawa mahasiswa yang melintas di trotoar depan gedung fakultas.
Semua bunyi itu terdengar terlalu jauh.
Raka masih duduk di tempat yang sama, dengan kedua siku bertumpu di atas paha dan kepala tertunduk. Tangannya tergantung di antara kedua lututnya. Jari-jari yang tadi sempat mengepal begitu kuat kini perlahan terbuka, meninggalkan bekas lengkungan kuku di telapak tangan. Ia memandangi garis-garis merah itu beberapa saat, tanpa benar-benar melihatnya.
Kata-kata Anin masih ada di sana.
Bukan seperti suara yang terdengar lalu menghilang.
Lebih seperti sesuatu yang terus berputar di dalam ruangan sempit tanpa pintu.
Aku nggak pernah lihat kamu ke arah sana, Ka.
Selama ini aku pikir kita teman.
Kita mungkin memang… ada di dunia yang beda.
Kalimat terakhir itu yang paling sulit berhenti bergema.
Dunia yang berbeda.
Raka menarik napas perlahan, tetapi udara yang masuk ke paru-parunya terasa dingin dan berat. Ia mencoba mengingat ekspresi Anin ketika mengatakannya. Semakin ia mencoba melupakan, semakin jelas wajah itu muncul di kepalanya. Anin tidak berteriak. Tidak mencaci. Tidak mengatakan bahwa Raka menjijikkan. Tidak pernah ada satu kata kasar yang keluar dari mulutnya.
Justru itu yang membuat semuanya terasa lebih kejam.
Karena penolakan itu datang dengan suara tenang.
Dengan pilihan kata yang rapi.
Dengan wajah seseorang yang tampaknya ingin segera pulang setelah menyelesaikan sesuatu yang tidak nyaman.
Dan di antara semua kalimat yang hati-hati itu, Raka melihatnya.
Sekilas.
Mungkin hanya sepersekian detik.
Perubahan kecil di mata Anin ketika memandangnya dari ujung rambut sampai ujung sepatu.
Sebuah ketidaknyamanan.
Sebuah jarak.
Sesuatu yang sudah pernah ia lihat bertahun-tahun lalu.
Tahun 2016.
Raka menutup matanya rapat-rapat.
“Jangan,” gumamnya.
Suara itu keluar begitu pelan sampai nyaris tenggelam oleh angin.
“Jangan dibawa ke sana.”
Namun ingatan tidak pernah benar-benar bertanya apakah seseorang siap menerimanya atau tidak.
Ia datang begitu saja.
Seperti pintu yang dibuka paksa.
Seperti luka lama yang ternyata tidak pernah sembuh, hanya tertutup oleh hari-hari yang cukup sibuk untuk membuat seseorang lupa bahwa ia masih memilikinya.
Wajah-wajah lama muncul dalam kepalanya. Lorong sekolah. Seragam. Tawa yang ditahan-tahan. Bisikan yang tidak cukup pelan. Tatapan orang-orang yang seolah hanya membutuhkan beberapa detik untuk memutuskan apakah seseorang pantas dianggap menarik, pantas diperhatikan, atau cukup pantas untuk tidak dijadikan bahan candaan.
Raka membuka mata dengan cepat.
Dadanya sesak.
Tidak.
Ia sudah bukan anak sekolah lagi.
Ia sudah dua puluh tahun.
Ia kuliah.
Ia bisa berpikir.
Ia bisa membaca.
Ia bisa berdiskusi berjam-jam tentang masyarakat, politik, ketimpangan, dan manusia.
Ia tahu bahwa nilai seseorang tidak bisa ditentukan dari penampilan.
Ia tahu itu.
Tahu betul.
Masalahnya, mengetahui sesuatu dan mampu mempercayainya ketika hal itu menyangkut diri sendiri adalah dua hal yang sangat berbeda.
Raka mendongak ke arah langit.
Warna ungu yang tersisa dari senja telah hampir hilang seluruhnya. Hanya ada hitam yang semakin dalam di atas bangunan-bangunan fakultas. Lampu taman menyala di antara ranting pohon, sementara serangga kecil berputar-putar di dekat sumber cahaya, seperti makhluk-makhluk kecil yang terus menabrakkan diri pada sesuatu yang tidak akan pernah bisa mereka miliki.
Entah kenapa, pemandangan itu membuat Raka ingin tertawa.
Ia hampir melakukannya.
Namun yang keluar hanya hembusan napas pendek yang terdengar seperti seseorang sedang tersedak.
“Bodoh,” katanya pelan.
Kali ini lebih jelas.
Ia menunduk lagi.
“Bodoh banget.”
Sudah berapa lama ia percaya bahwa semua yang ia lakukan memiliki arti?
Raka teringat malam ketika Anin menghubunginya karena laptopnya bermasalah. Saat itu sudah hampir tengah malam. Besoknya Anin harus mengumpulkan tugas, katanya. Panik, kesal, hampir menangis karena beberapa file tidak bisa dibuka. Raka yang sedang membaca di kamar langsung menjawab.
Ia bahkan tidak sempat berpikir.
Ia hanya mengambil kunci motor dan berangkat.
Hujan turun di tengah jalan.
Bukan hujan deras yang membuat jalanan benar-benar lumpuh, hanya cukup untuk membuat kaus dan celananya basah ketika sampai di depan kos Anin. Ia ingat betul bagaimana Anin membuka pintu dengan wajah lega.
“Ya ampun, kamu beneran datang?”
Tentu saja ia datang.
Bagaimana mungkin ia tidak datang?
Ia ingat dirinya duduk di lantai kamar kos Anin selama hampir dua jam, mencoba mencari penyebab laptop itu bermasalah. Ia ingat punggungnya pegal karena membungkuk terlalu lama. Ingat rasa dingin dari pakaian yang belum sepenuhnya kering. Ingat Anin yang duduk di kasur sambil sesekali berkata, “Untung ada kamu.”
Untung ada kamu.
Kalimat sederhana.
Kalimat yang malam itu membuat Raka pulang dengan hati yang jauh lebih hangat daripada tubuhnya.
Sekarang, ketika mengingatnya lagi, ada sesuatu yang terasa memuakkan di tenggorokannya.
“Untung ada aku,” ulangnya.
Ia tersenyum tipis.
Senyum yang tidak memiliki sedikit pun kebahagiaan.
Ya.
Untung ada dia.
Untung ada seseorang yang bisa dipanggil kapan saja.
Untung ada seseorang yang akan datang meski hujan.
Untung ada seseorang yang mau menghabiskan malam memperbaiki laptop.
Untung ada seseorang yang selalu menjawab.
Seseorang yang tidak pernah meminta apa-apa.
Atau setidaknya, seseorang yang cukup bodoh untuk mengira bahwa jika ia tidak pernah meminta apa-apa, suatu hari nanti semesta akan merasa iba dan memberinya sesuatu sebagai balasan.
Raka berdiri.
Kedua kakinya terasa sedikit kaku karena terlalu lama duduk. Ia meraih tasnya yang tergeletak di samping bangku, lalu memasangnya ke pundak. Gerakannya lambat. Tidak ada lagi kegugupan seperti sebelum bertemu Anin sore tadi. Tidak ada lagi pikiran tentang apakah kemejanya sudah cukup rapi atau apakah rambutnya terlihat terlalu berantakan.
Semua hal yang beberapa jam lalu terasa penting sekarang tampak begitu memalukan.
Ia mulai berjalan menuju parkiran.
Kepalanya tertunduk.
Bukan karena ia sedang memperhatikan jalan.
Ia hanya tidak ingin melihat siapa pun.
Di sepanjang jalan setapak menuju gedung parkir, beberapa kelompok mahasiswa berjalan berlawanan arah dengannya. Ada yang membawa map. Ada yang tertawa sambil menatap layar ponsel. Sepasang mahasiswa berjalan berdampingan sambil berbicara pelan. Salah satu dari mereka sesekali menyenggol lengan yang lain, lalu tertawa ketika temannya pura-pura menghindar.
Raka menepi sedikit.
Membiarkan mereka lewat.
Entah sejak kapan, setiap wajah yang berpapasan dengannya mulai terasa seperti cermin.
Seorang laki-laki tinggi berjalan bersama dua temannya.
Raka menunduk lebih dalam.
Seorang perempuan di depan minimarket kampus tertawa sambil menutupi mulutnya.
Dia ketawa karena apa?
Pikiran itu muncul begitu saja.
Raka langsung membenci dirinya sendiri karena memikirkannya.
Bukan karena kamu.
Namun pikirannya tidak berhenti.
Mungkin karena lihat kamu.
Ia mempercepat langkah.
Dua orang mahasiswa di dekat halte menoleh ke arah jalan ketika sebuah motor melintas terlalu cepat. Mata mereka secara kebetulan bergerak ke arahnya selama kurang dari satu detik.
Raka merasa seperti mereka sedang melihatnya.
Menilainya.
Mengukur tinggi badannya.
Memperhatikan bentuk wajahnya.
Membandingkannya dengan laki-laki lain.
Ia tahu itu tidak masuk akal.
Ia tahu orang-orang itu mungkin bahkan tidak menyadari keberadaannya.
Tetapi malam itu, logika seperti sesuatu yang berada di ruangan lain. Ia masih bisa mendengar suaranya, samar-samar, tetapi tidak cukup dekat untuk disentuh.
Setiap orang terasa seperti sedang melihat.
Setiap tawa terdengar seperti sedang ditujukan kepadanya.
Setiap pantulan kaca toko yang ia lewati seperti sengaja menampilkan sesuatu yang selama ini berusaha ia abaikan.
Raka berjalan melewati sebuah toko fotokopi yang sudah hampir tutup. Pintu kacanya memantulkan sosoknya ketika ia melintas.
Ia berhenti.
Hanya sebentar.
Di dalam kaca itu, ia melihat dirinya sendiri.
Seorang laki-laki berusia dua puluh tahun dengan tubuh yang tidak tinggi. Kemeja terbaik yang tadi pagi disetrika dengan hati-hati kini tampak kusut di bagian lengan dan pinggang. Tas menggantung di bahunya. Rambutnya sedikit berantakan. Wajahnya pucat karena kelelahan.
Tidak ada yang istimewa.
Pikiran itu datang begitu dingin.
Tidak ada yang istimewa.
Raka menatap pantulan dirinya lebih lama.
Lalu lebih lama lagi.
“Jadi ini masalahnya?” bisiknya.
Seolah pantulan itu bisa menjawab.
“Ini?”
Ia hampir ingin tertawa lagi.
Bibirnya bergerak, tetapi wajahnya justru menegang.
Selama berbulan-bulan, ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa Anin melihat hal-hal lain. Cara mereka berdiskusi. Pesan-pesan panjang yang mereka kirim larut malam. Buku-buku yang pernah mereka bicarakan. Saat-saat ketika Anin menghubunginya hanya untuk mengeluhkan sesuatu. Ketika Anin meminta pendapatnya. Ketika Anin bilang, Kamu tuh enak diajak ngomong.
Raka menganggap semua itu pondasi.
Ia pikir dari semua itu, sesuatu mungkin tumbuh.
Ia tidak pernah meminta Anin langsung jatuh cinta kepadanya.
Ia hanya percaya bahwa waktu bisa membuktikan siapa dirinya.
Bahwa jika seseorang mengenalnya cukup lama, fisik mungkin tidak akan menjadi hal pertama yang dilihat.
Ternyata mungkin sejak awal ia hanya mengarang cerita sendiri.
Ia melanjutkan langkah.
Kali ini lebih cepat.
Parkiran sudah tidak seramai sore tadi. Beberapa motor masih berjajar di bawah atap seng. Lampu putih di langit-langit memancarkan cahaya dingin yang membuat seluruh tempat itu tampak kusam. Raka menemukan motornya di dekat ujung.
Ia berdiri di depannya.
Tangannya masuk ke saku celana untuk mengambil kunci.
Jari-jarinya gemetar.
Raka berhenti.