Makasih Sudah Bertahan

Diva Amane
Chapter #54

Surat Kecil dalam Buku Sastra

Taman kampus mulai sepi ketika langit berubah dari kuning pucat menjadi biru keabu-abuan. Beberapa mahasiswa masih duduk di bawah pohon sambil menyelesaikan tugas, tetapi sebagian besar sudah mulai berkemas. Suara kursi yang digeser, ritsleting tas, dan percakapan yang perlahan menjauh bercampur dengan suara burung yang mulai kembali ke dahan-dahan tinggi.

Raka dan Laras duduk di salah satu bangku taman yang menghadap jalan setapak.

Di pangkuan Raka ada sebuah buku.

Novel klasik dengan sampul yang warnanya sudah sedikit pudar di bagian sudut, tanda bahwa buku itu bukan benda yang baru dibeli. Laras sudah beberapa kali melihat Raka membawa buku itu. Kadang buku tersebut muncul dari tasnya ketika menunggu kelas. Kadang Raka membukanya di kedai teh. Kadang hanya diletakkan di atas meja ketika mereka sedang belajar bersama.

Laras melirik buku itu.

“Kamu dari tadi bawa itu.”

Raka menoleh. “Iya.”

“Buku apa?”

Raka melihat sampulnya.

“Novel.”

“Terima kasih atas penjelasan yang sangat informatif.”

“Ya kamu nanyanya buku apa.”

“Maksudku judulnya apa.”

“Oh.”

Laras memutar bola mata.

Raka tertawa kecil, lalu menyerahkan buku tersebut.

“Nih.”

Laras menerima buku itu.

Tangannya langsung merasakan tekstur sampul yang sudah tidak sepenuhnya licin. Ada bekas lipatan kecil di bagian pinggir, dan halaman-halamannya sedikit menguning.

“Boleh aku pinjam?”

“Memang buat kamu.”

Laras menatap Raka.

“Buat aku?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Raka bersandar ke bangku. “Karena aku rasa kamu bakal suka.”

“Kamu udah tahu aku suka atau nggak?”

“Belum.”

“Terus?”

“Ya makanya dibaca.”

Laras mengamati wajahnya beberapa detik.

“Kamu tuh kadang ngomongnya kayak orang lagi nantang.”

“Bukan nantang.”

“Terus?”

“Rekomendasi.”

“Bedanya tipis.”

“Lumayan.”

Laras tersenyum kecil sambil menunduk melihat buku di tangannya. Ia membuka halaman pertama dan menemukan nama Raka tertulis kecil di pojok atas, dengan tinta hitam yang sudah mulai sedikit memudar.

“Kamu udah baca ini berapa kali?”

“Dua.”

“Cuma dua?”

“Cukup.”

“Kenapa cukup?”

“Kalau tiga kali nanti aku takut sok paham.”

Laras langsung menoleh.

Raka hanya tersenyum.

Kalimat itu terdengar seperti lelucon, tetapi Laras tahu Raka cukup serius ketika berbicara tentang pemahaman. Ia tidak suka berpura-pura mengerti sesuatu hanya karena ingin terlihat pintar. Laras sudah cukup sering melihatnya mengakui bahwa ia tidak tahu, bahkan ketika banyak orang lain mungkin akan memilih mengarang jawaban.

Ia kembali membuka buku itu.

Halaman pertama.

Tidak ada apa-apa.

Halaman berikutnya juga.

Laras membalik beberapa lembar lagi sampai sesuatu jatuh ke pangkuannya.

Sebuah pembatas buku.

Ia memungutnya.

Bukan pembatas buku biasa.

Di dalam laminasi tipis itu terdapat selembar daun kecil yang sudah mengering. Warnanya cokelat keemasan, dengan tulang daun yang masih terlihat jelas. Bentuknya sederhana, tetapi disusun dengan rapi sehingga tampak seperti sesuatu yang sengaja dibuat, bukan sekadar daun yang dipungut dari tanah lalu dimasukkan ke plastik.

Di bagian bawahnya, ada tulisan tangan Raka.

Laras membaca pelan.

Tentang penerimaan, manusia sering mengira ia harus lebih dulu menjadi versi terbaik dari dirinya agar layak dicintai. Padahal mungkin yang lebih sulit justru menemukan orang yang mampu melihat seseorang dalam bentuknya yang belum selesai.

Laras berhenti.

Matanya turun ke tulisan berikutnya.

Dan yang lebih sulit lagi adalah belajar memperlakukan diri sendiri dengan cara yang sama.

Ia tidak langsung berbicara.

Raka yang sejak tadi memperhatikan perubahan ekspresinya mulai merasa sedikit salah tingkah.

“Kalau jelek, bilang aja.”

Laras tetap diam.

“Serius.”

Masih tidak ada jawaban.

Raka mulai menggaruk belakang leher.

“Laras?”

“Aku lagi baca.”

“Oh.”

“Jangan ganggu.”

“Ya maaf.”

Raka menoleh ke arah lain, mencoba terlihat santai.

Namun dari sudut matanya, ia bisa melihat Laras memandangi pembatas buku itu lebih lama daripada yang ia perkirakan.

Catatan tersebut sebenarnya tidak dimaksudkan sebagai sesuatu yang romantis secara terang-terangan. Setidaknya itu yang terus Raka katakan pada dirinya sendiri ketika membuatnya. Ia hanya membaca novel itu dan memikirkan tema penerimaan yang ada di dalamnya. Lalu, entah bagaimana, pikirannya berakhir pada Laras.

Pada cara Laras tidak pernah memaksanya menjelaskan semua hal.

Pada cara Laras membiarkan dirinya diam.

Pada cara Laras mengingatkan bahwa ia punya pilihan.

Pada cara Laras menahan tangannya ketika Raka hampir mengambil alih seluruh tugas kelompok.

Dan tentu saja, pada satu malam yang masih terlalu dekat di dalam ingatannya.

Sebuah kamar gelap.

Seseorang yang datang.

Sebuah tangan yang mengusap kepalanya.

Suara Laras yang mengatakan bahwa ia mencintai semua tentang dirinya.

Raka tidak pernah tahu bagaimana harus membalas sesuatu seperti itu.

Mungkin karena itulah ia membuat pembatas buku.

Tidak cukup berani untuk mengatakan terlalu banyak.

Tetapi juga tidak ingin membiarkan semuanya tidak pernah dikatakan.

“Aku suka.”

Suara Laras membuatnya menoleh.

“Hah?”

“Aku suka.”

“Oh.”

Raka berusaha terlihat biasa saja.

Namun sudut bibirnya terangkat.

Laras langsung menangkapnya.

“Kamu seneng banget ya?”

“Enggak.”

“Bohong.”

“Aku cuma lega.”

“Kenapa?”

Lihat selengkapnya