Makasih Sudah Bertahan

Diva Amane
Chapter #44

Langkah Pertama Menatap Matahari

Minggu pagi datang tanpa suara yang berlebihan. Tidak ada alarm yang berulang-ulang berbunyi dari ponsel Raka, tidak ada suara langkah mahasiswa yang terburu-buru menuju kelas, tidak ada deru kendaraan yang biasanya memenuhi jalan depan kompleks kos sejak matahari belum terlalu tinggi. Yang terdengar hanya suara burung-burung kecil dari atap bangunan sebelah dan sesekali bunyi sapu lidi bergesekan dengan semen di halaman depan. Raka sudah terbangun sejak beberapa menit lalu, tetapi masih duduk di tepi kasur dengan kedua telapak kaki menyentuh lantai, membiarkan tubuhnya memahami pagi secara perlahan. Ada sesuatu yang berbeda ketika ia membuka mata hari itu. Kamar yang selama beberapa hari menjadi tempat persembunyian paling aman sekaligus paling menyakitkan tidak lagi terasa seperti ruang yang mengurungnya dari dunia, meskipun dinding-dinding kusam dan perabot sederhana di dalamnya masih berada di tempat yang sama.

Ia menunduk, memperhatikan kedua tangannya sendiri. Tangan yang beberapa hari lalu gemetar hebat ketika menggenggam kain baju Laras, tangan yang selama bertahun-tahun lebih sering digunakan untuk mengerjakan sesuatu bagi orang lain daripada menyentuh hidupnya sendiri. Jemarinya sekarang sudah tenang. Tidak sepenuhnya, memang, tetapi cukup tenang untuk membuatnya sadar bahwa ia masih berada di sini. Masih bernapas. Masih bisa bangun pagi. Masih bisa merasa lapar. Masih bisa mendengar burung berkicau di luar jendela tanpa langsung merasa bahwa suara dunia adalah sesuatu yang harus ia hindari. Kesadaran sederhana itu membuat Raka menarik napas panjang, lalu berdiri.

Ia berjalan menuju kamar mandi kecil di sudut kamar dan menyalakan keran. Air dingin mengenai wajahnya, membuat matanya yang masih sembap terasa sedikit perih. Ia mengusap wajah berkali-kali, kemudian menatap bayangannya di cermin kecil yang permukaannya mulai buram di bagian pinggir. Wajah yang menatap balik kepadanya masih tampak lelah. Ada lingkar gelap di bawah mata, rambutnya tidak serapi biasanya, dan sisa-sisa kekusutan beberapa hari terakhir masih tampak jelas. Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Raka tidak langsung mengalihkan pandangan dari pantulan itu. Ia hanya memandanginya beberapa detik, seolah sedang berkenalan kembali dengan seseorang yang terlalu lama ia benci.

"Ya udah," gumamnya pelan kepada bayangan sendiri. "Hari ini jangan ribut dulu."

Ia tidak tahu apakah kalimat itu ditujukan kepada dirinya atau kepada suara-suara lama di kepalanya. Mungkin keduanya.

Setelah mandi dan berganti pakaian, Raka merapikan kamar dengan gerakan yang sederhana. Ia melipat selimut, mengumpulkan bungkus makanan yang tersisa, membuka sedikit jendela agar udara bergerak lebih bebas, lalu mengembalikan buku-buku yang berserakan ke atas meja. Kegiatan itu sebenarnya tidak penting. Tidak ada yang akan memberinya nilai karena berhasil merapikan kamar pada Minggu pagi. Namun ada perasaan kecil yang muncul setiap kali satu benda kembali ke tempatnya, seakan-akan bagian tertentu dari dirinya juga sedang belajar menata ulang sesuatu yang selama ini berantakan.

Ketika ia selesai menyisir rambut, terdengar ketukan dari pintu.

Dua kali.

Raka berhenti.

Tangannya yang masih memegang sisir menggantung di udara. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, bukan karena takut seperti beberapa hari lalu, melainkan karena ia sudah tahu siapa yang kemungkinan besar berdiri di balik pintu itu.

Ketukan kedua terdengar lebih ringan.

"Rak?"

Suara Laras.

Ada sesuatu yang aneh dari cara suara itu memanggil namanya. Tidak mendesak. Tidak khawatir secara berlebihan. Hanya sebuah panggilan sederhana, seperti seseorang yang ingin memastikan bahwa orang di dalam masih bersedia membuka pintu.

Raka meletakkan sisir, menarik napas, lalu berjalan ke pintu.

Tangannya menyentuh gagang pintu.

Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri di sana.

Dulu, membuka pintu berarti membiarkan dunia masuk. Sekarang, untuk pertama kalinya, Raka mulai merasa bahwa membuka pintu mungkin juga berarti membiarkan dirinya keluar.

Ia memutar gagang pintu.

Pintu terbuka.

Laras berdiri di ambang dengan kaus sederhana berwarna terang dan celana panjang santai. Rambutnya diikat seadanya, beberapa helai jatuh di dekat pipinya. Tidak ada riasan berlebihan, tidak ada pakaian yang membuatnya terlihat seperti sedang menghadiri acara kampus. Di kedua tangannya terdapat dua bungkus nasi uduk yang masih hangat, masing-masing dibungkus kertas minyak dan plastik bening. Uap tipis masih terlihat keluar dari salah satu bagian yang sedikit terbuka.

Begitu melihat Raka, senyum Laras muncul.

"Selamat pagi."

Raka menatapnya sebentar.

"Pagi."

Laras mengangkat kedua bungkus makanan itu sedikit.

"Aku bawa sarapan."

Raka menatap makanan tersebut, kemudian menatap Laras lagi. "Dua?"

"Iya."

"Kenapa dua?"

"Karena kalau aku cuma bawa satu, nanti kamu bilang aku cuma datang buat ngasih makanan terus pulang."

Raka mengerutkan kening.

"Aku pernah bilang gitu?"

"Belum."

"Terus?"

Laras mengangkat bahu dengan senyum kecil. "Aku aja yang nyiapin kemungkinan."

Raka hampir tertawa. Hampir. Ujung bibirnya bergerak sedikit sebelum akhirnya ia menyerah dan membiarkan senyum kecil itu muncul.

Laras memperhatikan perubahan itu tanpa mengatakan apa-apa. Ia hanya menyerahkan salah satu bungkus nasi kepadanya.

"Nih."

Raka menerimanya.

Jari mereka bersentuhan sebentar.

Tidak ada musik. Tidak ada sesuatu yang dramatis. Hanya sentuhan singkat yang membuat Raka teringat pada malam ketika tangan Laras pertama kali menyentuh kepalanya di dalam kamar yang gelap. Bedanya, pagi ini ia tidak sedang menangis. Ia berdiri dengan rambut yang sudah disisir, wajah yang sudah dicuci, dan pintu kamar terbuka lebar di belakangnya.

Laras melirik ke dalam kamar.

"Kamarnya udah dibuka."

Raka mengikuti pandangannya.

"Iya."

"Jendelanya juga."

"Iya."

Laras tersenyum. "Bagus."

Satu kata itu terdengar sederhana, tetapi entah mengapa Raka merasa seperti baru saja diberi penghargaan untuk sesuatu yang bahkan belum pernah ia anggap sebagai pencapaian.

Mereka akhirnya keluar dari kamar.

Raka mengunci pintu, kemudian berdiri sebentar di depan kamar kosnya. Matahari pagi jatuh miring di lantai teras. Cahaya itu tidak terlalu terang, tetapi setelah berhari-hari hidup dalam kegelapan, tetap saja Raka secara refleks menyipitkan mata.

Dulu ia mungkin akan langsung kembali masuk.

Kali ini ia tidak.

Laras berdiri di sampingnya.

"Jalan sebentar, yuk."

Raka menoleh. "Ke mana?"

"Taman kampus."

"Hari Minggu?"

"Justru enak. Sepi."

Raka diam.

Laras tidak membujuk lebih jauh. Ia hanya berdiri di sana sambil menunggu. Tidak ada kalimat seperti kamu harus keluar, tidak ada nasihat panjang tentang pentingnya menghadapi dunia. Ia memberi Raka sesuatu yang selama ini jarang ia dapatkan dari orang lain, yaitu kesempatan untuk memutuskan sendiri.

Raka menatap jalan di depan kompleks kos. Matahari sudah naik sedikit lebih tinggi. Udara pagi membawa bau tanah, dedaunan, dan sisa aroma masakan dari rumah-rumah sekitar. Dunia tampak begitu biasa sampai hampir terasa tidak masuk akal bahwa beberapa hari sebelumnya ia yakin dunia sudah menjadi tempat yang tidak mungkin ia hadapi lagi.

"Ayo," katanya akhirnya.

Laras tersenyum.

Mereka berjalan.

Jalan menuju kampus tidak jauh. Biasanya Raka melewatinya hampir setiap hari dengan langkah cepat, kepala sedikit menunduk, tas digantung di satu bahu, dan pandangan diarahkan pada permukaan trotoar seolah-olah ia bisa menghindari keberadaan dirinya sendiri dengan tidak menatap siapa pun. Hari itu langkahnya lebih lambat. Bukan karena tubuhnya tidak kuat, melainkan karena ia sedang mencoba merasakan setiap bagian dari perjalanan yang selama ini dianggapnya biasa.

Di depan gerbang kampus, beberapa mahasiswa terlihat berjalan santai. Ada yang membawa bola, ada yang berboncengan sepeda, ada yang duduk di bawah pohon sambil berbicara. Hari libur membuat kampus seperti kota kecil yang sedang beristirahat. Tidak ada antrean kendaraan. Tidak ada suara pengeras suara organisasi mahasiswa. Tidak ada kerumunan yang membuat Raka merasa seperti sedang berdiri di tengah panggung tanpa persiapan.

Mereka melewati sekelompok mahasiswa yang sedang berjalan dari arah berlawanan.

Refleks lama Raka muncul.

Kepalanya turun.

Bahu kirinya sedikit maju, dan langkahnya berubah menjadi lebih cepat. Hanya beberapa detik, tetapi ia mengenali gerakan itu. Tubuhnya sudah menghafalnya selama bertahun-tahun. Setiap kali melewati orang yang lebih tinggi darinya, setiap kali berada di dekat sekelompok laki-laki yang tingginya jauh di atas 154 sentimeter, tubuh Raka selalu berusaha mengecil sebelum pikirannya sempat memberikan perintah.

Namun kali ini ia berhenti.

Tidak benar-benar berhenti berjalan. Hanya memperlambat langkah.

Ia menarik napas.

Kemudian perlahan mengangkat kepalanya.

Tidak tinggi-tinggi. Tidak dibuat-buat. Cukup untuk melihat jalan di depan.

Laras berjalan di sebelahnya.

Ia tidak mengatakan apa pun.

Raka sempat melirik ke bawah dan melihat sesuatu yang sederhana. Laras mengenakan sepatu datar. Tidak ada hak yang membuat perbedaan tinggi mereka menjadi semakin terasa. Ketika melewati jalan yang sedikit menurun, Laras bahkan tanpa sadar memperlambat langkahnya agar langkah mereka tetap sejajar.

Raka memperhatikan.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga.

Jarak mereka tetap sama.

Tidak pernah ada momen ketika Laras berjalan terlalu cepat lalu menunggu beberapa meter di depan. Tidak pernah ada gerakan kecil yang membuat Raka merasa seperti anak kecil yang harus mengejar orang dewasa. Bahkan ketika Raka memperlambat langkah karena melihat sesuatu di pinggir jalan, Laras ikut memperlambat tanpa bertanya.

Akhirnya Raka tersenyum tipis.

Lihat selengkapnya