Makasih Sudah Bertahan

Diva Amane
Chapter #55

Validasi Tanpa Syarat

Sore itu kampus seperti sedang kehabisan tenaga untuk menjadi bising.

Matahari belum benar-benar turun, tetapi cahaya keemasannya sudah mulai menembus sela-sela ranting pohon besar di dekat gedung lama Fakultas Psikologi. Daun-daun bergerak pelan setiap kali angin datang, menciptakan bayangan yang bergeser di atas tanah dan bangku kayu panjang yang cat cokelatnya mulai pudar dimakan usia. Dari kejauhan terdengar suara beberapa mahasiswa yang masih tertawa sambil berjalan menuju parkiran, bunyi motor yang sesekali meraung, dan suara bola yang dipantulkan berulang kali dari lapangan kecil di belakang gedung.

Raka duduk di salah satu ujung bangku, dengan tas ransel diletakkan di samping kakinya.

Tangannya memegang sebotol air mineral yang sudah hampir kosong. Entah sudah berapa menit ia memutar tutup botol itu tanpa benar-benar membukanya. Pikirannya masih sesekali kembali pada kejadian siang tadi, ketika Dika akhirnya menyerah meminta bantuannya mengerjakan proposal organisasi.

Bukan karena Raka merasa bersalah telah menolak.

Yang membuatnya aneh justru karena setelah semuanya selesai, ia tidak merasakan sesak yang biasanya datang setiap kali dirinya memilih sesuatu untuk kepentingan sendiri.

Dulu, mengatakan tidak selalu terasa seperti tindakan kejam.

Seolah-olah setiap penolakan yang keluar dari mulutnya berarti satu kesempatan lagi bagi orang lain untuk menganggapnya tidak berguna.

Seolah-olah selama ini satu-satunya cara agar dirinya pantas dipertahankan dalam kehidupan seseorang adalah dengan selalu tersedia.

Bisa dimintai tolong.

Bisa dihubungi tengah malam.

Bisa mengerjakan sesuatu yang sebenarnya bukan tanggung jawabnya.

Bisa menjadi orang yang tidak pernah merepotkan, tetapi selalu siap direpotkan.

Raka menunduk, menatap ujung sepatunya sendiri.

Langkahnya selama ini memang baru saja mulai berubah, pikirnya. Tidak hanya ketika berjalan. Tidak hanya ketika berada di samping Laras. Ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar cara ia menempatkan kaki di trotoar.

Ia perlahan sedang belajar berhenti mengejar orang lain.

“Kalau botol itu kamu putar terus, tutupnya bisa pindah dimensi.”

Raka menoleh.

Laras berdiri beberapa langkah dari bangku dengan kedua tangan memegang dua gelas minuman plastik. Rambutnya sedikit berantakan karena angin, dan ada ekspresi geli di wajahnya saat melihat apa yang dilakukan Raka.

Raka baru sadar tangannya memang masih memutar tutup botol yang sama.

“Enggak sampai pindah dimensi juga, kali.”

“Ya siapa tahu. Kamu kan suka mikir jauh.”

“Kamu datang dari mana?”

“Dari koperasi. Aku beli teh dingin.” Laras mengangkat salah satu gelas. “Aku enggak tahu kamu mau apa, jadi aku beli yang biasa kamu minum.”

Raka memandang gelas itu selama sesaat.

“Lho, kamu tahu?”

Laras duduk di sampingnya, meninggalkan jarak kecil yang entah sejak kapan terasa begitu natural di antara mereka. “Tahu, lah.”

“Dari mana?”

Laras menyerahkan minuman itu. “Ya dari beberapa kali kita makan bareng.”

Raka menerima gelasnya.

Kalimat itu sederhana. Bahkan mungkin terlalu sederhana untuk dianggap penting.

Tetapi ada sesuatu yang selalu membuat Raka diam ketika Laras melakukan hal-hal seperti itu. Bukan karena gesturnya luar biasa. Justru sebaliknya. Laras mengingat sesuatu yang kecil tanpa membuatnya terasa seperti pengorbanan besar. Ia tidak berkata bahwa dirinya sengaja memperhatikan. Ia tidak meminta Raka mengagumi ketelitiannya.

Ia hanya tahu.

Dan kemudian bertindak seolah itu adalah hal paling biasa di dunia.

“Masih kepikiran Dika?” tanya Laras.

Raka memasukkan sedotan ke dalam minumannya. “Kelihatan?”

“Sedikit.”

“Sedikit banget?”

“Lumayan.”

Raka mendengus kecil.

Laras tersenyum. “Kamu kalau lagi mikir, alis kiri kamu suka naik sendiri.”

“Serius?”

“Iya.”

“Jelek?”

Laras menoleh cepat.

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Raka sendiri langsung menyadarinya sesaat setelah kalimat itu terucap. Ia tertawa pendek, tetapi tawanya terdengar seperti seseorang yang sedang berusaha menutup pintu sebelum orang lain melihat apa yang ada di baliknya.

“Refleks,” katanya.

Laras tidak langsung menjawab.

Ia hanya memandang Raka beberapa detik, dan justru karena itulah Raka mulai merasa tidak nyaman. Bukan karena takut dinilai. Lebih karena ia tahu Laras sering kali melihat sesuatu yang bahkan dirinya sendiri belum sempat sadari.

“Aku enggak lagi mikirin kamu jelek atau enggak.”

Raka menunduk.

“Ya aku cuma nanya.”

“Aku tahu.”

Angin kembali lewat. Beberapa helai daun kering jatuh dari pohon dan berputar-putar di atas jalur paving sebelum berhenti dekat kaki bangku. Sinar matahari menyentuh sisi wajah Laras, membuat matanya tampak lebih terang ketika ia menoleh ke depan.

“Kamu berubah,” katanya akhirnya.

Raka menatapnya.

“Apanya?”

“Banyak.”

“Jawaban yang sangat membantu.”

Laras tertawa kecil. “Kamu sekarang kalau kesel, mukanya masih sama. Kalau capek, kamu masih suka bilang ‘enggak apa-apa’ padahal kelihatan banget capek. Kamu juga masih suka kebanyakan mikir sebelum jawab pertanyaan.” Ia berhenti sebentar. “Tapi sekarang kamu enggak selalu menganggap dirimu harus ngalah.”

Raka memandangi minumannya.

“Baru sekali nolak orang.”

“Bukan soal berapa kalinya.”

“Terus?”

“Cara kamu nolak tadi.”

Raka terdiam.

Laras menyandarkan punggung ke bangku. “Aku lihat dari jauh.”

“Oh.”

“Aku memang lagi nungguin kamu.”

“Stalker, ya?”

“Beda. Kalau stalking itu aku sembunyi-sembunyi.”

“Kalau nungguin?”

“Aku punya tujuan mulia.”

Raka menoleh. “Apa?”

“Mau ngajak kamu pulang bareng.”

Sudut bibir Raka bergerak.

“Alasan yang sangat mulia.”

“Kan.”

Mereka tertawa kecil.

Tawa itu mereda dengan sendirinya, menyisakan ketenangan yang tidak terasa seperti kekosongan. Dulu Raka selalu merasa harus mengisi jeda. Kalau sedang bersama seseorang, terutama seseorang yang ia sukai, pikirannya akan bekerja terlalu keras. Harus bicara apa? Harus lucu bagaimana? Harus terlihat pintar sampai batas mana agar tidak terkesan bodoh, tetapi tidak terlalu pintar sampai dianggap sok tahu?

Setiap percakapan pernah terasa seperti ujian.

Setiap kebersamaan pernah menjadi panggung.

Tetapi bersama Laras, tidak ada lampu sorot.

Tidak ada penonton.

Ia tidak perlu terus-menerus memastikan dirinya cukup menarik untuk dipertahankan.

“Dika tadi sempat bilang sesuatu,” kata Laras.

Raka mengangkat wajah.

“Apa?”

“Yang soal…” Laras menatapnya dengan hati-hati, lalu menirukan nada bicara seseorang yang berusaha menyindir. “‘Pantesan ditolak, lawannya Laras.’”

Wajah Raka langsung berubah.

Bukan marah. Lebih seperti rasa tidak enak yang tiba-tiba datang dari tempat lama.

“Ya, itu dia emang mulutnya suka begitu.”

“Tapi kamu enggak kebawa.”

“Buat apa?”

Laras memperhatikannya.

Raka mengangkat bahu. “Kalau aku marah, dia juga belum tentu ngerti kenapa. Kalau aku jelasin panjang-panjang, nanti malah aku sendiri yang capek.”

“Dulu kamu bakal gimana?”

Pertanyaan itu membuat Raka diam.

Ia memikirkan dirinya yang lama.

Versi dirinya yang akan tersenyum meskipun tidak nyaman.

Yang mungkin setelah itu malah menyetujui permintaan Dika agar dianggap santai.

Yang akan pulang sambil membongkar satu kalimat selama berjam-jam.

Yang akan berdiri di depan cermin dan bertanya-tanya apakah memang semua orang bisa melihat kekurangan yang selama ini ia sembunyikan.

“Dulu?” Raka mengembuskan napas perlahan. “Mungkin aku bakal ketawa.”

Laras tidak mengatakan apa-apa.

“Terus malamnya kepikiran.”

Tatapan Laras melunak.

“Bukan karena kalimatnya pintar,” lanjut Raka sambil tersenyum tipis. “Tapi karena ya… kadang ada beberapa kalimat yang masuknya gampang banget kalau orangnya udah dari awal percaya sama hal yang sama.”

Laras menunduk sejenak.

“Kamu tahu kenapa aku suka cara kamu menghadapi dia tadi?”

“Karena aku akhirnya bisa sok cool?”

“Bukan.”

“Karena aku enggak mukul dia?”

“Raka.”

“Oke, oke.”

Laras menarik napas kecil. “Karena kamu enggak berusaha menang.”

Raka memandangnya.

“Kamu cuma menjaga batas kamu sendiri,” katanya. “Kamu enggak butuh bikin dia malu. Enggak butuh balas nyindir. Enggak butuh nunjukkin kalau kamu lebih pintar atau lebih bermoral dari dia. Kamu cuma bilang enggak, terus selesai.”

Sore perlahan berubah lebih tenang. Suara mahasiswa di kejauhan semakin sedikit. Cahaya matahari bergeser, membuat bayangan batang pohon memanjang di atas tanah.

Raka menatap Laras cukup lama.

Ada banyak orang yang pernah menilai tindakannya.

Ada yang memujinya ketika ia membantu.

Ada yang menyebutnya baik.

Ada yang berkata bahwa dirinya bisa diandalkan.

Namun pujian seperti itu sering kali datang dengan tuntutan diam-diam. Kalau Raka berhenti membantu, apakah ia masih baik? Kalau suatu hari ia lelah, apakah orang-orang masih menganggapnya berharga?

Laras seperti sedang mengatakan sesuatu yang berbeda.

Ia tidak memuji apa yang bisa Raka lakukan untuk orang lain.

Ia memuji batas yang akhirnya berani ia buat.

Dan entah kenapa, bagi Raka, itu jauh lebih sulit diterima.

“Kadang aku takut jadi egois,” katanya.

Laras langsung menoleh.

“Karena nolak?”

“Karena sekarang aku mulai mikirin diriku sendiri juga.”

“Raka.”

Nada suara Laras berubah pelan.

Tidak menghakimi.

Tidak terburu-buru.

Justru itu yang membuat Raka kembali menatapnya.

“Menjaga diri sendiri itu bukan egois.”

Lihat selengkapnya