Makasih Sudah Bertahan

Diva Amane
Chapter #36

Langkah Kaki di Gang Sempit

Sore sudah mulai kehilangan warna ketika Laras turun dari angkot di ujung jalan yang ditunjukkan Bimo melalui pesan singkatnya. Langit di atas deretan bangunan kampus dan permukiman mahasiswa berubah menjadi abu-abu keemasan, sementara udara menyimpan sisa panas aspal yang sejak siang dipanggang matahari. Di tangan kirinya, Laras menggenggam secarik kertas kecil yang sudah beberapa kali dilipat dan dibuka kembali. Di sana hanya ada petunjuk sederhana dari Bimo, nama gang, sebuah warung kelontong sebagai patokan, lalu keterangan bahwa setelah melewati masjid kecil ia harus masuk ke gang kedua di sebelah kiri. Tidak ada nomor rumah yang jelas, tidak ada nama kos yang pasti, hanya potongan-potongan informasi yang bagi orang yang tidak mengenal kawasan itu terdengar seperti teka-teki. Namun Laras tetap berdiri beberapa saat di tepi jalan, memastikan arah sebelum mulai berjalan, karena sejak meninggalkan kampus tadi ia sudah tahu bahwa ia mungkin akan pulang tanpa menemukan apa pun.

Ia menyelipkan ponsel ke dalam tas setelah membaca kembali pesan Bimo. Kos putra, gangnya sempit banget. Dekat laundry yang spanduknya biru. Kata Raka dulu kalau masuk motor cuma muat satu. Laras menghela napas perlahan, lalu mulai mengikuti jalan kecil yang menurun ke arah permukiman. Semakin jauh dari jalan raya, suara kendaraan berangsur hilang dan digantikan suara televisi dari rumah-rumah warga, bunyi piring beradu dari warung makan, serta percakapan mahasiswa yang sesekali terdengar dari balik pintu kos. Kawasan itu memang seperti labirin yang tumbuh tanpa rancangan, bangunan-bangunan berdiri rapat dengan jarak hanya beberapa meter satu sama lain, dipisahkan gang sempit yang permukaannya ditambal berkali-kali sehingga aspalnya terlihat seperti potongan kain yang dijahit dengan warna berbeda.

Laras berjalan lebih lambat ketika memasuki gang pertama. Dua sepeda motor berpapasan tidak jauh di depannya, salah satu pengendara terpaksa menepi sampai roda depannya hampir menyentuh selokan dangkal. Seorang ibu yang sedang menyiram tanaman di depan rumah memandang Laras sebentar sebelum kembali menyiram pot-pot kecil yang berjajar di bawah jendela. Laras memperhatikan nomor bangunan di dinding, tetapi beberapa rumah tidak memasang nomor sama sekali. Ia sempat mengeluarkan kertas kecil itu lagi, membaca nama gang yang ditulis Bimo, lalu menoleh ke belakang untuk memastikan ia tidak salah masuk. Untuk sesaat muncul pikiran bahwa mungkin ini bukan urusannya. Mungkin Raka memang ingin sendirian. Mungkin ketidakhadirannya di kampus adalah keputusan sadar yang seharusnya dihormati. Namun pikiran itu segera berbenturan dengan satu hal sederhana yang tidak bisa ia abaikan, yaitu seorang mahasiswa sudah tiga hari menghilang dari kehidupan kampus dan bahkan tidak keluar mencari makan.

Ia teringat bangku kosong di ruang kuliah pagi tadi. Kursi kayu di barisan belakang yang biasanya ditempati Raka masih menyisakan ruang kecil di antara dua mahasiswa lain. Tidak ada tas hitam yang biasanya diletakkan di bawah meja, tidak ada kepala yang sesekali menunduk membaca sesuatu dari buku, tidak ada suara Raka yang menjawab pertanyaan dosen dengan nada datar tetapi terukur. Bahkan ketika dosen mengedarkan lembar presensi dan jarinya berhenti sebentar di nama Raka, Laras merasakan sesuatu yang aneh di dalam dadanya. Bukan kecemasan yang meledak-ledak, melainkan semacam ketidaknyamanan yang terus mengendap dan menolak hilang. Ketika Bimo mengatakan bahwa Raka tidak dapat dihubungi selama tiga hari, rasa tidak nyaman itu berubah menjadi dorongan yang jauh lebih konkret.

Gang berikutnya ternyata lebih sempit. Laras harus berjalan agak menyamping ketika seorang mahasiswa membawa kardus besar keluar dari salah satu kos. Di sebelah kanan, deretan kamar kos berdempetan dengan jendela-jendela yang menghadap langsung ke gang. Jemuran pakaian tergantung rendah di atas kepala, sebagian hampir menyentuh rambutnya ketika ia lewat. Bau deterjen dari laundry bercampur dengan aroma gorengan dari warung di ujung gang, sementara udara mulai terasa lebih dingin ketika matahari turun semakin rendah. Laras berhenti di depan warung kecil dengan spanduk biru yang warnanya sudah memudar, kemudian membandingkan posisi bangunan itu dengan petunjuk Bimo. Seharusnya setelah warung ia mengambil belokan kiri kedua.

Ia baru berjalan sekitar dua puluh meter ketika melihat seorang pemuda duduk di atas motor di depan sebuah rumah petak. Laras mendekat dengan hati-hati.

"Permisi, Mas."

Pemuda itu mengangkat kepala. "Iya, Mbak?"

"Kalau kos putra yang dekat masjid kecil, yang kamarnya banyak itu... kira-kira di sebelah mana, ya? Saya lagi nyari seseorang."

Pemuda itu mengerutkan dahi, lalu menunjuk ke arah belakang Laras. "Kalau kos putra, banyak, Mbak. Yang dimaksud siapa?"

"Namanya Raka Aditya."

Pemuda itu berpikir sebentar. "Raka... Raka yang anak kampus?"

Laras mengangguk cepat. "Iya."

"Oh, mungkin saya tahu. Tapi coba tanya Bu Siti. Kosnya beliau banyak anak kampus. Di ujung sana, belok kanan, terus ada pagar hijau."

"Terima kasih, Mas."

Laras kembali berjalan. Langkahnya terasa sedikit lebih cepat sekarang, seolah petunjuk kecil itu membuat tujuan yang sejak tadi terasa samar mulai memiliki bentuk. Di ujung gang ia menemukan pagar hijau yang dimaksud, tetapi ternyata bangunannya bukan kos yang ia cari. Seorang perempuan paruh baya sedang menjemur handuk di halaman kecil. Laras kembali bertanya, kali ini dengan menyebut nama Raka lebih dahulu.

"Bu, permisi. Ibu tahu Raka? Raka Aditya, anak kuliah?"

Perempuan itu memicingkan mata. "Raka yang pendek?"

Pertanyaan itu membuat Laras terdiam sepersekian detik. Ia tidak tahu harus menganggapnya sebagai apa. Namun sebelum ia sempat menjawab, perempuan itu sudah menggeleng kecil.

"Kalau Raka yang itu bukan di sini. Coba ke belakang lagi. Ada kos punya Bu Siti, kayaknya."

"Bu Siti yang mana, Bu?"

"Bangunan dua lantai, cat krem. Tapi kalau cari Raka, mungkin coba kamar bawah. Anak-anak bilang dia sudah beberapa hari nggak kelihatan."

Laras merasakan jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

"Beberapa hari?"

"Iya. Tiga hari kayaknya."

Ucapan itu membuat Laras tidak lagi merasa sedang mencari seorang teman kampus yang kebetulan tidak hadir kuliah. Ia sedang mengikuti jejak seseorang yang perlahan menghilang dari kehidupan sehari-hari. Ia mengucapkan terima kasih, lalu melanjutkan perjalanan dengan langkah yang lebih hati-hati. Setiap beberapa meter ia kembali memastikan nomor rumah, bentuk pagar, warna dinding, dan arah gang agar tidak salah. Suara azan Maghrib mulai terdengar samar dari masjid yang tidak terlihat dari tempatnya berdiri. Suara itu mengalir di antara bangunan-bangunan rapat, memantul pada tembok dan atap seng, menciptakan suasana yang anehnya terasa jauh lebih sunyi daripada beberapa menit sebelumnya.

Akhirnya ia melihat bangunan yang mungkin dimaksud.

Kos itu berdiri sedikit masuk dari gang, dengan teras sempit dan tangga menuju lantai atas. Cat dindingnya berwarna krem kusam, beberapa bagian menghitam karena lembap. Di depan pintu utama ada rak sandal yang hampir penuh. Seorang perempuan berusia sekitar lima puluhan duduk di kursi plastik sambil melipat pakaian.

"Permisi, Bu."

Perempuan itu menoleh.

"Saya mau cari Raka Aditya. Anak kuliah. Tinggal di sini?"

Tangan perempuan itu berhenti di atas pakaian yang sedang dilipat.

"Raka?"

"Iya, Bu."

"Ibu siapa?"

"Saya teman kampusnya."

Tatapan perempuan itu berpindah dari wajah Laras ke tas yang disandangnya, kemudian kembali ke wajahnya. Tidak ada kecurigaan berlebihan, hanya kehati-hatian seorang pemilik kos yang sudah terbiasa dengan berbagai macam orang datang dan pergi.

"Raka ada," katanya akhirnya. "Tapi..."

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.

"Tapi kenapa, Bu?"

Perempuan itu menghela napas.

"Sudah tiga hari nggak keluar."

Laras tidak langsung menjawab. Suara azan yang tadi samar kini terdengar lebih jelas. Dari salah satu kamar atas, suara keran dibuka, lalu ditutup. Di antara semua suara itu, kalimat sederhana dari ibu kos tadi terasa jauh lebih keras daripada seharusnya.

"Dia sakit, Bu?"

"Nggak tahu. Saya ketuk pintunya kemarin. Nggak jawab. Hari ini juga saya panggil dari luar, diam saja."

"Sudah makan?"

"Ya itu yang saya khawatirkan. Saya nggak lihat dia beli makan. Biasanya anak-anak keluar masuk. Dia juga biasanya kalau lapar keluar sendiri."

Laras menelan ludah.

"Kamarnya di mana, Bu?"

Ibu kos berdiri dan menunjuk ke lorong lantai bawah.

"Nomor empat. Paling ujung."

Laras mengikuti arah telunjuk itu. Lorong sempit membentang menuju bagian belakang bangunan. Empat pintu kayu berjajar di sisi kiri. Tiga di antaranya tampak biasa saja. Ada sandal di depan salah satu pintu, suara kipas angin terdengar dari pintu lainnya. Namun pintu nomor empat terlihat berbeda. Tidak ada sandal di depannya. Tidak ada suara televisi. Tidak ada cahaya yang menyelinap dari bawah pintu.

Jendela kecil di samping pintu tertutup kain hitam dari dalam.

Laras berdiri diam.

"Yang itu," kata ibu kos. "Kamar Raka."

Laras mengangguk.

Ibu kos menatapnya beberapa saat, lalu berkata pelan, "Kalau memang teman, coba dibangunin, Mbak. Saya takut anaknya kenapa-kenapa."

Ada sesuatu yang berat di dalam kalimat itu. Bukan sekadar permintaan. Seperti seseorang yang selama tiga hari hanya bisa mengetuk pintu dari luar dan akhirnya menyerahkan kecemasannya kepada orang lain.

"Saya coba, Bu."

Laras melangkah masuk ke lorong.

Suara sandal ibu kos perlahan tertinggal di belakangnya. Setiap langkah Laras menghasilkan bunyi kecil di lantai keramik yang sudah kusam. Semakin dekat ke pintu nomor empat, semakin ia menyadari betapa sunyinya kamar itu. Tidak ada bunyi kipas, tidak ada gerakan, bahkan tidak ada suara benda bergeser. Hanya angin yang masuk melalui ventilasi lorong dan bergerak pelan melewati rambutnya.

Ia berhenti sekitar satu langkah di depan pintu.

Pintu kayu itu tertutup rapat.

Laras memandang nomor empat yang terpasang miring di atasnya. Entah mengapa, dadanya terasa sesak.

Beberapa hari lalu, di depan sebuah warkop, ia pernah melihat wajah Raka yang sama sekali berbeda dari wajah mahasiswa yang biasa ia lihat di kampus. Wajah itu menunjukkan rasa muak yang begitu jujur ketika mendengar percakapan seksis dari sekelompok laki-laki. Tidak ada usaha untuk terlihat keren. Tidak ada performa moral. Raka hanya pergi dengan ekspresi yang seolah mengatakan bahwa ia tidak sanggup duduk satu menit lebih lama di tempat itu.

Saat itu Laras sempat bertanya, "Apa kamu Raka?"

Raka menoleh, bingung, lalu percakapan mereka terputus oleh keadaan.

Sekarang Laras berdiri di depan pintu kamarnya.

Ia mengangkat tangan, tetapi tidak segera mengetuk.

Untuk pertama kalinya sejak datang ke kawasan itu, Laras menyadari bahwa langkah berikutnya mungkin akan mengubah sesuatu. Ia tidak tahu apa yang ada di balik pintu itu. Ia tidak tahu apakah Raka akan marah, mengusirnya, atau bahkan tidak menjawab sama sekali. Namun setelah berjalan sejauh ini, ia tidak sanggup berbalik hanya karena takut dianggap mencampuri urusan pribadi.

Tangannya perlahan terangkat.

Jari-jarinya berhenti beberapa sentimeter dari permukaan kayu yang penuh debu.

Kemudian, dengan sangat pelan, Laras mengetuk.

Tok.

Tok.

Tok.

Raka membuka mata.

Ia tidak tahu apakah dirinya baru saja tertidur selama beberapa menit atau beberapa jam. Dalam kegelapan yang sudah menjadi satu-satunya warna di kamarnya, waktu kehilangan bentuk. Tidak ada cahaya matahari yang bisa memberitahu apakah pagi telah datang atau sore sudah lewat. Tidak ada suara kampus, tidak ada dering ponsel, tidak ada langkah teman yang biasa terdengar dari lorong kos. Hanya napasnya sendiri yang terdengar berat dan sedikit serak, bercampur dengan suara angin tipis dari ventilasi yang seperti bisikan jauh di luar sana.

Ketukan itu datang lagi.

Kali ini Raka langsung menegang.

Seluruh tubuhnya seolah mengingat bahwa dunia masih ada.

Ia mengangkat kepala dari kasur yang tanpa sprei, rambutnya kusut menempel di dahi. Pakaian yang dikenakannya sejak beberapa hari lalu sudah kusam dan terasa lembap di kulit. Ia tidak peduli lagi dengan bau tubuhnya, dengan rambut yang belum disentuh air, atau dengan kamar yang berantakan. Tetapi suara dari balik pintu membuat rasa malu yang selama ini ia kubur kembali muncul dengan cepat, bahkan sebelum ia mengetahui siapa yang berdiri di luar.

Raka menahan napas.

Mungkin kalau ia diam, orang itu akan pergi.

Ia tidak bergerak sedikit pun.

Beberapa detik berlalu.

Lalu terdengar suara perempuan dari luar.

"Raka?"

Lihat selengkapnya