Sore datang tanpa benar-benar masuk ke kamar Raka. Di balik tirai yang tertutup rapat sejak tiga hari lalu, cahaya matahari hanya mampu menyusup melalui celah sempit di antara kain dan kusen jendela, membentuk garis pucat yang jatuh miring ke lantai semen. Debu-debu kecil bergerak lambat di dalam garis cahaya itu, berputar tanpa arah sebelum kembali lenyap ke dalam gelap, seolah kamar berukuran tiga kali tiga meter tersebut memiliki cuaca sendiri yang tidak lagi mengenal pagi, siang, atau malam. Udara terasa pengap dan lembap, bercampur dengan bau kertas buku yang lama tidak tersentuh, kain pakaian yang menumpuk, serta aroma samar keringat yang melekat pada tubuh dan kasur. Dari sela ventilasi terdengar suara angin yang tipis, sesekali disusul bunyi kendaraan dari jalan depan kos, tetapi semuanya terdengar begitu jauh bagi Raka, seperti kehidupan yang sedang berlangsung di tempat lain dan tidak lagi memiliki hubungan dengannya.
Raka membuka mata perlahan. Ia tidak tahu sudah berapa lama tidur, dan untuk beberapa detik bahkan tidak yakin apakah dirinya sedang bangun atau masih terperangkap dalam mimpi yang gelap. Langit-langit kamar tidak terlihat, hanya hitam yang menggantung beberapa jengkal di atas wajahnya. Ia mengedipkan mata berkali-kali, lalu mengangkat tangan untuk meraba permukaan kasur yang kosong di samping tubuhnya. Tidak ada ponsel, tidak ada suara notifikasi, tidak ada bunyi alarm yang bisa memberitahunya bahwa hari sudah berganti. Ponselnya telah mati sejak kemarin, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Raka tidak merasa perlu mencari charger untuk menghidupkannya kembali. Ia justru merasa lega karena benda kecil itu tidak lagi bisa membawa dunia masuk ke dalam kamar.
Tenggorokannya terasa kasar ketika ia menelan ludah. Ada rasa perih yang menjalar dari kerongkongan sampai ke dada, sementara bibirnya terasa pecah dan kering. Raka menjilat bibirnya, tetapi tidak banyak membantu. Lidahnya terasa seperti menempel pada langit-langit mulut, dan ketika ia menarik napas panjang, udara yang masuk terasa panas. Ia mengangkat tubuh dengan kedua tangan, duduk di tepi kasur tanpa sprei yang sejak kemarin belum disentuh, lalu menundukkan kepala cukup lama sampai rambutnya jatuh menutupi sebagian wajah.
Air.
Kata itu muncul sederhana di kepalanya, tetapi bahkan untuk menindaklanjutinya Raka membutuhkan keberanian yang entah mengapa terasa begitu besar. Galon kecil berada di sudut kamar, hanya beberapa langkah dari tempatnya duduk. Gelas plastik bening tergeletak di atas meja rendah di sebelahnya. Jarak itu seharusnya tidak berarti apa-apa. Raka pernah berjalan berkilo-kilometer untuk mengantar sesuatu kepada Anin. Pernah keluar menerobos hujan malam-malam hanya karena perempuan itu mengatakan obatnya hampir habis. Pernah duduk berjam-jam di depan laptop yang bermasalah sampai matanya merah dan punggungnya kaku. Namun sekarang, beberapa langkah menuju galon terasa seperti perjalanan yang mustahil.
Ia memaksa telapak kakinya menyentuh lantai.
Dingin semen merambat dari telapak kaki sampai betis. Raka berhenti sejenak, kedua tangannya mencengkeram sisi kasur. Tubuhnya terasa ringan sekaligus berat, seperti kehilangan keseimbangan yang selama ini membuatnya mampu berdiri. Ia mengembuskan napas pelan, lalu mencoba bangkit. Lututnya langsung bergetar. Pandangannya berubah buram dalam sekejap, dan kamar seolah berputar pelan mengelilinginya.
Raka buru-buru memegang dinding.
"Ah..."
Suara yang keluar dari mulutnya nyaris tidak terdengar. Ia memejamkan mata, menunggu rasa pusing itu mereda, tetapi justru muncul gelombang lain yang lebih kuat. Ada dengungan tipis di telinganya. Dadanya berdebar, sementara kedua kakinya terasa tidak benar-benar menyentuh lantai. Untuk beberapa detik ia hanya berdiri dengan satu tangan menempel pada dinding, kepalanya tertunduk, berusaha mengingat bagaimana caranya berjalan.
Galon itu masih di sana.
Dekat.
Tetapi Raka tiba-tiba membenci benda tersebut karena keberadaannya membuatnya sadar betapa lemah dirinya sekarang.
Ia berhasil mencapai sudut kamar dengan langkah yang tidak stabil. Gelas plastik diambil dari atas meja dengan tangan gemetar. Ketika ia mengangkatnya, gelas kosong itu memantulkan sedikit cahaya dari sela tirai. Raka menatap benda tersebut lama sekali. Matanya mengikuti garis bening pada permukaannya seakan-akan ada jawaban yang tersembunyi di sana.
Kemudian pikirannya kembali kepada Anin.
Bukan wajah Anin yang sedang tersenyum, bukan suara Anin ketika memanggil namanya, bukan pula kenangan-kenangan kecil yang dahulu membuatnya merasa dibutuhkan. Yang muncul justru ekspresi perempuan itu ketika menolaknya. Dingin. Datar. Seolah semua waktu yang telah Raka habiskan untuk membantu, mendengarkan, menunggu, dan mengorbankan dirinya tidak pernah benar-benar memiliki nilai.
"Kita temenan aja."
Kalimat itu kembali terdengar.
Raka menutup mata.
Lalu kalimat lain menyusul, lebih samar tetapi lebih kejam.
"Kamu jangan salah paham selama ini."
Tangannya yang memegang gelas semakin mengencang.
Ia tahu seharusnya ia tidak memikirkan itu lagi. Ia tahu penolakan seseorang tidak seharusnya menjadi ukuran harga dirinya. Ia tahu manusia tidak memilih pasangan hanya berdasarkan satu parameter, dan ia bahkan cukup cerdas untuk memahami betapa absurdnya menjadikan penampilan sebagai satu-satunya penjelasan atas sebuah hubungan yang gagal. Namun pengetahuan yang selama ini bisa ia gunakan untuk menganalisis dunia tidak berguna ketika objek analisisnya adalah dirinya sendiri.
Di luar kamar, seseorang tertawa.
Suara itu terdengar samar dari lorong kos.
Raka langsung menegang.
Untuk sesaat pikirannya membentuk gambaran orang-orang yang sedang membicarakannya. Mahasiswa yang pernah melihatnya berjalan bersama Anin. Orang-orang yang mungkin pernah bertanya-tanya kenapa laki-laki sependek dirinya begitu percaya diri berdiri di samping perempuan seperti Anin. Bayangan itu tidak memiliki wajah yang jelas, tetapi suara tawa mereka terasa nyata di dalam kepala Raka.
"Dia pacarnya?"
"Serius?"
"Kirain adiknya."
Raka membuka mata.
Gelas kosong itu masih berada di tangannya.
Ia menunduk, menatap tubuhnya sendiri yang tampak samar dalam gelap. Kemeja yang dikenakannya sejak malam itu sudah kusut. Celana yang sama melekat pada pinggangnya. Tubuhnya tampak lebih kecil daripada biasanya karena posisi bahunya yang terus membungkuk. Raka menarik napas, lalu perlahan menatap kedua tangannya sendiri.
Tangan yang pernah membawa obat untuk Anin.
Tangan yang pernah membongkar casing laptop Anin.
Tangan yang pernah mengetikkan draf tugas sampai lewat tengah malam.
Tangan yang selalu siap ketika seseorang membutuhkan sesuatu.
Tetapi tangan itu tidak pernah mampu mengubah satu hal yang paling ia benci dari dirinya sendiri.
Tinggi badannya.
Raka menutup mata lagi.
Ia ingat bangku sekolah dasar yang terasa terlalu besar untuk tubuh kecilnya. Ia ingat berdiri dalam barisan upacara dengan kepala sedikit menunduk karena anak-anak di belakangnya mulai berbisik. Ia ingat suara tawa ketika seseorang mengukur tinggi badan teman-temannya dan sampai kepadanya, lalu mengangkat alis dengan ekspresi mengejek. Saat itu ia belum mengerti mengapa tinggi badan bisa menjadi alasan seseorang ditertawakan. Ia hanya tahu bahwa setiap kali berdiri di antara anak laki-laki lain, tubuhnya selalu terlihat seperti berada di tempat yang salah.
Kenangan itu tidak pernah benar-benar pergi.
Ia hanya tumbuh bersama dirinya.
Di SMP, tubuhnya tetap menjadi bahan candaan. Ia belajar tertawa bersama orang-orang yang menertawakannya agar tidak terlihat terluka. Ia mulai menggunakan kecerdasan sebagai perlindungan. Kalau tubuhnya tidak bisa membuat orang memandangnya, mungkin pikirannya bisa. Kalau ia mampu menjawab pertanyaan guru lebih cepat, kalau ia bisa memahami buku lebih banyak, kalau ia bisa berbicara tentang sesuatu yang tidak diketahui orang lain, mungkin suatu hari tidak ada yang akan memperhatikan ukuran tubuhnya lagi.
Tetapi manusia tidak sesederhana itu.
Raka membuka mata dan menatap gelas kosong di tangannya.
Ia pernah mengira kecerdasan dapat menjadi pengganti bagi semua kekurangan yang tidak bisa diperbaikinya. Ia belajar terlalu keras, membaca terlalu banyak, memikirkan terlalu dalam. Bukan karena ia selalu ingin menjadi orang paling pintar di ruangan, tetapi karena diam-diam ia ingin memiliki sesuatu yang membuat dirinya merasa setara dengan laki-laki lain.
Namun ketika akhirnya ia menyukai seseorang, semua teori itu runtuh.
Anin tetap tidak memilihnya.
Dan komentar di foto itu menjadi paku terakhir.
"Dia adikmu ya?"
Raka menelan ludah. Tenggorokannya kembali terasa sakit.