Makasih Sudah Bertahan

Diva Amane
Chapter #56

Malam Terang di Alun-Alun

Malam minggu selalu punya cara sendiri untuk membuat kota terasa lebih hidup daripada biasanya. Jalan utama yang biasanya hanya dipenuhi kendaraan pulang kerja berubah menjadi aliran lampu merah, putih, dan kuning yang bergerak perlahan, sementara suara klakson sesekali bercampur dengan musik dari pengeras suara pedagang kaki lima di pinggir jalan. Di antara semua keramaian itu, sebuah motor tua berwarna hitam melaju dengan kecepatan sedang, tidak tergesa-gesa, melewati deretan toko yang sebagian lampunya sudah menyala terang. Raka mengendarainya dengan kedua tangan mantap di setang, sementara Laras duduk di belakangnya dengan helm yang sedikit kebesaran, kedua tangannya berpegangan ringan pada sisi jok. Mereka tidak punya rencana besar malam itu. Tidak ada restoran mahal, tidak ada acara khusus, bahkan tidak ada daftar tempat yang harus dikunjungi. Raka hanya merasa kepalanya terlalu penuh setelah beberapa hari berkutat dengan tugas kuliah dan berbagai pikiran yang belakangan justru semakin jarang terasa berat, sehingga ketika Laras mengirim pesan sore tadi dan bertanya apakah dia mau keluar sebentar, jawabannya datang hampir tanpa berpikir.

"Mau ke mana?"

"Alun-alun?"

"Jam segini?"

"Iya."

"Yaudah."

Begitulah sederhana awalnya.

Sekarang, ketika motor mereka memasuki kawasan alun-alun kota, Raka langsung melihat perubahan suasana. Lampu-lampu hias bergelantungan di antara pohon, membentuk garis-garis cahaya yang berkelip seperti bintang buatan manusia. Anak-anak berlarian mengejar gelembung sabun, pasangan muda duduk berdempetan di tepi trotoar, keluarga-keluarga berjalan membawa kantong makanan, sementara para mahasiswa bergerombol dengan pakaian santai dan sandal yang kadang terlihat tidak cocok dengan apa pun yang mereka kenakan. Di sisi jalan, pedagang kembang gula memutar tongkatnya perlahan hingga gula berwarna merah muda berubah menjadi gumpalan besar seperti awan. Tidak jauh dari sana, uap tipis mengepul dari panci wedang ronde, membawa aroma jahe, kacang, dan gula yang hangat ke udara malam.

Raka memperlambat motor dan mencari tempat parkir. Setelah beberapa kali berputar melewati kendaraan yang berjejal, akhirnya ia menemukan ruang sempit di antara dua motor matic. Ia mematikan mesin, lalu menurunkan standar dengan gerakan hati-hati. Laras turun lebih dulu dan berdiri di samping motor sambil merapikan rambut yang berantakan diterpa angin selama perjalanan. Raka melepas helmnya dan mengibaskan rambut dengan telapak tangan. "Rambutmu," kata Laras sambil menahan tawa.

"Kenapa?"

"Kayak habis berantem sama angin."

Raka menyentuh rambutnya, lalu menatap Laras dengan wajah datar. "Aku menang?"

Laras akhirnya tertawa. "Nggak. Kayaknya anginnya yang menang telak."

Raka menggeleng sambil tersenyum, lalu mengunci stang motor. Entah kenapa, percakapan sesederhana itu membuat langkah pertamanya malam itu terasa ringan. Tidak ada sesuatu yang harus ia buktikan. Tidak ada orang tertentu yang harus dibuat terkesan. Bahkan ketika mereka berjalan menuju kerumunan, Raka tidak lagi secara otomatis menarik bahunya sedikit ke depan seperti kebiasaannya dahulu. Tubuhnya bergerak sebagaimana adanya, tanpa usaha untuk membuat dirinya terlihat lebih tinggi atau lebih besar daripada kenyataan.

Mereka berjalan perlahan menyusuri deretan lapak. Laras beberapa kali berhenti karena tertarik melihat makanan yang belum pernah mereka coba bersama. Raka awalnya hanya mengikuti, tetapi begitu melihat penjual telur gulung, ekspresinya langsung berubah. "Aku mau itu."

Laras menoleh. "Serius?"

"Serius."

"Kamu umur dua puluh tahun."

"Terus?"

"Kirain kamu mau makanan yang lebih dewasa."

Raka menunjuk gerobak di depan mereka. "Telur gulung adalah makanan yang sangat dewasa karena berhasil bertahan sampai sekarang."

Laras tertawa sampai bahunya berguncang. "Logikamu aneh."

"Yang penting valid."

Mereka membeli dua tusuk telur gulung. Raka mencoba menggigit terlalu cepat dan langsung kepanasan. Ia menahan wajahnya agar tidak terlihat kesakitan, tetapi Laras sudah memperhatikannya.

"Pedas?"

"Panas."

"Makanya jangan sok kuat."

"Aku nggak sok kuat."

"Kamu barusan mukanya merah."

Raka meniup makanan di tangannya dengan ekspresi malu. "Jangan bilang siapa-siapa."

"Rahasia."

Laras mengangkat satu jari di depan bibirnya seolah menyegel janji, lalu tersenyum. Raka ikut tersenyum. Sesaat kemudian mereka kembali berjalan, berbagi makanan kecil dari satu lapak ke lapak lain, tertawa atas hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Mereka membeli kembang gula yang terlalu besar untuk dimakan dengan nyaman, lalu Laras berusaha menggigit bagian paling ujung dan membuat gula kapas menempel di ujung hidungnya. Raka menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya tertawa begitu lepas sampai harus menundukkan kepala.

"Jangan ketawa!" protes Laras.

"Maaf."

"Kamu malah ketawa lagi."

"Soalnya lucu."

Lihat selengkapnya