Siang itu pelataran Student Center dipenuhi suara yang saling bertumpuk. Dari satu sisi terdengar pengumuman panitia yang memanggil nama peserta kegiatan, dari sisi lain suara mahasiswa yang sedang berdebat mengenai jadwal rapat, sementara angin membawa ujung-ujung spanduk organisasi yang tergantung di antara tiang besi hingga berkibar dan sesekali menampar permukaan meja pendaftaran. Matahari belum terlalu condong, tetapi panas yang memantul dari lantai semen membuat udara terasa lebih berat daripada biasanya. Raka berdiri di dekat sebuah tiang dengan botol air mineral setengah penuh di tangan, memeriksa beberapa catatan di ponselnya sambil sesekali melihat ke arah gedung perkuliahan. Di antara keramaian itu, keberadaannya tidak lagi terasa seperti sesuatu yang harus disembunyikan.
Beberapa minggu terakhir membuat Raka perlahan mengenali bentuk dirinya yang selama ini nyaris tidak pernah ia lihat. Ia mulai tahu bahwa tidak semua permintaan harus dijawab dengan kata iya, tidak semua orang yang datang kepadanya sedang benar-benar membutuhkan pertolongan, dan yang paling sulit diterima, menjadi berguna bagi orang lain tidak sama dengan menjadi berharga. Dulu, ia selalu gagal membedakan keduanya. Ada semacam dorongan otomatis dalam dirinya setiap kali seseorang meminta bantuan, seperti tangan yang langsung bergerak sebelum pikirannya sempat bertanya apakah ia memang ingin membantu atau hanya takut dianggap tidak berguna. Bahkan ketika tugas itu menghabiskan waktu berjam-jam, ketika orang yang meminta bantuan kemudian pergi begitu saja, atau ketika hasil pekerjaannya dianggap sebagai sesuatu yang memang sudah sewajarnya ia lakukan, Raka tetap merasa sedikit lega. Setidaknya, pikirnya dulu, selama ada orang yang membutuhkan dirinya, keberadaannya masih punya alasan.
Hari itu, untuk pertama kalinya, alasan semacam itu terasa jauh lebih lemah.
Raka memasukkan ponselnya ke saku celana ketika melihat Laras berada beberapa meter di seberang pelataran. Perempuan itu sedang berbicara dengan dua orang teman dari organisasinya di dekat meja pendaftaran sebuah kegiatan, sesekali mengangguk sambil memegang map tipis berwarna cokelat. Rambutnya bergerak ringan diterpa angin, dan ketika pandangannya bertemu dengan Raka, ia hanya mengangkat tangan sedikit sebagai sapaan. Raka membalas dengan senyum kecil. Tidak ada panggilan keras, tidak ada lambaian berlebihan. Mereka sudah memiliki semacam kebiasaan baru yang sederhana, saling mengetahui keberadaan tanpa merasa harus terus-menerus memastikan satu sama lain.
Raka baru hendak berjalan menghampiri ketika seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
"Rak."
Tubuh Raka sempat menegang secara refleks. Ia menoleh dan mendapati Dika berdiri dengan senyum lebar yang terlalu santai untuk seseorang yang baru saja datang tanpa permisi. Dika adalah mahasiswa dari lingkungan organisasi yang cukup sering bersinggungan dengannya. Mereka tidak bisa disebut sahabat, tetapi Dika sudah mengenal kemampuan Raka mengolah tulisan, menyusun struktur proposal, mencari referensi, sampai merapikan format dokumen. Dulu, beberapa kali, Dika datang membawa permintaan dengan kalimat yang hampir selalu sama. Raka kan lebih bisa. Raka kan ngerti. Raka kan biasa bikin begituan.
Dan hampir selalu, Raka mengerjakannya.
"Sendirian?" tanya Dika.
Raka mengangguk. "Iya."
Dika melirik ke arah tangan Raka yang memegang botol air, lalu kembali menatap wajahnya. "Gue kebetulan mau minta tolong."
Kalimat itu sederhana. Bahkan terlalu sederhana. Namun ada sesuatu dalam diri Raka yang langsung mengenali pola lama tersebut. Dadanya seperti mendapat ketukan kecil dari masa lalu. Ia tahu bagaimana percakapan ini biasanya berjalan. Dika akan meminta sesuatu yang sebenarnya merupakan bagian dari tanggung jawabnya sendiri, lalu menyelipkan pujian kecil tentang kemampuan Raka. Setelah itu Raka akan mengatakan iya, pulang membawa pekerjaan tersebut, menghabiskan malam di depan laptop, lalu menyerahkan hasilnya keesokan hari. Mungkin Dika akan berterima kasih. Mungkin juga hanya berkata, "Mantap, Rak," seolah pekerjaan itu muncul begitu saja.
Raka memandang Dika beberapa detik lebih lama daripada biasanya.
"Minta tolong apa?"
"Nih, proposal kegiatan organisasi gue belum kelar." Dika segera mengeluarkan ponselnya dan membuka sebuah dokumen. "Bagian latar belakang sama analisis kebutuhannya belum gue bikin. Lo bantu susunin, ya. Lo kan lebih mahir."
Dulu, pujian seperti itu akan membuat Raka merasa sedikit hangat. Sekarang justru terdengar seperti sesuatu yang perlu diperiksa lebih hati-hati.
"Deadline kapan?" tanya Raka.
"Besok siang."
Raka mengangkat alis tipis. "Besok?"
"Iya. Makanya gue minta tolong sekarang. Kalau nunggu anak-anak yang lain, lama." Dika tertawa kecil. "Lo tinggal bikin aja. Nggak susah, kan?"
Kata tinggal membuat Raka hampir tersenyum getir.
Tinggal bikin.
Seolah waktu orang lain selalu tersedia di dalam hidupnya.
Raka menurunkan pandangan sebentar ke lantai. Ada bekas sol sepatu yang mengering di permukaan semen, membentuk garis-garis kecil berwarna abu-abu. Ia mendengar suara mahasiswa lain lewat di belakang mereka, suara kursi plastik yang digeser, suara mesin fotokopi dari dalam Student Center. Semuanya berjalan normal. Tidak ada alasan bagi jantungnya untuk berdegup lebih cepat hanya karena satu permintaan sederhana.
Namun ia tetap merasakan gugup yang samar.
Bukan karena ia takut kehilangan Dika.
Ia takut kehilangan versi dirinya yang selama ini merasa aman ketika dibutuhkan.
"Maaf, Dik," kata Raka akhirnya.
Dika tersenyum, mengira permintaan itu sudah diterima. "Nah, gitu dong."
"Tapi gue nggak bisa bantu bikin proposalnya."
Senyum Dika berhenti.
Angin melewati pelataran dan membuat salah satu spanduk di belakang mereka berkibar keras. Untuk sesaat, suara kain yang berkibaran terdengar lebih jelas daripada percakapan mereka.
"Hah?"
Raka mengangkat wajahnya. "Gue nggak bisa bantu ngerjain bagian itu."
Dika menatapnya seperti baru mendengar sesuatu yang salah secara tata bahasa.
"Kenapa?"
"Karena gue lagi punya fokus kegiatan sendiri."
"Kan cuma proposal."
"Cuma proposal menurut lo. Tapi tetap butuh waktu."
Dika menggaruk pelipisnya, lalu tertawa kecil. "Rak, serius. Lo biasanya juga bantu."
Raka mengangguk. "Iya. Dulu."
Jawaban itu membuat Dika terdiam sesaat.
Ada sesuatu yang berubah dalam cara Raka mengucapkan kata terakhir itu. Tidak ada kemarahan, tidak ada nada menyindir. Hanya sebuah pengakuan sederhana bahwa sesuatu yang dulu dilakukan tidak berarti harus terus dilakukan.
Dika mengerutkan kening. "Lo kenapa, sih? Sekarang susah banget dimintain tolong."
Raka tidak langsung menjawab. Ia memandang wajah Dika dan menyadari bahwa bagian dirinya yang lama mungkin akan segera muncul. Bagian yang akan buru-buru menjelaskan, meminta maaf, lalu menawarkan alternatif. Bagian yang akan berkata, "Ya udah, gue coba," hanya karena tidak tahan melihat orang lain kecewa.
Tetapi kali ini Raka membiarkan jeda itu ada.
"Gue bukan susah dimintain tolong," katanya pelan. "Gue cuma mulai milih mana yang memang bisa gue bantu dan mana yang seharusnya dikerjain sama orang yang minta."
Dika terkekeh pendek. "Wah, sekarang udah bisa ngomong begitu."
Raka tersenyum tipis. "Mungkin memang baru belajar."
"Padahal lo lebih bisa."
"Gue tahu."
Dika tampak semakin tidak puas. "Ya terus kenapa nggak bantu? Bukannya kalau lo bisa, ya bantu aja?"
Pertanyaan itu hampir terdengar masuk akal. Bahkan mungkin benar dalam situasi tertentu. Tetapi Raka tahu ada perbedaan antara membantu seseorang yang benar-benar kesulitan dan mengambil alih tanggung jawab orang lain hanya karena dirinya merasa bersalah jika berkata tidak.