Perpustakaan Fakultas Sastra selalu memiliki jenis keheningan yang berbeda dengan ruang kelas. Keheningannya bukan kosong, melainkan penuh oleh suara-suara kecil yang sengaja dikecilkan. Halaman buku yang dibalik perlahan, kursi yang digeser dengan hati-hati, bunyi ujung pulpen yang sesekali mengetuk meja, serta langkah kaki yang tenggelam di atas karpet tebal berwarna cokelat tua. Siang itu, cahaya matahari masuk dari jendela-jendela tinggi di sisi ruangan dan jatuh dalam bidang-bidang pucat di antara rak buku. Di salah satu sudut ruang baca umum, tiga mahasiswa duduk mengelilingi meja bundar dari kayu yang permukaannya telah dipenuhi goresan tipis akibat bertahun-tahun digunakan.
Raka duduk dengan sebuah buku metodologi terbuka di depannya, sementara beberapa lembar kertas catatan berserakan di samping laptop. Laras berada di sebelah kirinya, sedikit menyamping agar bisa melihat layar laptop yang mereka gunakan bersama. Di seberang mereka, Tari duduk dengan kedua siku bertumpu di meja dan ekspresi wajah yang sudah hampir menyerah.
“Aku masih nggak ngerti,” bisik Tari untuk ketiga kalinya, meskipun bisikannya tetap terdengar cukup jelas. “Serius. Aku baca dari tadi, terus semakin dibaca malah semakin kayak... apa, ya? Kayak semua orang di buku ini sengaja bikin kalimat susah supaya kita merasa bodoh.”
Laras menahan tawa sambil menutup mulut dengan punggung tangannya.
“Itu namanya efek samping baca buku metodologi terlalu lama,” katanya.
“Enggak, serius.” Tari mengangkat kedua tangannya dengan ekspresi frustrasi. “Ini bagian tentang hubungan antarvariabelnya. Aku ngerti definisinya satu-satu. Tapi pas disuruh nyusun logikanya, otakku langsung kayak mie instan direbus tiga kali.”
Raka, yang sejak tadi sedang membaca ulang catatan di hadapannya, mengangkat wajah. Dulu, dalam situasi seperti itu, ia mungkin akan langsung menawarkan diri untuk mengambil alih seluruh pekerjaan. Bahkan sebelum orang lain benar-benar meminta. Ada sesuatu yang dulu selalu bergerak di dalam dirinya ketika melihat kebingungan orang lain, suatu dorongan yang hampir refleks, seperti tangan yang otomatis terulur sebelum otak sempat bertanya apakah bantuan itu memang diperlukan.
Kalau aku yang kerjakan, mungkin mereka bakal lihat aku berguna.
Kalimat itu dulu begitu akrab hingga ia hampir tidak menyadari betapa seringnya kalimat itu mengatur hidupnya.
Namun kali ini Raka tidak langsung menarik laptop Tari, tidak pula berkata bahwa ia akan menyelesaikan semuanya. Ia hanya memutar buku catatannya sedikit ke arah tengah meja.
“Coba kita balik dulu,” katanya pelan. “Jangan mulai dari istilahnya.”
Tari mengerutkan dahi.
“Terus?”
“Mulai dari pertanyaan paling sederhana. Penelitian kita sebenarnya pengin tahu apa?”
Tari terdiam sebentar. Laras melirik Raka, lalu memperhatikan perubahan ekspresi Tari yang mulai berpikir.
“Ya...” Tari menggeser rambutnya ke belakang telinga. “Kita mau tahu apakah faktor A punya hubungan dengan faktor B.”
“Nah.” Raka mengambil pulpen. “Berarti kita nggak usah panik dulu sama kalimat-kalimat panjangnya. Kalau pertanyaan dasarnya aja udah jelas, tinggal kita pecah jalannya.”
Ia menggambar dua kotak kecil di kertas. Satu di sebelah kiri, satu lagi di sebelah kanan. Lalu ia menarik sebuah garis sederhana di antara keduanya.
“Misalnya ini A.” Ujung pulpennya mengetuk kotak pertama. “Ini B. Yang harus kita jelaskan cuma dua hal. Pertama, kenapa A dianggap relevan buat memengaruhi atau berhubungan dengan B. Kedua, proses atau alasan logisnya apa.”
Tari menatap gambar itu.
Raka melanjutkan, “Kalau langsung baca definisi, kepala kita penuh. Tapi kalau mulai dari hubungan dasarnya, kita tinggal tanya, ‘Kalau A berubah, kenapa B mungkin ikut berubah?’ Habis itu baru kita cari teori yang bisa menjelaskan hubungan itu.”
“Oh.”
Satu kata pendek itu keluar begitu saja dari mulut Tari.
Raka berhenti menulis.
Tari memandang kertas itu lagi.
“Oh.”
Kali ini suaranya sedikit lebih tinggi.
Laras mulai tersenyum.
“Apaan?” tanya Raka.
Tari mendadak menunjuk Raka dengan pulpen.
“Nah! Itu!”
Raka mengedip.
“Itu apa?”
“Itu maksudku.” Tari menoleh cepat kepada Laras dan menyenggol lengannya dengan siku, cukup pelan agar tidak mengganggu suasana perpustakaan. “Pantes kamu betah belajar sama dia.”
Laras yang sedang membuka halaman buku mendadak berhenti.
“Apa hubungannya?”
“Ya ada hubungannya.” Tari kembali memandang Raka. “Cara dia jelasin tuh nyebelin.”
“Nyebelin?”
“Iya.” Tari mengangguk mantap. “Karena ternyata gampang. Padahal dari tadi aku stres sendiri kayak mau sidang skripsi besok pagi.”
Raka refleks tersenyum kecil, lalu menundukkan wajahnya.
Ada masa ketika pujian seperti itu akan membuat tubuhnya menegang.
Bukan karena ia tidak menyukai pujian. Justru sebaliknya. Ia terlalu menginginkannya, dan karena terlalu menginginkannya, ia selalu mencurigai ketika pujian itu datang. Ia akan bertanya dalam hati apakah orang itu sedang menyindirnya, apakah ada nada kasihan yang tidak ia dengar, apakah beberapa detik lagi akan muncul tawa yang menjelaskan bahwa semuanya hanyalah bahan candaan.
Terutama jika pujian itu datang dari orang yang dianggap lebih menarik, lebih populer, atau lebih “berada” dalam lingkaran sosial daripada dirinya.
Dulu, Raka akan tertawa canggung. Mungkin sambil berkata, “Ah, biasa aja,” dengan suara yang terlalu cepat. Setelah itu ia akan berusaha membuktikan dirinya lebih jauh lagi, menjelaskan lebih banyak daripada yang diperlukan, bekerja lebih keras daripada yang diminta, seolah satu pujian harus dibayar dengan serangkaian bukti bahwa ia memang layak menerimanya.
Sekarang, setelah beberapa detik, ia hanya mengangkat wajah lagi.
“Makasih,” katanya.
Tari berkedip.
“Hah?”
Raka mengernyit tipis.
“Kenapa?”
“Enggak. Biasanya orang kalau dipuji suka jawab, ‘Ah, nggak juga.’”
“Ya aku seneng dipuji.”
Jawaban itu begitu datar hingga Laras gagal menahan tawa. Suaranya kecil, tapi cukup membuat Tari ikut terkikik.
Raka memandang mereka bergantian.
“Apa?”
“Enggak ada,” kata Laras sambil tersenyum.
“Beneran.”
“Beneran.”
Tari menggeleng-gelengkan kepala. “Aku suka sih. Jujur aja. Jadi nggak ribet.”
Raka mengembuskan napas melalui hidung. “Ya masa aku harus pura-pura nggak seneng.”
“Dulu kamu kayak gitu nggak?”
Pertanyaan Laras datang tiba-tiba, tetapi nada suaranya tidak terdengar seperti sedang menginterogasi. Ia hanya bertanya sambil memainkan ujung pulpennya, seolah ingin memahami sesuatu yang baru saja muncul di permukaan.
Raka menatap halaman bukunya.
“Kayaknya,” katanya akhirnya.
“Kayaknya?”
“Ya... dulu kalau ada yang muji, aku sering mikir orangnya bercanda atau kasihan.”
Tari berhenti tersenyum.
Laras tidak langsung menjawab.
Di antara mereka, ada jeda singkat yang tidak terasa berat. Tidak ada keharusan untuk segera menutupnya dengan kalimat-kalimat penyemangat. Raka sudah mulai mengenali jenis keheningan yang seperti ini sejak mengenal Laras. Keheningan yang tidak buru-buru mengoreksi perasaannya. Tidak mencoba mengatakan bahwa ia seharusnya tidak berpikir demikian. Tidak memaksa masa lalu untuk berubah menjadi sesuatu yang lebih mudah dicerna.
Tari menatap Raka beberapa detik, lalu berkata pelan, “Yah, berarti kamu kurang ketemu orang yang ngomong apa adanya.”
Raka tersenyum.
“Mungkin.”
“Kalau aku bilang kamu jago jelasin, ya karena emang jago.” Tari mengangkat bahu. “Nggak ada agenda tersembunyi.”
Laras mengangguk. “Aku saksi.”
“Kamu saksi apa?”
“Kalau Tari punya agenda tersembunyi, paling agenda utamanya nyari makanan.”
“Hei.”
Laras tertawa lagi. Kali ini Tari ikut tertawa lebih keras sebelum buru-buru menutup mulut ketika seorang mahasiswa di meja sebelah menoleh.
Raka memandangi keduanya.