Langit berubah terlalu cepat.
Ketika Raka dan Laras keluar dari ruang kuliah Fakultas Ilmu Budaya sore itu, matahari masih sempat menyisakan warna pucat di antara awan yang menggantung rendah. Mahasiswa lain berhamburan keluar dari kelas dengan wajah lelah, sebagian masih membawa laptop yang belum sempat dimasukkan ke dalam tas, sebagian lagi sibuk membicarakan tugas yang baru saja diberikan dosen. Lorong gedung yang sejak siang dipenuhi suara langkah dan percakapan perlahan mulai lengang. Raka berjalan di sisi Laras sambil memasukkan buku catatannya ke dalam tas, sementara Laras beberapa kali menggeser tali tote bag yang terus melorot dari bahunya.
Mereka baru saja mencapai bagian selasar yang menghadap ke halaman fakultas ketika angin datang lebih dulu.
Bukan angin yang lembut seperti biasanya menjelang sore. Angin itu berembus tiba-tiba, membawa daun-daun kering berputar di atas lantai keramik dan membuat beberapa lembar kertas yang tercecer di meja informasi bergerak-gerak. Laras berhenti sebentar, menatap halaman kampus dengan kening sedikit berkerut.
“Kayaknya mau hujan.”
Raka ikut menengadah.
“Kayaknya?”
Belum sempat Laras menjawab, sebuah titik air jatuh tepat mengenai punggung tangan Raka.
Lalu satu lagi.
Lalu dalam hitungan detik, langit seperti kehilangan kesabarannya.
Hujan turun dengan deras.
Mahasiswa yang masih berada di halaman langsung berlarian menuju bangunan terdekat. Suara sandal yang menghantam lantai, seruan panik, dan tawa orang-orang yang terlambat berteduh bercampur dengan bunyi air yang menghajar atap seng di beberapa bagian gedung. Raka dan Laras refleks mundur beberapa langkah, mencari bagian selasar yang lebih terlindung dari cipratan air.
“Wah, bagus,” kata Raka sambil melihat halaman yang dalam sekejap berubah menjadi abu-abu. “Pas banget.”
Laras menoleh.
“Kenapa?”
“Karena aku nggak bawa payung.”
Ekspresi Laras berubah seperti seseorang yang baru menyadari kesalahan fatal. Ia membuka tote bagnya, mengaduk-aduk isinya dengan gerakan cepat. Buku. Dompet kecil. Tempat pensil. Sebungkus tisu. Sebuah botol minum.
Tidak ada payung.
Raka memperhatikan dengan bibir yang mulai tertarik ke atas.
“Jangan bilang.”
Laras berhenti mengaduk tasnya. Perlahan, ia mengangkat wajah.
“Aku juga nggak bawa.”
Beberapa detik mereka hanya saling memandang.
Kemudian Laras tertawa lebih dulu.
Tawa itu tidak keras, tetapi cukup untuk membuat Raka ikut tersenyum. Ada sesuatu yang lucu dari kenyataan bahwa dua orang mahasiswa yang baru saja selesai membahas materi kuliah dengan cukup serius kini berdiri di bawah selasar seperti dua orang yang benar-benar tidak memiliki rencana cadangan.
“Bagus,” kata Raka. “Berarti kita kompak.”
“Kompak apanya? Sama-sama nggak siap.”
“Itu juga bentuk kekompakan.”
Laras mendengus kecil. “Kamu tuh bisa aja.”
“Terima kasih.”
“Jangan senang dulu. Itu bukan pujian.”
“Aku tahu.”
Hujan semakin deras.
Air jatuh dari ujung atap dalam garis-garis tebal, menghantam tanah dan memercik sampai ke lantai teras. Talang air di sisi gedung tidak mampu menampung semuanya. Air meluap dari salah satu bagian, jatuh seperti tirai yang tidak pernah berhenti. Bau tanah basah mulai memenuhi udara, bercampur dengan aroma daun dan semen yang baru terkena hujan.
Raka menatap halaman yang semakin kosong.
“Kayaknya nggak bakal berhenti cepat.”
Laras mengikuti arah pandangnya. “Ya sudah.”
Raka menoleh.
“Ya sudah?”
“Iya. Kita kan nggak bisa marahin hujannya.”
“Bisa sih.”
“Terus?”
“Ya nggak ngaruh.”
Laras kembali tertawa. Ia kemudian berjalan menuju sebuah bangku kayu panjang yang berada tidak jauh dari dinding. Bangku itu sedikit tua, catnya mulai memudar di beberapa bagian, tetapi cukup terlindung dari hujan. Laras duduk lebih dulu dan meletakkan tasnya di samping.
Ia menepuk ruang kosong di sebelahnya.
“Duduk.”
Raka tidak langsung bergerak.
Ia masih memandangi hujan beberapa saat, seolah sedang mempertimbangkan apakah menunggu di sana merupakan keputusan yang tepat atau sekadar bentuk lain dari ketidakberdayaan. Kemudian ia mengangkat bahu kecil dan berjalan mendekat.
“Baik, Bu.”
“Jangan panggil aku Bu.”
“Kenapa? Kan kamu calon psikolog.”
“Itu nggak ada hubungannya.”
“Semua orang psikologi yang aku kenal suka ngomong kayak ibu-ibu.”
Laras langsung menatapnya. “Siapa?”
Raka berpura-pura berpikir.
“Kamu.”
Laras mengangkat tangan seperti hendak memukul bahunya.
Raka buru-buru bergeser sedikit sambil tertawa.
“Eh, kekerasan.”
“Katanya semua orang psikologi.”
“Ya kamu perwakilan resminya.”
Laras menggeleng, tetapi senyum di wajahnya tidak hilang.
Mereka akhirnya duduk berdampingan.
Di depan mereka, hujan menutup hampir seluruh pandangan halaman kampus. Pohon-pohon yang tadi berdiri tenang kini bergoyang ditiup angin. Genangan mulai terbentuk di beberapa bagian jalan setapak. Lampu-lampu selasar yang otomatis menyala ketika sore mulai gelap memantulkan cahaya kekuningan di lantai yang basah oleh cipratan air.
Suasana kampus yang biasanya tidak pernah benar-benar diam kini berubah.
Mahasiswa yang tadi memenuhi gedung sudah banyak yang pergi atau berteduh di tempat lain. Suara percakapan semakin jauh. Yang tersisa di sekitar mereka hanyalah gemuruh hujan, bunyi air dari talang, dan sesekali suara kendaraan yang melintas di jalan depan fakultas.
Raka menyandarkan punggungnya ke bangku.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.
Dulu, keheningan seperti ini akan membuatnya gelisah.
Pikirannya akan langsung bekerja mencari sesuatu untuk dikatakan. Sebuah komentar. Sebuah cerita. Sebuah argumen. Apa saja yang bisa membuat orang di sebelahnya tetap tertarik. Apa saja yang bisa membuktikan bahwa dirinya tidak membosankan.
Ia pernah begitu.
Bahkan terlalu sering.
Saat bersama Anin, keheningan sering kali terasa seperti ruang kosong yang harus segera ia isi. Kalau percakapan berhenti, Raka akan mulai mencari topik baru. Jika Anin hanya menjawab singkat, ia akan memutar otak lebih keras. Kalau obrolan mulai terasa datar, ia merasa harus menawarkan sesuatu. Membantu sesuatu. Mengurus sesuatu. Menjadi berguna dengan cara apa pun.
Seolah-olah keberadaannya sendiri tidak cukup.
Seolah-olah kalau ia berhenti memberi, orang akan berhenti menginginkannya.
Namun sore itu, duduk di bawah selasar bersama Laras, Raka tidak merasakan dorongan yang sama.
Ia tidak perlu membuka percakapan hanya karena beberapa menit telah berlalu.
Ia tidak perlu menceritakan buku terakhir yang dibacanya.
Tidak perlu mengutip siapa pun.
Tidak perlu membuat dirinya terdengar menarik.
Laras berada di sebelahnya, dan entah bagaimana, itu sudah cukup.
Raka melirik Laras dari sudut mata.
Perempuan itu sedang memandangi hujan dengan tenang. Tangannya memegang tali tote bag yang diletakkan di pangkuannya. Beberapa helai rambut di dekat pelipisnya bergerak ketika angin masuk dari sisi terbuka selasar. Tidak ada ekspresi bosan di wajahnya. Tidak ada tatapan yang seolah menuntut Raka untuk melakukan sesuatu.
Ia hanya duduk.
Hadir.
Raka kembali menatap ke depan.
Suara hujan memenuhi ruang di antara mereka, tetapi untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ruang itu tidak terasa kosong.
Beberapa menit berlalu.
Atau mungkin lebih.
Raka tidak yakin.
Ia hanya tahu bahwa waktu seolah berjalan dengan cara yang berbeda ketika seseorang tidak sedang berusaha menjadi sesuatu.
Laras tiba-tiba bersuara.
“Rak.”
“Hm?”
“Kamu lagi mikir?”
Raka tersenyum kecil.
“Kelihatan?”
“Lumayan.”
“Kok lumayan?”
“Alis kamu.”
Raka menyentuh alisnya.
“Kenapa?”
“Kalau kamu lagi mikir berat, yang kanan selalu agak turun.”
Raka menoleh dengan ekspresi heran.
“Kamu merhatiin sampai situ?”
Laras langsung terlihat sedikit salah tingkah.
“Bukan gitu.”
“Terus?”
“Ya... kelihatan aja.”
“Ah.”
Raka mengangguk perlahan, sengaja menahan senyum.
Laras meliriknya. “Kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa.”
“Kamu ngeledek, ya?”
“Nggak.”