Sore itu langit di atas kampus mulai berubah warna ketika Laras keluar dari gedung perkuliahan bersama Raka. Matahari belum benar-benar tenggelam, tetapi cahayanya sudah lebih lunak, menyentuh pucuk pepohonan di sepanjang jalan kampus dengan warna keemasan yang samar. Beberapa mahasiswa bergerombol di depan gedung, membicarakan tugas yang baru saja diberikan dosen, sementara suara kendaraan dari jalan raya di luar pagar kampus terdengar semakin ramai menjelang jam pulang kerja. Raka memasukkan buku ke dalam tas sambil berjalan di samping Laras, pikirannya masih tertinggal pada materi kuliah yang menurutnya cukup berat. Ia baru saja hendak mengusulkan untuk langsung pulang ketika beberapa teman Laras menghampiri mereka dari arah parkiran.
"Las, ikut nggak?" salah seorang dari mereka bertanya. "Kita mau ke kafe yang baru buka itu. Yang di daerah depan kampus. Katanya tempatnya bagus banget."
Laras berhenti sebentar. "Yang ada lantai duanya?"
"Iya. Yang interiornya putih semua itu."
"Yang minumnya mahal banget itu?" Laras tertawa.
"Ya nggak mahal-mahal amat."
Raka menahan senyum. Dari ekspresi teman-teman Laras, ia tahu mereka sudah cukup bersemangat dengan rencana tersebut. Salah seorang bahkan sudah membuka ponselnya untuk menunjukkan foto tempat yang dimaksud. Foto itu memperlihatkan meja kayu mengilap, lampu gantung berwarna kuning hangat, tanaman hias yang ditempatkan di sudut ruangan, serta beberapa mahasiswa yang tampak sengaja berpakaian rapi untuk duduk sambil memotret minuman mereka. Raka hanya melirik sekilas sebelum kembali melihat Laras.
"Ikut aja, Las," kata teman lainnya. "Sekalian ngerjain tugas."
Laras menimbang beberapa detik, lalu menggeleng pelan. "Kalian duluan aja."
"Kenapa?"
"Aku mau ngajak Raka ke tempat lain."
Raka spontan menoleh. "Hah?"
Laras sudah tersenyum kepadanya.
"Ke kedai teh."
Teman-temannya saling pandang.
"Yang mana?"
"Yang di depan gang sebelah kampus."
"Serius?"
"Serius."
Salah seorang tertawa kecil. "Ya ampun, Laras. Kamu tuh memang nggak bisa diajak ke tempat kekinian."
Laras hanya mengangkat bahu. "Aku bisa. Cuma nggak selalu mau."
Kalimat itu diucapkannya begitu ringan sampai Raka hampir tidak menyadari betapa dalamnya kalimat tersebut menusuk sesuatu di dalam dirinya. Tidak ada pembelaan berlebihan, tidak ada upaya menunjukkan bahwa kedai teh lebih baik daripada kafe mahal, tidak ada sikap merendahkan pilihan orang lain. Laras hanya tahu apa yang membuatnya nyaman, dan ia tidak merasa perlu meminta izin kepada siapa pun untuk menyukainya.
Setelah berpamitan, mereka berjalan meninggalkan gerbang kampus. Raka masih diam selama beberapa langkah.
"Kamu beneran mau ke kedai teh?" tanyanya akhirnya.
Laras melirik. "Kenapa?"
"Ya... aku kira kamu mau ikut mereka."
"Aku lebih suka kedai itu."
"Kenapa?"
"Tehnya enak."
Raka menahan tawa. "Sesederhana itu?"
"Sesederhana itu."
Mereka menyeberang jalan kecil di depan kampus. Udara sore membawa campuran aroma kendaraan, tanah yang mulai dingin, dan makanan dari pedagang kaki lima yang berjajar di pinggir jalan. Tidak jauh dari sana, sebuah kedai kecil berdiri di antara warung fotokopi dan kios pulsa. Tidak ada papan nama besar, hanya tulisan sederhana yang sudah sedikit pudar di atas terpal. Beberapa bangku kayu tua diletakkan menghadap jalan, sementara bagian dalamnya diterangi lampu putih yang baru saja dinyalakan.
Raka berhenti sejenak di depan kedai itu.
"Ini?"
"Iya."
"Kecil."
"Makanya enak."
Laras langsung menarik salah satu kursi kayu. Raka duduk di hadapannya. Meja mereka permukaannya sudah penuh goresan kecil akibat bertahun-tahun dipakai. Di atasnya terdapat toples kerupuk, botol kecap, sambal, serta tempat tusuk gigi yang tutupnya sudah agak miring. Dari belakang meja terdengar bunyi minyak mendesis ketika pemilik kedai mengangkat gorengan dari wajan. Aroma tahu isi, bakwan, dan tempe goreng bercampur dengan wangi teh panas yang baru diseduh.
Raka melihat daftar menu yang ditulis menggunakan spidol di papan kecil.
"Teh manis berapa?"
Laras menyebutkan harganya.
Raka mengangguk.
Murah.
Sangat murah.
Sebuah rasa lega yang tidak ia duga muncul begitu saja di dadanya. Ia tidak perlu membuka aplikasi pembayaran sambil diam-diam menghitung saldo. Tidak perlu berpikir apakah pakaian yang dikenakannya pantas untuk tempat itu. Tidak perlu memperhatikan bagaimana mahasiswa lain duduk, bagaimana mereka memegang gelas, atau apakah dirinya terlihat seperti orang yang salah masuk ke sebuah ruangan.
Ia hanya duduk.
Menunggu teh.
Dan bernapas.
"Kenapa?" Laras bertanya.
Raka mengangkat wajah. "Nggak."
"Kamu kelihatan mikir."
"Aku cuma... lega."
Laras tidak langsung menjawab.
"Karena?"
Raka mengusap permukaan meja dengan ujung jarinya. "Nggak tahu. Di tempat kayak gini aku nggak perlu mikirin macam-macam."
"Macam-macam?"
"Biaya. Pakaian. Harus kelihatan gimana. Harus ngomong apa."
Laras mengangguk pelan. "Kamu memang sering mikirin itu?"
"Dulu."
"Dulu?"
Raka tersenyum tipis. "Sekarang juga kadang."
Teh datang beberapa saat kemudian dalam cangkir seng yang permukaannya sudah kusam. Uap tipis naik dari permukaannya, membawa aroma teh pekat yang bercampur gula. Laras meniup tehnya sebelum menyeruput sedikit, lalu mengangguk puas seperti seseorang yang baru memastikan bahwa dunia masih berada pada tempat yang benar.
Raka memperhatikannya.
Tidak ada gerakan yang dibuat-buat.
Tidak ada usaha menjadi siapa pun.
Laras hanya duduk di kedai kecil pinggir jalan, memegang cangkir seng dengan kedua tangan, meniup permukaan teh, lalu menikmati rasanya. Rambutnya sesekali tertiup angin dan ia menyelipkannya ke belakang telinga tanpa sadar. Pemandangan sederhana itu justru membuat Raka merasa hangat.
"Enak?" tanya Laras.
Raka menyeruput tehnya. "Enak."
"Kan."
"Kayaknya karena gula."
"Jahat."
Raka tertawa.
Percakapan mereka kemudian berjalan tanpa arah yang jelas. Mereka membicarakan dosen yang selalu mengatakan "sebentar lagi selesai" tetapi ternyata masih memiliki empat puluh slide tersisa. Mereka membahas seorang dosen yang memiliki kebiasaan menghela napas panjang setiap kali mahasiswa salah menjawab pertanyaan. Laras menirukan ekspresi dosen tersebut sampai Raka hampir tersedak teh.
"Jangan ketawa," kata Laras sambil ikut tertawa. "Kemarin aku ditanya sesuatu, terus aku jawab ngawur."
"Jawab apa?"
"Aku lupa."
"Berarti memang ngawur."
"Kamu tuh."
Raka menyeringai.