Makasih Sudah Bertahan

Diva Amane
Chapter #49

Catatan di Pinggir Halaman

Malam turun tanpa banyak suara di gang kos yang sempit itu. Dari jendela kamar Raka yang sedikit terbuka, angin membawa masuk aroma tanah lembap bercampur asap gorengan dari warung di ujung jalan. Sesekali suara motor melintas, lalu menghilang lagi, meninggalkan dengung tipis yang segera ditelan oleh kesunyian. Kamar itu tidak lagi segelap beberapa minggu sebelumnya. Lampu utama memang tetap dimatikan, tetapi lampu baca kecil di sudut meja menyala dengan warna kekuningan yang hangat, membuat permukaan meja kayu, tumpukan buku, dan lembar-lembar kertas di atasnya tampak seperti bagian dari ruang yang lebih tenang daripada biasanya.

Raka duduk di kursinya dengan kaus abu-abu sederhana dan celana pendek rumah. Rambutnya masih sedikit basah setelah mandi, sementara sebuah handuk kecil tergantung sembarangan di bahunya. Di depannya terbuka buku catatan yang selama beberapa bulan terakhir lebih sering dipenuhi tulisan padat daripada ruang kosong. Catatan kuliahnya selalu seperti itu. Judul materi, poin-poin penting, kutipan yang dianggap perlu, garis-garis penghubung antargagasan, kadang diselingi tanda tanya di bagian yang belum ia pahami sepenuhnya.

Dulu, ketika kepalanya masih dipenuhi keinginan untuk selalu terlihat mengerti, buku catatan itu menjadi salah satu medan tempat ia membuktikan sesuatu. Raka menulis lebih banyak daripada yang diperlukan. Ia mencatat istilah asing yang sebenarnya tidak perlu dicatat, menyalin definisi panjang, lalu menambahkan referensi tambahan di pinggir halaman. Bukan karena semuanya benar-benar ia butuhkan, melainkan karena ada rasa aman yang aneh ketika melihat halaman-halaman itu penuh.

Kalau catatannya penuh, ia merasa dirinya cukup rajin.

Kalau tulisannya rumit, ia merasa dirinya cukup pintar.

Kalau ia tahu lebih banyak daripada orang lain, mungkin orang akan punya alasan untuk tidak terlalu memperhatikan hal-hal lain tentang dirinya.

Tentang tubuhnya.

Tentang wajahnya.

Tentang segala hal yang selama bertahun-tahun ia anggap sebagai kekurangan yang harus dikompensasi dengan sesuatu.

Raka mengembuskan napas pelan.

“Capek juga, ya,” gumamnya pada dirinya sendiri.

Tidak ada yang menjawab. Hanya kipas angin kecil di pojok kamar yang terus berputar sambil mengeluarkan bunyi berdecit setiap beberapa detik.

Ia membalik halaman buku catatan itu dan mulai membaca kembali materi kuliah yang harus dipahaminya untuk pertemuan berikutnya. Materi tersebut membahas beberapa konsep yang sejak siang tadi sempat mereka diskusikan di kelas. Laras bahkan sudah menyelesaikan bagiannya dari tugas kelompok mereka lebih dulu dan mengirimkan pesan singkat beberapa jam sebelumnya.

Aku udah selesai bagian awalnya. Besok kita cocokin, ya. Jangan kamu kerjain semua sendiri.

Raka sempat membaca pesan itu dua kali.

Bukan karena kalimatnya sulit dipahami, tetapi karena bagian terakhirnya terasa seperti sesuatu yang sengaja ditulis untuk menembus kebiasaannya.

Jangan kamu kerjain semua sendiri.

Kalimat sederhana.

Namun bagi Raka, kebiasaan mengerjakan semuanya sendiri tidak pernah sesederhana soal rajin atau malas. Ada masa ketika ia memang merasa lebih mudah mengurus semuanya daripada meminta bantuan. Ada pula masa ketika ia sengaja mengambil lebih banyak pekerjaan karena ingin menjadi orang yang dibutuhkan.

Kalau seseorang membutuhkan jasanya, ia punya alasan untuk tetap berada di dekat orang itu.

Begitulah dulu ia berpikir.

Bodoh, mungkin.

Tapi saat itu ia tidak tahu cara lain.

Raka mengambil pulpen, lalu mulai memberi garis bawah pada satu bagian materi yang terasa paling rumit. Alisnya sedikit berkerut. Ia membaca satu kalimat, lalu kembali ke kalimat sebelumnya. Setelah itu ia menghela napas.

“Bahasanya apaan, sih.”

Ia memiringkan kepala, mencoba membaca ulang.

Tiba-tiba, matanya berhenti.

Di sisi kanan halaman, tepat di ruang kosong yang biasanya tidak ia isi dengan apa pun, ada tulisan tangan.

Raka mengernyit.

Ia mendekatkan wajahnya ke buku.

Tulisan itu menggunakan tinta biru tua. Huruf-hurufnya kecil, rapi, sedikit condong ke kanan. Tidak sulit mengenalinya. Laras memiliki kebiasaan menulis huruf tertentu dengan bentuk yang khas, terutama huruf “k” dan “a” yang selalu tampak seperti tersenyum.

Raka memandangi tulisan itu beberapa detik sebelum akhirnya membacanya.

Bagian ini pasti gampang buat kamu, Raka.

Tangannya berhenti di atas meja.

Sesaat, ia hanya diam.

Suara kipas angin terdengar lebih jelas daripada sebelumnya.

Raka mengedip pelan, lalu menatap tulisan itu sekali lagi, seolah takut kalimat tersebut akan berubah kalau ia terlalu lama memandanginya. Ia tidak ingat kapan Laras menulisnya. Buku itu sempat berada di tangan Laras siang tadi ketika mereka duduk berdampingan. Saat itu Raka sedang mencari artikel di ponselnya, sementara Laras meminjam catatannya sebentar untuk memastikan bagian mana yang sudah mereka bahas.

Dia nulis ini kapan?

Raka menelusuri tulisan itu dengan pandangan.

Bagian ini pasti gampang buat kamu, Raka.

Kalimat itu sebenarnya tidak berlebihan. Tidak ada pujian panjang. Tidak ada kata-kata besar yang terdengar seperti motivasi murahan. Laras bahkan tidak menuliskan sesuatu seperti kamu hebat atau kamu paling pintar. Hanya sebuah keyakinan kecil, ditempatkan di pinggir halaman yang penuh dengan materi rumit.

Namun entah kenapa, dada Raka terasa seperti disentuh oleh sesuatu yang sangat lembut.

Ia tersenyum tipis.

Sangat tipis pada awalnya.

Lalu senyumnya bertahan.

“Iseng banget,” gumamnya.

Tapi nadanya tidak terdengar kesal.

Raka menaruh pulpen dan menyandarkan punggungnya. Pandangannya masih berada pada tulisan tangan itu. Dalam benaknya muncul bayangan Laras duduk di sampingnya sore tadi. Perempuan itu mungkin menunggu saat Raka sibuk sendiri, lalu mengambil pulpen dan menuliskan kalimat itu tanpa mengatakan apa-apa. Mungkin sambil tersenyum kecil. Mungkin sambil melirik ke arahnya untuk memastikan ia tidak melihat.

Bayangan itu membuat Raka menggeleng pelan.

“Ngapain, sih, kamu repot-repot begini?”

Pertanyaan itu tidak benar-benar membutuhkan jawaban.

Ia tahu Laras memang seperti itu.

Tidak selalu bicara tentang apa yang dirasakannya.

Tidak selalu membuat kehadirannya menjadi pusat perhatian.

Tapi justru karena itu, hal-hal kecil darinya terasa lebih jujur.

Raka kembali menunduk dan melanjutkan membaca. Anehnya, bagian yang tadi terasa menjengkelkan sekarang benar-benar mulai bisa ia pahami. Ia membaca perlahan, menghubungkan satu konsep dengan konsep lain, lalu mengangguk kecil ketika akhirnya menemukan alurnya.

“Ya… ternyata nggak serumit itu.”

Namun ketika ia membalik halaman berikutnya, Raka kembali berhenti.

Ada sesuatu lagi.

Kali ini bukan tulisan.

Di sudut bawah halaman, di antara beberapa catatan yang ia buat sendiri, terdapat gambar kecil menggunakan tinta yang sama. Sebuah kucing bulat dengan selimut menutupi hampir seluruh tubuhnya. Hanya kepala dan sepasang telinga kecil yang terlihat. Di sampingnya terdapat tiga garis pendek yang tampaknya dimaksudkan sebagai dengkuran.

Di bawah gambar itu, Laras menulis,

Jangan lupa istirahat.

Raka menatap gambar tersebut tanpa bergerak.

Lalu ia tertawa kecil.

Bukan tawa keras. Hanya hembusan napas yang berubah menjadi suara pendek.

“Apaan, sih.”

Ia mengangkat buku itu sedikit lebih dekat.

Gambar kucing itu tidak terlalu bagus. Proporsi kepalanya aneh dan salah satu telinganya lebih besar daripada yang lain. Namun justru karena itu, Raka bisa membayangkan Laras menggambar dengan cepat sambil menahan tawa sendiri.

“Ini kucing apa kentang?”

Senyum Raka melebar.

Ia menatap gambar itu cukup lama.

Jarinya bergerak pelan, berhenti beberapa sentimeter dari tinta. Ia tidak langsung menyentuhnya. Ada perasaan aneh yang membuatnya berhati-hati, seolah gambar kecil itu dapat rusak hanya karena ia terlalu sembarangan memperlakukannya.

Kemudian ia membalik halaman berikutnya.

Dan menemukan satu tulisan lagi.

Minum dulu kalau kepalamu udah mulai berat.

Halaman setelahnya.

Jangan marah sama diri sendiri kalau belum langsung paham.

Halaman berikutnya lagi.

Di samping catatan tentang tugas kelompok.

Yang ini udah cukup bagus. Jangan kebiasaan nyari salahnya sendiri terus.

Raka terdiam.

Senyumnya perlahan menghilang, bukan karena ia tidak senang, melainkan karena sesuatu yang lebih dalam mulai bergerak di dadanya.

Ia tidak pernah menyadari betapa sering dirinya mencari kesalahan sendiri.

Setiap tugas yang selesai, selalu ada bagian yang menurutnya kurang.

Setiap jawaban yang ia berikan di kelas, selalu ada kemungkinan bahwa ia terdengar bodoh.

Setiap orang yang memperlakukannya dengan baik, selalu ada kecurigaan bahwa kebaikan itu akan berakhir ketika mereka melihat dirinya lebih dekat.

Dan tanpa pernah mengatakan apa-apa, Laras rupanya memperhatikan semuanya.

Bukan untuk memperbaikinya secara paksa.

Bukan untuk mengatakan bahwa ia harus berhenti berpikir seperti itu.

Laras hanya meninggalkan kalimat-kalimat kecil di pinggir halaman.

Seolah berkata, aku tahu kamu akan membaca ini sendirian nanti. Jadi aku titip sesuatu buat kamu.

Raka menelan ludah.

Untuk beberapa saat, ia hanya duduk diam.

Kamar itu terasa sangat sunyi.

Terlalu sunyi sampai ia bisa mendengar napasnya sendiri.

Pandangan Raka kembali ke satu tulisan yang berbunyi, Jangan marah sama diri sendiri kalau belum langsung paham.

Entah mengapa, kalimat itu membuat tenggorokannya terasa sempit.

Ia menyandarkan siku di atas meja dan menutup mulutnya dengan punggung tangan. Ingatan lama datang tanpa diminta. Bukan satu peristiwa tertentu, melainkan kumpulan perasaan yang pernah menumpuk di dalam dirinya selama bertahun-tahun.

Lihat selengkapnya