Pukul tujuh pagi, Raka terbangun bukan karena suara alarm, melainkan karena cahaya tipis yang menyelinap melewati celah tirai dan jatuh tepat di sisi wajahnya. Untuk beberapa detik dia hanya berbaring tanpa bergerak, menatap langit-langit kamar yang masih samar dalam penglihatannya. Tubuhnya terasa berat seperti habis melewati demam panjang, tetapi ada sesuatu yang berbeda di dalam dadanya. Sesuatu yang selama berhari-hari terasa seperti batu besar, menekan tulang rusuknya dari dalam, seolah-olah pagi itu telah bergeser beberapa sentimeter menjauh. Raka menarik napas panjang, lalu membiarkannya keluar perlahan, dan untuk pertama kalinya sejak dia mengunci diri di kamar itu, napasnya tidak terasa seperti pekerjaan yang harus dipaksakan.
Ingatan tentang malam sebelumnya datang sedikit demi sedikit. Pintu yang dibuka beberapa sentimeter, suara Laras dari balik kegelapan, tangan hangat di atas kepalanya, lalu tangis yang bahkan sampai sekarang membuat tenggorokannya terasa kasar. Raka memejamkan mata rapat-rapat ketika mengingat betapa berantakannya dirinya di depan perempuan itu. Ada bagian dalam dirinya yang masih merasa malu, ingin menutupi wajah dengan bantal dan berpura-pura bahwa semua itu tidak pernah terjadi, tetapi ada bagian lain yang justru tidak ingin menghapus satu detik pun dari malam tersebut. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang bahkan tidak bisa dia hitung lagi, Raka menangis di hadapan seseorang tanpa harus segera meminta maaf karena telah merepotkan. Dan yang paling asing dari semuanya adalah kenyataan bahwa setelah dia menunjukkan bagian dirinya yang paling buruk, Laras tidak pergi.
Raka bangkit perlahan dari kasur. Lututnya sempat terasa lemas ketika kedua telapak kakinya menyentuh lantai semen yang dingin, membuatnya berpegangan pada sisi kasur beberapa saat. Kamar itu masih menyimpan udara pengap dari hari-hari sebelumnya. Bau minyak angin, kain yang lama tidak dicuci, dan sisa aroma makanan yang kemarin dibawa Laras bercampur menjadi satu di udara. Raka memandang sekeliling dengan mata yang baru menyadari betapa kacau ruangan itu. Gelas plastik kosong tergeletak di dekat meja, beberapa buku menumpuk tidak beraturan, kabel charger melingkar seperti ular di lantai, dan pakaian yang selama beberapa hari hanya dia biarkan tergeletak mulai menutupi sebagian ruang berjalan.
Dulu, melihat kekacauan semacam itu mungkin akan membuatnya semakin ingin kembali bersembunyi. Pagi itu tidak. Raka menghela napas, mengambil satu per satu gelas plastik yang berserakan, kemudian memasukkannya ke kantong sampah. Dia mengangkat pakaian dari lantai dan menumpuknya di satu sudut, merapikan buku-buku yang sebenarnya tidak pernah sempat dia baca selama berhari-hari, lalu melipat selimut yang kusut. Gerakannya masih lambat dan tubuhnya belum sepenuhnya pulih, tetapi ada semacam dorongan kecil di dalam dirinya yang berkata bahwa dia bisa memulai dari sesuatu yang sangat sederhana. Tidak perlu menjadi manusia baru pagi itu. Tidak perlu mendadak menjadi kuat. Cukup membuat satu sisi kamar terlihat sedikit lebih layak untuk ditinggali.
Setelah itu dia berjalan ke kamar mandi dengan membawa handuk. Air keran yang dingin menyentuh wajahnya dan membuatnya tersentak kecil. Raka menunduk, membasuh wajah beberapa kali, kemudian berdiri lama di depan cermin kecil yang permukaannya sudah sedikit buram. Mata sembap menatap balik dari pantulan itu. Kelopak matanya masih membengkak, lingkar hitam di bawah mata tampak lebih jelas daripada biasanya, dan rambutnya berantakan karena tidur. Wajah itu bukan wajah seseorang yang sudah sembuh. Raka bahkan tidak yakin apakah kata sembuh tepat untuk apa yang sedang dia alami.
Namun untuk pertama kalinya, dia juga tidak langsung memalingkan wajah dari cermin.
Dia menatap dirinya sendiri cukup lama.
"Yaudah," gumamnya lirih, hampir tidak terdengar di antara suara air dari keran. "Hari ini aja dulu."
Kalimat sederhana itu terasa aneh di lidahnya. Selama ini hidupnya seolah selalu menuntut bentuk yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Harus lebih pintar, lebih berguna, lebih sigap, lebih menyenangkan, lebih mampu menutupi rasa minder, lebih sanggup menerima candaan, lebih siap membantu orang lain sebelum diminta. Bahkan ketika hatinya sendiri sudah remuk, dia masih merasa harus punya alasan yang masuk akal untuk merasa sakit. Sekarang, untuk pertama kalinya, Raka mencoba memberi dirinya izin untuk sekadar menjalani satu hari.
Dia mengenakan kaus yang cukup bersih dan celana panjang sederhana. Rambutnya disisir dengan tangan, kemudian dia kembali ke kamar dan membuka sedikit tirai jendela. Cahaya pagi langsung masuk lebih banyak daripada biasanya. Raka sempat menyipitkan mata karena terbiasa dengan kegelapan selama berhari-hari, tetapi dia tidak menutup tirai lagi. Cahaya itu jatuh ke lantai, mengenai sisi meja, lalu bergerak perlahan seiring matahari naik.
Ada suara burung gereja dari atap kos.
Cuitannya ringan, bersahut-sahutan, seperti dunia di luar sana tidak pernah tahu bahwa beberapa hari terakhir Raka merasa hidupnya sudah berhenti.
Raka duduk di tepi kasur sambil mendengarkan suara itu. Untuk beberapa saat dia hanya membiarkan pagi bergerak di sekelilingnya.
Lalu terdengar ketukan.
Tok.
Tok.
Tok.
Tubuh Raka langsung menegang.
Dia menoleh ke arah pintu.
Ketukan itu tidak keras. Hanya tiga kali, dengan jeda yang cukup di antara masing-masing suara. Raka berdiri perlahan. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat, tetapi tidak seperti kepanikan yang dia rasakan ketika mendengar suara orang lain selama beberapa hari terakhir. Ada sesuatu pada pola ketukan itu yang membuat pikirannya segera mengarah pada satu nama.
Dia melangkah menuju pintu.
Tok.
Tok.
Kali ini terdengar suara dari balik pintu.
"Raka?"
Raka berhenti tepat di depan pintu.
Suara Laras.
Ada sesuatu yang hangat bergerak di dadanya, begitu sederhana sampai dia sendiri hampir tidak percaya. Kemarin malam perempuan itu datang ke kamar yang bahkan Raka sendiri tidak sanggup tinggali dengan layak. Dia melihatnya menangis, melihatnya gemetar, mendengar semua hal yang selama ini bahkan Raka tidak sanggup ucapkan kepada dirinya sendiri. Dan pagi ini, alih-alih bersikap seperti seseorang yang baru saja menyaksikan sisi paling memalukan dari hidup orang lain, Laras datang lagi.
Raka membuka kunci.
Ketika pintu terbuka, cahaya pagi dari teras langsung memenuhi pandangannya.
Laras berdiri di sana dengan rambut yang diikat sederhana dan pakaian kasual yang jauh lebih santai daripada ketika mereka berada di kampus. Di kedua tangannya ada dua bungkus nasi uduk yang masih hangat, masing-masing dibungkus kertas cokelat dan plastik bening. Aroma santan, bawang goreng, sambal, dan telur suwir segera menyelinap masuk ke kamar Raka yang masih berbau lembap.
Laras tersenyum.
"Pagi."
Raka hanya menatapnya beberapa detik.
"Pagi."
Mata Laras turun sebentar, memperhatikan wajah Raka yang masih sembap, lalu kembali ke matanya. Tidak ada ekspresi terkejut. Tidak ada tatapan iba yang membuat Raka merasa seperti benda rusak. Tidak ada pertanyaan tentang berapa lama dia tidur atau apakah dia masih menangis setelah Laras pulang tadi malam.
Laras hanya mengangkat kedua bungkus nasi itu sedikit.
"Aku beli dua."
Raka mengerutkan kening.
"Kenapa dua?"
"Karena kalau aku beli satu, aku harus tega lihat kamu makan sendirian."
Jawaban itu begitu ringan sampai Raka hampir tersenyum.
"Hari ini aku nggak yakin bisa habisin."
"Nggak harus habis."
Laras mengangkat bahu. "Tapi kalau habis, aku senang."
Raka menunduk sebentar, menyembunyikan senyum kecil yang akhirnya muncul di sudut bibirnya.
"Masuk?"
Laras menggeleng pelan dan menunjuk teras dengan dagunya.
"Di luar aja. Matahari bagus."
Raka mengikuti arah pandangnya. Teras kos itu tidak luas. Hanya beberapa ubin yang memanjang di depan kamar-kamar, dengan tembok kusam dan atap rendah yang menaungi sebagian besar area. Namun pagi itu sinar matahari jatuh hangat di atas ubin, membuat permukaannya terlihat keemasan. Beberapa burung gereja melompat di bagian atap seberang sebelum terbang kembali ketika seorang penghuni kos membuka pintu.
Raka memandang cahaya tersebut.
Kemudian dia mengangguk.
"Iya."
Mereka duduk di lantai teras, bersandar pada dinding dekat pintu kamar Raka. Laras menyerahkan satu bungkus nasi uduk kepadanya. Raka menerimanya dengan kedua tangan, lalu membuka plastiknya perlahan. Uap tipis keluar bersama aroma makanan yang sudah begitu lama tidak dia rasakan dengan benar. Telur balado, bihun, irisan mentimun, sambal, dan nasi gurih tersusun sederhana di dalam bungkus kertas itu.
Raka mengambil sendok plastik.
Dia baru menyadari bahwa tangannya masih sedikit gemetar.
Laras melihatnya, tetapi tidak berkomentar.
Sebaliknya, dia membuka bungkus makanannya sendiri dan berkata, "Aku tadi hampir salah beli."
"Kenapa?"
"Aku mau beli bubur."
Raka menatapnya.
"Terus?"
"Terus bapaknya bilang buburnya habis. Jadi aku bilang nasi uduk aja."
Raka mengangguk serius.
"Berarti ini bukan rencana."
"Ini improvisasi."
"Bagus."