Makasih Sudah Bertahan

Diva Amane
Chapter #40

Isakan yang Mengguncang

Tangisan itu pada awalnya bahkan tidak terdengar seperti tangisan. Ia hanya berupa suara patah yang tertahan jauh di dalam tenggorokan Raka, seperti sesuatu yang selama bertahun-tahun dipaksa diam akhirnya mencari jalan keluar melalui celah paling kecil. Tubuhnya membungkuk semakin dalam di atas lutut, kedua lengannya melingkar rapat di sekeliling kaki sendiri, sementara wajahnya tenggelam di balik lipatan siku. Bahunya bergetar sekali, lalu berhenti, sebelum getaran kedua datang lebih keras dan membuat napasnya tersendat. Di kamar yang hampir sepenuhnya gelap itu, suara detik jam dinding tua terdengar jelas di antara jeda-jeda napasnya yang kacau, seolah waktu sengaja memperlambat dirinya untuk menyaksikan sesuatu yang selama ini tidak pernah berani ditunjukkan Raka kepada siapa pun.

Laras masih berada di tempat yang sama. Ia duduk di lantai di samping ujung kasur, tubuhnya sedikit menghadap Raka, satu tangannya masih bertumpu lembut di atas kepala laki-laki itu. Tidak ada gerakan mendadak, tidak ada wajah yang berubah karena terkejut, tidak ada tatapan yang membuat Raka merasa dirinya sedang diperiksa. Jemari Laras hanya bergerak perlahan di antara rambutnya, dengan ritme yang sama seperti beberapa menit sebelumnya, seakan dunia di luar kamar nomor empat tidak sedang memiliki kepentingan apa pun malam itu. Cahaya lampu teras yang menyelinap dari celah pintu hanya membentuk garis tipis di lantai semen, sementara selebihnya adalah hitam yang pekat, tempat napas dua orang terdengar lebih jelas daripada apa pun.

Raka menelan ludah, tetapi tenggorokannya terasa terlalu kering. Ia ingin menghentikan semuanya. Ingin mengangkat wajah dan berkata bahwa dia baik-baik saja, bahwa Laras sebaiknya pulang, bahwa tidak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Kalimat-kalimat semacam itu sudah begitu akrab baginya sampai-sampai tubuhnya sering mengucapkannya bahkan sebelum pikirannya sempat memutuskan. Namun malam itu, mulutnya tidak mampu bekerja sama dengan kebiasaan tersebut. Begitu bibirnya terbuka, yang keluar hanya suara serak dan patah.

"Aku..."

Suaranya menghilang.

Raka menarik napas, tetapi napas itu justru berubah menjadi isakan yang lebih keras. Dadanya berkontraksi tiba-tiba, membuat seluruh tubuhnya membungkuk. Ia menekan wajah lebih dalam ke lutut, berusaha memaksa suara itu kembali masuk ke dalam dirinya, tetapi tubuhnya sudah tidak mau menurut. Satu isakan lolos, lalu disusul yang lain. Kemudian tangisan itu pecah.

Bukan tangisan yang rapi. Bukan tangisan yang bisa ditahan dengan menutup mulut menggunakan telapak tangan atau memalingkan wajah agar orang lain tidak melihat air mata. Suara yang keluar dari dada Raka terdengar berantakan, berat, dan nyaris seperti raungan kecil seseorang yang terlalu lama menahan sakit. Tenggorokannya mengeluarkan suara serak setiap kali napasnya terputus, dan setiap tarikan napas berikutnya terasa seperti perjuangan baru. Bahunya terguncang hebat sampai tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan, tetapi Laras tetap berada di sana, membiarkan telapak tangannya mengikuti gerakan kepala Raka tanpa berusaha menghentikannya.

"Maaf..." Raka akhirnya berhasil berkata di sela tangisnya.

Laras tidak langsung menjawab.

"Maaf..." ulangnya, kali ini lebih pelan. "Aku... aku nggak bisa..."

Kalimat itu kembali pecah menjadi isakan. Raka mencengkeram lututnya sendiri sampai ruas-ruas jarinya memutih, seolah dengan begitu ia bisa menahan tubuhnya agar tidak sepenuhnya runtuh. Selama bertahun-tahun, ia selalu menganggap menangis sebagai sesuatu yang harus dilakukan diam-diam. Ketika masih sekolah, ia belajar mengunci pintu kamar sebelum membiarkan air mata jatuh. Ia belajar membasuh wajah sebelum keluar rumah. Ia belajar tertawa ketika seseorang mengejek tubuhnya, mengangguk seolah semuanya tidak penting, lalu menyimpan rasa sakit itu di tempat yang tidak bisa dijangkau siapa pun.

Tetapi malam ini, tempat itu tidak lagi cukup luas untuk menampung semuanya.

"Aku capek..."

Dua kata itu keluar dengan suara yang hampir tidak terdengar.

Laras menundukkan kepalanya sedikit. "Aku tahu."

Jawaban sederhana itu justru membuat tangisan Raka semakin keras.

Ia tidak tahu kenapa. Mungkin karena selama ini tidak ada yang menjawab seperti itu. Orang-orang selalu meminta penjelasan sebelum mempercayai lelahnya. Kalau dia mengatakan capek, akan ada yang bertanya karena apa. Kalau dia mengatakan sakit, akan ada yang membandingkan dengan orang lain yang lebih menderita. Kalau dia mengatakan kecewa, akan ada yang mengatakan bahwa seharusnya dia lebih dewasa. Seolah setiap perasaan harus terlebih dahulu melewati meja pemeriksaan sebelum dianggap sah.

Sekarang seseorang hanya berkata, aku tahu.

Raka menggeleng-gelengkan kepala di balik lengannya. "Aku capek banget..."

Tangannya bergerak tanpa ia sadari. Mungkin karena tubuhnya mencari sesuatu untuk berpegangan, mungkin karena naluri paling sederhana seseorang yang sedang tenggelam. Jemarinya meraba lantai sebentar, kemudian menemukan ujung kain baju Laras. Ia mencengkeramnya.

Kuat.

Begitu menyadari apa yang dilakukannya, Raka langsung hendak melepaskan tangan. Namun sebelum jemarinya sempat terbuka, tubuhnya kembali terguncang oleh tangisan. Cengkeraman itu justru semakin kuat. Kain di antara jarinya kusut, tertarik sampai membentuk lipatan-lipatan kecil.

"Maaf," katanya lagi dengan suara serak. "Maaf... aku..."

"Nggak apa-apa."

"Tapi aku narik baju kamu..."

"Nggak apa-apa, Rak."

Raka diam beberapa detik. Napasnya masih tersengal-sengal, tetapi cengkeramannya tidak berubah. Laras tidak menarik bajunya kembali. Ia tidak mengatakan bahwa Raka terlalu kuat, tidak memintanya berhenti, bahkan tidak menggeser tubuhnya agar kain itu terlepas dari tangan Raka. Ia membiarkannya.

Dan bagi Raka, hal sesederhana itu terasa hampir tidak masuk akal.

Ia kembali menangis.

"Aku dulu..." katanya dengan susah payah. "Aku dulu sering dibilang si pendek."

Laras tetap mengusap kepalanya.

"Di sekolah... mereka ketawa kalau aku berdiri sebelahan sama orang lain." Raka menarik napas yang tersendat. "Kadang mereka bilang aku kayak anak SMP. Kadang bilang... kalau aku jalan sama cewek, orang pasti ngira dia kakakku."

Tangannya semakin kuat mencengkeram kain Laras.

"Aku ketawa waktu itu."

Suaranya bergetar.

"Aku selalu ketawa."

Ada jeda panjang sebelum ia melanjutkan.

"Padahal sakit."

Kata terakhir itu hampir tidak terdengar. Namun justru karena begitu kecil, ia terasa lebih berat daripada semua kalimat sebelumnya.

Raka menekan wajahnya semakin dalam. Air mata merembes melewati lengan dan jatuh ke celana yang sudah kusut. Ia bahkan tidak lagi peduli apakah Laras melihatnya. Malu masih ada, tentu saja. Malu itu begitu melekat pada dirinya sampai terasa seperti lapisan kulit kedua. Tetapi untuk pertama kalinya, rasa malu itu tidak cukup kuat untuk menghentikan rasa sakit yang sedang tumpah.

"Aku pernah suka sama seseorang..." Raka berkata setelah tangisnya sedikit mereda. "Terus aku pikir... kalau aku baik sama dia, kalau aku bisa bantu dia, kalau aku bisa selalu ada... mungkin..."

Ia terdiam.

"Mungkin apa?" tanya Laras sangat pelan.

Raka menggeleng.

"Mungkin aku jadi layak."

Laras tidak menyela.

Raka mengeluarkan tawa kecil yang langsung berubah menjadi isakan. "Konyol, ya?"

"Tidak."

"Aku selalu mikir begitu." Ia mengusap hidung dengan punggung tangan. "Kalau aku nggak bisa punya wajah yang bagus, setidaknya aku harus berguna. Kalau aku nggak tinggi, setidaknya aku harus pintar. Kalau aku nggak menarik, setidaknya aku harus bisa diandalkan."

Napasnya kembali pecah.

"Jadi aku bantu semuanya."

Potongan-potongan kenangan mulai keluar seperti barang-barang lama yang ditumpahkan dari sebuah lemari.

"Ngantar obat. Benerin laptop. Nungguin chat. Datang kalau dipanggil. Dengerin cerita dia. Jadi tempat dia marah. Jadi tempat dia minta tolong." Suara Raka semakin serak. "Aku pikir... kalau aku terus berguna, suatu hari dia bakal lihat aku sebagai seseorang."

Ia tertawa lagi, tetapi kali ini terdengar menyakitkan.

"Ternyata aku cuma badut."

Laras mengusap rambutnya sekali lagi.

Raka memejamkan mata.

Lihat selengkapnya