Malam belum terlalu larut ketika mereka meninggalkan alun-alun. Jalanan masih ramai, dan alih-alih langsung kembali ke kos, Laras mengusulkan berhenti sebentar di sebuah kafe terbuka yang letaknya tidak jauh dari kawasan kampus. Tempat itu sebenarnya sudah beberapa kali mereka lewati, tetapi baru malam itu Raka bersedia masuk. Bangunannya tidak terlalu besar, namun halaman depannya dipenuhi meja-meja besi berwarna gelap dan kursi kayu dengan bantalan tipis. Lampu gantung warm white menggantung rendah di atas kepala, menciptakan lingkaran-lingkaran cahaya kecil yang membuat suasana terlihat hangat meski udara malam mulai dingin.
Mereka memilih meja di bagian luar, agak menjauh dari pintu masuk. Raka duduk berhadapan dengan Laras, lalu membuka menu yang sebenarnya tidak terlalu banyak pilihan. Laras membaca daftar minuman dengan serius seolah sedang memilih sesuatu yang membutuhkan pertimbangan akademis.
"Kenapa lama banget?" tanya Raka.
"Aku bingung."
"Cuma minuman."
"Justru karena cuma minuman. Kalau makanan gampang."
Raka menahan tawa. "Kamu mau kopi atau teh?"
"Belum tahu."
"Air putih."
Laras langsung menatapnya tajam.
Raka tertawa. "Bercanda."
Akhirnya mereka memesan dua minuman dingin. Setelah pelayan pergi, Raka bersandar di kursinya dan memandang suasana sekitar. Beberapa meja penuh oleh mahasiswa. Ada yang mengerjakan laptop, ada yang berbicara dalam kelompok kecil, ada pula pasangan yang duduk bersebelahan sambil sesekali saling memperlihatkan layar ponsel.
Pada meja yang berada tidak jauh dari mereka, empat mahasiswa laki-laki sedang duduk bersama dua perempuan. Percakapan mereka cukup keras sehingga sebagian terdengar sampai ke tempat Raka dan Laras. Salah seorang laki-laki mengenakan jam tangan besar yang beberapa kali disentuhnya sendiri ketika berbicara. Di samping laptopnya tergeletak ponsel mahal dengan casing yang mencolok.
"Menurut gue, kalau kita ngomongin struktur sosial, sebenarnya problemnya bukan sekadar relasi kuasa," katanya dengan suara yang sengaja dinaikkan. "Kita harus baca ini melalui perspektif interseksionalitas dan kemudian dikontekstualisasikan ke habitus masyarakat urban."
Raka menatap meja mereka sebentar, lalu mengalihkan pandangan.
Laras menahan senyum.
Beberapa detik kemudian mahasiswa yang sama kembali berbicara. "Gue kemarin baru baca Bourdieu lagi. Menarik banget kalau dikaitkan sama fenomena ini."
Temannya mengangguk cepat.
"Lu baca yang versi Prancis?"
"Enggak."
"Yang Inggris?"
"Iya."
Raka menundukkan wajahnya agar Laras tidak melihat senyum kecil yang muncul di bibirnya.
Laras justru menyenggol kakinya di bawah meja.
"Jangan," bisiknya.
"Aku nggak ngomong apa-apa."
"Ekspresimu."
"Ekspresiku biasa."
"Enggak."
Raka menahan tawa. Ia tidak ingin mengejek mereka. Bahkan sebenarnya ia tidak punya masalah dengan orang yang membicarakan teori sosial, membaca Bourdieu, atau menggunakan istilah akademik. Yang membuatnya merasa aneh adalah cara sebagian kata-kata itu dilemparkan seperti benda pajangan, bukan sebagai alat untuk memahami sesuatu.
Ia pernah berada di lingkungan yang sama. Pernah merasa harus mengetahui semuanya agar tidak terlihat bodoh. Pernah menghafal istilah bukan karena benar-benar membutuhkannya, melainkan karena takut dianggap tidak cukup intelektual. Bahkan pernah mengubah cara berbicara agar terdengar lebih meyakinkan daripada dirinya sendiri.
Kini ia melihatnya dari luar.
Dan ternyata melelahkan.
Pelayan datang membawa minuman mereka. Raka mengucapkan terima kasih, kemudian menyeruput minumannya. Laras melakukan hal yang sama. Namun beberapa menit kemudian, suara dari meja sebelah kembali menarik perhatian mereka.
"Kalau mau masuk organisasi, menurut gue lo harus punya positioning," kata salah satu dari mereka kepada perempuan di depannya. "Jangan cuma aktif. Harus punya personal branding."
Perempuan itu mengangguk sambil tersenyum.
Raka memandang gelasnya.
"Kadang aku mikir," katanya pelan.
Laras menatapnya. "Apa?"
"Capek nggak ya hidup kalau setiap saat harus tampil sebagai versi diri yang paling keren?"
Laras tidak langsung menjawab.
Raka melanjutkan, "Harus kelihatan paling tahu. Harus punya barang tertentu. Harus ngomong dengan cara tertentu. Harus punya posisi tertentu. Bahkan ketika ngobrol sama orang yang disuka pun harus seperti sedang presentasi."
Laras menatapnya cukup lama.
"Kamu pernah begitu?"
Raka mengangguk pelan.