Di balik pintu kayu nomor empat, Raka berdiri dengan kedua telapak tangan menempel pada permukaan pintu yang dingin. Kakinya terasa seperti bukan miliknya sendiri, berat dan lemas sekaligus, sementara lututnya sesekali bergetar tanpa bisa ia kendalikan. Dari celah bawah pintu, cahaya lampu teras yang kekuningan membentuk garis tipis di lantai semen kamar, satu-satunya tanda bahwa di luar sana masih ada dunia yang berjalan seperti biasa. Raka bisa mendengar suara kendaraan lewat di gang sempit, suara sandal seseorang yang menyeret langkah, juga suara televisi dari kamar lain yang terdengar samar melalui dinding tipis. Semuanya terasa begitu jauh, seolah-olah ia sedang berdiri di dasar sumur dan kehidupan di atas sana hanya sampai kepadanya dalam bentuk gema.
Ketukan itu masih tertinggal di kepalanya.
Tiga kali.
Pelan.
Tidak mendesak.
Raka menelan ludah yang hampir tidak ada. Tenggorokannya terasa kering dan kasar, bibirnya pecah di beberapa bagian, tetapi ia bahkan tidak memiliki cukup tenaga untuk memikirkan kapan terakhir kali ia minum dengan benar. Yang lebih membuat dadanya sesak bukan rasa haus itu, melainkan suara perempuan di balik pintu yang beberapa detik lalu menyebut namanya.
Raka.
Nama itu terdengar berbeda ketika keluar dari mulut orang lain.
Bukan seperti panggilan Bimo yang biasanya disertai suara tergesa-gesa. Bukan pula seperti suara Anin yang dulu terdengar biasa, seolah Raka selalu tersedia kapan pun dibutuhkan. Suara perempuan itu tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang datang menemukan orang yang sudah menghilang selama tiga hari.
Raka tahu suara itu.
Ingatan yang samar tentang trotoar depan warkop beberapa hari lalu muncul begitu saja. Seorang perempuan berdiri di dekatnya, memandang dengan ekspresi yang tidak ia mengerti, lalu bertanya, "Apa kamu Raka?" Saat itu ia terlalu muak dengan percakapan seksis di dalam warkop untuk memikirkan siapa perempuan tersebut. Ia hanya menjawab seadanya sebelum pergi. Sekarang suara yang sama berdiri di sisi lain pintunya.
Laras.
Nama itu baru benar-benar muncul di kepalanya sekarang.
Raka memejamkan mata. Untuk beberapa detik ia berharap mungkin ia salah dengar. Mungkin perempuan itu hanya kebetulan datang ke kamar orang lain. Mungkin kalau ia diam cukup lama, Laras akan mengira kamar itu kosong dan pergi. Ia bahkan mencoba menahan napas, seolah keberadaan manusia bisa dihapus hanya dengan tidak mengeluarkan suara.
Namun dari luar terdengar suara plastik bergesekan pelan.
Kemudian suara Laras.
"Raka?"
Jantungnya langsung berdetak lebih cepat.
Raka menggigit bagian dalam pipinya. Tangannya bergerak mencari gagang pintu, tetapi berhenti sebelum menyentuhnya. Ia tidak ingin membuka pintu. Tidak dalam keadaan seperti ini. Rambutnya sudah berminyak dan kusut, kaus yang dipakainya sejak entah kapan terasa melekat pada punggung, dan tubuhnya berbau keringat serta kamar lembap. Ia belum mandi. Belum bercukur. Bahkan untuk berdiri tegak saja ia harus memaksa otot-ototnya bekerja.
Yang paling ia takutkan bukan Laras melihat kamar itu.
Ia takut Laras melihat dirinya.
Raka menarik napas panjang, lalu mengeluarkannya perlahan. Suaranya yang keluar kemudian hampir tidak terdengar.
"Pergi aja."
Di luar, tidak ada jawaban selama beberapa detik.
Raka menunggu.
"Raka, aku dengar."
Suara itu masih lembut.
"Aku tahu."
Raka menundukkan kepala. "Aku lagi nggak baik."
"Aku tahu."
Jawaban itu membuat dahinya berkerut.
Tidak ada pertanyaan.
Tidak ada, Kenapa?
Tidak ada, Kamu kenapa sih?
Tidak ada kalimat yang memaksanya memberikan penjelasan yang bahkan dirinya sendiri tidak mampu susun.
Raka mengeratkan jemarinya di sisi tubuh. "Makanya... pulang aja."
Laras menghela napas pelan di balik pintu.
"Boleh."
Raka hampir merasa lega.
Namun kemudian Laras melanjutkan, "Tapi aku nggak akan pulang sekarang."
Raka mengangkat wajah.
Suara kain bergesekan terdengar dari luar. Mungkin Laras sedang mengubah posisi. Beberapa detik kemudian terdengar bunyi punggung bersandar pada pintu.
"Aku duduk di sini aja."
Raka terpaku.
"Aku nggak akan masuk kalau kamu nggak mau," lanjut Laras. "Aku juga nggak akan maksa kamu buka pintu."
Raka tidak tahu harus menjawab apa.
Ia tetap berdiri di sana, hanya dipisahkan oleh selembar pintu kayu tua dari seseorang yang bahkan belum begitu dikenalnya. Dalam keadaan lain, mungkin ia akan menganggap situasi ini aneh. Seorang perempuan datang malam-malam ke kos laki-laki yang hampir tidak pernah berbicara dengannya, lalu memilih duduk di depan kamar hanya karena mendengar bahwa laki-laki itu menghilang.
Tetapi malam ini pikirannya tidak mampu memproses keanehan.
Yang bisa ia rasakan hanya sesuatu yang perlahan bergerak di dalam dadanya.
Sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.
Aman.
Namun Raka terlalu takut menyebutnya demikian.
Di luar, Laras tidak berbicara selama beberapa saat. Ia membiarkan kesunyian mengisi ruang di antara mereka. Tidak ada ketukan kedua. Tidak ada usaha untuk membuat Raka segera membuka pintu. Hanya suara gang yang sesekali masuk melalui celah-celah bangunan, suara motor yang melintas, suara seseorang tertawa dari kejauhan, lalu kembali menjadi sunyi.
Raka akhirnya duduk di lantai dengan punggung bersandar pada sisi pintu yang berlawanan.
Jarak mereka mungkin hanya beberapa sentimeter.
Tetapi ada selembar kayu di antara mereka.
Raka menarik lutut ke dada dan memeluknya.
"Kenapa kamu masih di sini?" tanyanya pelan.
Laras menjawab setelah beberapa detik.
"Karena kamu bilang kamu lagi nggak baik."
"Terus?"
"Terus aku pikir... kalau orang lagi nggak baik, mungkin dia nggak perlu langsung disuruh baik."
Raka menutup mata.
Kalimat itu sederhana.
Terlalu sederhana.
Tetapi entah kenapa terasa seperti sesuatu yang selama ini tidak pernah diberikan kepadanya.
Semua orang seolah selalu punya versi Raka yang mereka inginkan. Raka yang cepat membantu. Raka yang tahu banyak hal. Raka yang bisa diajak berdiskusi. Raka yang bisa diandalkan ketika laptop rusak, ketika tugas perlu diperiksa, ketika seseorang membutuhkan sesuatu. Bahkan ketika ia sedang sedih, ia tetap merasa harus menjadi seseorang yang berguna agar keberadaannya punya alasan.
Tidak pernah ada yang mengatakan bahwa ia boleh tidak baik.
"Di kelas..." suara Laras terdengar lagi, "bangku kamu kosong."
Raka membuka mata.
Ia tidak menjawab.
"Tadi aku sempat lihat ke belakang beberapa kali."
Laras tertawa kecil, tetapi tidak terdengar geli. Lebih seperti orang yang sedang mengingat sesuatu.
"Padahal biasanya kamu duduk di sana terus."
Raka menelan ludah.
"Kadang aku baru sadar kamu ada setelah beberapa menit. Kamu kan nggak banyak suara."
Ada senyum tipis dalam nada Laras.
"Tapi anehnya, pas nggak ada, kelihatan."
Raka menatap lantai.
Debu yang menempel di semen terlihat seperti bintik-bintik kecil dalam cahaya dari bawah pintu. Tangannya bergerak perlahan, mengusap salah satu titik debu itu dengan ujung jari.
"Aku nggak penting," katanya.
Laras diam.
Raka merasa kalimat itu memalukan setelah keluar dari mulutnya. Namun sekali ia mulai berbicara, sesuatu di dalam dirinya seperti ingin terus mengeluarkan semua hal yang selama ini dipendam.
"Bangku kosong juga bukan masalah."
"Mungkin buat kamu bukan masalah."
"Memang bukan."
"Tapi buat orang yang memperhatikan, bisa jadi masalah."
Raka tersenyum hambar.
"Orang nggak perlu memperhatiin aku."
"Kenapa?"
"Karena nggak ada yang perlu diperhatiin."
Nada suaranya datar. Tidak marah. Tidak pula sedang berusaha membuat Laras iba. Ia hanya mengatakan sesuatu yang sudah begitu lama ia percaya sampai terdengar seperti fakta.
Laras tidak langsung membantah.
Raka justru merasa lebih gugup karena itu.
Biasanya orang akan segera mengatakan, Jangan ngomong begitu.
Kemudian mereka akan memberinya nasihat tentang berpikir positif.
Atau mengatakan bahwa semua orang punya kelebihan.
Atau, yang paling ia benci, menyuruhnya percaya diri.
Laras tidak melakukan semua itu.
"Raka," katanya akhirnya, "aku boleh cerita sesuatu?"