Raka tidak langsung tidur setelah mencabut kartu SIM dari ponselnya.
Ia bahkan tidak yakin apakah tubuhnya masih menginginkan tidur. Yang ada hanya rasa lelah yang begitu padat sampai-sampai seluruh tubuhnya seperti telah diisi pasir basah. Berat. Dingin. Tidak bisa digerakkan tanpa usaha yang terasa berlebihan.
Kamar kos itu masih sama seperti satu jam yang lalu. Kasur tipis di sudut ruangan. Meja belajar yang penuh buku, kertas, dan kabel charger yang melingkar tak beraturan. Helm masih tergantung di dekat pintu. Kemeja terbaiknya tergeletak kusut di lantai, satu lengan terbalik keluar, seolah pakaian itu pun sudah menyerah lebih dulu.
Namun Raka memandang semuanya seperti sedang melihat ruangan milik orang lain.
Ia berdiri perlahan.
Kakinya sempat goyah ketika menapak lantai. Bukan karena ia sakit. Setidaknya tidak dalam pengertian yang bisa dijelaskan dengan suhu tubuh atau obat. Hanya saja sejak pulang dari taman fakultas, ada sesuatu di dalam dirinya yang seperti putus. Bukan sekadar harapan untuk bersama Anin. Itu terlalu sederhana untuk menggambarkan apa yang baru saja runtuh.
Yang patah adalah semua alasan yang selama ini ia susun untuk percaya bahwa dirinya masih layak dicintai.
Raka berjalan menuju jendela.
Tirai berwarna abu-abu yang biasanya ia biarkan terbuka sedikit masih memperlihatkan garis cahaya dari luar. Lampu teras kos memantul samar pada kaca. Dari celah kecil di antara kain dan kusen, terdengar suara motor yang melintas di jalan depan. Ada suara seseorang tertawa dari kejauhan. Mungkin anak-anak kos sebelah. Mungkin orang yang baru pulang nongkrong. Mungkin siapa saja.
Raka meraih tirai itu.
Tangannya berhenti sesaat.
Entah kenapa, gerakan sesederhana menutup tirai mendadak terasa seperti keputusan besar.
Kalau kututup, pikirnya.
Ia tidak melanjutkan kalimat itu.
Tangannya langsung menarik kain tersebut.
Sret.
Tirai kiri menutup.
Lalu tirai kanan.
Sret.
Kedua sisi bertemu di tengah, menghapus hampir seluruh cahaya dari luar. Raka masih melihat sedikit garis putih tipis di sela kain. Ia menggesernya lagi sampai benar-benar rapat.
Baru setelah itu ia mundur.
Ruangan mendadak terasa lebih kecil.
Ia menatap sakelar lampu.
Lampu putih di langit-langit itu menyinari semuanya dengan terlalu jelas. Meja. Kasur. Pakaian. Wajahnya sendiri yang tadi beberapa kali ia lihat di cermin toilet.
Wajah yang sekarang terasa seperti sesuatu yang tidak ingin ia kenali.
Raka mengulurkan tangan dan mematikan lampu.
Klik.
Gelap.
Bukan redup. Bukan remang-remang.
Gelap.
Matanya sempat berusaha menyesuaikan diri, tetapi Raka tidak membuka lampu lagi. Ia membiarkan hitam memenuhi seluruh ruangan. Tidak ada alasan untuk melihat apa pun malam ini. Tidak ada yang ingin ia lihat.
Ia berdiri di tengah kamar cukup lama, sementara napasnya terdengar terlalu keras di telinganya sendiri.
Lalu ia berjalan menuju kasur.
Tubuhnya jatuh begitu saja di atasnya.
Ia tidak mengganti pakaian.
Celana yang masih dipakainya terasa sedikit lembap di bagian bawah karena perjalanan pulang. Kaos di dalam kemejanya masih menempel di punggung. Rambutnya berantakan. Namun Raka tidak peduli.
Ia berbaring telentang dengan satu tangan di atas dada dan tangan lainnya terjatuh di sisi tubuh.
Matanya terbuka.
Tidak ada apa-apa di atas sana.
Hanya langit-langit yang sudah tidak bisa ia lihat.
Tetapi justru di dalam kegelapan itu, semuanya menjadi terlalu mudah untuk muncul.
Anin.
Sore tadi.
Bangku semen.
Cara perempuan itu duduk jauh di ujung bangku, meninggalkan ruang kosong di antara mereka.
Raka menutup mata.
Namun wajah Anin tetap ada.
Ia membuka mata lagi.
Masih ada.
Tentu saja.
Memori tidak membutuhkan cahaya untuk hidup.
Raka menarik napas panjang, tetapi dadanya terasa seperti menolak udara masuk.
"Aku cuma nganggep kamu teman."
Kalimat itu kembali.
Ia memiringkan tubuhnya.
"Tapi kamu banyak bantu aku."
Raka menekan kelopak matanya dengan telapak tangan.
"Bukan berarti aku minta semuanya jadi kayak gini."
Jantungnya berdetak sekali.
Keras.
Lalu sekali lagi.
Ia teringat ekspresi Anin sebelum pergi. Tidak marah. Tidak sedih. Tidak bingung. Seolah yang baru saja terjadi hanyalah percakapan tidak nyaman yang harus segera diakhiri.
Seolah Raka adalah sebuah masalah yang muncul tanpa pemberitahuan.
Dan mungkin memang begitu.
Raka menatap kegelapan.
Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Ia mencoba mengingat apakah selama ini Anin pernah benar-benar memintanya untuk mengorbankan waktu sebanyak itu. Apakah Anin pernah berkata, "Raka, kamu harus datang sekarang." Apakah perempuan itu pernah secara terang-terangan menyuruhnya hujan-hujanan membeli obat?
Tidak.
Tidak pernah.
Raka sendiri yang datang.
Raka sendiri yang menawarkan.
Raka sendiri yang berkata, "Gapapa, aku bisa."
Raka sendiri yang mengetik, "Kalau ada apa-apa bilang aja."
Dan Anin menerima.
Tentu saja menerima.
Siapa yang menolak seseorang yang selalu siap membantu?
Pertanyaan itu membuat sesuatu di dalam dada Raka kembali terasa seperti diremas.
Berarti semua ini salahku?
Ia menelan ludah.
Kalau aku yang nawarin semuanya, kalau aku yang selalu bilang bisa, terus sebenarnya aku marah sama siapa?
Tidak ada jawaban.
Atau mungkin ada, tetapi ia belum siap mendengarnya.
Raka membalikkan badan menghadap dinding.
Permukaan cat yang kasar hampir menyentuh ujung hidungnya. Ia bisa mencium bau lembap samar dari dinding kamar. Di luar, seseorang menutup pintu dengan keras. Suaranya menggema sebentar melalui lorong kos.
Raka langsung menegang.
Entah mengapa suara itu terasa seperti seseorang datang untuk menagih sesuatu.
Ia menunggu.
Tidak ada ketukan di pintunya.
Beberapa detik kemudian, tubuhnya perlahan kembali lemas.
"Udah," bisiknya.
Suara sendiri terdengar asing.
"Udah."
Ia tidak tahu sedang menyuruh siapa.
Mungkin Anin.
Mungkin kenangan.
Mungkin dirinya sendiri.
Malam bergerak tanpa Raka.
Jam dinding kecil yang tergantung di atas meja terus berdetak, meskipun ia tidak bisa melihat jarumnya. Sesekali motor lewat. Sesekali ada suara sandal di lorong. Air dari kamar mandi bersama menetes dengan ritme yang tidak teratur.
Raka tetap tidak tidur.
Ketika tubuhnya akhirnya tertidur sebentar, ia terbangun lagi beberapa menit kemudian dengan dada berdebar. Ia tidak tahu pukul berapa. Ia tidak ingin tahu.
Ia hanya meraih ponsel yang tergeletak di atas kasur.
Layar mati.
Kartu SIM sudah tercabut.
Benda itu terasa ringan di tangannya.
Sangat ringan.
Begitu ringan sampai Raka membencinya.
Selama ini benda kecil itu menjadi pintu masuk bagi terlalu banyak hal. Pesan dari Anin. Panggilan. Notifikasi. Foto. Percakapan. Permintaan tolong.
Sekarang semuanya hanya diam.
Ia meletakkannya kembali.
Lalu ia menutup mata.
Kali ini ia memaksa dirinya tidur.
Ketika Raka membuka mata lagi, cahaya matahari sudah menyusup dari sela tirai.
Ia langsung menutup mata kembali.
Tidak.
Belum.
Ia menarik selimut sampai menutupi kepala.
Tubuhnya terasa pegal. Mulutnya kering. Namun rasa paling kuat yang ia rasakan justru sesuatu yang lain.
Takut.
Bukan takut kepada seseorang yang berdiri di luar.
Bukan takut akan sesuatu yang konkret.
Ia takut membuka hari.
Takut kalau pagi berarti semuanya benar-benar terjadi.
Bahwa Anin benar-benar telah menolak dirinya.
Bahwa percakapan di taman itu bukan mimpi buruk yang bisa hilang setelah tidur.
Bahwa ketika ia membuka mata, tubuhnya masih sama.
Tinggi badannya masih seratus lima puluh empat sentimeter.
Wajahnya masih wajah yang sama.
Bahu yang sama.
Tangan yang sama.
Semua yang selama ini berusaha ia terima, tetapi diam-diam terus ia jadikan sumber kebencian.
Raka menekan wajahnya ke bantal.
"Kenapa sih?" suaranya teredam.
Tidak ada jawaban.
"Kenapa harus begini?"
Ia tidak tahu kepada siapa pertanyaan itu ditujukan.
Tuhan?
Nasib?
Tubuhnya sendiri?
Anin?
Mungkin semuanya.
Raka membayangkan kembali komentar yang dibacanya tengah malam. Foto acara kampus itu. Anin berdiri di sampingnya. Senyum formal. Latar belakang spanduk kegiatan. Kemudian satu komentar dari seseorang yang bahkan mungkin tidak mengenalnya.
Wah Anin sebelahnya siapa tuh? Dia adikmu ya?
Raka membuka mata.
Kalimat itu.
Lagi.
Ia menatap gelap di balik selimut.
Adikmu.
Dua kata.
Sesederhana itu.
Tetapi dua kata itu seperti menemukan seluruh tempat rapuh dalam dirinya, lalu menekan tepat di sana.