Sudah beberapa hari sejak pagi ketika Laras mengajaknya berjalan mengelilingi taman kampus, tetapi bagi Raka, langkah kecil itu masih terasa seperti sesuatu yang baru saja dipelajari. Ada bagian dalam dirinya yang belum sepenuhnya percaya bahwa dunia di luar kamar kosnya bisa kembali memiliki warna tanpa sekaligus membawa ancaman. Pagi itu, ketika ia berdiri di depan cermin kecil yang tergantung miring di dinding kamar mandi kos, ia sempat memperhatikan wajahnya sendiri lebih lama daripada biasanya. Mata Raka masih menyisakan sembap, terutama di bagian bawah kelopak, dan kulit wajahnya tampak sedikit kusam karena beberapa hari terakhir lebih banyak dihabiskan di dalam kamar daripada di bawah matahari. Namun kali ini ia tidak buru-buru memalingkan muka. Ia membasuh wajah, menyisir rambut dengan tangan, mengenakan kemeja sederhana yang sudah lama tergantung di balik pintu, lalu keluar tanpa menghabiskan waktu terlalu lama untuk memikirkan apakah tubuhnya terlihat cukup baik untuk dilihat orang lain.
Perpustakaan pusat PTN itu tidak banyak berubah sejak terakhir kali Raka mengunjunginya. Bangunan bertingkat dengan dinding kaca besar itu masih dipenuhi suara langkah yang diredam lantai, dengung pendingin ruangan, dan aroma khas kertas yang bercampur dengan bau kayu dari meja-meja baca. Di lantai dua, cahaya matahari siang menembus jendela tinggi dan jatuh membentuk bidang-bidang terang di antara deretan meja panjang. Beberapa mahasiswa duduk dengan laptop terbuka, sebagian membaca buku tebal sambil menopang dagu, sementara yang lain sesekali berbisik di antara rak. Raka berhenti sebentar di dekat tangga, menarik napas pelan, lalu berjalan masuk ke antara mereka. Kebiasaan lama masih sempat muncul ketika ia melewati sekelompok mahasiswa laki-laki yang berdiri di dekat rak, membuat kepalanya turun beberapa derajat seperti refleks untuk menghilang dari pandangan. Akan tetapi, kali ini ia menyadarinya. Ia menarik bahunya ke belakang, mengangkat kepala kembali, dan melanjutkan langkah tanpa berusaha mempercepat atau memperlambat langkahnya.
Tidak ada yang terjadi.
Tidak ada suara tawa.
Tidak ada seseorang yang menunjuk tubuhnya.
Tidak ada komentar yang tiba-tiba jatuh seperti batu ke punggungnya.
Hanya ada seorang mahasiswa yang sedang mencari buku di rak sebelah kiri, dua orang perempuan yang tengah berdiskusi tentang tugas, dan suara halaman yang dibalik perlahan dari meja paling dekat jendela. Kesadaran sederhana itu membuat langkah Raka sedikit melambat. Selama bertahun-tahun, pikirannya telah membangun dunia luar seperti sebuah tempat yang selalu menunggu kesempatan untuk menghakiminya. Setiap tatapan terasa seperti penilaian, setiap bisikan seperti ejekan, dan setiap orang yang lebih tinggi darinya terasa seperti pengingat bahwa ada sesuatu yang salah dengan tubuhnya. Padahal, pada siang itu, dunia ternyata hanya sedang menjalankan kehidupannya sendiri.
Raka menemukan Laras di ujung deretan meja yang menghadap jendela.
Perempuan itu duduk dengan sebuah buku terbuka di hadapannya, rambutnya dijepit sederhana agar tidak jatuh menutupi wajah. Sebuah botol air berada di sebelah tangan kirinya, sementara beberapa lembar kertas dengan catatan kecil tersebar rapi di sisi kanan meja. Ketika Laras melihat Raka berdiri beberapa meter dari tempatnya, matanya langsung bertemu dengan mata Raka. Tidak ada ekspresi terkejut atau pertanyaan panjang tentang ke mana saja Raka selama beberapa hari terakhir. Laras hanya tersenyum kecil, lalu menarik kursi kosong di sampingnya sedikit ke belakang dengan satu tangan. Gerakannya begitu sederhana sampai Raka hampir tidak menyadari bahwa kursi itu memang sengaja disisakan untuknya.
"Di sini," bisik Laras.
Raka mendekat. "Aku ganggu?"
Laras menggeleng. "Enggak. Aku malah nungguin."
Kalimat itu membuat dada Raka terasa hangat dengan cara yang belum sepenuhnya bisa ia pahami. Ia duduk, meletakkan tas di samping kaki, kemudian mengeluarkan sebuah novel yang sejak beberapa hari lalu belum berhasil ia selesaikan. Laras tidak bertanya apakah Raka sudah siap kuliah lagi. Ia tidak bertanya apakah semalam Raka menangis lagi. Ia bahkan tidak menyinggung kamar gelap, sarapan, taman, atau apa pun yang bisa membuat Raka merasa sedang diperlakukan seperti seseorang yang baru saja keluar dari kerusakan besar. Laras hanya kembali membaca bukunya sendiri, membiarkan keberadaan Raka menjadi sesuatu yang biasa.
Dan justru karena itulah Raka merasa aman.
Beberapa menit pertama mereka habiskan tanpa bicara. Hanya suara halaman yang dibalik dan ujung pulpen Laras yang sesekali menyentuh kertas. Raka membuka novelnya, membaca beberapa halaman, lalu berhenti sebentar ketika menemukan satu paragraf yang menarik perhatiannya. Dulu, berada di sebelah seseorang yang ia sukai akan membuat pikirannya bekerja terlalu keras. Ia akan mencari kalimat yang terdengar pintar, mengingat teori yang mungkin relevan, atau menunggu kesempatan untuk mengatakan sesuatu yang membuat lawan bicaranya berpikir bahwa ia berbeda dari mahasiswa lain. Bahkan ketika tidak ada yang meminta, Raka sering merasa harus membuktikan bahwa ia pantas berada di sebuah percakapan.
Sekarang tidak.
Ia membaca.
Itu saja.
Ia tidak harus menunjukkan bahwa ia tahu siapa pengarang buku itu, tidak harus menyebut teori sastra yang pernah dibacanya, dan tidak harus memaksakan hubungan antara cerita dalam novel dengan persoalan sosial yang sedang ramai dibicarakan di kampus. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, membaca buku terasa seperti membaca buku, bukan seperti mengikuti ujian yang tidak pernah diumumkan.
Sekitar dua puluh menit kemudian, Raka merasakan sesuatu menyentuh sisi bukunya. Ia menoleh dan melihat Laras sedang mendorong sebungkus kecil biskuit ke arahnya. Perempuan itu melakukannya dengan hati-hati, menyembunyikan tangannya di balik tumpukan buku seolah mereka sedang melakukan transaksi rahasia.
Raka menatap biskuit itu, lalu menatap Laras.
"Apa ini?"
"Bantuan kemanusiaan."
Raka menahan senyum. "Aku enggak minta."
"Makanya dikasih."
"Logikanya aneh."
"Namanya juga bantuan."
Raka akhirnya mengambil satu keping. "Makasih."
Laras mengangkat alis. "Jangan bilang siapa-siapa."
"Kenapa?"
"Nanti aku dituduh nyelundupin makanan ke perpustakaan."
Raka menahan tawa sampai bahunya bergerak sedikit. Laras ikut tersenyum, lalu keduanya kembali membaca seolah tidak terjadi apa-apa. Namun bagi Raka, hal kecil itu terasa lebih berarti daripada yang bisa ia jelaskan. Ia tidak perlu menjadi lucu, tidak perlu menjadi pintar, tidak perlu menjadi seseorang yang mengesankan. Ia hanya perlu menerima sepotong biskuit dari seorang perempuan yang duduk di sampingnya.
Dan ternyata itu cukup.
Waktu berjalan perlahan. Matahari yang tadinya tinggi mulai bergeser, membuat cahaya di balik kaca jendela berubah lebih keemasan. Raka beberapa kali mencatat sesuatu di buku kecilnya, bukan karena ingin menunjukkan kepada Laras, melainkan karena memang ada hal yang ingin ia ingat. Sesekali Laras membaca catatannya sendiri dengan kening berkerut, lalu kembali membuka halaman berikutnya. Ada momen ketika tangan mereka hampir bersentuhan saat sama-sama mengambil botol air, tetapi keduanya hanya saling memberi jalan tanpa membuatnya menjadi sesuatu yang canggung.
Raka memperhatikan hal itu diam-diam.
Hubungan mereka tidak penuh ledakan.
Tidak ada percakapan yang harus selalu bermakna.
Tidak ada tuntutan untuk mengisi setiap detik dengan perhatian.
Bahkan keheningan pun terasa memiliki tempat.
Ia mulai mengerti bahwa selama ini mungkin dirinya terlalu lama hidup dengan anggapan bahwa kedekatan harus diperoleh melalui usaha. Ia harus membantu. Ia harus berguna. Ia harus mampu menjawab. Ia harus menghibur. Ia harus menjadi orang yang bisa dipanggil kapan pun. Dengan Anin, pola itu membuatnya perlahan berubah menjadi seseorang yang selalu menunggu perintah, selalu siap mengulurkan tangan, dan selalu merasa bahwa nilai dirinya bergantung pada seberapa banyak yang bisa ia berikan.
Dengan Laras, ia hanya duduk.
Dan Laras tetap di sana.
Menjelang sore, ketika penjaga perpustakaan mulai memberi tanda bahwa area baca tertentu akan segera ditutup untuk penataan, Laras menutup bukunya dan merenggangkan kedua tangannya di atas kepala.
"Keluar, yuk."
Raka menatapnya. "Ke mana?"
"Gazebo belakang."
"Masih mau belajar?"
"Enggak. Aku udah capek pura-pura produktif."
Raka terkekeh. "Jujur banget."
"Daripada sok rajin."
Laras berdiri dan memasukkan bukunya ke dalam tas. Raka ikut berdiri. Ketika mereka berjalan meninggalkan meja, Laras sempat berhenti di samping Raka dan tanpa banyak bicara meraih tangan Raka. Genggamannya ringan, tidak menarik dengan paksa, hanya menyentuh jemari Raka untuk memberi arah.
"Ayo."
Raka sempat terdiam sepersekian detik.
Bukan karena tidak nyaman.
Justru sebaliknya.
Ia hanya belum terbiasa menerima sentuhan yang tidak disertai tuntutan apa pun.
Tangannya terasa hangat di dalam genggaman Laras ketika mereka berjalan melewati koridor perpustakaan. Raka menatap tangan mereka sebentar, lalu kembali melihat ke depan. Ada sesuatu yang pelan-pelan tumbuh di dalam dadanya, sesuatu yang tidak gaduh dan tidak mendesak. Bukan lagi perasaan ingin memiliki seseorang karena takut kehilangan, melainkan keinginan untuk berjalan bersama seseorang karena ia menikmati kehadirannya.
Gazebo berada di sisi belakang perpustakaan, sedikit menjauh dari bangunan utama. Tempat itu dikelilingi pepohonan rindang yang membuat udara sore terasa lebih sejuk. Beberapa meja kayu berada di bawah atap, sebagian sudah kosong karena sebagian besar mahasiswa lebih memilih pulang setelah kelas selesai. Angin bergerak melewati dedaunan dan membawa suara samar kendaraan dari jalan depan kampus.
Mereka duduk berhadapan.
Raka meletakkan tas di samping kaki dan memandangi halaman kampus dari sela pagar rendah gazebo.
Laras membuka percakapan lebih dulu.
"Jadi?"
"Jadi apa?"
"Novel tadi."
Raka menoleh. "Kamu mau bahas?"
"Kalau kamu mau."