Makasih Sudah Bertahan

Diva Amane
Chapter #41

Meredanya Hujan dalam Kamar

Isakan Raka perlahan kehilangan bentuknya. Yang semula keluar seperti suara patah yang dipaksa melewati tenggorokan, kini tinggal hela napas panjang yang tersendat-sendat, kadang berhenti beberapa detik sebelum keluar lagi dengan getaran kecil di ujungnya. Dadanya masih naik turun dengan cepat, tetapi tidak lagi diguncang ledakan tangis seperti beberapa menit sebelumnya. Wajahnya tetap tersembunyi di balik lipatan kedua lengannya, lututnya masih dipeluk rapat, sementara jari-jarinya yang sejak tadi mencengkeram kain baju Laras mulai kehilangan tenaga. Di kamar nomor empat yang gelap itu, suara tangis yang selama bertahun-tahun seolah tidak pernah mendapatkan tempat akhirnya berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih sederhana: napas seorang manusia yang sedang mencoba kembali ke dalam tubuhnya sendiri.

Laras tidak mengatakan apa-apa. Tangannya masih berada di atas kepala Raka, jemarinya bergerak pelan menyusuri rambut yang kusut, mengusap dari bagian atas kepala menuju belakang dengan ritme yang sama seperti sebelumnya. Tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat, dan tidak pernah berhenti mendadak seolah-olah dia takut perubahan sekecil apa pun akan membuat Raka kembali terlempar ke dalam badai yang baru saja surut. Sesekali telapak tangannya berhenti sepersekian detik di atas rambut Raka, lalu kembali bergerak dengan lembut. Laras bisa merasakan getaran kecil yang masih tersisa di tubuh lelaki di sampingnya, tetapi dia tidak berusaha menghilangkannya dengan paksa. Ada beberapa hal yang memang harus dibiarkan selesai dengan waktunya sendiri.

Raka menarik napas panjang, tetapi napas itu kembali tersangkut di tengah jalan. Tenggorokannya terasa panas dan kering, dadanya nyeri seperti baru saja digunakan untuk berlari jauh, dan kepalanya berat sampai-sampai dia tidak yakin mampu mengangkatnya. Namun, di balik semua rasa sakit fisik itu, ada sesuatu yang aneh. Sesuatu yang selama beberapa hari terakhir tidak pernah dia rasakan. Dadanya tidak lagi dipenuhi tekanan yang membuatnya sulit bernapas setiap kali teringat suara Anin, komentar orang-orang, atau bayangan dirinya sendiri di depan cermin. Masih ada luka, tentu saja. Masih ada malu. Masih ada rasa takut. Tetapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, semua itu tidak sedang berteriak di dalam kepalanya.

Dia hanya lelah.

Dan entah mengapa, rasa lelah itu terasa jauh lebih ringan daripada rasa sakit yang selama ini dia kira harus dipikul sendirian.

Jari Raka yang sejak tadi menggenggam kain baju Laras akhirnya bergerak. Perlahan, hampir seperti orang yang baru sadar tangannya berada di tempat yang bukan miliknya, dia melepaskan satu demi satu jarinya dari kain tersebut. Ada bekas kerutan kecil pada baju Laras di tempat yang tadi dicengkeramnya. Raka menatapnya dalam remang-remang yang nyaris tidak ada, lalu segera menundukkan kepala lagi. Rasa malu tiba-tiba datang menghantam setelah gelombang tangisnya mereda.

Astaga.

Dia baru sadar apa yang sudah dilakukannya.

Dia menangis di depan Laras.

Bukan sekadar menangis. Dia menangis seperti anak kecil yang kehilangan seluruh kemampuan untuk menjaga dirinya sendiri. Dia mencengkeram baju orang yang bahkan belum lama dikenalnya, menyebut berbagai hal yang selama ini bahkan tidak sanggup dia ucapkan kepada dirinya sendiri, lalu membiarkan tubuhnya hancur begitu saja di hadapan perempuan itu.

Raka menelan ludah yang terasa pahit. "Maaf..." Suaranya begitu kecil sampai nyaris hilang di udara. Tenggorokannya serak, seperti setiap kata harus melewati luka sebelum berhasil keluar. "Bajumu..."

Laras menundukkan pandangan ke bagian bajunya yang kusut, kemudian mengangkat wajah kembali. Dalam gelap, senyumnya tidak benar-benar terlihat, tetapi nada suaranya terdengar seperti seseorang yang tersenyum.

"Nggak apa-apa."

Raka mengusap hidung dengan punggung tangannya. "Aku tadi..."

"Nggak apa-apa, Rak."

"Aku berantakan banget."

Laras diam sebentar. Tangannya masih berada di kepala Raka. "Aku tahu."

Raka terdiam.

Jawaban itu begitu sederhana sampai membuatnya bingung.

Bukan nggak kok. Bukan kamu nggak berantakan. Bukan pula kalimat penghiburan yang berusaha menghapus kenyataan bahwa dirinya memang sedang berada di titik paling buruk dalam hidupnya. Laras mengakuinya begitu saja. Dia tahu Raka berantakan, dan rupanya pengetahuan itu tidak membuatnya pergi.

Raka menundukkan kepala lebih dalam.

"Harusnya aku malu," gumamnya.

"Kalau kamu mau malu, nggak apa-apa."

Raka menoleh sedikit, tetapi tidak sampai berani menatap Laras.

"Tapi kamu nggak perlu menghukum diri sendiri karena tadi nangis."

Kalimat itu membuat Raka kembali diam.

Laras menarik tangannya dari kepala Raka untuk beberapa saat. Bukan karena ingin menjauh, melainkan karena tubuhnya sendiri mulai terasa kaku setelah duduk dalam posisi yang sama cukup lama. Dia menggeser tubuh sedikit, kemudian menyandarkan punggungnya ke dinding di belakang mereka. Permukaan dinding itu dingin, kasar, dan terasa lembap menembus kain bajunya, tetapi Laras tidak mengeluh. Dia membiarkan kedua tangannya beristirahat di pangkuan, lalu menarik napas pelan.

Tidak ada kecanggungan.

Tidak ada tatapan yang menuntut penjelasan.

Tidak ada pertanyaan seperti kenapa kamu begini?, apa yang sebenarnya terjadi?, atau kenapa kamu sampai mengurung diri?

Laras hanya duduk di sana.

Dan bagi Raka, justru itulah yang membuat keberadaannya terasa begitu nyata.

Selama tiga hari terakhir, kamar itu telah menjadi tempat di mana waktu kehilangan bentuk. Pagi, siang, sore, malam, semuanya terasa sama karena tirai dan kain hitam yang menutup jendela membuat cahaya tidak pernah benar-benar masuk. Makanan yang sempat dia beli sebelum mengurung diri sudah habis sejak hari pertama, tetapi setelah itu dia bahkan tidak memiliki keinginan untuk keluar. Air minum tinggal sedikit. Udara kamar menjadi pengap, bercampur dengan aroma minyak angin yang menempel di bantal, keringat tubuh, dan bau kain yang terlalu lama tidak terkena udara luar.

Selama tiga hari, kesunyian itu terasa seperti lubang.

Raka berbaring di kasur dan menatap langit-langit yang tidak terlihat. Dia mendengar suara motor lewat gang, pintu kamar tetangga dibuka, orang-orang tertawa di luar, suara langkah kaki, kadang suara seseorang memanggil temannya dari ujung lorong. Dunia tetap berjalan sementara dirinya seperti tertinggal di suatu tempat yang tidak memiliki pintu keluar.

Tetapi malam ini berbeda.

Masih kamar yang sama.

Masih lantai semen yang dingin.

Masih dinding yang kusam.

Masih udara yang belum sepenuhnya segar.

Namun ada Laras.

Seseorang yang tidak mencoba menyeretnya keluar dari kegelapan dengan paksa.

Seseorang yang justru bersedia duduk di dalamnya.

Raka memejamkan mata. Ada rasa hangat yang aneh di tengah dadanya, begitu asing sampai dia tidak tahu harus menyebutnya apa. Selama bertahun-tahun dia mengira satu-satunya cara agar orang mau mempertahankannya adalah dengan menjadi berguna. Dia harus bisa memperbaiki laptop. Harus bisa mengantar sesuatu. Harus bisa membantu tugas. Harus bisa menjadi pendengar. Harus bisa memberikan jawaban. Harus bisa menjadi seseorang yang menyenangkan untuk diajak bicara. Harus punya sesuatu yang bisa diberikan supaya keberadaannya memiliki alasan.

Kalau tidak berguna, lalu apa yang tersisa dari dirinya?

Pertanyaan itu sudah terlalu lama tinggal di kepalanya sampai dia tidak lagi menyadari bahwa pertanyaan tersebut telah berubah menjadi hukum hidup.

Anin hanya memperkuatnya.

Ketika Anin membutuhkan sesuatu, Raka merasa dibutuhkan. Ketika pesan masuk dan namanya muncul di layar, jantungnya berdebar bukan hanya karena rasa suka, tetapi karena ada kepastian kecil bahwa keberadaannya masih punya fungsi. Dia datang ketika diminta. Mengantar obat ketika Anin sakit. Membantu ketika laptop bermasalah. Menjadi tempat bertanya ketika ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Semua itu dia lakukan tanpa banyak berpikir karena jauh di dalam dirinya ada keyakinan bahwa kalau dia berhenti menjadi orang yang berguna, Anin akan berhenti melihatnya.

Dan ketika akhirnya dia memberanikan diri mengatakan perasaannya, semua yang dia kira telah dibangun selama ini runtuh dalam satu percakapan.

Bukan karena Anin tidak mencintainya.

Melainkan karena Raka merasa dirinya bahkan tidak layak untuk dicintai.

Tiga hari terakhir dia menghabiskan waktu dengan mencoba mencari kesalahan pada dirinya sendiri. Wajahnya. Tubuhnya. Tingginya. Cara bicaranya. Caranya berpakaian. Semua menjadi bahan dakwaan yang tidak pernah selesai. Dia mengingat kembali berbagai penolakan yang terjadi sejak sekolah, ejekan tentang tinggi badan, tatapan orang, komentar yang kadang disampaikan seperti candaan tetapi menempel jauh lebih lama daripada yang seharusnya.

Si pendek.

Dua kata sederhana.

Tetapi bagi Raka, dua kata itu seperti paku yang dipukul berulang kali ke tempat yang sama.

Dia pernah berusaha tertawa ketika mendengarnya.

Pernah pura-pura tidak peduli.

Pernah membalas dengan candaan.

Pernah mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa orang-orang hanya bercanda.

Namun tubuh manusia rupanya memiliki ingatan yang lebih jujur daripada mulut.

Raka mengembuskan napas panjang.

"Aku capek," katanya pelan.

Laras menoleh.

Raka tidak melihatnya.

"Aku tahu."

Lihat selengkapnya