Malam sudah jauh melewati jam ketika kebanyakan penghuni kos mulai mematikan lampu kamar masing-masing. Gang di luar bangunan hanya sesekali dilintasi suara motor yang kemudian menghilang di ujung jalan, meninggalkan kesunyian yang kembali menutup seluruh pemukiman. Di dalam kamar nomor empat, lampu tetap mati. Hanya sedikit cahaya dari jendela yang terbuka selebar telapak tangan, bercampur dengan pantulan samar lampu teras dari celah pintu, cukup untuk membuat bentuk benda-benda di dalam kamar terlihat seperti bayangan yang belum selesai. Raka dan Laras duduk bersila berhadapan di atas lantai semen, dipisahkan oleh bungkusan makanan yang sudah hampir kosong dan botol air mineral yang tergeletak miring di dekat kaki Raka. Setelah tangisan panjang yang membuat tubuhnya lemas, Raka seharusnya tidur, tetapi ada sesuatu di dalam dadanya yang justru mulai bergerak, seperti pintu lama yang selama bertahun-tahun dikunci dari dalam dan malam ini perlahan menemukan keberanian untuk dibuka.
Raka menggosok wajahnya dengan kedua telapak tangan. Kulit di sekitar matanya masih panas dan bengkak, sementara tenggorokannya terasa kasar setiap kali dia menelan. Rambutnya berantakan akibat usapan Laras berkali-kali, dan untuk pertama kalinya dia tidak berusaha merapikannya. Biasanya, bahkan ketika sendirian di kamar, dia masih memiliki kebiasaan melihat pantulan wajahnya di layar ponsel lalu membetulkan posisi rambut atau kerah baju sebelum keluar. Malam ini ponselnya tergeletak dalam keadaan mati di samping kasur, dan Raka tidak memiliki tenaga untuk peduli pada bagaimana wajahnya terlihat. Dia menarik napas, menatap lantai beberapa detik, lalu mengangkat mata kepada Laras.
"Aku mau cerita."
Laras mengangguk pelan. "Aku dengerin."
Hanya itu.
Tidak ada, cerita apa?
Tidak ada, kamu yakin?
Tidak ada pula ekspresi penasaran yang membuat Raka merasa sedang membuka sesuatu untuk diperiksa. Laras hanya menunggu, punggungnya bersandar pada sisi kasur, kedua tangannya bertumpu santai di pangkuan. Raka menatap wajahnya cukup lama sebelum kembali menunduk. Ada rasa takut yang masih tersisa, tetapi berbeda dari sebelumnya. Dulu rasa takut itu membuatnya menutup pintu, mematikan lampu, dan menghilang dari semua orang. Sekarang rasa takut itu justru membuatnya ingin bicara, seolah-olah ada bagian dari dirinya yang sudah terlalu lelah untuk terus membawa semuanya sendirian.
"Aku sebenarnya..." Suaranya patah di awal kalimat. Raka berdeham, tetapi suara berikutnya tetap parau. "Aku sebenarnya nggak cuma sakit karena Anin."
Laras tidak bergerak.
"Aku tahu."
Raka mengernyit. "Kamu tahu?"
"Bukan tahu semuanya. Maksudku, aku tahu mungkin ada sesuatu yang lebih panjang dari kejadian itu."
Raka diam. Jawaban tersebut terasa aman karena Laras tidak berpura-pura tahu apa yang tidak diketahuinya. Dia tidak mengklaim memahami seluruh hidup Raka hanya karena melihatnya menangis malam ini. Justru karena itulah Raka merasa sedikit lebih berani.
"Jauh sebelum Anin," katanya akhirnya, "aku udah ngerasa kayak gini."
Jarinya saling mengait di atas paha.
"Kayak... ada yang salah sama aku."
Laras menatapnya.
Raka menarik napas.
"Waktu sekolah, aku udah sering diejek soal badan."
Dia berhenti sebentar. Ingatan itu datang begitu cepat sehingga dadanya kembali terasa sesak. Bukan satu kejadian tertentu yang muncul, melainkan potongan-potongan kecil yang selama bertahun-tahun menumpuk menjadi satu suara panjang. Lorong sekolah dengan lantai yang licin setelah dipel, suara sepatu berlari di tangga, meja kelas yang penuh coretan, suara teman-teman yang tertawa ketika dia berdiri di depan kelas, dan tubuhnya sendiri yang selalu terasa terlalu kecil ketika berada di antara anak-anak lelaki lain. Ada hari-hari ketika dia pulang sambil pura-pura tidak mendengar apa pun, lalu mengunci diri di kamar dan berdiri di depan cermin terlalu lama.
"Si pendek," ucap Raka pelan.
Kata itu terdengar begitu sederhana di dalam kamar.
Namun setelah mengucapkannya, rahang Raka mengeras.
"Mereka manggil aku begitu. Kadang bercanda, kadang beneran. Kadang aku ikut ketawa biar nggak keliatan sakit hati." Dia menatap telapak tangannya. "Aku bahkan pernah mikir, mungkin kalau aku ketawa juga, berarti aku nggak punya masalah."
Laras tetap diam.
"Tapi ternyata punya."
Raka mengeluarkan tawa kecil yang hambar.
"Lucu ya? Orang lain mungkin lupa lima menit kemudian. Aku malah bawa sampai sekarang."
Laras tidak mengatakan bahwa itu tidak lucu. Dia tidak perlu. Cara matanya memandang Raka sudah cukup untuk menunjukkan bahwa dia mendengar setiap kata yang keluar.
Raka mengusap hidungnya.
"Terus ada tahun 2016."
Suasana kamar seperti berubah sedikit.
Raka menelan ludah.
"Aku nggak tahu harus nyebutnya apa. Waktu itu aku masih sekolah. Ada penolakan yang..." Dia berhenti, mencari kata yang tepat. "Yang sampai sekarang masih kebawa."
Tangannya mulai gemetar lagi.
"Orang itu nolak aku. Ya, sebenarnya orang boleh nolak siapa pun. Aku ngerti. Aku nggak pernah merasa seseorang wajib suka sama aku." Raka menghela napas. "Masalahnya bukan cuma ditolak. Cara aku ditolak waktu itu bikin aku ngerasa seolah-olah fisikku memang sesuatu yang memalukan."
Dia menunduk semakin dalam.
"Aku ingat setelah itu aku pulang dan berdiri di depan kaca. Lama banget. Aku lihat badan sendiri, muka sendiri, tinggi sendiri. Terus aku mikir..." Raka berhenti.
Laras menunggu.
"Apa memang sesederhana itu?"
Suara Raka hampir menjadi bisikan.
"Kalau aku lebih tinggi, lebih ganteng, lebih normal dilihat orang... apa semuanya bakal beda?"
Pertanyaan itu menggantung.
Raka tersenyum getir.
"Dan sejak saat itu aku mulai percaya sama pikiran itu."
Laras masih belum menyela.
Raka menarik lututnya sedikit lebih dekat ke tubuh.
"Aku mulai ngelihat orang lain sebagai pembanding. Cowok yang tinggi. Cowok yang mukanya enak dilihat. Cowok yang kalau berdiri di sebelah cewek nggak bikin orang mikir aneh." Dia menunduk. "Aku kalau berdiri di samping perempuan sering merasa kayak... bukan pasangan. Kayak anak kecil."
Kata terakhir itu keluar dengan susah payah.
Raka menatap ke arah jendela.
"Coba kamu bayangin hidup dengan pikiran kayak gitu terus."
Laras tidak menjawab.
"Setiap kali ada cewek berdiri dekat aku, aku mikir orang-orang bakal lihat. Kalau aku jalan sama seseorang, aku mikir orang bakal bandingin. Kalau ada foto bareng, aku takut komentar orang." Raka mengusap wajahnya lagi. "Aku sampai terbiasa membungkuk sedikit. Kadang nggak sadar. Kayak tubuhku sendiri tahu aku malu sebelum otakku sadar."
Laras memperhatikan bahu Raka yang sedikit melengkung.
Gerakan itu memang ada.
Bukan sesuatu yang dibuat-buat.
Seolah tubuhnya telah belajar mengambil ruang sesedikit mungkin agar tidak terlalu mudah dilihat.
Raka tertawa kecil, tetapi suaranya bergetar.
"Dan lucunya, aku sebenarnya tahu itu nggak rasional."
Dia mengangkat satu jari.
"Aku tahu nilai manusia nggak ditentukan tinggi badan."
Jari kedua.
"Aku tahu penampilan bukan ukuran moral."
Jari ketiga.
"Aku tahu orang punya hak buat nggak suka sama aku."
Tangannya perlahan turun.
"Aku tahu semua itu."
Raka menatap Laras.
"Tapi tahu secara intelektual ternyata nggak bikin luka hilang."
Kalimat itu membuat Laras menundukkan kepala sebentar. Bukan karena ingin menghindari tatapan Raka, melainkan seperti sedang membiarkan kalimat tersebut benar-benar masuk sebelum memberi respons.
Raka melanjutkan.
"Makanya waktu kuliah, aku pikir... mungkin aku bisa kompensasi."
"Kompensasi?"
"Iya."
Raka mengangguk.
"Kalau aku nggak punya fisik yang bisa dibanggain, setidaknya aku harus punya sesuatu yang lain."
Dia menatap lantai.
"Makanya aku belajar banyak. Baca banyak. Ikut diskusi. Tapi aku juga takut kelihatan sok pintar. Aku benci orang yang ngomong seolah-olah paling tahu semuanya padahal belum tentu." Dia menghela napas. "Jadi aku selalu hati-hati. Kalau aku nggak punya pengalaman langsung soal sesuatu, aku nggak mau sok jadi ahli. Makanya waktu ada forum gender itu..."
Raka berhenti.
Laras tahu bagian itu.
"Aku nolak jadi pembicara karena aku sadar aku nggak punya pengalaman fenomenologis yang cukup," lanjut Raka. "Aku tahu aku bisa ngomong teori, bisa baca literatur, bisa diskusi. Tapi aku nggak mau berdiri di depan orang dan pura-pura tahu pengalaman yang bukan milikku."
Dia tersenyum samar.