Pagi itu ruang kuliah terasa seperti biasa, tetapi ada sesuatu yang membuat Bimo berkali-kali menoleh ke arah barisan paling belakang. Kursi-kursi kayu yang tersusun menanjak dari depan ke belakang sudah hampir penuh oleh mahasiswa yang datang dengan wajah mengantuk, beberapa sibuk membuka laptop, beberapa lainnya masih menyalin bahan bacaan dari layar ponsel, sementara suara percakapan kecil berbaur dengan dengung pendingin ruangan yang terlalu dingin. Di antara semua itu, ada satu tempat yang tampak lebih mencolok daripada seharusnya. Sebuah kursi di sisi dekat jendela, tempat Raka hampir selalu duduk setiap kali ada kuliah umum atau kelas dengan dosen yang menurutnya menarik, masih kosong. Bimo sempat mengira Raka hanya terlambat, tetapi ketika jarum jam mendekati waktu dosen masuk dan kursi itu tetap tidak berpenghuni, rasa tidak nyaman yang sejak kemarin bersarang di dadanya kembali muncul.
"Rak belum datang?" bisiknya kepada mahasiswa di sebelahnya.
Temannya hanya mengangkat bahu sambil tetap menatap layar laptop. "Kayaknya belum."
Bimo kembali menoleh ke belakang. Di atas meja kecil yang menyatu dengan kursi itu tidak ada botol air mineral, tidak ada buku catatan dengan sampul yang sudah mulai tertekuk di sudut-sudutnya, tidak ada pulpen hitam yang biasanya diletakkan sejajar dengan penggaris. Tidak ada tas lusuh yang sering diletakkan di lantai dengan posisi agak miring karena salah satu talinya sudah kendur. Kekosongan itu terasa terlalu rapi, terlalu permanen untuk sekadar keterlambatan. Raka biasanya datang nyaris di batas waktu, bahkan kadang ketika dosen sudah membuka laptop di depan kelas, tetapi dia selalu muncul dengan napas sedikit terburu-buru, mengangguk meminta maaf, lalu menyelinap ke bangku belakang sambil menundukkan kepala agar tidak menarik perhatian. Bimo pernah bercanda bahwa kalau suatu hari Raka datang lima belas menit lebih awal, kampus mungkin perlu memeriksa apakah ada sesuatu yang salah.
Hari ini, tidak ada Raka sama sekali.
Bimo membuka aplikasi percakapan di ponselnya di bawah meja. Pesan terakhir yang dikirimnya semalam masih tertera tanpa tanda dibaca.
Rak, lu di mana?
Beberapa jam sebelumnya, dia mengirim pesan lagi.
Besok masuk nggak?
Tidak ada balasan.
Bimo menatap layar itu beberapa detik sebelum akhirnya mematikannya. Dia mencoba meyakinkan diri bahwa mungkin Raka sedang sakit. Mungkin motornya bermasalah. Mungkin ada urusan keluarga. Mungkin dia hanya ingin mengambil waktu beberapa hari untuk dirinya sendiri setelah kejadian dengan Anin. Tetapi semakin banyak alasan yang dia susun, semakin tidak masuk akal semuanya terdengar. Raka memang kadang menghilang dari keramaian kalau sedang lelah, tetapi dia tidak pernah benar-benar memutus komunikasi dengan orang-orang terdekatnya. Bahkan ketika tidak ingin bicara, biasanya masih ada jawaban singkat seperti lagi nggak mood, nanti aja, atau sekadar tanda jempol.
Sekarang bahkan itu tidak ada.
Dosen memasuki ruangan beberapa menit kemudian dan perhatian mahasiswa perlahan berpindah ke layar presentasi. Bimo berusaha mengikuti penjelasan tentang materi perkuliahan, tetapi matanya berkali-kali melirik ke belakang. Bangku itu tetap kosong. Sesekali cahaya matahari pagi menyentuh bagian permukaan mejanya melalui jendela tinggi di samping ruangan, membuat debu-debu kecil tampak melayang di udara. Bimo merasa pemandangan sederhana itu mengganggu konsentrasinya lebih daripada suara dosen yang berbicara di depan.
Di tengah perkuliahan, lembar presensi diedarkan dari barisan depan menuju belakang. Ketika sampai di tangan Bimo, dia melihat deretan nama yang sudah sebagian besar diberi tanda tangan. Jarinya berhenti ketika menemukan nama yang dikenalnya.
Raka Aditya Pratama.
Kolom di sebelah namanya masih kosong.
Bimo menelan ludah. Entah kenapa, pemandangan itu membuat perasaan tidak enak di dadanya menjadi semakin berat. Dia menoleh sekali lagi ke arah bangku belakang, seolah-olah Raka mungkin tiba-tiba muncul hanya karena namanya sedang dilihat.
Tetap kosong.
Di koridor fakultas setelah kelas berakhir, mahasiswa berhamburan keluar membawa laptop, buku, dan gelas kopi yang belum sempat mereka habiskan. Udara pagi mulai menghangat. Dari halaman tengah fakultas terdengar suara sepatu beradu dengan lantai, percakapan mahasiswa yang saling memanggil, dan sesekali suara kendaraan dari jalan raya di luar pagar kampus. Bimo berdiri dekat deretan papan pengumuman sambil menunggu seseorang yang sudah dia kenali dari kejauhan.
Anin baru keluar dari ruang kelas bersama dua orang temannya. Dia mengenakan kemeja berwarna terang dengan celana panjang hitam dan membawa tas di salah satu bahu. Wajahnya tampak biasa saja, bahkan terlalu biasa untuk seseorang yang baru beberapa hari lalu terlibat dalam percakapan yang mungkin telah mengubah hidup orang lain. Dia tertawa kecil ketika salah satu temannya mengatakan sesuatu, kemudian membuka ponsel untuk memeriksa notifikasi.
Bimo memperhatikannya selama beberapa detik sebelum akhirnya melangkah mendekat.
"Anin."
Anin menghentikan langkah. "Hm?"
"Lu tahu Raka di mana?"
Pertanyaan itu membuat salah satu teman Anin menoleh sebentar. Anin sendiri hanya mengangkat alis, lalu mematikan layar ponselnya.
"Nggak tahu."
"Dia udah beberapa hari nggak masuk."
"Iya?"
Bimo mengernyit. Jawaban itu terlalu ringan. "Maksud gue, lu nggak tahu sama sekali?"
Anin menghela napas kecil, bukan seperti seseorang yang sedang khawatir, melainkan seperti seseorang yang merasa sedang diminta menjawab sesuatu yang seharusnya tidak perlu dijelaskan.
"Memangnya kenapa gue harus tahu?"
Bimo terdiam sesaat.
"Ya... gue kira mungkin lu tahu. Kalian kan—"
"Teman," potong Anin.
Nada suaranya datar.
Bimo menangkap kata itu seperti seseorang yang baru saja menyentuh permukaan benda yang dingin. "Iya, teman."
"Dan sekarang gue juga nggak punya urusan sama dia."
Anin merapikan tali tas di bahunya. "Kalau dia nggak masuk kuliah, ya mungkin dia punya alasan sendiri. Gue nggak bertanggung jawab atas keberadaan Raka."
Bimo menatap wajah Anin cukup lama. Tidak ada gugup. Tidak ada gelagat ingin bertanya balik. Tidak ada ekspresi orang yang diam-diam merasa bersalah. Bahkan ketika nama Raka disebut, tidak ada perubahan berarti di wajahnya.
"Lu nggak kepikiran buat ngecek?" tanya Bimo akhirnya.
Anin menatapnya dengan tatapan sedikit heran. "Buat apa?"
Bimo membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang langsung keluar.
Buat apa?
Entah kenapa pertanyaan sederhana itu terasa begitu kejam.
Dia tahu tentang Raka. Dia tahu bagaimana laki-laki itu bertahun-tahun selalu tersedia ketika Anin membutuhkan sesuatu. Dia tahu Raka pernah mengantarkan obat ketika Anin sakit. Dia tahu Raka pernah membantu laptop Anin sampai malam. Dia tahu Raka bisa muncul hanya karena satu pesan pendek yang dikirim ketika Anin membutuhkan bantuan. Bimo tidak tahu seluruh detail hubungan mereka, tetapi dia cukup sering melihatnya untuk memahami pola yang terbentuk.
Dan sekarang, ketika Raka menghilang, Anin bahkan tidak merasa perlu bertanya apakah dia baik-baik saja.
"Ya udah," kata Bimo pelan. "Gue cuma nanya."