Makasih Sudah Bertahan

Diva Amane
Chapter #52

Bimo dan Pertanyaan

Warkop itu tidak pernah benar-benar sepi.

Bahkan ketika jam sudah mendekati tengah malam, selalu ada seseorang yang duduk terlalu lama di salah satu meja plastik, entah karena tugas kuliah, pertandingan sepak bola, atau sekadar tidak ingin kembali ke kamar kos yang pengap. Lampu putih yang menggantung di bawah kanopi membuat asap dari dapur kecil di bagian belakang tampak menggumpal di udara. Di salah satu sudut, suara sendok beradu dengan gelas terdengar berulang-ulang. Seorang mahasiswa memesan kopi saset ketiga malam itu, sementara dari dapur muncul aroma mie rebus yang baru saja diberi telur.

Raka dan Bimo duduk di meja dekat dinding.

Di hadapan Bimo, sebungkus mie goreng sudah tinggal setengah. Di hadapan Raka, segelas kopi hitam mengepulkan uap tipis. Namun sejak sepuluh menit terakhir, perhatian Raka lebih banyak tertuju pada ponsel yang diletakkan di samping gelas.

Bimo sebenarnya sudah memperhatikannya sejak awal.

Awalnya ia hanya melihat Raka tersenyum kecil ketika layar ponselnya menyala.

Lalu Raka membalas sesuatu.

Beberapa menit kemudian ponselnya kembali berbunyi, dan senyum itu muncul lagi.

Bimo mengambil satu suapan mie sambil menyipitkan mata.

Raka tidak sadar.

Bunyi notifikasi kembali terdengar.

Raka segera mengambil ponselnya.

Bimo melihat cukup jelas.

Sebuah stiker beruang muncul di layar. Beruang itu berbentuk bulat dengan kedua tangan terbuka lebar, seperti sedang meminta seseorang datang untuk dipeluk. Di atasnya ada pesan singkat.

Jangan tidur terlalu malam, ya.

Sudut bibir Raka langsung terangkat.

Bimo menahan ekspresi selama dua detik.

Lalu dengan satu gerakan cepat, ia menepuk bahu Raka cukup keras.

“WOI!”

Raka hampir menjatuhkan ponselnya.

“Apaan, sih!”

Refleks pertama Raka justru menyembunyikan layar ponsel itu dengan telapak tangan.

Gerakan itu hanya membuat Bimo semakin curiga.

“Nah!”

“Nah apaan?”

“Apaan tuh?”

“Apaan apaan?”

“Jangan pura-pura bego.” Bimo menunjuk ponsel yang sekarang sudah dibalik layarnya ke bawah meja. “Aku lihat.”

“Kamu nggak lihat apa-apa.”

“Aku lihat beruang.”

“Itu stiker.”

“Ya aku juga tahu itu stiker, goblok.”

Raka menatapnya datar.

Bimo mencondongkan tubuh ke depan.

“Pertanyaannya, siapa yang ngirim?”

“Nggak penting.”

“Penting.”

“Nggak.”

“Penting buat aku.”

“Kenapa penting buat hidup kamu?”

Bimo mengaduk mie yang sebenarnya sudah hampir habis.

“Karena aku udah lama nggak lihat kamu kayak manusia.”

Raka terdiam.

Bimo sendiri tampak sedikit terkejut setelah kalimat itu keluar. Namun ia tidak menariknya kembali. Ia menyandarkan tubuh ke kursi plastik, lalu menghela napas.

“Serius, Ka.”

Nada bercandanya menurun.

Raka memandangnya.

“Beberapa waktu lalu...” Bimo melanjutkan, “aku bahkan nggak tahu harus ngomong apa sama kamu.”

Suara dari warkop tetap berjalan di sekitar mereka. Seorang pelanggan memanggil pemilik warung untuk meminta tambahan kecap. Motor lewat di jalan depan dengan suara knalpot yang terlalu keras. Dari dapur terdengar bunyi piring diletakkan di atas meja.

Namun di meja kecil mereka, suasananya sedikit berubah.

“Kamu masih ingat waktu itu?” tanya Bimo.

Raka menunduk ke arah kopinya.

“Yang mana?”

“Jangan sok lupa.”

Raka tahu.

Ia hanya tidak selalu suka menyebutnya.

Bimo tidak memaksa dengan pertanyaan lebih lanjut. Ia mengenal Raka cukup lama untuk tahu bahwa ada beberapa hal yang tidak bisa dibongkar dengan cara didorong. Maka ia hanya mengambil gelas minumnya, meneguk sedikit air, lalu berkata dengan suara lebih pelan.

“Aku cuma... ya, lega aja sekarang.”

Raka memandangnya lagi.

Bimo menunjuk wajahnya.

“Kamu sekarang kalau ketawa tuh kelihatan.”

“Dulu ketawa juga.”

“Beda.”

“Apa bedanya?”

“Dulu kayak...” Bimo mengangkat tangan, mencari kata. “Kayak orang habis dipaksa foto keluarga. Senyumnya ada, tapi matanya pengin pulang.”

Raka tertawa kecil.

“Nggak gitu juga.”

“Ya kurang lebih.”

Raka menggeleng.

Bimo menyeringai.

“Nah, tuh. Ketawa lagi.”

“Berisik.”

“Cie.”

“Apaan, sih?”

“Siapa?”

Raka langsung tahu ke mana arah pertanyaan itu.

“Siapa apanya?”

“Yang ngirim stiker.”

“Bimo.”

“Raka.”

“Bimo.”

“Raka.”

Raka menghela napas panjang.

Bimo menyandarkan kedua lengannya di meja.

“Laras?”

Beberapa detik, Raka tidak menjawab.

Bimo menunggu.

Akhirnya Raka mengambil ponselnya, membuka layar, lalu melihat pesan terakhir yang belum sempat ia balas. Stiker beruang itu masih ada. Begitu sederhana sampai sebenarnya tidak ada alasan bagi siapa pun untuk merasa malu karenanya.

Tetapi entah mengapa, nama Laras di bagian atas percakapan membuat Raka tersenyum lagi.

Ia buru-buru mematikan layar.

Bimo mengangkat kedua alis.

“Oalah.”

“Apaan lagi?”

“Fix.”

“Apaan yang fix?”

“Kamu suka.”

Raka langsung memalingkan wajah.

“Enggak ngomong gitu.”

“Tapi muka kamu ngomong.”

“Muka aku diem.”

“Muka kamu teriak.”

“Bimo.”

“Ya?”

“Kalau kamu nggak makan, mie kamu keburu dingin.”

“Udah dingin dari tadi.”

“Ya salah kamu.”

Bimo tertawa, sementara Raka berusaha memasang wajah biasa saja. Namun semakin ia berusaha terlihat biasa, semakin Bimo tampak puas.

“Jadi Laras, ya?”

Raka akhirnya menghela napas.

“Iya.”

“NAH.”

“Pelan-pelan, bego.”

“Kenapa? Malu?”

“Enggak.”

“Terus?”

Raka menggeser gelas kopinya sedikit.

Ia tidak langsung menjawab.

Di antara bunyi sendok, kepulan uap, dan suara mahasiswa yang tertawa dari meja sebelah, Raka mencoba menemukan kata-kata yang tepat. Anehnya, membicarakan Laras dengan orang lain terasa jauh lebih sulit daripada membicarakan apa pun bersamanya.

“Bukan...” Ia berhenti. “Aku nggak tahu ini harus disebut apa.”

Bimo menyipitkan mata.

“Waduh.”

“Apaan waduh?”

“Udah kena, berarti.”

“Diam dulu, bisa nggak?”

“Silakan. Aku pendengar yang baik.”

“Kamu dari tadi motong.”

“Sekarang enggak.”

Raka memandangnya dengan curiga.

Bimo mengangkat kedua tangan.

“Janji.”

Raka kembali menatap meja.

“Dia...” Ia berhenti lagi. “Dia nggak pernah bikin aku ngerasa harus jadi orang lain.”

Bimo tidak menyela.

“Sesimpel itu, sih.”

Lihat selengkapnya