Makasih Sudah Bertahan

Diva Amane
Chapter #39

Sentuhan Pertama di Keheningan

Kamar itu kembali tenggelam dalam gelap setelah pintu ditutup perlahan oleh Laras. Cahaya kuning dari lampu teras yang sempat menyelinap melalui celah pintu menghilang sedikit demi sedikit, menyisakan garis tipis yang akhirnya lenyap ketika daun pintu benar-benar rapat pada kusennya. Untuk beberapa detik, tidak ada seorang pun yang bergerak. Laras berdiri di dekat pintu sambil membiarkan matanya menyesuaikan diri dengan kegelapan, sementara Raka duduk di sisi kasur dengan tubuh meringkuk, kedua lengannya melingkari lutut, wajahnya tersembunyi di balik lipatan siku. Dari tempatnya berdiri, Laras hanya bisa menangkap garis samar bahu Raka yang naik turun tidak teratur, seolah-olah pemuda itu sedang berusaha menahan napas agar keberadaannya sendiri tidak terdengar.

Bungkusan makanan hangat yang dibawanya masih tergeletak di lantai, belum disentuh. Sebotol air mineral berada di sebelahnya, permukaannya mulai dipenuhi titik-titik embun akibat perbedaan suhu antara udara kamar dan air yang baru dibeli. Laras tidak langsung mengatakan apa-apa. Ia tahu, setelah berhari-hari Raka mengurung diri dalam ruangan itu, bahkan kehadiran orang lain mungkin sudah terasa seperti gangguan yang terlalu besar. Ia juga tahu bahwa rasa malu tidak selalu membutuhkan kata-kata untuk menjadi kejam. Kadang-kadang rasa malu hanya membutuhkan sepasang mata yang melihat, lalu seseorang akan merasa seluruh tubuhnya sedang diadili.

Maka Laras tidak melihat terlalu lama.

Ia menurunkan pandangan dan duduk di lantai, beberapa langkah dari Raka. Punggungnya bersandar pada sisi kasur, kedua tangannya diletakkan santai di atas paha. Ia tidak berusaha mencari wajah Raka. Tidak bertanya sudah berapa hari dia tidak mandi, kapan terakhir makan, kenapa tidak masuk kuliah, atau mengapa semua pesan tidak dijawab. Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin penting, tetapi malam ini Laras merasa ada sesuatu yang lebih penting daripada memperoleh jawaban.

Raka perlu tahu bahwa seseorang bisa berada di dekatnya tanpa menuntut apa pun.

Detik jam dinding tua terdengar semakin jelas ketika keduanya diam. Tik. Tik. Tik. Suaranya tidak teratur karena mekanisme jam itu sudah lama aus, tetapi justru ketidaksempurnaannya membuat ruangan terasa semakin nyata. Di luar, suara motor sesekali melintas di gang, kemudian menjauh sampai hanya menyisakan dengung samar. Sesekali terdengar suara orang berbicara dari kamar kos lain, bunyi pintu dibuka, atau suara keran yang diputar. Namun semua itu terasa sangat jauh bagi Raka.

Baginya, dunia telah mengecil menjadi kamar gelap itu.

Dan sekarang, menjadi seseorang yang duduk beberapa langkah darinya.

Raka bisa merasakan keberadaan Laras meskipun tidak melihatnya. Aroma lembut sabun dari pakaian perempuan itu samar-samar terbawa udara. Tidak menyengat, tidak mengganggu, hanya cukup untuk membuat Raka sadar bahwa malam ini ada manusia lain di ruangan yang selama tiga hari terakhir hanya mengenal bau lembap, pakaian yang tidak diganti, sisa makanan, dan udara pengap yang tidak pernah berganti.

Ia semakin menundukkan kepala.

Rasa malu datang begitu cepat sampai membuat tenggorokannya kembali terasa sempit.

Kenapa dia datang?

Pertanyaan itu berputar di kepalanya.

Kenapa harus aku?

Raka tidak mengerti.

Ia tidak ingin Laras melihat dirinya seperti ini. Bukan karena ia masih memiliki cukup tenaga untuk mempertahankan harga diri, melainkan justru karena harga diri itu sudah terlalu hancur. Selama bertahun-tahun ia terbiasa mengatur bagaimana orang melihatnya. Ia belajar memilih pakaian yang membuat tubuhnya terlihat sedikit lebih proporsional. Ia belajar berdiri dengan cara tertentu ketika berada di antara mahasiswa laki-laki yang jauh lebih tinggi. Ia belajar berbicara dengan tenang agar orang tidak menganggap dirinya kecil hanya karena tubuhnya memang kecil. Ia belajar menjawab pertanyaan dengan pengetahuan yang cukup agar keberadaannya punya alasan.

Ia selalu harus punya sesuatu.

Pengetahuan.

Bantuan.

Kemampuan.

Kesetiaan.

Kesediaan.

Apa pun.

Asalkan dirinya berguna.

Sebab, jauh di dalam pikirannya, Raka telah lama percaya bahwa menjadi dirinya sendiri tidak pernah cukup.

Tangannya bergerak sedikit. Jari-jarinya mencengkeram kain celana di dekat lutut. Ia mendengar Laras menggeser posisi duduk, tetapi perempuan itu tidak mendekat. Justru jarak tersebut membuat Raka sedikit lebih mampu bernapas. Laras seperti memahami sesuatu yang bahkan tidak mampu dijelaskan Raka sendiri. Dia tidak berusaha menerobos pertahanan yang tersisa dengan paksa.

Namun setelah beberapa menit, Laras mulai memperhatikan sesuatu.

Bahu Raka terus gemetar.

Bukan gemetar besar. Hanya gerakan kecil yang hampir tidak terlihat, seperti seseorang yang sedang berusaha menahan tangis dengan seluruh kekuatan tubuhnya. Setiap kali napasnya masuk, bahunya terangkat sedikit. Ketika napas itu keluar, bahunya turun perlahan, lalu kembali menegang. Tangannya masih menutupi wajah.

Laras menatapnya beberapa saat.

Ada rasa perih yang muncul di dada perempuan itu, tetapi tidak sampai membuatnya ingin menangis. Yang muncul justru keinginan sederhana untuk memberi Raka sesuatu yang mungkin tidak pernah ia dapatkan selama ini.

Bukan nasihat.

Bukan solusi.

Bukan penjelasan.

Hanya rasa aman.

Laras menarik napas pelan.

"Raka..."

Suara itu sangat lembut.

Raka tidak menjawab.

Laras tidak mengulanginya.

Ia hanya menunggu.

Beberapa saat kemudian, Raka akhirnya berkata dengan suara yang nyaris tidak terdengar, "Aku... jelek banget sekarang."

Laras menunduk sedikit.

"Aku tahu kamu lagi nggak baik-baik aja."

"Jangan lihat aku."

"Aku nggak lihat."

Jawaban itu sederhana, tetapi membuat Raka terdiam.

Laras benar-benar tidak berusaha memaksanya mengangkat wajah. Tatapannya tetap rendah, seolah-olah Raka memiliki hak penuh untuk menyembunyikan dirinya selama yang ia butuhkan. Ada sesuatu yang begitu biasa dari sikap itu hingga justru terasa asing bagi Raka.

Orang-orang biasanya ingin melihat.

Ingin memastikan.

Ingin tahu.

Ingin mendapatkan penjelasan.

Laras tidak.

Raka menggigit bibir bawahnya yang kering. Ia merasakan perih ketika giginya menyentuh bagian kulit yang pecah, tetapi rasa sakit kecil itu justru membuat pikirannya sedikit lebih sadar terhadap ruangan di sekitarnya.

Laras masih ada.

Tidak pergi.

Tidak mengeluh.

Tidak mengatakan bahwa dirinya menyusahkan.

Tidak mengatakan bahwa dia harus kembali ke kampus besok.

Tidak mengatakan bahwa hidup harus terus berjalan.

Raka tiba-tiba merasa lelah sekali.

Bukan hanya lelah di tubuh.

Lelah yang terasa seperti sudah menumpuk di belakang tulang rusuk selama bertahun-tahun.

Laras memperhatikan gerakan kecil tangan Raka yang mulai kehilangan tenaga. Pemuda itu masih memeluk lututnya, tetapi pelukannya tidak lagi sekuat beberapa menit lalu. Kepalanya sedikit miring, rambutnya jatuh menutupi dahi dan sebagian wajah.

Laras menatap rambut itu.

Tangannya terangkat sedikit.

Kemudian berhenti di udara.

Ada keraguan.

Ia tidak ingin membuat Raka merasa terancam. Sentuhan adalah sesuatu yang personal. Terlebih lagi bagi seseorang yang sedang berada dalam kondisi seperti Raka. Laras tahu bahwa kebaikan pun bisa terasa seperti pelanggaran apabila diberikan tanpa memperhatikan batas orang lain.

Ia menurunkan tangannya lagi.

Beberapa detik berlalu.

Kemudian Raka mengembuskan napas panjang yang bergetar. Kepalanya semakin tertunduk hingga dagunya hampir menyentuh lutut.

Laras kembali mengangkat tangan.

Kali ini lebih perlahan.

"Raka," katanya lirih.

Raka tidak mengangkat kepala.

"Aku boleh?"

Pertanyaan itu menggantung di dalam kamar.

Raka tidak langsung mengerti maksudnya. Ia mengerjapkan mata di balik lengannya. Ketika akhirnya memahami bahwa Laras sedang meminta izin untuk mendekat, tenggorokannya bergerak menelan ludah.

Tidak ada kata yang keluar.

Namun ia tidak menjauh.

Dan bagi Laras, itu sudah cukup.

Tangannya bergerak perlahan melewati jarak di antara mereka. Tidak terburu-buru. Tidak tiba-tiba. Sampai akhirnya telapak tangan Laras menyentuh bagian atas kepala Raka.

Raka membeku.

Seluruh tubuhnya seakan lupa bagaimana caranya bergerak.

Sentuhan itu begitu sederhana.

Lihat selengkapnya