Makasih Sudah Bertahan

Diva Amane
Chapter #32

Keheningan Hari Ketiga

Raka terbangun tanpa tahu sudah pukul berapa.

Untuk beberapa detik pertama, ia bahkan tidak tahu di mana dirinya berada. Yang ada hanya hitam. Pekat. Menutup segala sesuatu sampai-sampai langit-langit kamar kos yang jaraknya tidak lebih dari tiga meter dari tubuhnya pun terasa seperti tidak ada. Matanya terbuka, tetapi tidak menemukan apa-apa. Tidak ada garis cahaya dari jendela, tidak ada pantulan putih dari dinding, tidak ada angka jam, tidak ada warna.

Hanya gelap.

Raka menarik napas perlahan, lalu mengembuskannya melalui hidung. Udara di dalam kamar terasa berat, seperti sudah dipakai terlalu lama dan tidak pernah benar-benar diganti. Ada bau lembap dari tumpukan buku di dekat meja, bercampur dengan aroma kain kotor dan sisa makanan yang entah sejak kapan masih berada di dalam plastik. Di sela ventilasi kecil dekat plafon, angin masuk dalam hembusan tipis yang hampir tidak terasa, tetapi cukup untuk menghasilkan suara seperti bisikan pelan.

Ssshh.

Ssshh.

Suara itu datang lagi.

Raka berkedip.

Tetap hitam.

Ia mengangkat tangan, mencoba meraba wajahnya sendiri. Ujung jarinya menyentuh dahi, turun ke alis, ke pipi, lalu berhenti di dagu. Kulitnya terasa dingin. Ada sesuatu yang aneh dalam gerakan sederhana itu, seolah-olah ia sedang memastikan bahwa dirinya masih benar-benar ada.

Atau mungkin justru berharap tidak.

Ia menurunkan tangan kembali ke kasur.

Kasur tipis tanpa sprei itu sudah terasa tidak nyaman sejak malam pertama, tetapi sekarang tubuhnya seperti tidak lagi mampu mempermasalahkan apa pun. Punggungnya pegal. Lehernya kaku. Perutnya kosong dengan cara yang samar, tidak cukup sakit untuk memaksanya bangun, hanya cukup untuk mengingatkan bahwa tubuh ini masih bekerja meskipun pemiliknya sendiri sudah kehilangan minat untuk ikut hidup.

Hari ketiga.

Atau mungkin belum.

Raka tidak yakin.

Tidak ada cahaya matahari yang bisa membantunya membedakan pagi dari siang. Tidak ada suara notifikasi ponsel. Tidak ada jadwal kuliah. Tidak ada suara orang memanggil namanya. Ia sudah lama berhenti mencoba menghitung waktu berdasarkan rasa kantuk karena tidur datang dan pergi sesukanya. Kadang ia tertidur selama beberapa jam, lalu terbangun dan merasa baru lima menit berlalu. Kadang ia menatap kegelapan sampai matanya perih, tetapi tidak bisa tidur sama sekali.

Yang ia tahu hanya satu.

Ia tidak keluar.

Dan dunia di luar sana tetap berjalan tanpa dirinya.

Pikiran itu seharusnya menenangkan. Dulu, ketika tugas menumpuk atau organisasi terlalu ramai, Raka sering membayangkan betapa enaknya kalau waktu berhenti sebentar dan semua orang membiarkannya sendiri. Tetapi kesendirian yang ia dapatkan sekarang tidak terasa seperti istirahat.

Ini lebih mirip penguburan.

Ia menatap kegelapan di atas kepalanya.

Entah kenapa, justru dari sana semuanya mulai muncul.

Awalnya suara.

“Pendek banget, sih.”

Raka mengernyit.

Suara anak laki-laki.

Sangat jauh.

Sangat lama.

Tapi jelas.

Kemudian suara lain menyusul.

“Kalau berdiri paling depan aja, Rak. Biar kelihatan.”

Tawa.

Suara kursi yang digeser.

Lapangan sekolah yang panas.

Seragam putih merah.

Raka kecil berdiri di antara anak-anak lain, berusaha tertawa bersama mereka meskipun tidak pernah benar-benar tahu apakah candaan itu lucu. Waktu itu ia belum memahami kata inferioritas. Ia tidak tahu bahwa seseorang bisa tumbuh sambil terus-menerus mengukur dirinya terhadap orang lain sampai akhirnya angka-angka itu berubah menjadi cara memandang diri sendiri.

Ia hanya tahu bahwa setiap kali berdiri di samping anak laki-laki lain, ada sesuatu yang membuatnya ingin mundur setengah langkah.

Supaya tidak terlalu kelihatan.

Raka memejamkan mata.

Tidak membantu.

Justru lebih buruk.

Gelap di balik kelopak matanya sama dengan gelap di luar. Tidak ada perbedaan. Tidak ada tempat untuk bersembunyi.

“Pendek.”

Satu kata itu muncul lagi.

Kemudian yang lain.

“Kayak anak kecil.”

“Lu kelas berapa, sih?”

“Serius, seumuran kita?”

Raka menarik selimut tipis sampai ke dadanya, padahal udara di kamar sebenarnya tidak dingin. Gerakannya refleks, seperti anak kecil yang percaya kain bisa menjadi dinding antara dirinya dan sesuatu yang menakutkan.

Ia tahu semua itu sudah lama berlalu.

Ia tahu.

Secara logika, ia tahu.

Anak-anak SD itu sekarang entah berada di mana. Sebagian mungkin bahkan tidak mengingat pernah mengucapkan kalimat-kalimat tersebut. Mungkin bagi mereka itu cuma lelucon kecil yang selesai setelah lima menit. Sesuatu yang tidak perlu diingat.

Tetapi bagi orang yang mendengarnya berulang kali, kata-kata kecil punya cara aneh untuk menetap.

Mereka tidak tinggal sebagai suara.

Mereka tumbuh.

Mereka berubah menjadi kebiasaan.

Raka belajar memilih posisi ketika berfoto.

Belajar berdiri sedikit lebih tegak.

Belajar menghindari perbandingan.

Belajar menilai tinggi badan orang lain secara otomatis setiap kali masuk ruangan.

Belajar memperhatikan apakah perempuan yang diajak bicara terlihat harus menunduk terlalu jauh.

Belajar merasa bersalah atas sesuatu yang tidak pernah ia pilih.

Saat SMP, semuanya menjadi lebih jelas.

Anak-anak mulai mengenal pacaran.

Mulai punya orang yang disukai.

Mulai saling menjodoh-jodohkan.

Dan untuk pertama kalinya, Raka memahami bahwa tinggi badan bukan lagi sekadar bahan ejekan.

Itu mulai terasa seperti syarat.

Seperti pintu masuk ke sebuah dunia yang mungkin tidak dibuat untuknya.

Ia teringat suatu sore ketika beberapa teman perempuan sedang mengobrol di belakang kelas. Tidak ada yang tahu ia mendengar percakapan itu karena Raka duduk di dekat jendela, berpura-pura membaca buku. Salah satu dari mereka menyebut nama seorang anak laki-laki yang tinggi dan populer.

“Kalau dia nembak gue, mungkin gue mau.”

“Kenapa?”

“Ya… enak aja dilihat. Tinggi.”

Lalu ada yang tertawa.

“Yang penting jangan pendek. Gue nggak bisa, sih.”

Kalimat itu tidak ditujukan kepada Raka.

Tidak ada namanya.

Tidak ada tatapan yang mengarah kepadanya.

Tetapi entah kenapa, ia pulang dengan perasaan seperti baru saja diberi tahu bahwa ada kategori manusia tertentu yang sejak awal tidak akan pernah bisa masuk ke daftar pilihan.

Bodohnya, pikir Raka sekarang.

Bodohnya aku.

Ia tertawa kecil.

Tawa itu tidak terdengar seperti tawa. Hanya udara yang keluar dari tenggorokannya dengan kasar, lalu mati sebelum benar-benar menjadi suara.

Kenapa aku masih ingat semua ini?

Ia berbalik menghadap dinding.

Cat dinding kos itu sudah mulai kusam. Dalam keadaan terang, ada bekas noda lembap di beberapa bagian. Namun sekarang semuanya menyatu dengan hitam. Raka menyentuh permukaan kasar itu dengan ujung jari.

Dingin.

Nyata.

Setidaknya dinding ini nyata.

Tidak seperti dirinya.

Pikiran itu datang begitu saja.

Raka diam.

Lalu, seperti biasa, pikirannya mengambil kesempatan untuk menyeretnya lebih jauh.

SMA.

Tahun 2016.

Satu angka yang bahkan sekarang masih terasa seperti tanggal luka.

Ia tidak ingin mengingatnya.

Benar-benar tidak ingin.

Namun memori tidak pernah meminta izin.

Raka bisa kembali merasakan udara sekolah sore itu. Bisa mengingat suara sandal yang bergesekan dengan lantai koridor. Bisa mengingat bagaimana jantungnya berdetak terlalu keras ketika ia akhirnya memberanikan diri mendekati seseorang yang sudah lama ia sukai.

Dan kemudian tatapan itu.

Tatapan yang tidak perlu dijelaskan.

Bukan marah.

Bukan juga benci.

Justru sesuatu yang lebih menyakitkan.

Tidak tertarik.

Tidak nyaman.

Seolah-olah keberadaannya dalam konteks itu sendiri merupakan kesalahan kecil yang sebaiknya segera dikoreksi.

Sejak saat itu, Raka mulai belajar sesuatu yang tidak pernah diajarkan di sekolah.

Bahwa penolakan tidak selalu datang dalam bentuk kata “tidak”.

Kadang orang bisa menolaknya hanya dengan mata.

Dan mata seseorang bisa tinggal lebih lama daripada seluruh kalimat yang pernah diucapkannya.

Raka membuka matanya lagi.

Gelap.

Anin.

Nama itu muncul terakhir.

Seharusnya tidak.

Ia sudah mencoba berkali-kali untuk tidak memikirkannya sejak malam pertama mengunci diri. Setiap kali nama itu muncul, ia akan memaksa pikirannya berpindah ke hal lain. Buku. Kuliah. Politik. Teori sosial. Apa saja.

Tetapi sekarang tidak ada lagi yang bisa dijadikan pengalih.

Dalam kamar tiga kali tiga meter yang tertutup rapat itu, tidak ada tempat untuk lari.

“Anin…”

Nama itu keluar sangat pelan.

Raka langsung menyesalinya.

Dadanya terasa mengencang.

Ia kembali mendengar suara Anin di taman.

Formal.

Berjarak.

Seolah-olah mereka tidak pernah duduk berdua membicarakan tugas sampai malam.

Seolah-olah tidak pernah ada pesan masuk tengah malam yang hanya berbunyi, Rak, bisa bantu nggak?

Seolah-olah Raka tidak pernah datang ketika ia sakit.

Tidak pernah mengantar obat.

Tidak pernah duduk di depan laptopnya sampai mata panas demi menyelamatkan file yang hampir hilang.

Tidak pernah membuat draf.

Tidak pernah menunggu.

Tidak pernah tersedia.

Tidak pernah ada.

Raka menelan ludah.

Tenggorokannya kering.

Yang paling menyakitkan bukan penolakan itu sendiri.

Setidaknya, bukan cuma itu.

Yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa selama ini ia benar-benar percaya.

Ia percaya bahwa kalau ia cukup berguna, ia akan dianggap.

Kalau ia cukup cerdas, mungkin kekurangan lain tidak akan terlalu terlihat.

Kalau ia cukup setia, mungkin suatu hari seseorang akan bertanya kenapa ia selalu ada.

Kalau ia cukup baik, mungkin ada orang yang memilih untuk tinggal.

Betapa mudahnya semua keyakinan itu sekarang terlihat seperti bangunan kardus.

Lihat selengkapnya