Pintu kayu itu terbuka perlahan, hanya selebar beberapa sentimeter pada awalnya, lalu bertambah sedikit demi sedikit ketika Raka akhirnya berhenti menahan dorongan dari tangannya sendiri. Cahaya lampu teras menyusup melalui celah tersebut dan memotong kegelapan kamar menjadi satu garis tipis yang jatuh di lantai semen. Di dalam garis cahaya itu, Laras melihat sepasang kaki telanjang yang berdiri kaku, kemudian siluet tubuh seorang laki-laki yang menundukkan kepala begitu dalam sampai wajahnya hampir seluruhnya tersembunyi di balik rambut yang berantakan. Raka tidak mengatakan apa-apa setelah menyapa balik dengan suara yang hampir tidak terdengar, seolah-olah keberaniannya membuka pintu tadi sudah menghabiskan seluruh tenaga yang tersisa. Ia hanya berdiri di sana, membiarkan sebagian tubuhnya terlihat dalam cahaya sementara bagian lainnya tetap ditelan gelap.
Laras tidak langsung masuk. Ia berdiri beberapa detik di ambang pintu sambil memperhatikan sosok di hadapannya tanpa menunjukkan keterkejutan sedikit pun. Tidak ada perubahan ekspresi yang berarti di wajahnya ketika matanya mulai terbiasa dengan keadaan kamar yang nyaris tanpa cahaya. Ia hanya melihat seorang manusia yang sedang berdiri dengan seluruh pertahanannya terangkat, bukan sebuah pemandangan yang harus dinilai. Raka yang selama ini ia lihat di kampus dengan pakaian sederhana, rambut yang selalu cukup rapi, dan tatapan yang sering tampak sibuk memikirkan sesuatu kini berada beberapa langkah di depannya dalam keadaan yang sama sekali berbeda. Tubuhnya tampak lebih kecil daripada yang Laras ingat, bukan karena ukuran fisiknya berubah, melainkan karena cara ia berdiri, dengan bahu melengkung dan kepala tertunduk seolah-olah ingin mengecilkan dirinya sendiri agar tidak memenuhi ruang.
"Maaf," kata Raka akhirnya.
Laras mengernyit tipis. "Buat apa?"
"Kamar gue."
Raka menarik napas pendek. "Berantakan."
Laras melihat ke dalam sekali lagi. Cahaya dari luar hanya mampu menerangi bagian paling dekat dengan pintu. Selebihnya berupa bayangan pekat. Ia dapat melihat ujung kasur tanpa sprei, beberapa buku yang bertumpuk tidak beraturan di lantai, pakaian yang terlipat setengah hati di salah satu sudut, serta gelas kosong yang tergeletak dekat dinding. Bau lembap langsung terasa begitu ia sedikit membuka pintu lebih lebar. Ada aroma kertas lama, kain yang terlalu lama berada di ruangan tertutup, dan udara pengap yang tidak pernah benar-benar berganti. Laras tidak mengernyitkan hidung. Tidak menutup mulut. Tidak pula mengambil langkah mundur.
"Kalau aku masuk, boleh?"
Raka tidak menjawab.
Laras menunggu.
Beberapa detik berlalu sebelum Raka mengangguk sangat kecil.
Gerakan itu nyaris tidak terlihat.
Namun cukup.
Laras mendorong pintu lebih lebar dan melangkah masuk. Begitu tubuhnya melewati ambang, ia tidak mencari sakelar. Ia justru menoleh sebentar ke arah pintu, kemudian menutupnya perlahan sampai cahaya dari luar kembali mengecil menjadi garis sempit sebelum akhirnya menghilang. Bunyi daun pintu yang menutup terdengar sangat pelan, disusul suara kait kayu yang kembali berada pada posisinya. Kamar itu kembali menjadi gelap total.
Raka langsung menegang.
Ia mungkin mengira Laras akan menyalakan lampu setelah masuk. Tangannya bahkan sempat bergerak refleks ke arah wajah, seolah bersiap menutupi mata. Namun Laras tidak melakukan apa-apa. Ia membiarkan matanya beradaptasi dengan kegelapan yang sama dengan yang selama tiga hari menjadi satu-satunya teman Raka.
"Kenapa ditutup?" suara Raka terdengar gugup.
"Karena tadi kamu buka pintunya."
"Terus?"
"Terus aku masuk."
Raka terdiam.
Laras tersenyum tipis meski Raka tidak dapat melihatnya.
"Aku nggak perlu lampu."
Kalimat sederhana itu membuat Raka semakin diam.
Ia mundur satu langkah.
Kemudian satu lagi.
Tumitnya menyentuh sisi kasur, tetapi ia tidak berhenti sampai punggungnya akhirnya mengenai dinding. Tubuhnya menempel pada permukaan dingin itu seperti seseorang yang sedang mencari tempat untuk berlindung. Kedua tangannya berada di depan tubuh, jemarinya saling mencengkeram sampai buku-buku jarinya terasa tegang. Ia tidak berani mengangkat wajah.
Laras berdiri beberapa langkah darinya.
Dalam gelap, ia mulai mendengar suara-suara kecil yang sebelumnya tertutup oleh suara gang. Dengung kipas angin yang berputar lambat. Bunyi detik jam dinding tua. Gesekan kain ketika Raka mengubah posisi. Dan napasnya sendiri yang terdengar terlalu jelas karena ruangan itu begitu sunyi.
Ada sesuatu yang ganjil dari kamar tersebut.
Bukan karena gelapnya.
Melainkan karena Laras bisa merasakan betapa lama seseorang telah berada di dalamnya tanpa benar-benar hidup di dalamnya.
Udara tidak bergerak dengan baik. Debu seakan menggantung di antara mereka. Bau lembap menempel di hidung dan tenggorokan. Tidak ada suara musik, tidak ada suara video dari ponsel, tidak ada tanda bahwa pemilik kamar sedang menjalani kehidupan sebagaimana mahasiswa lain pada umumnya.
Laras tidak bertanya sudah berapa lama Raka berada di sana.
Ia sudah tahu jawabannya.
Tiga hari.
Tetapi mengetahui angka tidak sama dengan merasakan keadaan seseorang.
Sekarang ia berada di dalam kamar itu dan mengerti mengapa Raka terdengar seperti orang yang berbicara dari dasar tempat yang sangat dalam.
"Raka."
"Hm?"
"Aku jalan ke sana, ya."
Raka tidak menjawab.
Laras melangkah.
Satu langkah.
Kemudian satu lagi.
Telapak sandalnya menyentuh lantai semen dengan suara nyaris tidak terdengar. Ia sengaja berjalan pelan, tidak ingin membuat Raka merasa sedang didekati oleh seseorang yang hendak mengambil alih keadaan. Setiap beberapa langkah, ia berhenti sejenak agar Raka tahu persis di mana posisinya.
Raka tetap menunduk.
Ketika Laras sudah berada beberapa langkah di depannya, Raka berkata, "Jangan dekat-dekat."
Laras berhenti.
"Oke."
Hening kembali.
Raka mengangkat wajah sedikit, tetapi segera menunduk lagi ketika menyadari Laras mungkin bisa melihatnya meski kamar itu gelap.
"Maaf."
"Kenapa minta maaf terus?"
"Nggak tahu."
"Ya udah."
Laras berdiri di sana.
Raka menekan punggungnya semakin kuat ke dinding.
Ia tidak mengerti perempuan ini.
Ia sudah menyiapkan banyak kemungkinan sejak mendengar ketukan pertama di pintu. Ia membayangkan pertanyaan, teguran, rasa jijik, bahkan ekspresi kasihan yang menurutnya lebih menyakitkan daripada penghinaan. Ia membayangkan Laras melihat kamar itu lalu bertanya bagaimana mungkin seorang mahasiswa bisa membiarkan dirinya sendiri tinggal dalam keadaan seperti ini. Ia membayangkan dirinya harus menjelaskan sesuatu yang bahkan tidak ia pahami.
Namun Laras hanya berdiri.
Tidak memaksa.
Tidak menghakimi.
Dan justru itu yang membuat pertahanannya menjadi semakin rapuh.
"Lo boleh duduk kalau mau," kata Raka.
Laras mengangguk.
"Aku duduk, ya."
Ia kembali melangkah, lalu berhenti di dekat ujung kasur. Ia tidak menyentuh Raka. Tidak mencoba menarik tangannya. Tidak pula berusaha mengangkat wajahnya agar mereka bertatapan. Ia hanya duduk perlahan di lantai semen, menjaga jarak beberapa langkah dari posisi Raka.
Raka memperhatikan bayangan samar tubuhnya dalam gelap.
"Kenapa kamu nggak nyalain lampu?"
"Karena kamu nggak nyalain."
"Terus?"
"Berarti mungkin kamu nyaman di sini."
Raka tertawa pendek tanpa kegembiraan.
"Nyaman?"
Laras menoleh ke arah suaranya.
"Mungkin bukan nyaman."
"Terus?"
"Mungkin ini tempat yang paling nggak bikin kamu takut."
Raka tidak menjawab.
Kalimat itu mengenai sesuatu yang sangat tepat.
Ia memang tidak nyaman di dalam kamar ini. Udara lembap membuat dadanya berat. Bau kamar membuat kepalanya semakin pusing. Lantai semen terasa dingin di kulit. Ia bahkan sudah tidak tahan dengan keheningan yang terus-menerus mengurungnya.
Namun dunia luar lebih menakutkan.
Di luar ada wajah-wajah.
Ada mata yang mengukur.
Ada perempuan yang bisa menolaknya.
Ada orang-orang yang dapat melihat tubuhnya lalu membuat kesimpulan tentang dirinya hanya dari tinggi badan.
Di kamar ini, setidaknya tidak ada siapa-siapa.
Sampai malam ini.
Raka perlahan menurunkan tubuhnya dari posisi berdiri. Lututnya menekuk, lalu ia duduk di sisi kasur dengan kepala tetap tertunduk. Jarak antara dirinya dan Laras tidak lebih dari dua meter.
"Aku nggak ngerti kenapa kamu datang."
Laras menjawab dengan tenang, "Aku juga nggak tahu apakah aku datang di waktu yang tepat."
Raka mengangkat kepala sedikit.
"Tapi?"
"Tapi aku pikir lebih baik aku datang daripada cuma mikir kamu baik-baik aja atau nggak."
Raka mengusap wajahnya.
"Aku nggak baik."
"Aku tahu."
"Jelek banget."
"Aku tahu kamu lagi ngerasa begitu."
Raka menatap kegelapan di depannya.