Makasih Sudah Bertahan

Diva Amane
Chapter #30

Pemicu di Layar Ponsel

Malam sudah lewat tengah ketika Raka membuka matanya untuk kesekian kali.

Kamar kos itu tetap sama seperti satu jam sebelumnya, bahkan mungkin dua jam sebelumnya. Langit-langit putih kusam dengan satu noda lembap di dekat sudut masih menggantung diam di atasnya. Kipas angin kecil di atas lemari berputar dengan suara yang tidak teratur, kadang mendengung panjang, kadang seperti tersendat sebelum kembali berputar. Di luar jendela, suara motor sesekali melintas di gang depan kos, lalu menghilang, meninggalkan kesunyian yang terasa lebih tebal daripada sebelumnya.

Raka berbaring telentang dengan kedua tangan di atas dada. Matanya terbuka lebar, tetapi tidak benar-benar melihat apa pun.

Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, wajah Anin muncul.

Bukan wajah Anin ketika tertawa sambil mengaduk kopi di warkop. Bukan wajah Anin ketika memanggil namanya karena laptopnya bermasalah. Bukan juga wajah Anin ketika mengirim pesan singkat, Rak, kamu bisa bantu nggak?

Yang muncul justru wajah Anin di taman sore tadi.

Tatapan dingin itu.

Tatapan yang seperti sedang melihat sesuatu yang tidak seharusnya berada di hadapannya.

Raka menggeser tubuhnya ke samping dan menarik selimut sampai menutupi sebagian wajah. Namun hawa malam yang masuk dari celah jendela tetap terasa dingin. Ia mencoba menghitung napas seperti yang pernah dibacanya di salah satu artikel psikologi populer. Tarik napas empat hitungan. Tahan. Buang perlahan.

Satu.

Dua.

Tiga.

Di hitungan keempat, suara Anin kembali terdengar.

Aku nggak pernah lihat kamu ke arah sana, Rak.

Mata Raka langsung terbuka lagi.

Tangannya mencengkeram selimut.

Ke arah sana.

Seolah perasaannya bukan sesuatu yang salah tempat saja, melainkan sesuatu yang begitu mustahil sampai Anin bahkan tidak pernah membayangkan kemungkinan itu. Seolah selama ini, di dalam seluruh peta hidup perempuan itu, Raka memang tidak pernah diberi ruang untuk berdiri sebagai laki-laki yang mungkin bisa dicintai.

Ia membalikkan badan lagi.

Kasur tipis itu berbunyi pelan.

"Anjing..." gumamnya.

Suara itu nyaris tidak terdengar, tenggelam di dalam kamar sendiri.

Ia memejamkan mata sekali lagi. Kali ini ia berhasil bertahan beberapa detik sebelum bayangan sore tadi kembali datang. Bangku semen. Pohon yang menghitam karena cahaya matahari mulai habis. Anin yang berdiri sambil merapikan tasnya. Langkah kaki yang semakin menjauh.

Tidak ada satu kali pun perempuan itu menoleh.

Raka membuka mata dengan kasar.

Dadanya terasa sesak.

Ia meraih ponsel yang tergeletak di samping bantal.

Layar menyala dan langsung memancarkan cahaya putih kebiruan ke wajahnya. Matanya sempat menyipit karena kamar itu terlalu gelap untuk menerima cahaya seterang itu. Pukul 00.47.

Sudah lewat tengah malam.

Entah kenapa, melihat angka itu justru membuatnya merasa semakin terasing. Seolah seluruh kota sudah sepakat untuk tidur dan melanjutkan hidup, sementara ia sendiri tertinggal di sebuah titik yang tidak bergerak.

Tidak ada pesan baru.

Tidak ada notifikasi dari Anin.

Tentu saja tidak ada.

Raka menatap layar beberapa saat, lalu tertawa pendek tanpa suara. Bibirnya hanya bergerak sedikit sebelum kembali mengeras.

Apa yang sebenarnya ia harapkan?

Pesan, mungkin.

Maaf tadi aku terlalu kasar.

Atau sesuatu yang lebih kecil.

Udah sampai kos?

Bahkan sekadar tanda bahwa setelah meninggalkan taman itu, Anin masih sempat mengingat keberadaannya sebagai manusia.

Namun layar tetap kosong.

Jempolnya bergerak membuka aplikasi Instagram.

Gerakan itu dilakukan hampir tanpa sadar.

Raka tidak punya tujuan. Ia hanya ingin ada sesuatu yang mengalihkan pikirannya, sesuatu yang tidak berkaitan dengan sore tadi. Video kucing. Meme politik kampus. Foto orang makan. Apa saja.

Halaman beranda bergulir di bawah ujung jarinya.

Foto.

Video.

Iklan.

Unggahan organisasi.

Ia tidak benar-benar memperhatikan satu pun.

Sampai jarinya berhenti.

Sebuah unggahan lama muncul dari akun kegiatan fakultas.

Raka menatap foto itu beberapa detik sebelum menyadari apa yang sedang ia lihat.

Acara kampus.

Beberapa bulan lalu.

Foto kelompok.

Mereka berdiri berjajar di halaman fakultas, sebagian tersenyum ke arah kamera, sebagian lagi tertangkap sedang menoleh ke arah lain. Di belakang mereka terdapat spanduk acara yang sudah mulai sedikit kusut karena terkena angin. Raka masih mengenali kaus yang dipakainya hari itu. Kaus hitam polos dengan jaket abu-abu yang terlalu besar di bagian bahu.

Dan di sebelah kanannya berdiri Anin.

Tidak terlalu dekat.

Namun cukup dekat untuk membuat tubuh mereka berada dalam satu bingkai yang sama.

Jari Raka berhenti di layar.

Napasnya perlahan berubah lebih pendek.

Ia ingat hari itu.

Saat itu semuanya masih terasa normal. Anin masih membalas pesannya dengan nada yang menurutnya hangat. Mereka masih bisa duduk bersama sambil membahas tugas. Raka masih percaya bahwa setiap percakapan panjang yang mereka lakukan memiliki arti lebih dari sekadar kebetulan.

Ia bahkan masih ingat bagaimana Anin sempat menggeser sedikit posisinya sebelum foto diambil.

"Rak, jangan ngumpet di belakang. Kelihatan nggak nanti."

Saat itu ia tertawa.

"Ya gimana? Orang tinggi-tinggi semua."

"Ya maju aja."

Begitu saja.

Kalimat sederhana.

Tidak romantis.

Tidak istimewa.

Tetapi Raka mengingatnya.

Tentu saja ia mengingatnya.

Ia mengingat terlalu banyak hal yang bagi Anin mungkin bahkan tidak pernah layak disimpan.

Jempolnya bergerak tanpa sadar membuka foto itu.

Layar membesar.

Sekarang wajah-wajah di dalam gambar terlihat lebih jelas.

Anin tersenyum tipis. Rambutnya jatuh rapi di bahu. Raka berdiri di sampingnya dengan posisi tubuh yang sedikit miring. Tanpa sadar, ia terlihat seperti sedang mencoba memberi ruang agar tidak terlalu menempel.

Kebiasaan lama.

Selalu memberi jarak.

Selalu memastikan dirinya tidak mengganggu ruang orang lain.

Raka memperbesar bagian foto itu.

Lalu mengecilkannya lagi.

Memperbesar.

Mengecilkan.

Matanya berhenti pada dirinya sendiri.

Tubuhnya.

Tinggi badannya.

Proporsi kepalanya dibandingkan dengan mahasiswa lain yang berdiri di belakang.

Ia langsung merasa tenggorokannya mengering.

"Astaga..."

Suara itu keluar begitu saja.

Ia menatap dirinya dalam foto lebih lama.

Dulu ia tidak terlalu memikirkan gambar itu. Mungkin ia bahkan sempat menyukai unggahan tersebut. Saat itu ia hanya melihat satu hal, yaitu dirinya dan Anin berada di dalam foto yang sama. Sesederhana itu.

Namun malam ini semuanya berubah.

Malam ini, setelah apa yang terjadi di taman, foto itu seperti membuka sesuatu yang sebelumnya sengaja ia tutup rapat.

Di samping Anin, ia terlihat kecil.

Bukan cuma pendek.

Kecil.

Pikiran itu muncul begitu saja, tajam dan cepat.

Raka langsung menggeser layar ke bawah.

Kolom komentar.

Awalnya hanya komentar biasa.

"Seru banget acaranya!"

"Next bikin lagi dong."

"Panitianya keren."

Beberapa nama yang ia kenal muncul di sana. Teman fakultas. Junior. Orang-orang dari organisasi. Tidak ada yang menarik.

Ia hampir menutup unggahan itu.

Hampir.

Kemudian matanya berhenti.

Satu komentar pendek.

Ditulis oleh akun yang tidak terlalu ia kenal.

Mungkin mahasiswa dari fakultas lain. Mungkin orang yang hadir dalam acara itu. Mungkin bahkan seseorang yang sama sekali tidak mengenalnya.

Komentarnya tidak panjang.

Tidak ada hinaan.

Tidak ada kata kasar.

Hanya satu kalimat.

Wah Anin sebelahnya siapa tuh? Dia adikmu ya?

Dunia di sekitar Raka seolah berhenti bergerak.

Jarinya tidak lagi menyentuh layar.

Matanya terpaku.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Ia membaca kalimat itu berulang-ulang.

Dia adikmu ya?

Jantungnya berdetak sekali, keras.

Kemudian lagi.

Raka menelan ludah, tetapi tenggorokannya seperti tidak mau bekerja.

Dia adikmu ya?

"Adikmu."

Bibirnya bergerak pelan.

Tidak ada suara.

Ia kembali menatap foto di atas.

Anin.

Lalu dirinya.

Anin.

Dirinya.

Untuk pertama kalinya malam itu, sesuatu di dalam kepalanya seperti menemukan bentuk yang paling jelas dari seluruh ketakutan yang selama ini ia sembunyikan.

Bukan pasangan.

Bukan seseorang yang cocok berdiri di samping perempuan.

Bukan laki-laki yang sedang dekat dengan Anin.

Adik.

Orang asing yang melihat foto itu bahkan tidak bisa langsung membayangkan mereka sebagai dua mahasiswa seusia. Yang muncul justru kemungkinan bahwa Raka adalah adik laki-laki Anin.

Padahal mereka sama-sama dua puluh tahun.

Dada Raka seperti dihantam sesuatu.

Ia mengembuskan napas pendek, tetapi udara yang keluar terdengar bergetar.

"Enggak..."

Kali ini suaranya terdengar.

"Enggak, enggak..."

Ia menggeleng pelan.

Tidak.

Lihat selengkapnya