Pagi itu kampus kembali pada bentuknya yang paling ramai. Koridor utama gedung perkuliahan dipenuhi mahasiswa yang berpindah dari satu ruang kelas ke ruang kelas lain, sebagian berjalan tergesa sambil memeriksa layar ponsel, sebagian berhenti di dekat papan pengumuman, sementara suara tawa dan percakapan bertumpuk dengan bunyi sol sepatu yang berulang-ulang menghantam ubin dingin. Dari jendela-jendela tinggi di sepanjang sisi koridor, cahaya matahari masuk dalam bidang-bidang pucat yang jatuh memanjang ke lantai, terpotong oleh bayangan tiang dan tubuh mahasiswa yang melintas. Raka berjalan di tengah arus itu bersama Laras, sebuah buku tebal terselip di bawah lengannya dan tas menggantung santai di bahu kiri. Sesekali seseorang dari arah berlawanan hampir menyenggolnya, tetapi kali ini Raka tidak otomatis merapat ke dinding seperti kebiasaannya dahulu, tidak pula menundukkan kepala seolah keberadaannya sendiri merupakan sesuatu yang harus dikecilkan.
Laras berjalan di sebelahnya dengan langkah yang tenang, sesekali melirik jadwal kuliah yang terbuka di ponselnya. Mereka baru saja keluar dari tangga menuju lantai dua dan masih memiliki beberapa menit sebelum kelas berikutnya dimulai. Raka memperhatikan langkah mereka yang secara alami tetap sejajar. Laras tidak pernah berjalan terlalu cepat untuk membuatnya mengejar, tetapi juga tidak sengaja memperlambat langkah dengan cara yang terasa seperti sedang mengasihani. Mereka berjalan begitu saja, dengan ritme yang terbentuk dari kebiasaan beberapa waktu terakhir. Hal sederhana itu masih kadang membuat Raka heran. Dulu, berjalan bersama seseorang saja bisa membuat pikirannya sibuk menghitung jarak, tinggi badan, posisi bahu, arah pandangan orang lain, bahkan cara telapak kakinya menyentuh lantai. Sekarang, sebagian besar perhitungan itu sudah menghilang, menyisakan sesuatu yang jauh lebih sederhana: ia sedang berjalan bersama Laras menuju kelas.
"Kamu udah baca sampai bab terakhir?" tanya Laras sambil mematikan layar ponselnya.
Raka mengangkat buku yang berada di bawah lengannya sedikit. "Udah."
"Terus?"
"Terus... aku masih kesel sama tokoh utamanya."
Laras tertawa kecil. "Kenapa?"
"Karena dia sebenarnya bisa ngomong dari awal. Tapi malah muter-muter hampir tiga ratus halaman."
"Berarti kamu kesel sama penulisnya juga?"
Raka mengangkat bahu. "Sedikit."
"Padahal kemarin kamu bilang penulisnya bagus."
"Bagus bukan berarti nggak boleh bikin pembacanya kesel."
Laras menoleh kepadanya dengan senyum yang tertahan. "Nah, ini baru Raka."
Raka mengernyit. "Maksudnya?"
"Kalau dulu ngomongnya kayak lagi sidang skripsi."
Raka tertawa pelan. "Aku nggak pernah separah itu."
"Kamu pernah."
"Contohnya?"
Laras berpikir sebentar, lalu mengangkat satu jari. "Waktu kita ngobrol soal buku itu, kamu bilang, 'Permasalahan karakter ini bisa dipahami sebagai bentuk alienasi subjek terhadap struktur relasional yang...'"
Raka langsung menutup wajah dengan telapak tangan. "Tolong jangan diingat."
Laras terkekeh. "Padahal sekarang kamu cuma bilang tokohnya bikin kesel."
"Karena memang bikin kesel."
"Dan itu lebih gampang dimengerti."
Raka ikut tersenyum. Ia tidak merasa harus membela dirinya. Tidak ada dorongan untuk menjelaskan bahwa istilah-istilah yang dulu ia gunakan memang punya konteks akademis, bahwa ia sebenarnya memahami apa yang sedang dibicarakan, atau bahwa dirinya tidak sedang mencoba terlihat pintar. Dulu, penjelasan seperti itu mungkin akan keluar secara otomatis, seolah setiap percakapan adalah ruang ujian tempat ia harus membuktikan bahwa dirinya pantas didengarkan. Sekarang ia mulai mengerti bahwa memahami sesuatu tidak selalu berarti harus menunjukkan seluruh isi kepalanya kepada orang lain.
Mereka terus berjalan melewati deretan pintu kelas yang sebagian terbuka. Seorang mahasiswa laki-laki yang berjalan tergesa dari belakang menyelip di antara mereka dan beberapa orang lain. Raka refleks sedikit menundukkan kepala ketika menyadari dirinya berpapasan dengan dua mahasiswa perempuan yang sedang berbicara di dekat pintu. Gerakan itu berlangsung begitu cepat sehingga hampir tidak disadarinya. Bahunya sedikit menguncup, dagunya turun, dan pandangannya otomatis berpindah ke ubin di bawah kaki. Kebiasaan lama yang tertanam jauh lebih dalam daripada yang ingin ia akui.
Namun kali ini ia menyadarinya.
Raka menarik napas perlahan, kemudian menegakkan kembali punggungnya.
Tidak berlebihan. Tidak dibuat-buat. Ia hanya mengembalikan tubuhnya pada posisi yang semestinya.
Laras melihat gerakan itu dari sudut mata, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Ia tidak memberi pujian, tidak menepuk bahu Raka, tidak membuat momen itu menjadi sesuatu yang harus dirayakan. Ia hanya melanjutkan langkah di sampingnya seperti biasa. Justru karena tidak dikomentari, Raka merasa jauh lebih lega. Ia tidak sedang melakukan pertunjukan keberanian untuk siapa pun. Ia hanya sedang belajar membiarkan tubuhnya menempati ruang yang memang menjadi miliknya.
Kemudian, ketika mereka hampir mencapai persimpangan koridor menuju gedung sebelah, sesuatu di antara keramaian itu berubah.
Raka melihatnya lebih dahulu dari jauh.
Seorang perempuan berjalan dari arah berlawanan bersama tiga orang anggota organisasi yang dikenalnya sekilas. Rambutnya tertata rapi, pakaian kuliahnya sederhana tetapi tetap tampak terurus, dan tangannya memegang beberapa lembar kertas yang dilipat menjadi satu. Cara berjalan perempuan itu masih sama seperti yang pernah Raka hafal selama bertahun-tahun. Tegap, terukur, sedikit cepat ketika sedang berbicara dengan seseorang, lalu melambat ketika mendengarkan.
Clarissa Anindya Kirana.
Anin.
Nama itu pernah tinggal begitu lama di dalam kepalanya sampai Raka sempat mengira ia tidak akan pernah bisa mengusirnya. Nama itu pernah menjadi sesuatu yang ia letakkan di tengah hidupnya, menjadi pusat dari keputusan-keputusan kecil yang tidak pernah diminta, menjadi alasan mengapa ia rela keluar malam membawa obat, memperbaiki laptop, menunggu balasan pesan, mengubah jadwal, dan terus menyediakan dirinya setiap kali dibutuhkan. Ia pernah mengira kesetiaan berarti bertahan sejauh mungkin di dekat seseorang, bahkan jika keberadaannya sendiri semakin lama semakin tidak terlihat.
Lalu semuanya berakhir hanya dalam satu percakapan.
Penolakan itu masih tersimpan dalam ingatannya, bukan sebagai suara yang terus-menerus berteriak, melainkan sebagai sebuah ruangan lama yang pintunya sekarang sudah jarang ia buka. Dahulu, setiap kali membayangkan Anin, dadanya seperti mendapat tekanan dari sesuatu yang berat. Sekarang, ketika sosok itu benar-benar berdiri beberapa meter di depannya, Raka hanya merasa napasnya berhenti selama sepersekian detik.
Tidak lebih.
Anin juga melihatnya.
Mata mereka bertemu.
Hanya sesaat.
Namun sesaat itu cukup untuk membuat langkah Anin berubah.
Ia memperlambat langkah.
Salah satu teman di sebelahnya masih berbicara mengenai sesuatu yang berkaitan dengan agenda organisasi, tetapi perhatian Anin sudah terlepas dari percakapan tersebut. Pandangannya tetap tertuju pada Raka. Ada sesuatu dalam tatapannya yang sulit dibaca, campuran antara keterkejutan, kebingungan, dan pengamatan yang semakin tajam.
Raka tahu ekspresi itu.
Ia pernah mengenalnya.
Dulu, ketika Anin muncul di hadapannya, tubuh Raka akan langsung berubah. Bahunya menegang, tangannya mencari sesuatu untuk dilakukan, dan mulutnya seperti kehilangan kemampuan berbicara secara normal. Jika Anin menatapnya, Raka akan sibuk menebak apakah tatapan itu berarti sesuatu. Jika Anin tersenyum, ia akan mengingatnya sepanjang hari. Jika Anin mengirim pesan singkat, ia bisa membalas dalam hitungan detik meski sedang berada di tengah kesibukan lain. Bahkan setelah penolakan, hanya mendengar nama Anin saja cukup membuat seluruh sistem pertahanannya runtuh.
Tapi pagi itu tidak.
Raka masih bisa merasakan jantungnya berdetak. Ia masih mengenali perempuan yang pernah dicintainya. Ia masih tahu persis bagaimana kisah mereka berakhir. Namun tidak ada lagi kebutuhan untuk melakukan apa pun terhadap kenyataan itu.
Anin berjalan semakin dekat.
Raka terus berjalan.
Di sampingnya, Laras tetap tenang.
Raka tidak menoleh kepada Laras untuk meminta petunjuk. Ia tidak membutuhkan seseorang untuk memberitahunya apa yang harus dilakukan. Tidak ada alasan untuk berpura-pura tidak melihat Anin, tetapi juga tidak ada alasan untuk berhenti.
Jarak mereka tinggal beberapa langkah.
Anin memperlambat langkahnya lagi.
Barangkali ia menunggu.
Raka hampir bisa membayangkan apa yang dulu akan dilakukan oleh dirinya yang lama. Ia mungkin akan berhenti mendadak, tersenyum gugup, lalu mengatakan sesuatu yang tidak penting hanya demi menciptakan alasan agar percakapan berlangsung. Ia mungkin akan bertanya kabar, menanyakan kegiatan organisasi, atau menawarkan bantuan yang tidak dibutuhkan. Setelah itu, sepanjang hari ia akan memikirkan kembali percakapan selama beberapa detik tersebut dan bertanya-tanya apakah Anin masih memiliki sedikit ruang untuknya.
Raka yang sekarang hanya mengangkat dagu sedikit.
Ketika mereka berada pada jarak yang cukup dekat, Raka memberikan anggukan singkat.
Formal.