Makasih Sudah Bertahan

Diva Amane
Chapter #58

Keheningan yang Berbicara

Pendingin ruangan perpustakaan bekerja terlalu rajin siang itu.

Raka baru menyadarinya setelah duduk hampir dua puluh menit di ruang baca mandiri lantai dua, ketika dingin mulai merayap dari permukaan meja kayu ke ujung jarinya. Di hadapannya terbuka tiga lembar materi kuliah yang sudah penuh coretan kecil, dua buku referensi yang ditumpuk agak miring, serta sebuah kalkulator sederhana yang sejak tadi lebih banyak disentuh daripada benar-benar digunakan. Cahaya matahari masuk dari jendela panjang di sisi ruangan, jatuh dalam garis-garis pucat di lantai, sementara suara pendingin udara bercampur dengan bunyi halaman yang dibalik perlahan dari beberapa mahasiswa lain yang duduk berjauhan.

Di sebelah kanannya, Laras sedang menunduk di balik buku catatan yang terbuka.

Mereka datang bersama hampir tepat pukul satu siang. Tidak ada rencana rumit, tidak ada ajakan yang dibungkus kata-kata manis. Laras hanya mengirim pesan pagi tadi.

Belajar di perpus, yuk. Aku udah mulai panik sama UTS.

Raka membalas beberapa menit kemudian.

Jam berapa?

Habis zuhur?

Oke.

Sesederhana itu.

Namun sekarang, setelah hampir tiga jam duduk berdampingan, Raka mulai menyadari bahwa ia belum mendengar suara Laras lebih dari beberapa kali sejak mereka tiba. Laras sempat bertanya apakah ia membawa materi kuliah yang kemarin dipinjamkan dosen. Raka mengangguk dan mengeluarkan salinan materi dari tasnya. Setelah itu mereka memilih meja di sudut ruang baca, meletakkan buku masing-masing, lalu tenggelam dalam pekerjaan sendiri.

Tidak ada percakapan yang dipaksakan.

Tidak ada kebutuhan untuk terus-menerus memastikan suasana tetap hidup.

Dan justru karena itulah, Raka merasa anehnya tenang.

Ia mengangkat pandangan dari halaman yang sejak lima menit lalu dibacanya tanpa benar-benar dipahami. Laras sedang menulis sesuatu dengan alis sedikit mengernyit. Rambutnya diikat sederhana, beberapa helai terlepas di dekat pipi karena terlalu sering ia selipkan ke belakang telinga. Ujung pensil yang digunakannya bergerak cepat, berhenti, lalu bergerak lagi. Sesekali bibirnya mengerucut kecil ketika menemukan bagian materi yang tampaknya tidak ia sukai.

Raka hampir tersenyum.

Laras memang tidak pernah belajar dengan tenang dalam arti sebenarnya. Ketika berpikir keras, wajahnya justru penuh gerakan kecil yang tidak pernah ia sadari sendiri. Alisnya bergerak. Bibirnya berubah bentuk. Pensilnya diketukkan pelan ke meja, kadang tiga kali, kadang lima kali, seolah ada irama tertentu yang hanya ia pahami sendiri.

Beberapa minggu lalu, Raka mungkin akan menganggap dirinya aneh karena memperhatikan hal-hal seperti itu.

Sekarang ia hanya memperhatikan.

Tanpa merasa bersalah.

Tanpa buru-buru mengalihkan pandangan ketika ketahuan.

Seolah kedekatan dengan Laras perlahan-lahan mengajarinya bahwa memperhatikan seseorang tidak selalu berarti harus memiliki sesuatu sebagai balasannya. Kadang seseorang hanya hadir di hadapanmu, dan keberadaannya saja sudah cukup membuat dunia terasa tidak terlalu berat.

Pensil Laras bergulir perlahan ke arah tepi meja.

Raka melihatnya lebih dulu.

Tangannya bergerak sebelum pensil itu benar-benar jatuh. Ia menahannya dengan dua jari, lalu meletakkannya kembali tepat di samping buku catatan Laras. Laras masih menunduk, tidak menyadari apa yang baru saja terjadi.

Beberapa detik kemudian, ia mengulurkan tangan untuk mencari pensilnya tanpa melihat.

Tangannya berhenti.

Pensil itu sudah berada di tempat yang seharusnya.

Laras melirik Raka.

“Kamu yang benerin?”

Raka tetap menatap bukunya. “Mau jatuh.”

“Oh.”

Laras kembali mengambil pensil itu.

Hening lagi.

Raka mengira percakapan mereka selesai sampai Laras berkata pelan, “Makasih.”

Raka mengangkat bahu kecil.

Tidak ada yang perlu ditanggapi.

Di ruang baca yang tenang itu, mereka seperti dua orang yang sudah menemukan ritme sendiri tanpa pernah benar-benar membicarakannya. Ketika Laras ingin membuka buku lain, Raka sedikit menggeser tumpukan materinya agar Laras punya ruang. Ketika Raka mencari stabilo yang ternyata tertinggal di tas, Laras mendorong stabilonya sendiri ke tengah meja tanpa berkata apa-apa. Tidak ada yang meminta. Tidak ada yang merasa perlu menjelaskan.

Hal-hal kecil itu terjadi begitu saja.

Mungkin justru karena mereka tidak sedang mencoba membuat sesuatu terjadi.

Raka kembali membaca.

Materi di depannya membahas beberapa konsep yang sejak tadi membuat kepalanya terasa berat. Ia mengusap pelipis dengan dua jari, kemudian mengembuskan napas perlahan. Sekilas ia menatap jam tangan. Baru dua puluh menit berlalu sejak terakhir kali ia melihat waktu.

“Ini kenapa kayaknya makin dibaca malah makin banyak, ya?” gumamnya sangat pelan.

Laras tidak langsung menjawab.

Ia masih menulis.

Raka tersenyum kecil pada dirinya sendiri dan hendak kembali membaca ketika sesuatu menyentuh punggung tangannya.

Lembut.

Sangat singkat.

Ia menoleh.

Laras tidak sedang menatapnya. Pandangannya masih berada di buku, tetapi ujung jarinya tadi menyentuh punggung tangan Raka dengan ringan, seperti seseorang yang memastikan orang lain masih baik-baik saja.

Raka memandang tangannya sendiri beberapa detik.

Lalu Laras berkata tanpa menoleh, suaranya hampir seperti bisikan.

“Jangan dipaksa masuk semua sekaligus.”

“Hmm?”

“Bacanya pelan-pelan. Kamu kalau udah capek suka malah maksa.”

Raka diam.

Laras baru menoleh setelah beberapa detik. “Kenapa?”

“Enggak.”

“Kok ngeliatin aku?”

“Enggak apa-apa.”

“Raka.”

Ia tersenyum kecil. “Iya, aku tahu.”

“Tahu apa?”

Raka menutup bukunya sebentar. “Kamu ngerti.”

Ekspresi Laras melunak.

Ia tidak bertanya lebih jauh.

Dan Raka kembali membuka bukunya.

Dulu, ia mungkin akan merasa perlu menjelaskan maksud dari setiap kalimat yang keluar dari mulutnya. Ia akan takut orang lain salah paham. Takut dianggap aneh. Takut diamnya diterjemahkan sebagai sesuatu yang tidak seharusnya. Bersama Laras, ketakutan itu perlahan kehilangan tempat untuk berdiri.

Karena Laras tidak selalu menuntut penjelasan.

Kadang perempuan itu hanya mengerti.

Waktu berjalan tanpa terasa.

Matahari yang tadi masuk dengan terang dari jendela mulai bergerak perlahan. Garis cahaya di lantai berubah arah. Beberapa mahasiswa datang dan pergi. Kursi bergeser. Ada suara buku dijatuhkan dari meja yang cukup jauh, diikuti bisikan permintaan maaf. Seorang petugas perpustakaan berjalan melewati lorong di antara sekat-sekat kayu sambil membawa beberapa buku yang akan dikembalikan ke rak.

Raka dan Laras tetap berada di tempat mereka.

Sesekali mereka berbicara, tetapi tidak pernah lebih dari yang diperlukan.

“Yang ini kamu paham?”

“Lumayan.”

“Lumayan itu paham atau belum?”

“Paham, tapi kalau disuruh jelasin sekarang mungkin malah kacau.”

“Berarti belum paham.”

“Laras.”

Perempuan itu menahan senyum. “Apa?”

“Kamu jangan senang kalau lagi bener.”

“Aku enggak senang.”

“Kamu senyum.”

“Aku emang wajahnya begini.”

“Kamu bohong.”

Laras menutup mulut dengan punggung tangan agar tawanya tidak terdengar terlalu keras.

Raka ikut tersenyum.

Kemudian mereka kembali belajar.

Tiga jam hampir berlalu ketika tubuh Raka mulai terasa benar-benar lelah. Ia meregangkan bahu, lalu menyandarkan punggung ke kursi. Halaman-halaman di depannya tampak mulai kehilangan bentuk. Huruf-huruf kecil yang tadi masih bisa dibaca sekarang seperti bergerak terlalu rapat.

Ia mengembuskan napas.

Kali ini lebih panjang.

Belum sempat ia menurunkan tangannya dari meja, Laras menyentuh punggung tangannya lagi.

Raka menoleh.

Laras akhirnya tersenyum.

“Capek?”

“Sedikit.”

“Sedikit?”

“Ya… lumayan.”

“Break lima menit.”

“Aku masih bisa.”

“Raka.”

Nada suaranya tidak tinggi. Tidak mengandung paksaan. Namun entah kenapa, Raka langsung tahu bahwa Laras sudah memahami kebiasaannya.

Kebiasaan untuk terus memaksa diri.

Kebiasaan untuk menganggap berhenti sebentar sebagai kelemahan.

Kebiasaan yang sudah tertanam begitu lama sampai kadang ia sendiri tidak sadar bahwa dirinya sedang melakukannya.

Raka memandang halaman bukunya.

“Lima menit aja,” ulang Laras.

Akhirnya ia menutup buku.

“Oke.”

“Bagus.”

Laras juga menutup bukunya, lalu meregangkan kedua tangan ke atas. Gerakannya membuat beberapa helai rambut kembali jatuh di sisi wajah. Ia mengembuskan napas panjang dan menyandarkan tubuh ke kursi.

Raka melirik.

“Kenapa?”

“Kamu juga capek.”

“Iya.”

“Terus tadi nyuruh-nyuruh aku.”

“Aku kan calon psikolog.”

“Belum.”

“Ya, tapi latihan.”

Raka tertawa kecil.

Laras menoleh cepat.

Mungkin itu hanya tawa biasa. Tidak keras. Tidak sampai membuat orang lain menoleh. Namun bagi Raka sendiri, suara itu terasa berbeda. Ia bahkan tidak sadar kapan terakhir kali ia tertawa tanpa lebih dulu memikirkan apakah dirinya terdengar aneh.

Laras memandangnya beberapa saat.

“Apa?”

“Kamu sekarang gampang ketawa.”

Raka berhenti.

“Enggak juga.”

“Gampang.”

“Perasaan biasa aja.”

“Dulu enggak.”

Raka tidak langsung menjawab.

Pandangan Laras kemudian beralih ke jendela. Cahaya sore mulai berubah lebih redup, memantul lembut pada permukaan kaca. Dari tempat mereka duduk, langit tidak terlihat sepenuhnya karena sebagian tertutup pepohonan kampus, tetapi warna terang siang hari perlahan bergeser menjadi kuning pucat.

“Dulu kamu kalau ketawa,” kata Laras, “kayak masih ngerem.”

Raka mengernyit. “Ngerem gimana?”

“Kayak takut kedengeran.”

“Itu analisis psikologi?”

“Itu observasi.”

“Beda tipis.”

“Beda.”

Raka menatapnya sambil tersenyum.

Laras membalas tatapan itu.

Untuk sesaat, mereka benar-benar berhenti melakukan apa pun.

Tidak ada buku yang dibaca.

Tidak ada catatan yang ditulis.

Tidak ada bahan ujian yang dibahas.

Hanya dua orang yang duduk di ruang baca dingin dengan jarak kurang dari satu lengan, membiarkan sore bergerak perlahan di luar jendela.

Raka pernah mengira kedekatan selalu harus dipenuhi sesuatu.

Kata-kata.

Tindakan besar.

Pembuktian.

Dulu, ketika bersama Anin, ia selalu merasa harus berguna. Harus cepat menjawab pesan. Harus tersedia ketika dibutuhkan. Harus tahu cara memperbaiki sesuatu. Harus bisa mengantar. Harus bisa membantu. Harus bisa menjadi orang yang cukup menarik untuk dipertahankan.

Ia hampir tidak pernah sekadar hadir.

Lihat selengkapnya