Sore turun perlahan di atas kampus, membawa warna keemasan yang menyelinap di antara daun-daun angsana yang berjajar di sepanjang jalan utama. Cahaya matahari yang mulai rendah jatuh miring ke trotoar, memecah bayangan batang pohon menjadi garis-garis panjang di atas paving yang sudah sedikit retak. Mahasiswa masih berlalu-lalang dalam kelompok kecil, beberapa berjalan sambil tertawa keras, beberapa sibuk menunduk pada layar ponsel, sementara yang lain membawa map dan ransel dengan wajah lelah setelah seharian berpindah dari satu kelas ke kelas lain.
Raka dan Laras berjalan di antara semua itu.
Tujuan mereka sebenarnya sederhana. Stasiun tidak terlalu jauh dari kampus, hanya perlu menyusuri jalan utama, melewati gerbang depan, lalu menyeberangi beberapa ruas jalan sebelum sampai ke peron. Mereka tidak sedang mengejar waktu. Kereta Laras masih cukup lama, dan Raka sendiri tidak memiliki urusan yang membuatnya harus terburu-buru pulang ke kos.
Mungkin karena itulah, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Raka benar-benar memperhatikan cara dirinya berjalan.
Ia menunduk sedikit ketika ujung sepatu kanannya menyentuh paving. Langkah berikutnya menyusul. Tidak terlalu panjang. Tidak dipaksakan. Tidak cepat.
Normal.
Begitu sederhana sampai Raka hampir ingin tertawa.
Di sebelahnya, Laras sedang bercerita tentang seorang dosen yang tadi siang mengoreksi presentasi kelompok mahasiswa lain dengan cara yang begitu panjang sampai materi diskusi hampir habis hanya untuk membahas penggunaan satu istilah.
“Terus yang presentasi mukanya gimana?” tanya Raka sambil menahan senyum.
Laras langsung menirukan ekspresi mahasiswa itu. Matanya dibelalakkan, bibirnya sedikit terbuka, lalu bahunya turun seperti seseorang yang baru saja menerima kenyataan bahwa hidup memang tidak pernah berpihak kepada manusia yang membuat slide presentasi satu jam sebelum kelas dimulai.
“Kayak gini,” katanya.
Raka menoleh.
Lalu tertawa.
Bukan tawa yang dibuat-buat untuk menjaga percakapan tetap hidup. Bukan tawa yang harus ia keluarkan karena takut Laras menganggapnya tidak asyik. Tawanya muncul begitu saja, ringan, sampai bahunya ikut bergerak.
“Jahat banget loh, kamu.”
“Apanya yang jahat? Itu observasi.”
“Observasi kok ekspresinya sampai sedetail itu?”
“Aku anak Psikologi. Kami dibayar oleh semesta untuk merhatiin orang.”
“Siapa yang bayar?”
Laras menoleh dengan wajah datar.
“Trauma.”
Raka tertawa lebih keras.
Seorang mahasiswa yang berjalan dari arah berlawanan sempat melirik mereka. Laras sendiri akhirnya ikut tertawa karena melihat reaksi Raka. Langkah mereka tetap berjalan, tidak melambat secara sadar, tidak juga dipercepat.
Raka baru menyadari sesuatu ketika sebuah kelompok mahasiswa laki-laki melewati mereka dari belakang.
Tiga orang.
Semuanya lebih tinggi darinya.
Dua di antaranya berbicara sambil melangkah lebar. Dalam beberapa detik saja, mereka sudah melewati Raka dan Laras, meninggalkan suara obrolan yang semakin menjauh di depan.
Dulu, Raka pasti akan melakukan sesuatu.
Refleks.
Tubuhnya akan mencoba menyesuaikan diri bahkan sebelum pikirannya sempat memerintah. Ia akan memperlebar langkah, mengangkat ritme kaki, berusaha agar dirinya tidak menjadi orang yang terlihat lambat. Jika berjalan bersama laki-laki lain yang lebih tinggi, ia selalu merasa langkahnya harus ikut panjang. Jika tidak, ia akan tertinggal.
Dan tertinggal, entah sejak kapan, selalu terasa seperti kegagalan.
Ia pernah berjalan dengan teman-teman sekelas sambil berusaha mengikuti langkah mereka sampai napasnya menjadi sedikit lebih berat. Tidak ada yang menyuruhnya. Tidak ada yang mengejeknya. Kadang mereka bahkan tidak menyadari apa yang dilakukan Raka.
Justru itu yang membuatnya semakin melelahkan.
Tidak ada yang memaksanya.
Ia sendiri yang selalu merasa harus menyesuaikan diri.
Dulu, ketika berjalan bersama sekelompok mahasiswa laki-laki di koridor atau menuju kantin, Raka sering merasa tubuhnya seperti sesuatu yang harus dikompensasi. Karena ia lebih pendek, maka ia harus lebih cepat. Karena langkahnya lebih kecil, maka ia harus bekerja lebih keras. Karena ia tidak bisa mengubah tinggi badannya, ia merasa setidaknya dirinya harus mampu membuktikan bahwa ia tidak menghambat siapa pun.
Kadang ia mempercepat langkah sampai ujung betisnya terasa tegang.
Kadang ia tertinggal beberapa meter, lalu berusaha mengejar sambil berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
Yang paling melelahkan bukan fisiknya.
Yang paling melelahkan adalah pikiran di belakangnya.
Jangan bikin orang nunggu.
Jangan kelihatan kecil.
Jangan kelihatan lambat.
Jangan jadi beban.
Raka kembali melihat ke depan.
Kelompok mahasiswa tadi sudah jauh.
Ia tidak mengejar mereka.
Tidak ada alasan untuk mengejar.
Di sebelahnya, Laras masih berbicara. Tangannya sesekali bergerak kecil ketika menjelaskan sesuatu, sementara tas kain yang disampirkannya bergoyang pelan mengikuti langkah.
Raka menatap sepatu Laras.
Lalu sepatu sendiri.
Langkah mereka jatuh hampir bersamaan.
Satu.
Dua.
Satu.
Dua.
Ritmenya begitu alami sampai ia tidak tahu sejak kapan mereka berjalan seperti itu.
Laras tidak memperpanjang langkah demi menyesuaikan diri dengan orang lain. Raka juga tidak memaksa dirinya bergerak lebih cepat agar terlihat mampu mengimbangi siapa pun. Tidak ada yang memimpin. Tidak ada yang mengejar.
Mereka hanya berjalan.
“Apa?”
Suara Laras membuat Raka mengangkat wajah.
“Hm?”
“Kamu dari tadi lihat bawah terus.”
“Enggak.”
Laras mengerutkan kening. “Aku tahu bedanya orang lagi mikir sama orang lagi nyari uang jatuh.”
“Pengalaman banyak ya?”
“Lumayan.”
Raka tersenyum kecil.
Laras memperhatikan wajahnya selama beberapa detik. “Lagi mikirin apa?”
Pertanyaan itu sederhana.
Namun Raka tidak langsung menjawab.
Mereka melewati sebuah pohon angsana yang batangnya besar. Daun-daun kering berguguran di sekitar trotoar dan beberapa lembar terinjak oleh sepatu mahasiswa yang lewat. Dari kejauhan, suara motor terdengar bersahut-sahutan dengan klakson mobil.
“Aku baru sadar,” kata Raka akhirnya.
“Sadar apa?”